Mag-log inDua hari setelah insiden mencekam di gudang tua itu, suasana hangat dan penuh kelegaaan akhirnya kembali melingkupi keluarga Trian. Hari ini, Davina dijadwalkan untuk kembali melakukan fitting gaun pengantin yang sempat tertunda. Kali ini, Nyonya Sandra menegaskan diri untuk ikut mendampingi calon menantunya secara langsung. Rasa trauma dan cemas masih menyisa di benaknya, membuat wanita paruh baya itu tidak ingin membiarkan Davina pergi tanpa pengawasan ketat. Mobil yang dikendarai sopir pribadi berhenti tepat di depan butik langganan mereka di kawasan pusat kota. Nyonya Sandra menggandeng erat lengan Davina saat melangkah masuk, memancarkan naluri protektif seorang ibu yang tak ingin kehilangan calon anaknya lagi. "Ibu pastikan hari ini semuanya lancar, Nak. Tidak akan ada lagi yang berani mengganggu hari bahagiamu," ujar Nyonya Sandra lembut seraya menepuk punggung tangan Davina. Davina tersenyum tulus, merasakan kehangatan yang dulu amat langka ia dapatkan dari ibu mer
Trian membimbing Davina keluar dari gudang tua itu, merangkulkan tangannya di bahu Davina seolah tak ingin melepaskannya sedetik pun. Meskipun Davina berulang kali mengatakan dirinya tidak apa-apa, raut wajah Trian tetap dipenuhi kecemasan yang mendalam. Ia tidak bisa tenang sebelum memastikan sendiri kondisi fisik dan mental istrinya di tangan medis. "Kita ke rumah sakit sekarang," ujar Trian tegas saat membukakan pintu mobil untuk Davina. "Mas, aku beneran nggak apa-apa. Cuma lecet sedikit di pergelangan tangan bekas tali," bisik Davina lembut, mencoba menenangkan suaminya yang masih tampak tegang. "Nggak, Dav. Kamu harus diperiksa dokter. Aku nggak mau ada luka dalam atau trauma yang terlewat," sahut Trian tak bantah. Nyonya Sandra yang duduk di kursi belakang bersama Kamari—yang sudah dijemput kembali—turut mengangguk setuju. "Nurut sama Trian ya, Nak. Ibu juga bakal lebih tenang kalau kamu sudah diperiksa dokter." Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Siloam, Tria
Tak lama setelah rencana itu disusun, Trian dan tim keamanannya tiba di lokasi. Biru langsung memberi kode isyarat yang menegaskan bahwa ponselnya masih terhubung dengan Elsa dalam panggilan aktif. Beruntung, saat Biru mencoba meraih dan mematikan ponsel tersebut, panggilan itu terputus lebih dulu karena Elsa mematikannya secara sepihak, takut posisinya terlacak oleh jaringan Trian. "Kamu baik-baik saja, Nak?" Nyonya Sandra langsung berhambur memeluk Davina begitu wanita itu dibebaskan, menyalurkan rasa khawatir dan penyesalan yang mendalam. Biru menunduk dalam-dalam, tak berani menatap mata siapa pun. Trian kemudian meminta Biru menceritakan ulang kronologi ancaman Elsa dengan lebih detail. Setelah mendengar semuanya, dengan berat hati dan rasa muak yang tertahan, Trian akhirnya menyetujui rencana Biru dan Davina untuk memancing Elsa melalui sandiwara tersebut. Trian dan Nyonya Sandra lantas bersembunyi di sudut gelap gudang, sementara dua orang bodyguard mengambil posisi
Dua jam sebelumnya .... Biru mematikan rokoknya dengan menekan puntungnya kuat-kuat ke tanah. Ia menghela napas berat, mencoba menguraikan beban yang menghimpit dadanya. Perintah Elsa untuk menyentuh dan melecehkan Davina benar-benar sudah melampaui batas akal sehat. Di tengah kegelapan pikirannya, bayangan lima tahun terakhir mendadak berputar di kepalanya. Biru teringat pada semua kebaikan Trian. Pria itu tidak pernah sekadar memperlakukannya sebagai bawahan atau asisten pribadi, melainkan sebagai teman terdekat. Trian selalu mempercayainya, membantunya saat kesulitan, dan melewati banyak hal bersamanya. Rasa bersalah yang selama ini tertimbun rapi akhirnya meledak, menghancurkan ketakutannya pada ancaman Elsa. Dengan tangan gemetar, Biru meraih ponselnya kembali. Ia menekan nomor Trian. Hanya dalam dua kali nada panggil, telepon diangkat dengan nada suara yang penuh kecemasan dan kemarahan. _Biru! Apa-apaan kamu?! Di mana Davina?!_ teriak Trian di seberang sana. "Pa
Elsa memacu mobilnya dengan sangat kencang menembus jalanan menuju luar kota. Senyum licik tak henti-hentinya terpancar dari bibirnya yang berpoles gincu merah menyala. Di dalam kepalanya yang dipenuhi rasa dengki, baru saja terlintas sebuah skenario baru yang jauh lebih cerdas dan mematikan daripada sekadar pembunuhan. Ia ingin mengambil beberapa foto dan video langsung saat Biru dan Davina tengah bercinta di dalam gudang. Ia akan memerintahkan Biru untuk mengatur posisi tubuh Davina agar terlihat sangat menikmati momen tersebut, seolah-olah mereka berdua memang sedang dimabuk asmara. Maka dengan begitu, saat bukti foto-foto syur itu diserahkan, Trian pasti akan membenci dan meninggalkan Davina selamanya. "Ah, sempurna banget. Terlalu berisiko kalau sampai membunuh..." kekeh Elsa penuh kemenangan di balik kemudi. "Jalang itu berselingkuh di hari ia seharusnya fitting gaun pengantin. Trian tidak akan pernah memaafkannya!" Ia tertawa kencang meluapkan rasa puasnya. Sambu
"Ibu ikut, Trian! Biarkan Ibu ikut mencari Davina!" suara Nyonya Sandra bergetar hebat di seberang telepon. Rasa khawatir bercampur bersalah membakar dadanya. Ia tidak ingin hal buruk kembali menimpa calon menantunya. Kamari yang berada di sampingnya menatap sang nenek dengan pandangan bingung dan polos. "Oma... Mama kenapa?" " Oh, Oma nggak apa-apa sayang" Nyonya sandra mencoba menenangkan Kamari yang sepertinya mulai mengerti dengan raut-raut cemas orang dewasa di depannya. Trian menatap wajah Nyonya Sandra yang nampak cemas dengan airmata yang tertahan, lalu dengan berat hati, Trian akhirnya menyetujui. "Baik, Bu. Kita bertemu di depan daycare." Demi keamanan, Kamari akhirnya dititipkan sementara ke daycare milik Maria. Nyonya Sandra dan Trian berusaha tetap tenang dan tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Maria agar wanita itu tidak panik. " Kamarii..hari ini main sama miss dan teman-teman yang lain dulu ya.." sambut Maria dengan ramah. Begitu k







