Share

Bab 8

Author: Niu Susanti
Tengah malam, Althaf terbangun sekali lagi.

Si kecil tidak rewel saat bangun tidur, malah sangat manja. Seluruh tubuh mungilnya meringkuk dalam pelukan Maudy.

Sejak lahir, dia tidak pernah berpisah dari ibunya. Selama dua bulan ini, ketiadaan sang ibu membuatnya merasa cemas dan sangat tidak aman. Dia harus mencengkeram erat baju ibunya baru bisa tertidur.

Maudy menepuk-nepuk punggungnya pelan, dengan hati-hati menidurkannya.

Malam ini entah kenapa dia merasa sangat lelah, seolah-olah seluruh tenaga dan semangatnya telah terkuras habis. Tak lama kemudian, dia pun tertidur.

Dalam tidurnya, dia kembali teringat masa lalu. Karena menggeluti profesi berisiko tinggi, setiap kali bertanding atau berlatih, David selalu pulang dengan luka, bahkan patah tulang pun sudah jadi hal biasa.

Namun, David adalah pria yang bermental baja. Baginya, luka seperti itu bukanlah masalah.

Maudy yang menonton dari tribun merasa hatinya ikut sakit dan terus mengkhawatirkannya. David pun dengan keras melarangnya datang menonton langsung. Pernah suatu kali dia diam-diam pergi dan ketahuan, David langsung memanggulnya di bahu dan membawanya pulang, sambil mengancam, "Kalau masih kabur lagi buat nonton, rokmu bakal aku angkat."

Meskipun berkata begitu, sejak saat itu, setiap kali David selesai bertanding, dia selalu mengirimkan pesan kepada Maudy yang sedang menunggu dengan cemas.

[Aku baik-baik saja.]

Hanya tiga kata sederhana, tetapi sangat bermakna dan menenangkan hati.

Tak peduli seberapa parah luka yang diderita, tak peduli menang atau kalah, pesan ini tak pernah absen, selalu diiringi pelukan saat mereka bertemu setelah pertandingan. Dan di masa-masa berikutnya, setiap kali David meraih juara, Maudy selalu ada di sisinya.

Kala itu, Maudy masih dengan polosnya mengira itu akan bertahan selamanya.

Dia percaya, kalau mereka bisa melalui masa-masa saat masih bukan siapa-siapa bersama, suatu hari nanti pasti bisa bertemu di puncak kesuksesan.

….

"Klik!"

Di vila yang sunyi, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka yang sangat pelan. Mendengar suara berisik pelan di luar kamar, Maudy yang belum sepenuhnya sadar, agak kesulitan membedakan antara mimpi dan kenyataan. Dalam gelap, dia meraba-raba lalu membuka pintu, dan melangkah keluar.

Matanya bahkan belum sepenuhnya terbuka. Menatap sosok di ruang tamu, kesadarannya masih tertinggal di dalam mimpi, mengira ini adalah apartemen di Kota Deblin bertahun-tahun lalu. Tanpa sadar, dia bertanya pelan, "Kok pulang selarut ini? Kamu terluka nggak?"

Dalam kegelapan, gerakan pria itu terhenti.

Hening cukup lama.

"Nggak."

Satu patah kata bernada rendah itu menggantung di udara.

Mendengar suara pria itu, Maudy seketika tersadar.

Dia membuka mata. Kesadarannya pun benar-benar kembali. Teringat bahwa tadi dia sempat keceplosan bicara, dia tak lagi menatap pria itu. "Mm, cepatlah istirahat."

Belum sempat berbalik, tiba-tiba dia mendengar pria itu berkata lagi, "Lapar."

Ucapan itu datang begitu saja, tanpa banyak emosi, seolah sesuatu yang sangat biasa.

Seolah kembali ke cara mereka berinteraksi bertahun-tahun yang lalu.

Entah ada apa hari ini, dua orang yang sore harinya masih bersitegang, kini malah duduk bersama lagi di tengah malam.

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena mimpi itulah, dalam sesaat Maudy seolah melihat bayangan pemuda yang dulu pada diri pria itu. Bayangan pemuda yang dahulu hati dan matanya hanya berisi dirinya.

Maudy hanya bisa memasak satu jenis mi, yaitu mi kuah bening yang hanya ditambahkan sedikit garam, rasanya sangat hambar.

Namun, mi sederhana itulah yang dimakan David sejak usia 18 tahun, selama tiga tahun penuh.

Dia membuka kancing jasnya, lalu duduk di meja makan, menatap sosok Maudy yang sedang memasak di dapur. Uap panas mengepul memenuhi dapur, hampir menutupi separuh wajah wanita itu, menyisakan sepasang mata yang selalu lembut memandang siapa pun, sedikit tertunduk, dengan bulu mata lentik yang melengkung indah.

Memang, dia sangat cantik.

Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa pria itu sedang memandangnya. Dia sedikit menolehkan wajahnya ke arah David, membuat David tertegun sejenak.

Apakah Maudy baru saja menangis?

Apa itu bekas kemerahan di sudut matanya?

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel Maudy yang kebetulan tergeletak tepat di hadapannya.

David sebenarnya tidak berniat melihat isi ponselnya. Hanya saja, Maudy memang sibuk sehari-hari dan merasa memasang kata sandi terlalu merepotkan, jadi ponselnya memang tidak diberi sandi. Saat layar pesan yang masuk itu menyala, David pun sekilas membacanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status