Share

Bab 7

Author: Niu Susanti
Selama tiga tahun ini, Maudy seolah menjalani pernikahan tanpa kehadiran suami.

David terlalu jarang pulang dan terlalu sedikit peduli pada anak laki-lakinya.

Selama tiga tahun pertama kehidupan Althaf, Maudy selalu mendampinginya di setiap momen penting, baik besar maupun kecil. Mulai dari tangisannya saat disapih, langkah pertamanya yang masih terhuyung-huyung, hingga saat pertama kali belajar mengucapkan kata-kata.

Sementara David, sang ayah, hampir tak pernah ambil bagian.

Namun sekarang, dia malah merasa berhak mempertanyakan mengapa Maudy tidak menjemput putra mereka.

Maudy terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan tenang, "Guru-guru di PAUD sangat bertanggung jawab. Mereka punya grup komunikasi khusus denganku dan Bibi Ratna. Mereka nggak akan menyerahkan anak ke siapa pun selain orang tua. Kalau mau ngomongin soal risiko, justru kemungkinan Althaf celaka di samping kamu lebih besar daripada di samping mereka."

David mengernyitkan dahi, nyaris tak terlihat. Dia mengangkat pandangannya ke arah wanita di hadapannya. Maudy tampak jauh lebih kurus daripada sebelumnya. Dagu yang dulu halus dan lembut kini terlihat lancip, seolah tak menyisakan sedikit pun daging.

"Dia anakku, mana mungkin aku biarkan dia celaka."

"Terus, kamu tahu dia alergi makanan apa?" tanya Maudy.

David tampaknya tidak menyangka Maudy akan bertanya seperti itu. Dia terdiam beberapa detik tanpa menjawab.

Maudy menangkap keraguannya. "Kalau kamu nggak puas sama aku, bilang aja langsung. Jangan menjadikan hal-hal seperti ini sebagai alasan untuk menyalahkanku seolah-olah kamu paling benar. Karena selama tiga tahun ini, aku menjalani semuanya sendirian. Tanpa kamu, aku dan Althaf tetap baik-baik aja."

Suaranya lembut dan sangat tenang.

Hanya saja, saat mengucapkan kata-kata itu, ketenangannya terasa berlebihan, seolah sedang menceritakan urusan orang lain, tanpa sedikit pun emosi.

David menangkap makna tersirat dari kalimat terakhirnya. "Ngomong panjang lebar, cuma buat nyampain kalimat terakhir itu ke aku?"

Tanpa David, mereka toh bisa hidup dengan baik.

Maudy tak berkata apa-apa.

Namun dalam situasi ini, diam berarti mengiyakan.

"Kalau memang kamu sudah nggak sabar ingin cerai, ya nggak masalah."

David berkata dengan tegas, bahkan tanpa sedikit pun emosi, seolah sedang memberi harga pada sebuah barang. "Althaf ikut aku. Mau berapa, kamu yang tentukan."

Benar saja, begitu kata-kata itu terucap, dia dengan jelas melihat retakan kecil muncul di raut wajah wanita itu yang sedari tadi tenang bagai air. Bagaikan batu alam berlapis glasir yang retak, memang tak lagi terlihat sempurna, tetapi entah mengapa terasa lebih hidup dari sebelumnya. Akhirnya tak lagi terlihat acuh tak acuh dan pasrah di bawah kendalinya.

Bibirnya bergetar pelan.

"Althaf nggak seharusnya jadi alat tawar-menawar di antara kita."

"Jadi, memilih menyerahkan hak untuk memperebutkannya? Baguslah kalau begitu." Nada David masih tetap dingin, dengan sikap superior khas orang yang selalu berada di atas, seolah segala sesuatunya berada dalam genggamannya. "Aku saranin kamu jangan nekat ngelawan aku. Walaupun aku kasih waktu sepuluh tahun lagi, dengan kemampuanmu, itu cuma buang-buang tenaga."

Nadanya memang terdengar sangat datar, tetapi bagaikan pisau tumpul, menusuk titik lemah di hati Maudy berulang kali, tanpa ampun dan tanpa ragu.

Memang begitulah kenyataannya.

Jika David benar-benar bersikeras memperebutkannya, Maudy tak akan mungkin menang.

Maudy tidak memiliki modal maupun kekuatan seperti David, hubungan di antara mereka sejak awal memang tidak setara.

Raut wajah pria itu dingin, kedua tangannya bertaut di atas lutut. Kilauan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya terasa menyilaukan mata.

Entah mengapa, Maudy tiba-tiba teringat sebuah kenangan di masa lalu. Pria itu mengenakan untaian tali merah murah, memamerkannya kepada siapa pun dengan senyum bangga sambil berkata, "Ini buatan istriku. Katanya biar aku selalu selamat."

Kala itu, pikiran mereka sangatlah sederhana. Dia hanya berharap pria itu selalu selamat dan sehat, sementara pria itu ingin memberinya sebuah rumah.

Entah karena salju di luar atau bukan, Maudy tiba-tiba merasa kedinginan.

Rasa dingin itu merayap masuk dari ujung jarinya, menjalar di sepanjang sarafnya bagaikan tersengat listrik. Dia memejamkan mata sejenak, tak ingin memperlihatkan kelemahan di hadapan pria itu.

"Kalau kamu bener-bener peduli sama anakmu, dia nggak bakal takut berduaan sama kamu sampai sekarang." Dia menghela napas pelan, lalu bertanya, "Yang sebenarnya mau kamu pertahankan itu Althaf, atau pewaris Keluarga Hartono?"

Hening selama beberapa detik.

"Kamu tahu itu semua nggak penting."

"Dia anakku dan akan jadi pewaris Keluarga Hartono. Kalau ikut kamu, dia cuma punya satu pilihan. Tapi, kalau dia ikut aku, dia bisa memilih jalan apa pun yang dia inginkan. Asal dia menginginkannya, Keluarga Hartono bisa memberinya apa pun."

Suara David terdengar sedingin es, memancarkan aura yang begitu mencekam.

"Soal bedanya punya uang dan nggak punya uang, Maudy, kamu 'kan yang paling paham?"

Ruangan seketika diselimuti keheningan yang mencekik.

Maudy perlahan mencerna setiap kata yang terucap. Tenggorokannya terasa tersangkut duri ikan, ditelan tak bisa, dimuntahkan pun tak bisa, tersangkut di tenggorokan hingga terasa perih, sampai tak satu patah kata pun mampu dia ucapkan.

Iya, tentu saja dia paham.

Selama bertahun-tahun dia bersama pria itu, dia sudah merasakan berbagai penderitaan dan kemiskinan. Tak ada yang lebih paham darinya.

Namun, bagaimana mungkin kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya?

Bagaimana bisa.

Maudy terpaku di tempat, menatap sorot mata pria itu yang dingin. Matanya memerah, lalu dia tersenyum tipis dan getir.

Dering ponsel berbunyi tepat pada saat itu.

Memecah keheningan di antara mereka.

Di seberang sana, suara Raline terdengar manja dan ceria, jelas menyiratkan rasa suka khas seorang gadis muda. Dia memanggil, "Pak David, hari ini teman saya ulang tahun, kayaknya saya minum kebanyakan deh. Pak David ada waktu buat jemput saya nggak?"

Di luar jendela, angin kencang menderu, bertiup begitu keras hingga kaca jendela bergetar.

David hanya terdiam selama tiga detik, lalu berkata.

"Kirim alamatnya."

Dia pun pergi. Suara pintu yang ditutup terdengar tegas dan cepat. Bersamaan dengan itu, benang terakhir yang tegang di kepala Maudy pun putus.

Benang tipis yang nyaris tak terlihat itu telah ditarik hingga batas maksimalnya, kehilangan elastisitasnya, lalu putus dengan bunyi 'prak' yang tegas, bergema panjang di dalam kepalanya.

Pintu di belakangnya terbuka. Si kecil sama sekali tidak tahu pertengkaran hebat yang baru saja terjadi antara kedua orang tuanya. Dengan kaki mungilnya yang telanjang, dia mengucek matanya yang masih mengantuk, ekspresi wajahnya tampak polos dan bingung.

"Ibu, Ayah pergi ke mana?"

Maudy terdiam cukup lama. Seolah harus mengerahkan seluruh tenaganya, dia berjalan menghampiri dan berjongkok di hadapan anak itu, lalu berkata pelan dengan suara yang terasa berat, "Ayah pergi kerja. Althaf tidur yang nyenyak, ya?"

Bocah sekecil ini sebenarnya bahkan belum paham apa itu bekerja.

Namun, dalam benaknya, setiap kali Ayah bekerja, dia akan pergi dan baru pulang setelah waktu yang sangat lama. Namun, neneknya sudah berpesan, tidak boleh mengganggu Ayah bekerja.

Maka, dia pun mengangguk penurut, suara kecilnya yang lembut masih terdengar belum begitu jelas.

"Iya, Althaf bakal jadi anak baik dan nggak ganggu Ayah. Nanti kalau Ayah udah selesai kerja, Ayah bisa bawa Althaf main ke taman bermain lagi, 'kan?"

Maudy menatap wajah mungil yang polos dan tak berdosa itu.

Dia mendadak tak tahu harus menjawab apa.

….

Sementara itu.

Raline baru saja keluar dari ruang VIP, langkahnya goyah dan cukup mabuk.

Merasakan terpaan angin dingin, dia merapatkan mantelnya. Setelah melihat mobil MPV Grup Hartono yang familier itu, dia sangat gembira dan bergegas menghampirinya.

Membuka pintu belakang dan masuk, dia melihat David baru saja menyalakan rokok. Satu tangannya bersandar di pinggiran jendela, menopang dahi. Raut wajahnya datar, matanya menyipit menatap ke luar jendela, memancarkan aura angkuh yang seolah tak memedulikan apa pun.

Raline tanpa sengaja melirik beberapa temannya yang sedang sibuk mengintip dari luar pintu bar. Merasa sangat bergengsi, dia mendekat sambil tersenyum dan berkata, "Pak David, saya nggak nyangka Anda benaran mau datang."

David tidak mengalihkan pandangannya. "Bukannya kamu yang menelepon?"

Raline tercekat.

Sebenarnya, dia sudah sangat paham sifat David yang berubah-ubah, dan tahu suasana hati pria itu sedang tidak bagus saat ini.

Kalau biasanya, Raline pasti akan bersikap tahu diri dan memilih diam. Namun sekarang, pengaruh alkohol membuatnya nekat. Mengingat apa yang seharusnya miliknya hari ini direbut, rasa kesalnya tak kunjung padam.

"Anda marah karena kejadian hari ini, ya?"

"Pak David jangan khawatir, saya nggak berani saingan sama Kak Maudy kok. Saya tahu diri." Raline menundukkan pandangannya. "Tapi, Anda 'kan sudah bilang kalau posisi presenter itu buat saya. Hari ini Kak Maudy malah langsung mengomeli saya tanpa mencari tahu duduk perkaranya. Bahkan cuma gara-gara sepotong baju, saya juga dimarahi. Saya jadi nggak berani lagi mencoba akrab sama Kak Maudy ...."

"Buat apa menjalin hubungan baik dengannya?" katanya. "Nggak perlu."

Raline girang bukan main, menjawab dengan nada manja.

"Pak David, Anda sangat baik sama saya."

David mengangkat tangan, sopir di depan langsung melajukan mobil.

Ekspresinya sulit ditebak. Dia mematikan rokoknya, bahkan tak sudi mengangkat kepala, seolah berkata dengan sangat cuek, "Kok nggak pakai tas yang kemarin itu?"

Raline tertegun, belum mencerna maksudnya. "Pak David salah ingat, kemarin saya 'kan nggak bawa tas ...."

Kalimatnya terputus, senyum di bibirnya perlahan membeku.

Dia seketika sadar dari mabuknya, tangan dan kakinya terasa dingin.

Ternyata, pria itu tahu kalau dia sedang berbohong.

Dari kursi depan, Robin melirik Raline yang wajahnya pucat lewat kaca spion tengah, lalu bertanya dengan nada datar tanpa ekspresi, "Nona Raline, mau saya turunkan suhu AC-nya? Sepertinya Nona banyak berkeringat."

Belum sempat Raline bersuara, David memberi perintah dengan nada datar.

"Turunkan dia, di luar lebih sejuk."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status