ログインBeberapa jam kemudian…
Suara detak jarum jam menjadi satu-satunya irama dalam kesunyian. Bella membuka matanya perlahan. Tubuhnya sedikit pegal, tapi kehangatan dari tubuh kecil Alfie membuatnya tak banyak bergerak. Ia menoleh ke sisi lain ruangan.
Matanya langsung menangkap sosok Deon yang tertidur di sofa panjang. Dahi pria itu tampak berkerut meski dalam tidur, seolah masih menyimpan kegelisahan. Cahaya samar dari lampu pojok menyinari sebagian wajah Deon, cukup untuk membuat Bella menghela napas dalam-dalam.
Perlahan, dia menggeser posisi duduknya tanpa membangunkan Alfie. Ia meraih ponselnya dari sisi ranjang, lalu dengan gerakan hati-hati mengangkatnya untuk membidik kamera.
Klik.
Satu jepretan.
Gambar itu memperlihatkan dirinya memeluk Alfie yang tertidur, sementara di belakangnya, Deon berbaring di sofa panjang. Foto itu ambigu, namun cukup memberi pesan seolah-olah mereka adalah satu keluarga yang utuh, bahagia, saling menyay
Deon membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, nyaris tak peduli klakson yang bersahutan di belakangnya. Pikirannya penuh, dadanya sesak oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti. Bella.Dia ingin segera menyelesaikan masalah Bella lalu kembali ke rumah untuk acara makan malam bersama yang sudah sangat ia rindukan selama ini.Begitu sampai di depan kamar rawat inap, Cahyo sudah lebih dulu menyambut majikannya. Wajah asisten pribadinya itu tegang, seolah sudah menyiapkan diri untuk kemarahan yang tak terelakkan."P-Pak Deon."“Bagaimana bisa bagian produksi begitu lalai?” suara Deon rendah, namun penuh tekanan.“Iya, Pak. Kami sudah menyelidiki,” jawab Cahyo cepat. “Tangga di lokasi memang licin, dan bagian produksi malah meletakkan beberapa kain di tangga itu sebagai dekorasi, katanya untuk mempercantik ruangan pengambilan foto.”Rahang Deon mengeras. “Dan keadaannya?”Cahyo menelan
Mereka duduk bersama di ranjang besar itu, tanpa jarak, tanpa sekat. Deon meraih Amara sebentar, menggoyangnya pelan hingga bayi itu terkekeh kecil. Jannah tertawa, suara yang lama tidak terdengar sebebas itu. Alfie ikut tertawa, lalu menceritakan hal-hal kecil yang ia lakukan hari itu, tentang mainan barunya, tentang cerita yang dibacakan pengasuh, tentang bagaimana Amara tersenyum saat ia mengajak bicara.Untuk sesaat, dunia di luar kamar itu lenyap. Tidak ada rencana, tidak ada ancaman, tidak ada masa lalu yang membayangi. Yang ada hanya mereka, keluarga kecil yang utuh dalam tawa dan sentuhan.Deon tersenyum puas, memandangi pemandangan itu dengan dada penuh. Ada rasa bahagia yang begitu sederhana namun menyesakkan karena terlalu indah. Ia berpikir, andai waktu bisa berhenti di sana. Diam-diam ia berjanji untuk selalu melindungi keluarga kecilnya sampai nafas terakhir yang dia miliki.Dia tidak akan mengizinkan siapa pun merusak kebahagiaan yang ia miliki sa
Deon mengecup air mata itu, satu per satu, seolah menghapus hari-hari yang terlalu berat. Ia tidak berkata apa-apa lagi, mereka kembali berpelukan di dalam selimut yang sama.Karena kadang, cinta sejati tidak membutuhkan kalimat panjang. Cukup kehadiran yang setia.Pelampiasan hasrat yang dalam dan penuh cinta.Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Malam pun perlahan merapat ke pagi. Saat akhirnya mereka terlelap, Jannah tertidur lelap, dengan tangan Deon melingkar di punggungnya, pelukan yang tidak mengekang, tidak menuntut atau pun penuh permintaan.Pagi datang dengan cahaya lembut. Jannah terbangun lebih dulu. Ia memandang wajah Deon yang tertidur, lelaki yang ia cintai, lelaki yang ia marahi, lelaki yang kini memilihnya lagi tanpa paksaan dan lelaki yang baru saja menyiksanya di atas ranjang.Wajah Jannah menghangat, membayangkan bagaimana lelaki itu sudah menjungkirbalikkan garis pertahanannya. Bagaimana ia membuatnya merintih, mengeran dan mendesah tanpa malu.Ada garis lelah di wa
Dan di antara kulit yang menyatu dalam keringat dan saling mengenal kembali, Jannah sadar: inilah cinta yang ia dambakan, cinta yang sabar, yang memilih, dan yang tinggal meski tahu betapa rapuhnya mereka berdua.Malam itu menjadi sunyi yang menenangkan. Mereka saling merangkul dalam cinta. Beberapa saat kemudian mereka menyatukan kembali kepingan yang retak dengan sentuhan yang penuh kasih, ciuman yang pelan, hati-hati, dan tulus. Lalu mereka kembali menanamkan diri ke satu inti penuh kenikmatan yang hangat dan dalam.Di antara napas yang berangsur tenang, bercampur aduk dengan keringat dan bagian inti yang basah serta sedikit nyeri, Jannah memejamkan mata.Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa istimewa. Deon benar-benar memberikan kehormatan dan penghargaan kepadanya disertai kasih sayang yang sempurna.Malam itu berjalan perlahan, seperti waktu yang sengaja melambat agar dua hati yang sempat tersesat bisa saling menemukan kembali.Setelah
Jannah memejamkan mata. Napasnya bergetar. Di antara marah dan rindu, hatinya terbelah.Tubuh Deon limbung di atas ranjang empuk dengan keras, tapi laki-laki itu benar-benar tampak tak berdaya."Nyonya, Pak Deon mungkin membutuhkan... pelepasan, atau dia mungkin akan sangat menderita. Ha-haruskah aku memanggil dokter?"Jannah terdiam, berusaha meredakan peperangan bathin dalam dirinya. Waktunya terlalu singkat untuk Deon divonis berselingkuh sementara keadaan dirinya saat ini masih membuktikan bagaimana dia membutuhkan pelepasan.Cahyo mundur selangkah, memberi ruang. Deon menatap Jannah dengan harap yang nyaris runtuh.Dan di ambang keheningan itu, keputusan Jannah menggantung—rapuh, tapi menentukan segalanya.Dia mengibaskan tangannya ke arah Cahyo. Memerintahkan kepadanya untuk keluar.Cahyo menangkap isyarat itu dengan cepat. Ia mengangguk singkat, lalu melangkah mundur ke pintu.“Saya akan di luar,” ucapn
Cahyo mengangguk, menahan Deon agar tetap tegak. Mereka berdua melangkah keluar. Bella tidak mengejar. Ia berdiri di tempat, menatap punggung mereka dengan senyum yang pelan-pelan melebar.Begitu pintu menutup, Bella menoleh ke sudut ruangan, ke titik-titik kecil yang tak mencolok, tersembunyi di balik ornamen dan lampu. Kamera. Banyak kamera.Di layar monitor kecil di meja samping, tayangan barusan terulang: momen singkat ketika Bella merangkul Deon, detik-detik yang tampak ambigu bila dipotong dengan sudut tertentu."Makan malam dengan perempuan lain dan perempuan itu adalah Bella. Kemudian saling berpelukan."“Bagus,” gumam Bella puas. Ia meraih ponselnya, memberi instruksi singkat.“Kirim ke Jannah. Sekarang.”Ia tersenyum lebar, puas dan dingin.“Wanita emosional itu,” bisiknya, nyaris berlagak iba, “akan mulai menggila seperti dulu.”"Cukup untuk oleh-oleh pertama dari Irlandia!"Di dalam lift, Deon memejamkan mata, berusaha menenangkan denyut di kepalanya. Cahyo menekan tombol







