Masuk“Maaf, Pak! Saya pergi dulu,” pamit Yasmine.
“Mau saya antarkan pulang?” tanya Reno.
“Nggak perlu, Pak.” Yasmine sedikit membungkukkan tubuhnya tanda menolak dengan halus sebelum pergi.
Reno merasa seru selalu membuat Yasmine selalu gugup. Yasmine pun menghilang dari pandangan Reno.
***
Keesokan harinya, Yasmine sedang bersolek di depan cermin. Yasmine ragu dengan dandannya malam ini terlihat bagus atau tidak di mata Reno. Yasmine segara keluar dari apartemen lalu menunggu pria itu di basement.
Tak … tak …
Suara langkah heels terdengar jelas di telinga Reno. Yasmine datang dengan menggunakan gaun berwarna hitam dan warna heels berwarna merah. Terlihat elegan dan serasi di tubuh Yasmine. Pria itu yang di dalam mobil terpukau kecantikan Yasmine.
“Menarik,” gumam Reno lalu keluar dari dalam mobil.
Pria itu menelusuri sosok di hadapannya menatap. Yasmine sudah menebak jika Reno sedang menilai dirinya.
“Aku pantas di sampingmu malam ini, Pak?” tanya Yasmine dengan nada manja.
“Lumayan ‘lah.” Reno cuek di hadapan Yasmine.
“Hah?” Ekspresi Yasmine tentu saja kecewa dengan pernyataan Reno.
“Cepat masuk! Nanti kita terlambat,” titah Reno.
Yasmine membuka pintu mobil lalu sedikit membanting saat menutup mobil. Seolah suara itu sedang mengutarakan isi hatinya. Reno menoleh ke arah Yasmine karena terkejut.
“Kamu mau membuat mobilku rusak?” Reno menatap tajam.
“Maaf, Pak! Saya excited.” Yasmine menahan napas sesaat agar tidak emosi.
Reno pun melajukan mobilnya dengan kencang agar cepat sampai. Mereka berdua saling membisu di dalam mobil. Yasmine yang sibuk dengan ponselnya, Reno hanya fokus dengan kemudi.
Cit …
“Akh!” Yasmin sedikit berteriak karena Reno dengan sengaja mengerem mendadak. “Bapak mau buat saya mati muda?”
“Turun, simpan ponselmu, kita sudah sampai!” omel Reno.
“Apa sih,” gumam Yasmine mengikuti perintah Reno lalu keluar dari dalam mobil.
“Ingat kita harus harmonis di hadapan mereka, ya selayaknya sebuah pasangan. Akting yang bagus, jangan sampai ketahuan,” nasihat Reno lalu menggandeng tangan Yasmine.
“Harus banget ya, Pak?” tanya Yasmine dengan nada malas.
Reno tidak menjawab malah berjalan lurus untuk masuk ke dalam rumah. Rumah Reno yang bergaya Eropa dengan halaman yang luas, lampu berjejer di pagar menambah kesan mewah. Dipastikan Reno benar anak miliarder. Yasmine mencoba tidak gugup karena ia juga dari kalangan atas.
Ceklek …
Pintu utama yang terbuka membuat semua orang menatap Reno dan Yasmine. Mata Yasmine sedikit membola ia tahu siapa sosok orang-orang di sana. Tatapan remeh dari mereka tak gentar membuat Yasmine takut.
“Sini, duduk.” Reno menatap tajam ke arah orang sekitarnya.
Yasmine dengan anggun duduk di samping Reno. Yasmine melihat sikap Reno sangat dingin malam ini. Yasmine dengan sengaja tidak melepas tangan Reno. Tatapan cemburu pun terlihat sekali dari seorang gadis.
“Mama mengundang mereka?” tanya Reno seolah dia tidak tahu apa-apa.
“Kenapa kamu di sini? Bersama calon Tunanganku?!” Elsa menatap iri.
“Kalian berdua kenal?” tanya Reno yang penasaran.
“Mereka keluarga kandungku,” bisik Yasmine.
Deg …
Reno kecolongan dengan kejadian, bisa-bisanya dia tidak mencari informasi tentang Yasmine lebih detail. Elsa—kakak tiri Yasmine yang akan menjadi tunangan Reno. Reno mencoba membaca situasi ini.
“Jawab Yasmine!” Elsa semakin kesal melihat Yasmine malah berbisik manja dengan Reno.
“Jaga nada bicara Anda, jangan kasar kepada Pacarku,” sahut Reno.
Jeduar …
Elsa bak disambar petir saat itu juga. Pernyataan Reno membuat Elsa tambah sakit hati. Elsa pun bermanja meminta bantuan ayah tirinya untuk membela.
“Acara ini akan membahas pertunanganmu, Reno yang bersama Elsa,” ucap Bimo—papa Yasmine.
Reno dingin menanggapi menanggapi Bimo. “Saya minta pertunangan ini dibatalkan.”
“Kamu kenapa batalkan, Reno?” tanya Dino merasa ini salah.
“Papa, aku punya pacar, hargai itu.” Reno bersikukuh.
“Dasar wanita murahan!” Elsa yang sakit hati, ingin menampar Yasmine yang sudah mengangkat salah satu tanganya.
Yasmine berakting lemah di depan Reno langsung menutupi wajahnya dengan lengannya. Reno dengan sigap mencekal lengan Elsa agar tidak menyentuh pipi Yasmine.
“Jaga sikapmu, Elsa. Ini sudah kedua kalinya. Kau sudah kelewat batas,” tegur Reno lalu menghempaskan tangan Elsa.
Elsa kesakitan karena Reno menghempaskan terlalu keras. Tak mereka sadari Yasmine menyeringai Elsa membuatnya terbakar emosi.
“Sayang, sudah.” Yasmine dengan nada rendah meraih tangan Reno agar tenang. “Setidaknya bermain-main denganmu sangat menyenangkan, Elsa,” batin Yasmine.
“Aku tegaskan, perjodohan ini batal.” Reno menatap sang papa. “Yasmine juga anak Om Bimo, Papa. Tidak ada salahnya jika aku ingin menukar perjodohan ini. Kami saling mencintai.”
“Cih … saling mencintai, aktingmu meyakinkan sekali, Pak,” batin Yasmine ingin muntah rasanya.
“Tidak! Pokoknya tidak bisa!” Elsa menolak tegas.
Reno tanpa berpamitan ia mengajak Yasmine pergi dari sana. Bimo dan Dino saling menatap bingung dengan keputusan ini.
“Reno!” panggil Dino sambil berdiri.
“Biar aku saja, Om yang mengejar mereka.” Elsa pun berlari mengejar.
Di dalam mobil Yasmine menarik kerah kemeja Reno lalu mencium bibirnya. Reno awalnya menolak lalu terbawa suasana oleh permainan Yasmine. Sementara Elsa di luar mobil hanya menjadi saksi dua sejoli itu.
Reno tidak tahu jika dirinya hanya dimanfaatkan oleh Yasmine. Ciuman mereka sangat membara penuh gairah. Reno sangat menikmati itu, napas yang memburu menjadi satu.
Brak!
“Keluar kalian berdua!” teriak Elsa dari luar mobil.
Reno melepaskan ciumannya lalu menoleh ke depan melihat Elsa memukul mobil. “Sialan! Aku hanya dimanfaatkan,” batin Reso merasa dipermainkan.
“Iya.” Andri terdengar pasrah.Venya mendekati sang mertua. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati. “Papa,” ucap Venya dengan lembut kini. “Iya.” Andri menatap sang menantu yang duduk di hadapannya. “Papa menangisi perempuan seperti itu?” Venya meremehkan Andri dengan tatapannya itu. Soft spoken sekali Venya itu. Kelembutan wanita itu membuat Andri sadar. Ucapannya mampu menusuk relung hati yang paling dalam.“Mama cukup lama mengenal dia, ternyata begitu.” Andri sedikit menyesalinya. “Papa nanti akan aku carikan wanita yang sesuai untuk Papa.” Venya tersenyum. “Gadis?” sahut Leo yang penasaran dengan ucapan sang istri.“Enaknya temenku ‘lah! Masak temenku.” Venya melirik sinis. “Ayo, ke kantor. Kita telat.” Leo melihat di jam tangannya.***Keesokan harinya, tanpa terasa di Jepang urusan sudah selesai. Mereka berempat kembali ke Konoha. Sampai di bandara Yasmine membeku sesaat.“Kenapa Sayanh?” tanya Reno melihat sang istri tidak bergerak. “Itu.” Yasmine menunjuk ke arah dua
Tring …Wajah Sesil merasa senang karena ia tahu tidak mungkin kakak iparnya akan marah. Reno menatap penuh harap. “Gimana?” tanya Reno.“Aman aku sudah tahun apa yang dia inginkan.” Sesil berdiri. “Main ke mana?” tanya Reno lagi. “Eh, kamu nggak bilang aku nyuruh kamu tanya, ‘kan?” Reno memastikan. “Nggaklah, Kak.” Sesil menarik Reno agar mengikuti.Sesil mengajak Reno untuk memesan makanan ke pihak hotel. Sesil bercakap-cakap di telepon. Reno hanya mengangguk saja. “Selesai,” ucap Sesil. “Buat Yasmine apa tadi?” Reno masih belum paham. “Sup Miso, cocok untuk ibu hamil.” Sesil tahu jika sang kakak ipar suka yang berkuah. “Apa itu?” sahut Dimas mendengar namanya saja sudah membuat lapar. “Sup Miso (Miso Soup) adalah hidangan sup tradisional Jepang yang berbahan dasar kaldu dashi yang dicampur dengan pasta miso (pasta kedelai fermentasi). Sup ini merupakan makanan pendamping pokok dalam diet Jepang yang sering disajikan sebagai sarapan atau pendamping menu utama karena rasanya
Sampai di bandara Yasmine merasa bersalah. Reno yang menyeret koper sendirian. “Aku bantu ya,” ucap Yasmine ingin mengambil alih koper besar di tangan kiri pria itu. “Jangan aneh-aneh. Ini berat, Yasmine.” Reno dengan tegas.“Aku mau bantu,” lirih Yasmine.“Cukup kamu diem, nggak merepotkan saja itu buat aku sudah senang, Sayang.” Reno yang menghentikan langkahnya.“Beneran?” Suara lembut Yasmine yang terdengar imut membuat Reno merasa gemas.“Iya.” Reno memeluk Yasmine sesaat di tengah kerumunan.“Baiklah.” Wanita itu tersenyum sangat manis.Dimas dan Sesil merasa geli sendiri melihat pasutri itu. Padahal, mereka juga tidak kalah mesra. “Eh, itu private car kita.” Dimas menunjuk ke arah mobil. Mereka pergi ke sana. Yasmine lagi-lagi mual kembali. “Huek!” Wanita muntah di pinggir trotoar. “Kamu masih kuat nggak?!” Sesil panik.“Masih kok.” Yasmine tersenyum tawar.Reno langsung membukakan pintu. Pria itu membawa masuk ke dalam mobil sang istri. Yasmine langsung bersandar di kurs
“Hei, kamu malah ngelamun itu kenapa?” tanya Reno memakai kaus lalu memakai sweater karena di Jepang masih winter.“I-iya Kak.” Yasmine memakai pakaiannya.Di depan cermin wanita itu bersolek. Reno memeluk dari belakang.“Jangan cantik-cantik,” bisik Reno di telinga sang istri.“Apa si Kak!” Yasmine mengomel.“Galak banget,” balas Reno sambil menegakkan tubuhnya.Pria itu keluar dari kamar, Yasmine menoleh merasa tidak enak hati sudah membuat sang suami kecewa. Wanita berdiri lalu turun ke bawah. Melihat Reno yang sedang mengawasi sopir memasukan koper mereka berdua.“Tumben ngambekan?” batin Yasmine lalu menghampiri sang suami. “Sayang!” Yasmine bergelayut mesra.“Hem!” Reno cuek.“Kamu kenapa?” tanya Yasmine polos.“Nggak pa-pa.” Reno tersenyum tawar.“Ish.” Yasmine lalu masuk ke dalam mobil.Aura canggung sangat terasa, wanita itu memilih memejamkan mata hingga bandara. Pria itu pun sibuk dengan tablet-nya. Tanpa terasa mereka sampai di bandara. Yasmine langsung turun tanpa mengata
Amara menekan tombol lift lalu menuju ruang CEO. Sampai di sana Fero dan Reno akan keluar dari ruangan.“Kalian mau ke mana?” tanya Amara.“Kapan kamu pulang?” Fero tidak menyangka jika wanita itu datang kembali.“Aku duluan ya, sebentar lagi ada jam bimbingan di kampus.” Reno mengabaikan Amara.Amara cemberut, ia kesal sekali. Fero menahan tawa melihat Amara diabaikan oleh Reno. “Ada yang lucu?!” bentak wanita itu. “Sudahlah kamu jangan berharap lebih. Dia sudah ada istri.“Apa!” Amara syok.“Aku duluan, mau jemput anak sekolah.” Fero pergi.Amara masih terdiam, ia mencoba mencerna ini semua. Wanita itu masih tidak percaya begitu saja.***Di kampus, Reno baru saja selesai mengisi kelas. Ternyata Bella menunggu di depan kelas. Gadis itu memberanikan diri untuk mengajak Reno makan.“Pak Reno!” Bella menyelipkan rambut di telinga dengan gaya centil. “Kenapa?” Reno dingin. “Bapak sibuk?” Bella mulai basa-basi.“Saya hari ini tidak ada bimbingan jadi mau pulang.” Reno menolak halus.
“Aku pusing,” lirih Yasmine. “Kamu gimana Istrimu begini nggak peduli.” Fero yang hampir menggendong Yasmine. Reno tidak menggubris ia langsung menggendong sang istri. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan pergi dari snaa. “Kak Fero tolong jaga sikapmu.” Sesil meninggalkan Fero yang masih terpaku di tempat. *** Reno meletakkan Yasmine di sofa ruang kerjanya. Tatapan Reno sulit diartikan oleh wanita itu. Ia tahu Reno khawatir bercampur marah. “Sayang, antar aku pulang,” lirih Yasmine takut Reno marah beneran. “Yakin?” Suara dingin itu mampu menusuk relung hati Yasmine. Yasmine menganggukkan kepalanya. Wanita itu memeluk sang suami yang masih berjongkok. “Maaf,” lirih Yasmine tanpa sadar air mata itu turun. Fero melihat itu, hatinya menghangat ia menjadi ingat dengan almarhum sang istri. Namun, Yasmine tersenyum ke arah Reno. Bukan karena suka, melainkan untuk menghormati Fero berdiri di sana. “Besok nggak usah kerja dulu ya,” ucap Reno sambil melepa