Share

6. 50 Miliar

Penulis: Dewi masitoh
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-08 13:18:34

Yasmine melepaskan tangan Reno dari tangannya, ia menatap sesaat lalu kembali berjalan ke arah sofa. Reno pun mengikuti Yasmine dari belakang.

“Saya tidak suka dengan sikap Bapak yang kasar seperti itu.” Terdengar soft spoken suara Yasmine.

“Maaf.” Reno bergeming.

“Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, Bapak boleh pergi,” usir Yasmine tanpa ekspresi.

“Aku tadi menemui Papamu.” Reno menatap wajah Yasmine.

Yasmine acuh tak acuh saat Reno menatapnya. Rasa takut yang biasanya datang kali ini Yasmine mulai terbiasa dengan tatapan itu.

“Lalu?” Tanggapan Yasmine yang santai.

Reno kesal melihat tanggapan Yasmine cuek seperti itu. “Papamu meminta 50 miliar, untuk modal perusahaan. Itu saham dariku,” terang Reno.

Yasmine merasakan sesak di dada mendengar kata 50 miliar. Yasmine di jual dengan harga fantastis. Reno melihat Yasmine mengepalkan tangan lalu ia meneteskan air mata. Betapa sakit hatinya kepada sang papa.

“Apa yang kamu tangisi?” tanya Reno.

“Aku muak dengan semua ini, akan aku balas mereka yang sudah menyakitiku.” Mata Yasmine membara seperti ada api di dalamnya.

“Ayahmu sudah berjanji akan membatalkan pertunanganku dengan Elsa,” ucap Reno.

“Really?” Wajah Yasmine berbinar-binar. “Akhirnya aku bisa lepas dari dia!” jerit Yasmine di dalam hati.

“Iya. Jangan harap kamu bisa lepas dariku.” Seolah Reno tahu isi hati Yasmine.

Deg …

“Apa maksud Bapak?!” Jantung Yasmine terasa berhenti sejenak.

“Kamu akan menggantikan posisi itu. Ingat aku sudah menghabiskan banyak uang untuk ini,” ucap Reno yang menyakiti hati Yasmine.

“Jadi kita akan tunangan, tapi cuma pura-pura ‘kan?” Yasmine memastikan.

“Lihat saja nanti,” ucap Reno lalu beranjak dari duduknya.

“Masalahnya saya punya pacar, Pak!” Yasmine dengan ekspresi kesal.

Deg …

Ekspresi Reno seketika berubah mendengar pernyataan Yasmine. Rasa kecewa pun  timbul tanpa dia sadari. Entah mengapa sesakit itu Reno merasakannya, padahal hanya sebuah kata-kata saja. Ini bukan masalah kata-kata melainkan hati seseorang menyukai secara diam.

“Oh.” Reno pergi meninggalkan Yasmine.

“Bapak! Ih, nyebelin!” teriak Yasmine tanpa takut.

***

Keesokan harinya, Reno mengajar di kampus. Dan, hari ini Yasmine tidak ada bimbingan Reno. Saat Reno keluar kampus, ada mahasiswa datang menemui Reno jika ada seseorang mencarinya.

“Siapa?” Reno pun bergegas ke ruangannya menunda kelas.

Ceklek …

Reno muak setelah melihat siapa yang datang. Acuh tak acuh saat duduk di depan wanita itu.

“Kenapa kamu datang ke ke sini?” tanya Reno sinus.

“Aku ingin membicarakan hubungan kita,” jawab Elsa dengan wajah sendu.

“Apa yang harus diperjelas?” tanya Reno lagi.

 “Pertungan kita—”

“Apa Papamu tidak bercerita?” Reno tertawa miris.

Elsa menangis melihat Reno meremehkan dirinya. Cinta Elsa begitu besar tanpa Reno ketahui.

“Hapus air matamu. Aku mau ke kelas karena ada jam.” Reno ingin segera pergi.

“Jika kamu tidak mau menuruti kemauanku, aku akan berteriak lalu menyobek pakaianku. Biar seisi kampus menjadi heboh,” ancam Elsa dengan pikiran gilanya.

“Lakukanlah, jika kamu tidak mau bunuh diri.” Reno apatis.

“Baiklah!” Dengan bodohnya Elsa menyobek pakaiannya seperti orang dilecehkan.

Reno tertawa lalu menunjuk CCTV yang berada di ruangannya. Elsa bergeming sesaat mana sudah terlanjur sobek pakaiannya. Reno mengambil jaket yang ia miliki.

“Pakai ini, pergilah!” Reno meninggalkan Elsa yang masih berdiri di tempat.

Tanpa Reno sadari di luar ruangan ada Yasmine yang bersembunyi di balik tiang. Yasmine melihat Elsa mengenakan jaket Reno. Panas dan membara hati Yasmine, terasa sakit tanpa ia sadari.

“Kak Elsa ngapain di sini?” gumam Yasmine.

Yasmine yang begitu fokus tidak sadar ada seseorang di sampingnya. Wajah tampan itu sedang memperhatikan Yasmine. Jari telunjuk pria itu menyentuh pipi Yasmine hingga Yasmine terkejut.

“Kenan!” teriak Yasmine.

“Sayang ngapain di sini?” tanya Kenan—pacar Yasmine.

“Lagi mau bimbingan, kamu udah pulang, dari luar negeri. Kok nggak ngabarin,” ucap Yasmine sedikit gugup.

“Sengaja buat surprise kamu,” ucap Kenan lalu membawa Yasmine pergi dari sana.

***

Brak …

Elsa yang marah lalu masuk ke dalam mobilnya. Elsa sengaja membanting pintu mobil untuk meluapkan emosi.

“Akh!” teriak Elsa sambil memukul stir mobil.

Setelah emosi Elsa mereda, ia bergegas menemui Burhan. Sampai di perusahaan Elsa masuk ke ruangan Burhan dengan membanting pintu. 

Brak …

Mata Burhan langsung tertuju kepada Elsa. Burhan cukup terkejut kedatangan Elsa. Burhan mengerti mengapa Elsa terlihat sedang kacau.

“Duduk!” Burhan pindah duduk di sofa.

“Papa, apa Papa setuju dengan keputusan Reno?” tanya Elsa dengan menggebu.

“Dia sudah memberi uangkan uang 50 miliar pada perusahaan ini, dan dia menjadi pemegang saham terbesar.” Burhan jujur.

“Maksudnya?” Elsa tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Burhan.

“Reno memberikan uang agar perjodohan ini tidak terjadi, dia meminta Yasmine menjadi istrinya,” terang Burhan.

“Apa!” Dada Elsa terasa sesak sulit bernapas karena kenyataan ini sangat menyakitkan baginya.

Elsa selama ini selalu menang jika harus bersaing dengan Yasmine. Namun, kali ini dia kalah dalam percintaan. Tak di sangka Fira datang ke perusaahan—mama Elsa.

“Mama!” Elsa menangis mengadukan semua ini kepada sang mama.

Burhan tidak bisa lagi berkutik jika ada istrinya. Anak kandung saja bisa dibuang.

“Minggu depan Papa harus menemui keluarga Reno untuk membicara ini.” Burhan menatap sang istri dengan takut-takut.

“Biar aku saja!” Fira membalas tatapan Burhan dengan sinis.

Fira dan Elsa bergegas ke rumah keluarga Reno. Fira akan memanfaat hal ini karena ibu Reno adalah sahabatnya. Elsa merasa senang masih ada secercah harapan. Tidak waktu lama mereka sampai di rumah Reno. Tidak butuh Minggu depan mereka langsung datang.

“Elsa calon menantuku!” sapa Lusiana.

“Apa kabar, Tante!” Elsa mencoba mendekatkan diri.

"Ayo, masuk!" ajak Lusiana masuk ke dalam rumah.

Mereka bertiga duduk di gazebo belakang rumah. Fira pun tanpa basa-basi lagi membuka pembicaraan.

"Aku mau bicara penting, Lus," ucap Fira dengan yakin.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   204. Amara Syok

    “Iya.” Andri terdengar pasrah.Venya mendekati sang mertua. Ia mencoba berbicara dari hati ke hati. “Papa,” ucap Venya dengan lembut kini. “Iya.” Andri menatap sang menantu yang duduk di hadapannya. “Papa menangisi perempuan seperti itu?” Venya meremehkan Andri dengan tatapannya itu. Soft spoken sekali Venya itu. Kelembutan wanita itu membuat Andri sadar. Ucapannya mampu menusuk relung hati yang paling dalam.“Mama cukup lama mengenal dia, ternyata begitu.” Andri sedikit menyesalinya. “Papa nanti akan aku carikan wanita yang sesuai untuk Papa.” Venya tersenyum. “Gadis?” sahut Leo yang penasaran dengan ucapan sang istri.“Enaknya temenku ‘lah! Masak temenku.” Venya melirik sinis. “Ayo, ke kantor. Kita telat.” Leo melihat di jam tangannya.***Keesokan harinya, tanpa terasa di Jepang urusan sudah selesai. Mereka berempat kembali ke Konoha. Sampai di bandara Yasmine membeku sesaat.“Kenapa Sayanh?” tanya Reno melihat sang istri tidak bergerak. “Itu.” Yasmine menunjuk ke arah dua

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   203. Pulang?

    Tring …Wajah Sesil merasa senang karena ia tahu tidak mungkin kakak iparnya akan marah. Reno menatap penuh harap. “Gimana?” tanya Reno.“Aman aku sudah tahun apa yang dia inginkan.” Sesil berdiri. “Main ke mana?” tanya Reno lagi. “Eh, kamu nggak bilang aku nyuruh kamu tanya, ‘kan?” Reno memastikan. “Nggaklah, Kak.” Sesil menarik Reno agar mengikuti.Sesil mengajak Reno untuk memesan makanan ke pihak hotel. Sesil bercakap-cakap di telepon. Reno hanya mengangguk saja. “Selesai,” ucap Sesil. “Buat Yasmine apa tadi?” Reno masih belum paham. “Sup Miso, cocok untuk ibu hamil.” Sesil tahu jika sang kakak ipar suka yang berkuah. “Apa itu?” sahut Dimas mendengar namanya saja sudah membuat lapar. “Sup Miso (Miso Soup) adalah hidangan sup tradisional Jepang yang berbahan dasar kaldu dashi yang dicampur dengan pasta miso (pasta kedelai fermentasi). Sup ini merupakan makanan pendamping pokok dalam diet Jepang yang sering disajikan sebagai sarapan atau pendamping menu utama karena rasanya

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   202. Rumitnya Wanita

    Sampai di bandara Yasmine merasa bersalah. Reno yang menyeret koper sendirian. “Aku bantu ya,” ucap Yasmine ingin mengambil alih koper besar di tangan kiri pria itu. “Jangan aneh-aneh. Ini berat, Yasmine.” Reno dengan tegas.“Aku mau bantu,” lirih Yasmine.“Cukup kamu diem, nggak merepotkan saja itu buat aku sudah senang, Sayang.” Reno yang menghentikan langkahnya.“Beneran?” Suara lembut Yasmine yang terdengar imut membuat Reno merasa gemas.“Iya.” Reno memeluk Yasmine sesaat di tengah kerumunan.“Baiklah.” Wanita itu tersenyum sangat manis.Dimas dan Sesil merasa geli sendiri melihat pasutri itu. Padahal, mereka juga tidak kalah mesra. “Eh, itu private car kita.” Dimas menunjuk ke arah mobil. Mereka pergi ke sana. Yasmine lagi-lagi mual kembali. “Huek!” Wanita muntah di pinggir trotoar. “Kamu masih kuat nggak?!” Sesil panik.“Masih kok.” Yasmine tersenyum tawar.Reno langsung membukakan pintu. Pria itu membawa masuk ke dalam mobil sang istri. Yasmine langsung bersandar di kurs

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   201. Baikan

    “Hei, kamu malah ngelamun itu kenapa?” tanya Reno memakai kaus lalu memakai sweater karena di Jepang masih winter.“I-iya Kak.” Yasmine memakai pakaiannya.Di depan cermin wanita itu bersolek. Reno memeluk dari belakang.“Jangan cantik-cantik,” bisik Reno di telinga sang istri.“Apa si Kak!” Yasmine mengomel.“Galak banget,” balas Reno sambil menegakkan tubuhnya.Pria itu keluar dari kamar, Yasmine menoleh merasa tidak enak hati sudah membuat sang suami kecewa. Wanita berdiri lalu turun ke bawah. Melihat Reno yang sedang mengawasi sopir memasukan koper mereka berdua.“Tumben ngambekan?” batin Yasmine lalu menghampiri sang suami. “Sayang!” Yasmine bergelayut mesra.“Hem!” Reno cuek.“Kamu kenapa?” tanya Yasmine polos.“Nggak pa-pa.” Reno tersenyum tawar.“Ish.” Yasmine lalu masuk ke dalam mobil.Aura canggung sangat terasa, wanita itu memilih memejamkan mata hingga bandara. Pria itu pun sibuk dengan tablet-nya. Tanpa terasa mereka sampai di bandara. Yasmine langsung turun tanpa mengata

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   200. Jepang?

    Amara menekan tombol lift lalu menuju ruang CEO. Sampai di sana Fero dan Reno akan keluar dari ruangan.“Kalian mau ke mana?” tanya Amara.“Kapan kamu pulang?” Fero tidak menyangka jika wanita itu datang kembali.“Aku duluan ya, sebentar lagi ada jam bimbingan di kampus.” Reno mengabaikan Amara.Amara cemberut, ia kesal sekali. Fero menahan tawa melihat Amara diabaikan oleh Reno. “Ada yang lucu?!” bentak wanita itu. “Sudahlah kamu jangan berharap lebih. Dia sudah ada istri.“Apa!” Amara syok.“Aku duluan, mau jemput anak sekolah.” Fero pergi.Amara masih terdiam, ia mencoba mencerna ini semua. Wanita itu masih tidak percaya begitu saja.***Di kampus, Reno baru saja selesai mengisi kelas. Ternyata Bella menunggu di depan kelas. Gadis itu memberanikan diri untuk mengajak Reno makan.“Pak Reno!” Bella menyelipkan rambut di telinga dengan gaya centil. “Kenapa?” Reno dingin. “Bapak sibuk?” Bella mulai basa-basi.“Saya hari ini tidak ada bimbingan jadi mau pulang.” Reno menolak halus.

  • Pak Dosen Jangan Nakal, Ah!   199. Amara=Amarah

    “Aku pusing,” lirih Yasmine. “Kamu gimana Istrimu begini nggak peduli.” Fero yang hampir menggendong Yasmine. Reno tidak menggubris ia langsung menggendong sang istri. Kini mereka berdua menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan pergi dari snaa. “Kak Fero tolong jaga sikapmu.” Sesil meninggalkan Fero yang masih terpaku di tempat. *** Reno meletakkan Yasmine di sofa ruang kerjanya. Tatapan Reno sulit diartikan oleh wanita itu. Ia tahu Reno khawatir bercampur marah. “Sayang, antar aku pulang,” lirih Yasmine takut Reno marah beneran. “Yakin?” Suara dingin itu mampu menusuk relung hati Yasmine. Yasmine menganggukkan kepalanya. Wanita itu memeluk sang suami yang masih berjongkok. “Maaf,” lirih Yasmine tanpa sadar air mata itu turun. Fero melihat itu, hatinya menghangat ia menjadi ingat dengan almarhum sang istri. Namun, Yasmine tersenyum ke arah Reno. Bukan karena suka, melainkan untuk menghormati Fero berdiri di sana. “Besok nggak usah kerja dulu ya,” ucap Reno sambil melepa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status