LOGINWalaupun lebih dari satu jam telah berlalu, namun Edward masih belum memberi balasan.Sesaat kemudian, Farel berjalan mendekat. "Bu, kami sudah bersiap untuk pulang."Ini adalah cara yang bijaksana dan halus untuk memintanya pergi.Vanessa mengerutkan bibir dan berkata dengan tenang. "Bagaimana kalau aku tetap ingin menunggu di sini?"Farel berkata, "Tolong jangan mempersulit kami, Bu."Vanessa tidak menjawab, tetapi dia juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak pergi.Farel tidak punya pilihan selain membuatkannya secangkir teh baru.Rio juga belum pulang. Dia berkata kepada Farel yang baru saja keluar dari ruang rapat, "Bos seharusnya ... masih peduli pada Bu Vanessa, kan?"Meskipun dia tidak ingin bertemu dengan wanita itu dan tidak pernah menjawab panggilan Vanessa untuk sementara waktu, namun Edward belum menyatakan putus dengannya.Padahal Edward tahu betul Vanessa mungkin akan datang ke kantor untuk menemuinya sewaktu-waktu, namun dia tetap mengizinkan Vanessa untuk kelua
Vanessa disibukkan dengan banyak sekali urusan. Saat dia menyelesaikannya, waktu sudah menunjukkan jam tiga sore lewat.Dia berpikir sejenak, lalu menelepon Rio.Rio sempat merasa ragu sejenak saat melihat panggilan dari Vanessa, tetapi akhirnya tetap menjawab, "Halo, Bu Vanessa.""Apa Edward ada di kantor?"Rio tertegun sejenak dan berkata, "Maaf, saya nggak bisa memberi tahu Anda."Vanessa mengerti bahwa itu berarti Edward ada di sana.Jika tidak, Rio pasti akan langsung mengatakannya sejak awal.Vanessa berkata, "Aku mengerti, terima kasih." Setelah menutup telepon, dia langsung mengambil kunci mobilnya dan keluar. Tak lama kemudian, dia sudah tiba di gedung Anggasta Group.Dia menatap pintu masuk utama gedung Anggasta Group. Setelah duduk sebentar di dalam mobil, dia mengenakan maskernya, dan akhirnya melangkah keluar.Saat itu, tidak banyak orang berlalu-lalang di lobi kantor. Meskipun mengenakan masker, namun resepsionis langsung bisa mengenali sosoknya begitu Vanessa memasuki p
Vanessa dan yang lainnya masih berkumpul di lantai bawah dan belum tidur.Melihat dia berlari turun, Rita berkata, "Ini sudah malam, kenapa lari-lari begitu ...."Andrew berhenti, menatap mereka dengan mata memerah, dan menyela kata-kata Rita, "Apa berita di internet itu benar?"Rita menelan kembali kata-katanya.Yang lainnya langsung terdiam beberapa saat.Sebenarnya Ervan merasa sangat kelelahan saat itu.Tetapi pada saat seperti itu, cara terbaik adalah dia sendiri yang maju untuk memberi penjelasan.Dia melangkah maju dan berkata, "Andrew, Papa dan wanita itu memang nggak cocok. Dia itu keras kepala, nggak mau mendengarkan nasihat, dan terus menolak untuk bercerai. Bukan salah mamamu kalau Papa berpisah dengannya."Nenek Gori sangat menyayangi cucunya itu. Setelah mendengar hal tersebut, dia ikut berkata dengan suara hangat, "Iya, itu benar, Andrew. Sulit untuk menjelaskan secara gamblang tentang urusan perasaan. Jangan asal percaya ucapan orang-orang di luar sana."Mendengar penje
Setelah tersadar, Andrew mengira teman sekelasnya pasti sudah salah ketik dengan menyebut keluarganya sebagai "keluarga selingkuhan."Andrew terkekeh, dan saat hendak mengetik untuk bertanya apakah teman sekelasnya itu sudah salah ketik, dia kembali melirik balasan pesan tersebut, dan senyumnya pun langsung memudar.Jika teman sekelasnya itu memang salah ketik, melihat dari nada agresif pesan tersebut, apa yang akan dia sampaikan mungkin bukanlah sesuatu yang baik.Namun, dia benar-benar merasa kesal. Andrew tidak mengerti mengapa mereka yang sebelumnya cukup akrab dengannya di sekolah, tiba-tiba berbicara kepadanya seperti itu.Saat dia masih bertanya-tanya apakah dirinya telah menyinggung perasaan orang tersebut, seseorang kembali mengirim pesan di grup obrolan.[Dia kan berasal dari keluarga pelakor, mana mungkin bisa punya malu? Dulu di depan kita, dia selalu mengoceh tentang kakak dan ibunya seolah-olah mereka sangat hebat, dia bahkan memanggil Edward dengan sebutan kakak ipar. Ak
Kepala pelayan itu sudah menduga kalau Vanessa mungkin akan menelepon Elsa. Ketika Vanessa menelepon, Elsa sedang mandi.Kepala pelayan pun langsung mematikan panggilan Vanessa.Melihat Elsa masih tidak menjawab panggilan teleponnya, Vanessa mengirimkan sebuah pesan.[Elsa, Tante datang untuk menjengukmu sekarang. Kau turun dan bukakan pintu untuk Tante, ya?] Kepala pelayan melihat pesan tersebut dan langsung menghapusnya tanpa ragu.Dia menunggu beberapa saat, dan baru merasa lega ketika Vanessa tidak menelepon lagi.Vanessa masih menunggu beberapa saat. Setelah melihat Elsa masih tidak menjawab, dia langsung mengerutkan bibir.Vanessa menunggu di tempat semula untuk waktu yang cukup lama. Sudah hampir tengah malam, tetapi dia masih tidak melihat mobil Edward.Vanessa memeriksa waktu, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menunggu lebih lama lagi, dan pergi dari sana.Ketika sampai di rumah, Ervan dan yang lainnya masih terjaga. Mereka sedang menunggu kabar darinya.Melihat kedatangann
Setelah itu, Clara berpamitan dengan para eksekutif Anggasta Group lainnya dan berbalik untuk pergi.Gery mengikutinya.Saat memasuki lift, pandangan Gery langsung otomatis tertuju padanya.Clara menyadarinya dan bertanya, "Ada apa?"Gery menggelengkan kepala. "Nggak ada apa-apa." Di jamuan pesta Dr. Luwana, Anggi sudah mengatakan banyak hal tentang Edward dan Clara.Dia tentu saja tidak percaya Clara sudah menggunakan cara-cara licik demi bisa menikahi Edward.Tetapi … dia merasa klaim Anggi tentang Clara yang sudah jatuh cinta pada Edward sejak kecil dan bahwa Edward tidak pernah menyukai wanita itu, kemungkinan besar adalah benar.Jika itu benar, karena Clara sekarang sudah bersedia bercerai dari Edward dan sikapnya sangat dingin terhadap pria itu, maka bukankah itu berarti Clara sudah tidak lagi mencintainya?Tetapi jika Clara memang sudah tidak mencintai Edward, lalu mengapa wanita itu masih menolak untuk membiarkan dirinya, Richard, dan Dani masuk ke dalam hatinya?Apa benar han







