LOGINVanessa mengambil inisiatif dan menyapa terlebih dahulu, "Halo, Doktor Luwana. Nama saya Vanessa."Doktor Luwana mengangguk dan menjabat tangannya.Saat itu, asisten Doktor Luwana memberitahu bahwa beberapa teman lamanya telah tiba. Dia menepuk bahu Edward dan berkata, "Aku akan pergi menemui beberapa teman lama dulu, kita mengobrol lagi nanti."Edward menjawab, "Silakan."Setelah beberapa saat, Dani dan Gading juga tiba.Melihat keberadaan Edward dan Vanessa, Gading dan Dani segera datang menghampiri mereka. Gading berkata, "Bagus ya kalian berdua, aku tadi bertanya ke kalian di grup mau berangkat jam berapa, tapi nggak ada yang menjawab. Aku pikir kalian akan datang telat, tapi ternyata malah sudah sampai duluan."Edward mengeluarkan ponselnya dan memeriksa sekilas. "Maaf, tadi aku sedang di perjalanan, jadi nggak sempat memperhatikan ponsel."Gading mengangkat alisnya, lalu memandang Edward dan Vanessa dengan ekspresi menggoda. "Oh, jadi kalian berdua sama-sama nggak punya waktu unt
Selama dua hari berikutnya, Clara menjadi lebih sibuk, bahkan pada hari Sabtu pun dia tidak memiliki waktu luang.Elsa meneleponnya, dan setelah mengetahui Clara masih harus bekerja pada hari Sabtu, dia bertanya, "Bagaimana dengan malam ini? Apa Mama juga nggak punya waktu malam ini?""Iya, Mama ada urusan lain nanti malam."Elsa berkata, "Ayah juga nggak punya waktu nanti malam."Clara menduga Edward mungkin juga akan menghadiri perayaan ulang tahun Institut Penelitian Doktor Luwana.Doktor Luwana sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Eksekutif Global dari tiga perusahaan teknologi yang masuk dalam peringkat tiga besar dunia selama bertahun-tahun. Beliau adalah salah satu sosok langka di dunia akademisi dan industri Kecerdasan Buatan Marola, dia memiliki reputasi akademis internasional tingkat atas serta pengalaman industri perusahaan terkemuka.Jaringan relasi dan sumber dayanya tentu saja amat sangat luar biasa.Institut Penelitian Doktor Luwana baru-baru ini berhasil me
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”Diana tidak mengerti tentang investasi atau pun industri, tetapi dia sangat takut jika sampai kehabisan uang.Dia menatap Vanessa. “Kak, bagaimana dengan Kak Edward ....”Sebelum dia selesai berbicara, ponsel Vanessa tiba-tiba berdering. Melihat nama penelepon di layar, ekspresi Vanessa menjadi rileks seketika, dan segera menjawab panggilan tersebut.Setelah mendengar apa yang dikatakan orang di ujung telepon, wajahnya yang tegang perlahan berubah, kembali menjadi tenang dan penuh percaya diri seperti biasanya.Dia tersenyum dan berkata, “Oke, aku mengerti. Aku akan segera ke sana.”Dilihat dari ekspresi dan nadanya, semua orang sudah bisa menebak siapa orang yang ada di ujung telepon itu.Ervan bertanya, “Apa itu dari Edward?”Vanessa tersenyum, lalu bergumam mengiyakan. Dia segera mengambil tasnya, dan berkata, “Aku sudah berbicara dengan Edward soal masalah perusahaan kita beberapa hari yang lalu. Dia membantuku menghubungi beberapa orang dan
Clara keluar dari mobil Edward yang berhenti dengan jarak sekitar tiga ratus meter dari Morti Group.Setelah dia keluar, mobil Edward pun langsung melaju pergi.Rendi yang terus mengikuti dari belakang, memperhatikan ke arah perginya mereka selama beberapa saat, kemudian akhirnya pergi.Kerja sama Morti Group dan Jetwave Labs selalu berjalan dengan sangat baik.Sesampainya di kantor, Clara langsung mengadakan rapat kecil sebelum pergi menuju ke Jetwave Labs.Sore itu, Jetwave Labs memberikan kabar baik bahwa mereka telah berhasil mencapai terobosan besar dalam teknologi fusi multimodal.Begitu kabar tersebut diberitakan secara luas oleh media massa, langsung menarik perhatian para pakar teknologi baik di dalam maupun luar negeri.Baik X-Tech maupun Jetwave Labs sama-sama bergerak dalam bidang penelitian dan pengembangan kendaraan otonom pada mobil. Begitu berita dari Jetwave Labs keluar, Diana dan yang lainnya langsung menerima kabar itu dan segera mengabarkannya kepada Vanessa.Ekspre
Malam itu, Elsa merasa sangat bahagia.Biasanya ketika Edward ada di rumah, Elsa akan pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan PR, membaca buku, menggambar, atau bermain dengan mainannya sendiri.Sekitar jam sepuluh malam, setelah mandi dan bersiap untuk tidur, Elsa berkata kepada Clara, "Ma, aku mau ke ruang kerja untuk melihat apa Ayah sudah tidur atau belum. Sekalian mengucapkan selamat malam."Clara menjawab, "Iya." Elsa sudah berlari keluar kamar, tetapi tiba-tiba berbalik, sambil memeluk kusen pintu dan memiringkan kepalanya, dia bertanya kepada Clara, "Ma, apa Mama nggak mau ikut?"Clara menggelengkan kepalanya. "Mama nggak ikut, kamu saja sendiri." Elsa sudah terbiasa dengan kurangnya interaksi antara Edward dan Clara, jadi dia tidak berpikir ada yang aneh dengan itu. Mendengar jawaban Clara, dia hanya bisa berkata, "Ya sudah."Dia pun berbalik dan pergi.Sesampainya di depan pintu ruang kerja Edward, dia mendorongnya hingga terbuka dan mengintip ke dalam ruangan. Begitu mel
Clara menggelengkan kepala dan berkata dengan hangat, "Nggak usah repot-repot, kami baru saja makan di luar sebelum pulang."Tetapi Elsa tiba-tiba seperti teringat sesuatu dan merasa sedikit kesal, lalu berkata kepada Clara, "Iya, benar juga. Kalau tahu Mama akan pulang malam ini, alangkah baiknya kalau kita bisa makan bersama saja di rumah. Mama kan sudah lama sekali nggak makan di rumah."Elsa hampir lupa bagaimana rasanya makan malam bersama ayah dan mamanya di rumah.Sekitar setahun terakhir ini, meskipun Clara beberapa kali pulang karena Elsa, namun dia jarang tinggal untuk makan malam di sana. Walaupun, dia sebenarnya cukup sering menginap dan sarapan keesokan harinya di rumah itu.Namun, Clara tidak berkata apa-apa. Dia tersenyum, mengusap kepala Elsa, dan mengganti topik pembicaraan. "Bukannya kau bilang ingin memperlihatkan barang-barang yang sudah kau kumpulkan baru-baru ini ke Mama? Di mana barang-barangnya? Coba mana, Mama mau melihatnya."Perhatian Elsa memang terbukti lan







