MasukSaat Vanessa sampai di rumah, waktu sudah menunjukkan sekitar jam sembilan malam.Melihat kepulangannya, Ervan bertanya, "Apa perusahaan baik-baik saja?""Untuk saat ini baik-baik saja."Tetapi jika para investor sampai mengetahui bahwa masalah Gori Group telah memengaruhi X-Tech, maka hal itu bukan lagi masalah kecil.Ervan sangat mengerti jika masalah Gori Group tidak segera diselesaikan, maka itu akan berpotensi ikut melumpuhkan X-Tech.Dia telah aktif berkomunikasi dengan pihak Jetwave, tetapi mereka menolak untuk menurunkan tuntutannya.Kompensasi yang diminta Jetwave adalah sesuatu yang tidak mampu mereka bayar walaupun mereka harus menjual semua harta benda yang mereka miliki .…Jika Edward berada di pihak mereka, mereka akan memiliki kesempatan untuk bangkit kembali, walaupun jika harus mengorbankan Gori Group. Tetapi, Edward sama sekali tidak memberikan respon apa pun .…Sekian hari telah berlalu, dan mereka masih tidak dapat memahami apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran E
Mengingat kompleksnya situasi saat itu, sebaiknya Vanessa tetap merahasiakan hubungannya dengan Edward dan apa yang terjadi di perusahaan.Dia meminta Pak Zaki untuk mengadakan rapat, dan mulai menyelesaikan beberapa urusan lainnya.Saat selesai, waktu sudah menunjukkan tengah hari.Vanessa mengambil kunci mobil dan keluar. Tak lama kemudian, dia memarkir mobilnya di seberang jalan gedung Anggasta Group.Saat itu adalah waktu makan siang, ada banyak staf yang berlalu-lalang di pintu masuk gedung Anggasta Group. Sepuluh hari yang lalu, dia masih bisa keluar-masuk gedung itu dengan bebas, tetapi sekarang, jika dia muncul di sana, beritanya kemungkinan akan langsung menyebar di internet saat itu juga.Vanessa duduk di dalam mobilnya sambil menatap gedung itu. Setelah sekian lama, dia akhirnya bergerak pergi.Awalnya, pembekuan rekening pribadinya bukanlah masalah besar, tetapi sekarang, masalah ini juga melibatkan X-Tech. Jika berita tentang pembekuan saham X-Tech sampai tersebar .…Memik
Keesokan paginya, Vanessa masih belum menerima balasan apa pun.Edward tidak membalas. Saaat melihat Vanessa membawa tas dan seolah hendak pergi, Nenek Gori tertegun sejenak saat sedang sarapan dan bertanya, "Vanessa, kau mau pergi ke mana?"Semua orang menoleh.Vanessa menjawab, "Ke kantor."Nenek Gori berkata, "Oh, baguslah."Sebagai pemilik dari X-Tech saat ini, memang sudah seharusnya jika Vanessa lebih peduli pada urusan perusahaan.Namun, dibandingkan dengan X-Tech, mereka tentu berharap Vanessa akan pergi menemui Edward.Lagipula, meskipun X-Tech sekarang cukup berharga, namun masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Edward.Tetapi mereka juga mengerti bahwa Vanessa tidak segera menemui Edward saat ini, pasti karena dia punya alasan tersendiri, jadi mereka tidak ingin terlalu memaksanya.Tepat saat itu, pelayan yang memperhatikannya sedang sarapan, berkata, "Nona, Anda memiliki belasan paket yang belum dibuka selama beberapa hari. Kalau nggak segera dibuka, nanti bisa
Edward dan Dani masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi mereka menghabiskan waktu di pulau itu selama dua hari sebelum kembali ke kota.Keesokan harinya, Edward kembali ke Anggasta Group untuk membahas masalah kerja sama.Setelah dua hari yang sibuk, kabar bahwa Edward telah kembali ke ibu kota dari perjalanan bisnisnya sampai ke telinga Ervan.Keluarga Gori dan Sanjaya mengalami masa-masa yang tidak mudah selama beberapa hari terakhir.Setelah mengetahui Edward telah kembali, Ervan segera memberi tahu Vanessa, "Aku dengar Edward sudah kembali."Sebelum Vanessa sempat bereaksi, Diana sudah bersorak gembira dan berkata, "Kak Edward akhirnya sudah kembali? Kalau begitu kita bisa ...."Namun, ekspresi Ervan tidak terlihat baik. Dia menatap Vanessa dan berkata, "Aku dengar Edward sudah kembali sejak beberapa hari yang lalu."Sebelumnya, Vanessa sudah terus mencoba menghubungi Edward, tetapi dia tidak menanggapi sama sekali. Saat itu, mereka menduga dia memiliki banyak hal ya
Elsa berkata, “Iya, Ma. Ya sudah … aku tutup teleponnya ya, Ma.” Clara tidak menyangka Elsa akan langsung berpamitan secepat itu, tetapi tidak berkomentar apa pun. Dia hanya menjawab, “Iya, kau istirahat ya.”“Iya. Selamat malam, Mama.” Setelah menutup telepon, Elsa berbalik dan turun ke lantai bawah, langsung bertanya kepada Kepala Pelayan, “Kek, apa tadi Kakek menelepon mama?”Kepala Pelayan berkata, “Iya. Karena Kakek khawatir kamu nggak mau makan, jadi Kakek memberi tahu mamamu.” Mendengar hal itu, Elsa menundukkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa lagi, dia lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya....Keesokan paginya, Elsa bangun dan sengaja tidak turun ke lantai bawah untuk sarapan. Edward selesai sarapan dan naik ke lantai atas untuk mengetuk pintunya. “Ayah mau pergi sebentar, nanti sore baru pulang.”Elsa masih merajuk. Saat mendengar hal itu, dia memalingkan muka dan mengabaikan Edward, tetapi seperti teringat sesuatu, dia tiba-tiba menatap ayahnya, namun ragu-ragu untu
Elsa semakin marah dan langsung meronta, "Lepaskan aku! Aku nggak mau dipeluk."Edward menatapnya. "Baiklah, tapi kau harus turun untuk makan."Elsa mengerutkan bibir, dia memalingkan wajah dan tak mau menatap ayahnya.Meskipun begitu, Edward sama sekali tidak melepaskannya dan langsung menggendongnya ke bawah.Di lantai bawah, Kepala Pelayan sudah memanaskan hidangan yang semuanya adalah makanan favorit Elsa.Nasi juga sudah disajikan. Edward menurunkan putrinya itu dan memberinya sendok.Elsa sempat ragu sejenak, lalu mengambilnya, dan mulai makan dalam diam.Edward duduk di sebelahnya. Melihat pemandangan itu, Kepala Pelayan berkata, "Pak, apa Anda juga mau makan sekalian?"Edward menggelengkan kepala. "Aku sudah makan."Dia tidak mencoba mengganggu lebih lanjut, lalu membiarkan ayah dan anak perempuan itu berduaan saja.Elsa tetap makan dalam diam. Edward menatapnya dan berkata, "Sekolah akan segera dimulai. Sebelum itu, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Ayah akan menemanimu.







