MasukMemikirkan hal itu, sorot mata Elsa menjadi berbinar, dia pun tak kuasa berkata, "Ayah, Mama, aku sebentar lagi akan libur. Ayo kita jalan-jalan bersama! Kita bisa ke luar negeri, atau kita bisa bermain arung jeram. Aku ingin pergi berlibur setidaknya selama setengah bulan!"Bagaimana mungkin mereka bisa pergi liburan panjang bersama? Apalagi, selama itu?Namun, sebelum Clara sempat berbicara, dia sudah mendengar Edward berkata, "Ayah harus pergi ke luar negeri untuk mengurus beberapa pekerjaan. Kau bisa ikut, Ayah akan menemanimu bermain dan jalan-jalan."Elsa mengerutkan kening. "Bagaimana dengan Mama? Apa Mama nggak ikut?"Clara berkata, "Mama sangat sibuk dengan pekerjaan, sepertinya nggak akan ada waktu."Elsa tidak puas. "Walaupun cuma beberapa hari saja?"Clara tidak tahu harus berkata apa, jadi dia hanya bisa berkata, "Kita lihat situasinya lagi nanti ya. Kalau Mama punya waktu, Mama akan memberitahumu, bagaimana?""... Iya."Meskipun Clara berkata demikian, namun Elsa sudah me
Mendengar suaranya, Elsa berseru gembira, "Wow, Mama dan Ayah benar-benar sedang bersama ya?" Clara tertegun sejenak, dia tidak menjawab pertanyaan itu, dan bertanya balik, "Kenapa jam segini belum tidur?""Ini sudah mau tidur. Tapi, Mama jangan lupa sama janji kita untuk makan bersama setelah Mama dan Ayah pulang nanti."Clara menjawab, "Mama nggak lupa. Sudah malam, cepat tidur.""Oke. Selamat malam, Ma." Setelah mengatakan itu, Elsa menambahkan kepada Clara, "Ma, sekalian sampaikan salam selamat malamku ke Ayah ya."Elsa pun langsung menutup telepon.Clara terdiam sejenak, dia lalu mengembalikan ponsel itu kepada Edward, tetapi tidak memberikan ucapan selamat malam titipan Elsa kepada pria itu.Edward dapat mendengar samar-samar apa yang dikatakan Elsa di telepon, dia mengambil ponselnya dan berkata, "Elsa tadi melihat kita berdua di siaran langsung dan mengira kita tinggal bersama. Dia terus merengek ingin berbicara denganmu.""Iya, aku mengerti."Bahkan jika dia tidak mengatakann
Saat itu, siaran langsung acara penyerahan penghargaan tepat sedang menayangkan segmen di mana Prof Nian memberikan penghargaan kepada Clara.Melihat Prof Nian mengakui bahwa dia sengaja menghadiri acara itu karena Clara, dan melihat mata Clara yang berkaca-kaca, Diana mencibir, "Dia pasti merasa senang dan tersanjung sekarang, kan? Gimanapun, Prof Nian dan dia sebenarnya juga nggak sedekat itu!""Prof Nian melakukan semua itu hanya karena Dylan benar-benar percaya kalau Clara adalah talenta yang penuh potensi!""Tapi lihat gayanya itu? Cara dia memandang Prof Nian, orang yang nggak tahu pasti akan berpikir kalau Prof itu benar-benar gurunya yang telah membimbing selama delapan atau sepuluh tahun. Seolah-olah Clara pernah menyia-nyiakan bimbingannya, tapi sekarang akhirnya kembali ke jalan yang benar …. Issh, dia benar-benar dramatis, pandai sekali berakting!"Vanessa yang berdiri di samping, sedang minum teh dengan kepala tertunduk, dia sengaja tidak melihat ke arah layar untuk bebera
Sambil menatap Dylan yang duduk di antara penonton, Clara berkata, "Saat ini, aku ingin sekali mengatakan banyak hal, walaupun mungkin kau merasa ini nggak perlu, tapi yang paling ingin kukatakan adalah terima kasih. Terima kasih atas semua dukungan dan pengertian yang kau berikan selama ini. Terima kasih karena apa pun masalahnya, kau selalu mengutamakanku. Terima kasih karena kau tak pernah ragu dan selalu percaya padaku ...." Saat Clara berbicara, sorotan kamera di layar besar juga fokus pada sosok Dylan.Dylan yang berada di antara penonton terlihat bertepuk tangan untuk Clara dengan ekspresi penuh kegembiraan. Dylan benar-benar sangat bahagia untuk Clara dan merasa bangga dengan pencapaiannya saat ini.Penonton pun seketika bertepuk tangan dengan antusias.Acara penyerahan penghargaan di dalam aula tetap berlanjut, tetapi di luar sana, Keluarga Sanjaya dan Gori pada awalnya tidak terlalu memahami seberapa penting penghargaan yang diterima Clara.Namun, setelah berita tentang Clar
Prof Nian tentu saja hadir untuk membantu memperkenalkan Clara dan Dylan kepada jaringan relasinya.Meskipun teman-teman Prof Nian tidak akan mengabaikan Clara dan Dylan walaupun dia tidak datang secara langsung, namun kehadirannya tetap memberi kesan berbeda.Edward tahu Prof Nian juga hadir di sana, namun sengaja tidak menghampiri untuk menyapanya. Baru setelah kebetulan berpapasan dengan Prof Nian saat akan meninggalkan acara pada siang harinya, Edward menyapanya dengan sopan, "Prof Nian."Prof Nian mengangguk acuh tak acuh, lalu pergi bersama Clara dan Dylan.Sepanjang hari itu, Clara melakukan diskusi akademis yang mendalam dengan beberapa tokoh senior dalam industri ini dan juga menerima beberapa sesi wawancara. Bisa dikatakan, itu adalah hari yang padat dan produktif buatnya.Tak lama kemudian, tibalah saatnya acara malam penyerahan penghargaan.Di dalam aula, Clara dan Prof Nian duduk bersama, yang posisinya tidak jauh dari Edward, tetapi tidak ada interaksi sama sekali di anta
Clara dan Edward sama-sama tidak keberatan, mereka bahkan mengajak Gery ikut serta.Setelah masuk ke mobil, petugas itu bertanya kepada Clara sambil tersenyum, "Kenapa Pak Dylan nggak ikut bersama?""Dia sedang dalam perjalanan bisnis, nanti datang agak telat."Sudah cukup larut ketika mereka tiba di hotel. Clara, Gery, dan Edward melangkah masuk ke lift bersama-sama.Kamar Clara dan Edward berada di lantai yang sama, tetapi kamar Gery berbeda.Gery keluar dari lift terlebih dahulu, dan menyisakan Clara dan Edward.Mereka sempat saling melirik. Clara membalas tatapannya, lalu menarik kembali pandangannya. Edward tidak mengatakan apa pun.Namun, saat lift mencapai lantai tujuan dan berjalan keluar, Edward tiba-tiba berkata, "Selamat malam."Clara tertegun diam. Clara tidak menjawab, dia hanya menyeret koper, menggesek kartu aksesnya, dan masuk ke kamar....Pada saat itu, Dylan baru saja turun dari pesawat dan Prof Nian masih memiliki urusan lain. Namun, mereka semua harus menghadiri b







