LOGINDevan berlutut di hadapan Sisil dengan cincin berlian yang begitu indah setelah wanita pujaannya itu menerima buket bunga darinya. "Maaf karena udah bikin kamu kesal, maaf karena udah bohongi kamu. Semua aku lakukan biar semua rencana ini berhasil. I really love you, Sil. You're the only one for me now and forever. Will you marry me?"Sisil masih berdiri di depan Devan, matanya berkaca-kaca tak menyangka bahwa kekasihnya ini sedang melamarnya. Karena sejujurnya dari awal memiliki hubungan dengan Devan, ia tak terlalu berharap untuk bisa berlanjut sampai ke jenjang serius meskipun pria itu berulang kali selalu mengatakan ingin menikahinya. Makanya setiap orang yang bertanya tentang hubungannya akan selalu ia jawab "Doakan saja."Sisil tak mau sesumbar mengatakan bahwa ia akan dinikahi oleh seorang Devan, terlebih dengan track record pria itu yang sebelum dengannya selalu mudah berganti pasangan. Kata kedua orang tua dan kakak Devan, ia adalah wanita pertama dengan durasi terlama yang d
Satu minggu telah berlalu sejak curhatan Sisil pada Sekar malam itu dan kini mereka sudah berada di puncak Bogor untuk merealisasikan liburan yang tadinya direncakan oleh Sisil dan Devan."Sumpah gue masih sebel banget sama Devan. Rasa keselnya masih ada sampai sekarang. Gue udah mencoba pengertian tapi ternyata gue nggak bisa. Nggak ikhlas banget karena ini rencana udah dari berbulan-bulan lalu." Ucap Sisil dengan wajah yang bersungut-sungut."Gue paham kok perasaan lo, Sil. Tapi coba deh ambil sisi positifnya - kesempatan kita bisa ngumpul kek gini." Sebenarnya dalam hati Sekar tertawa terlebih saat melihat ekspresi di wajah Sisil. Namun tetap ia harus bersikap biasa saja agar semua yang Devan rencanakan berhasil.Ah... tapi ada hal yang sampai saat ini masih membuat Sekar kesal, bukan pada Sisil atau Devan, melainkan pada Jagat karena sepertinya pria itu berbohong padanya.Ia masih ingat betul saat pertemuan mereka, Jagat bilang Devan meminta tolong untuk menyampaikan padanya tenta
Sekar duduk di sofa panjang tepat di samping Mamanya. Televisi di depannya masih menyala karena setelah beberapa saat sang Mama masih fokus menonton acara yang sedang ditayangkan dan ia lebih memilih diam menunggu Mamanya berbicara terlebih dahulu."Mama tahu kamu pulang dengan Jagat dan malam ini bukan untuk yang pertama kalinya. Benar kan?"Sekar tercekat. Selama ini ia berusaha menutupi pertemuannya dengan mantan kekasihnya itu dari sang Mama, namun ternyata Mamanya malah sudah tahu.Meski Mamanya tak pernah bertanya atau berusaha ingin tahu tentang kehidupan pribadinya, namun ia tetap merasa telah mengkhianati sang Mama karena menyembunyikan pertemuannya dengan Jagat.Bukan tanpa alasan ia merasa seperti itu. Semua karena ia teringat bagaimana Bu Dian pernah mengancamnya dan mengancam sang Mama demi bisa memisahkan dirinya dengan Jagat. Dan kini dengan bertemunya ia dan Jagat kembali seolah membuka ingatan dan luka yang terjadi saat itu."Ma, Sekar bisa jelasin. Ini nggak seperti
Sekar tak menjawab jalimat yang beberapa saat lalu keluar dari mulut Jagat. Meski sedari tadi ia berharap pria itu mengajaknya jalan, nyatanya kalimat rindu dari Jagat tetap terasa menyakitkan untuknya karena ia kenyataan tentang hubungan mereka yang tidak direstui oleh Bu Dian kembali berputar di pikirannya.Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Bu Dian mengancamnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Jagat. Ia juga masih ingat saat Arjuna memberitahunya bahwa Mamanya juga diancam oleh Bu Dian.Rasanya sulit untuk ia dan Jagat kembali bersama jika tak ada restu dari ibu pria itu. Ia juga tak mungkin rela membuat keluarganya terluka atau celaka hanya karena keegoisan cintanya untuk Jagat."Saya pamit pulang, Pak. Terima kasih atas minumannya." Setelah beberapa saat hanya berdiri diam di tempatnya, akhirnya Sekar memilih berpamitan tanpa menanggapi ucapan Jagat."Saya antar." Ucap Jagat begitu saja.Sekar akhirnya menoleh untuk mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri, tapi ucapannya te
Nyatanya Sekar tak langsung pulang setelah ia keluar dari salah satu restoran tempat ia bertemu dengan Cindy karena ia justru berbelok ke sebuah toko pakaian. Tiba-tiba ia ingin membeli celana jins panjang di sana.Saat matanya sibuk memilih, mulutnya juga tak kalah sibuk. Ia menceritakan hal yang baru saja terjadi pada Sisil. Telat saat tadi ia masuk ke toko pakaian, Sisil menelpon dan akhirnya terjadilah sesi saling curhat di antara mereka."Sumpah tadi gue udah mikir si Dimas itu datang sama Mas Jagat, Sil. Gue udah panik duluan.""Yeee, itu mah lo yang kepedean." Sisil kemudian tertawa setelah mengatakan hal itu yang membuatnya mendengus seketika. Tapi benar juga sih, dia yang sepertinya kepedean. Jagat kan orang sibuk, mana mungkin mengikuti kencan sekretarisnya."Ingat Sekar, kalian itu cuma mantan. Jangan kepedean." Ucap batinnya pada dirinya sendiri."Iya sih, Sil, gue yang kepedean hahaha. Gue yang memang belum move on dari dia, tapi sok jaga jarak pas waktu itu ketemu. Mungk
"Saya sudah janjian dengan dia, Pak. Katanya dia mau bawa temannya saat kami ketemuan nanti."Ucap Dimas saat mereka akan melakukan boarding di bandara."Kamu suruh dia bawa teman, Dim?" Jagat sedikit terkejut bahwa ada seorang wanita yang akan membawa temannya untuk first date. Sungguh aneh menurutnya. Atau mungkin Dimas yang menyuruh?"Nggak, Pak. Dia bilang sebelum saya ajak ketemu, dia sudah ada janji dengan temannya itu. Jadi nggak enak kalau tiba-tiba dibatalkan. Salah saya juga karena mengajak dia ketemu mendadak."Jagat meringis, merasa bersalah juga karena sebenarnya ide liburan ke Singapura adalah idenya."Tapi, Pak. Katanya temannya ini teman kerja di perusahaannya, bisa jadi itu Bu Sekar." Ucap Dimas lagiJagat mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya, kemungkinan itu memang ada melihat beberapa highlight di media sosial wanita itu, sepertinya memang hanya Sekar yang begitu akrab dengannya."Terima kasih informasinya, Dim." Jagat kemudiaj duduk di kursinya menunggu saat take off
Jagat mematung memandang Mamanya yang kini tersenyum dan melangkah ke arahnya. Ia tak mengira sang Mama akan datang ke sini. Memang perusahaan ini milik Mamanya, tidak ada aturan yang melarang sang pemilik untuk datang. Tapi dulu Mamanya bilang tidak akan datang ke AYT Tech karena lebih memilih unt
Sekar membeku. Untuk sesaat ia terpaku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang, Jagat berpelukan dengan Rachel yang kata pria itu hanyalah wanita dari masa lalunya.Dengan tangan gemetar, ia memegang kemudi dan memundurkan mobilnya lalu berbalik melaju menjauhi rumah Jagat. Hati
"Untung hasilnya negatif. Pikiran gue udah ke mana-mana." Sekar menghembuskan napas lega. Perlahan-lahan jantungnya berdebar dengan normal. Ketegangan yang sedari tadi menyelimuti dirinya kini mulai pudar. Tapi ia akan kembali mengeceknya besok pagi agar dia merasa lebih yakin.Ketika ia bangkit da
Setelah kepergian sang Mama dari rumahnya, Jagat tak bisa tenang. Apa yang sudah Mamanya rencanakan untuk membuat Sekar menjauhinya? Apa ia telah melewatkan sesuatu? Apa mungkin Sekar yang tak bisa ia hubungi juga karena ulah Mamanya? Ya Tuhan, ia jadi berburuk sangka seperti ini. Jagat lalu kembal







