تسجيل الدخولBila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukmu.Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.Namun takkan mudah bagiku...."Sampai kapan lo mau dengar lagu galau kayak gini sih, Ben?"Entah sudah berapa kali Devan menanyakan hal itu padanya, tapi bukannya menjawab ia justru terus hanyut pada setiap lirik lagu yang seolah-olah selaras dengan nasib percintaannya saat ini.Sungguh kali ini patah hatinya memang berbeda. Lebih sakit, lebih pedih, lebih tidak bisa ia terima. Karena jika dulu dengan Rachel, ia memang tak sepenuhnya diinginkan oleh wanita itu atau hanya selingan saat Rachel bosan dan membutuhkannya. Sehingga lambat laun ia merasa cinta sendirian. Namun dengan Sekar, perasaannya jelas berbalas. Wanita itu juga mencintainya.Sekar mampu membuatnya menjadi dirinya sendiri. Selama dengan Sekar, ia lebih ekspresif tanpa takut membuat wanita itu tidak nyaman. Ia juga menikmati bagaimana Sekar selalu menunjukkan apa yang sedang dirasakannya. Cemberutnya, cemburun
"Mama kamu sudah cerita semua ke Papa. Jujur alasan Papa ke sini juga karena khawatir dengan kamu, Sekar."Sekar lantas tersenyum, mencoba menunjukkan ketenangan di wajahnya agar Sang Papa tak perlu khawatir berlebihan. Ia tak ingin menjadi beban pikiran Papa dan Mamanya."Papa nggak usah khawatir, ya. Sebentar lagi Sekar resign kok dari perusahaan itu. Mungkin kurang lebih lima belas hari atau paling lambat satu bulan lagi, setelah itu Sekar akan ke Singapura ikut Mama.""Tapi Papa masih tetap tidak tenang dan takut kalau orang tua Jagat akan macam-macam sama kamu atau Mama kamu." Ucap Pak Joko masih dengan nada khawatir yang sangat ketara."Pa, keluarga Mas Jagat kan mengancam karena waktu itu Sekar masih punya hubungan sama Mas Jagat. Sekarang kami udah putus, jadi seharusnya mereka nggak mengganggu hidup Sekar ataupun keluarga Sekar."Pak Joko tak membalas lagi ucapan anak perempuannya. Pria paruh baya itu lebih memilih menarik tubuh Sekar dalam dekapannya. I
"Itu jauh lebih bagus, Ben. Saat nanti lo udah minta Sekar buat balik ke lo, lo udah benar-benar siap dari segala sisi, termasuk buat melindungi dia dari nyokap dan kakek lo atau bahkan mungkin dari Rachel dan keluarganya. Karena kalau gue lihat Si Rachel nggak cuma cinta sama lo, tapi udah masuk ke obsesi."Jagat mengernyitkan dahinya, bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Devan. "Maksud lo gimana, Van?"Devan menegakkan duduknya dan menatap lurus tepat ke mata Jagat. "Sebenarnya sejak kita ke Labuan Bajo dan ketemu Rachel di sana, lihat cara dia mencoba dekat ke lo terus posting foto kita di media sosialnya. Dia kan harusnya tahu Lo udah sama Sekar, tapi kelakuannya waktu itu seperti kalian masih menjalin hubungan tanpa status beberapa tahun lalu.Lebih anehnya lagi, waktu itu gue dengar bokapnya Rachel beli saham AYT Tech dan beberapa hari setelahnya nyokap lo mengumumkan pertunangan lo sama Rachel. Kalau tebakan gue benar, Rachel mau lo balik sama dia d
"Hari ini terasa cepat banget ya? Aku ngerasa seperti baru tadi pagi sarapan, ini sudah jam lima saja."Sekar hanya tersenyum menanggapi ucapan Prily. Baginya hari ini terasa begitu panjang, setiap detik terasa seperti siksaan untuknya apalagi setelah tadi meninggalkan Jagat di roof top."Kamu nggak bawa mobil ya hari ini? Soalnya tadi pagi aku lihat kamu jalan kaki dari arah gerbang.""Iya, Pril. Lagi malas bawa, untung ada adikku yang menginap di apartemen."Prily hanya membulatkan bibirnya lalu tersenyum. Hari ini gadis itu tak banyak berbicara padanya selain karena urusan pekerjaan. Tak seperti biasanya yang sering kali mengajaknya mengobrol. Sekar menyadari itu. Mungkin karena sedari pagi ia juga lebih banyak diam.Keluar dari gedung apartemen, Sekar lalu melangkah ke arah halte di mana Arjuna sudah menunggunya. Ia baru saja melihat pesan dari adiknya yang mengatakan sudah berada di dekat halte perusahaan."Sebelum ke rumah Eyang, kita ke apartemen lo la
Sekar terus berjalan sampai ia berhasil melewati pintu penghubung roof top. Setelah menutupnya, ia berdiri cukup lama di balik pintu sambil terisak. Air matanya tak mau berhenti saat tatapan terluka yang Jagat tunjukkan terus berlarian dalam pikirannya."Maafkan aku." Ucapnya pelan seraya mengusap kedua pipinya.Ia merasa menjadi pihak yang jahat dalam hubungannya dengan Jagat. Ia telah menyakiti pria itu demi perpisahan yang saat ini ia anggap baik. Keputusan ini memang menyakitkan karena terjadi saat ia dan Jagat sama-sama sudah menyatakan perasaan, tapi ia tak punya pilihan lain karena Bu Dian telah mengancam Mamanya."Lo mau tahu gue tahu dari siapa? Dari Mama. Bu Dian menghubungi Mama, menyuruhnya untuk meminta lo jauhi anaknya. Awalnya cuma itu, tapi tadi siang Mama bilang lagi kalau Bu Dian mengancam dia. Kalau lo nggak segera memutuskan hubungan dengan Jagat, dia mengancam Mama akan membuat hidup lo dan keluarga kita jadi sengsara. Gue seharusnya nggak bilang ini sama lo, tapi
"Lo bilang apa tadi? Kasih surat pengunduran diri?""Iya, tadi gue udah kasih surat pengunduran diri ke kepala divisi gue."Sekar kembali menyeruput es teh yang ada di gelasnya seraya memandangi Sisil yang kini termenung. Ada apa dengan temannya itu?"Lo kenapa, Sil?" Tanya Sekar heran."Gue cuma nggak nyangka lo beneran resign."Sekar mengernyitkan dahinya. Bukankah waktu Sisil berpendapat akan lebih baik dia resign daripada terus bekerja di sini dan bertemu dengan Jagat."Nanti gue makan siang sama siapa di kantin?" Lanjut Sisil seraya menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.Sekar jadi ikut merasa sedih. Selama kerja di AYT Tech mereka memang selalu makan siang bersama di kantin jika Sisil sedang tidak ada pekerjaan lapangan. "Nanti lo bisa makan siang di luar kalau gitu. Lo kan sering tuh kesel sama gue yang malas gerak karena lebih sering milih makan di kantin daripada di luar."Sisil tertawa pelan. Wanita itu menganggukkan kepala mendengar ucapannya. "Iya juga sih. Nanti gue ma
Sekar membeku. Untuk sesaat ia terpaku seolah tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang, Jagat berpelukan dengan Rachel yang kata pria itu hanyalah wanita dari masa lalunya.Dengan tangan gemetar, ia memegang kemudi dan memundurkan mobilnya lalu berbalik melaju menjauhi rumah Jagat. Hati
"Untung hasilnya negatif. Pikiran gue udah ke mana-mana." Sekar menghembuskan napas lega. Perlahan-lahan jantungnya berdebar dengan normal. Ketegangan yang sedari tadi menyelimuti dirinya kini mulai pudar. Tapi ia akan kembali mengeceknya besok pagi agar dia merasa lebih yakin.Ketika ia bangkit da
Setelah kepergian sang Mama dari rumahnya, Jagat tak bisa tenang. Apa yang sudah Mamanya rencanakan untuk membuat Sekar menjauhinya? Apa ia telah melewatkan sesuatu? Apa mungkin Sekar yang tak bisa ia hubungi juga karena ulah Mamanya? Ya Tuhan, ia jadi berburuk sangka seperti ini. Jagat lalu kembal
“Dan semoga kelak pasangan saya itu kamu.”Kalimat itu terus terngiang di pikiran Sekar meski yang mengucapkan sudah pulang ke rumahnya beberapa jam lalu. Di saat ia sedang berusaha membentengi hatinya lagi agar tidak terjebak terlalu dalam di kubangan perasaan, Jagat justru kembali memberikannya s







