Se connecterBahkan Joycelin pun bisa melihat bahwa Shelly sedang berusaha menghindari Jeffry.“Kalau sekarang juga kamu datang ke perusahaan untuk bekerja, kamu nggak akan dihitung terlambat. Kalau nggak, bonusmu bulan ini akan aku potong habis.”Setelah melemparkan dua kalimat itu, Jeffry langsung menutup telepon.Joycelin, “Kak? Eh, hah … tadi jelas-jelas kamu sendiri yang menyuruhku istirahat beberapa hari lagi ….”Joycelin langsung panik.Dia bergegas naik ke lantai atas untuk berganti pakaian, lalu buru-buru berangkat ke perusahaan sambil terus mengomeli kakaknya di dalam hati....Di sisi lain.Setelah menutup telepon, Jeffry membuka beberapa kancing kerah bajunya.Layar komputer di depannya masih gelap, memantulkan wajahnya yang tegang.Ujung lidahnya menekan pipi bagian dalam. Wajah tampannya terlihat begitu serius, penuh pertimbangan, sekaligus penuh kebingungan yang sangat dalam.Entah berlalu berapa lama, dia menelepon seseorang. “Aku mau Shelly mengaku sendiri bahwa dia sedang hamil.”
Napas Shelly seketika tertahan. Tangannya yang memegang sendok bergetar.Sendok itu pun terjatuh ke atas meja, membentur mangkuk dan piring. Bunyi denting yang nyaring terdengar jelas di telinganya, membuat detak jantungnya langsung kacau.“Kamu … bilang apa?”“Aduh, sebenarnya aku dan nenek sudah lama tahu tentang kehamilanmu.”Joycelin menepuk pelan mulutnya sendiri. Dia lagi-lagi keceplosan!“Aku juga tahu bahwa anak yang kamu kandung itu milik Harrison. Nenek bahkan mau mengangkatmu menjadi cucu angkatnya supaya dia bisa mendukungmu, agar kamu punya cukup kedudukan untuk masuk ke Keluarga Wijaya ….”Kepala Shelly langsung berdengung.Sejak mengetahui dirinya hamil, dia sadar bahwa sebagai orang biasa, dia sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk melawan keluarga sebesar Keluarga Anderson.Oleh karena itu, cara terbaik untuk melahirkan anaknya secara diam-diam adalah pergi dari Tavira sejauh mungkin.Tidak jadi pergi adalah hal yang berada di luar rencananya. Terbongkarnya masalah
“Awas.” Jeffry membuka bibirnya dan melontarkan satu kata singkat.Nada suaranya yang penuh wibawa langsung membuat Joycelin menelan ludah.“Oh ….” Joycelin pun membuka pintu lebih lebar.Seluruh kamar didominasi warna merah muda dengan dekorasi yang lucu.Suasananya sangat bertolak belakang dengan pembawaan Jeffry yang serius dan dewasa.Jeffry melangkah masuk dengan alis berkerut, duduk di sofa yang berada di ujung tempat tidur. “Jelaskan, kenapa beberapa hari ini kamu nggak masuk kerja?”Joycelin balik bertanya, “Nenek nggak kasih tahu kamu?”“Aku mau mendengarnya darimu.” Jeffry menyilangkan kedua kaki. Kedua tangannya bertaut dengan tenang di depan tubuhnya.Ibu jarinya berputar pelan, sementara wajahnya tetap serius.Joycelin mengerutkan dahi. “Kepala departemenku mau mengejarku. Aku sudah menolaknya, tapi dia malah mulai mempersulit pekerjaanku. Kak, tolong pindahkan aku ke departemen lain saja.”Hal ini tidak berani diceritakannya kepada Nenek Mina.Kalau sampai Nenek Mina tahu
“Bu, aku mencintai Kak Jeffry. Baik latar belakang keluarganya maupun kualifikasi dirinya sendiri, dia adalah pilihan terbaik. Aku harus menikah dengannya!”Saat mengucapkan kata harus, Elora menekankannya dengan suara yang lebih berat dan tegas.Namun, Marina justru terlihat tak berdaya. “Kamu terlalu mengambil risiko. Kalau Keluarga Anderson mengetahui masalah ini, pernikahanmu dengan Jeffry pasti batal. Setelah menikah nanti, bagaimana kamu akan menjelaskannya kepada Jeffry?”“Tenang saja, cuma Kak Jeffry yang tahu. Urusan setelah menikah, kita pikirkan nanti saja.”Elora menggenggam tangan Marina erat-erat. “Makanya aku nggak mau menunggu, Bu. Aku takut terjadi sesuatu yang tak terduga.”Kepala Marina terasa berdengung. Masalah ini bahkan terasa lebih mengancam daripada penyakitnya sendiri.“Biarkan Ibu menenangkan diri dulu ….”Dia berkali-kali mengusap dadanya. Pandangan di depan matanya bahkan sempat menggelap.Beberapa saat kemudian, Marina akhirnya sedikit tenang.Dia menepuk
Soal persiapan pesta pernikahan, Jeffry tidak ikut campur.Gaun pengantin dan pakaian resmi pun disuruhnya diurus sendiri oleh Elora.Kalau memang dia sibuk bekerja, Elora masih bisa memakluminya.Namun, dia justru punya waktu untuk mengurus urusan Shelly.“Bagaimana kalau aku mau memajukan tanggal pernikahan?”Jeffry menjawab datar, “Kalau begitu, silakan pikirkan sendiri.”Elora terdiam.Jeffry mematikan rokok, membuang puntungnya ke tempat sampah, lalu mengibaskan asap tipis yang masih menghalangi pandangannya.“Jangan terlalu khawatir. Baliklah.”Saat melihat mata Elora sudah memerah karena menangis, Jeffry akhirnya mengucapkan satu kalimat penghiburan.Usai itu, dia langsung berjalan menuju lift.Elora menggigit bibir bawahnya erat-erat sambil memandangi Jeffry yang masuk ke dalam lift hingga pintunya tertutup.Dia hanya bisa berbalik dan kembali ke ruang rawat.Marina sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang tampak segar.Dia memperlihatkan sebuah gelang manik-manik ci
“Belum.”Shelly sendiri sudah tidak ingat ini pertanyaan keberapa kalinya dari Saryna.Namun, jawabannya selalu sama.Saryna hanya mengangguk pelan. Meski dalam hatinya mengeluh, dia sudah terbiasa dengan jawaban itu.Kalau dipikir-pikir, perjuangan Shelly untuk pindah dari Tavira rasanya seperti perjalanan mencari kitab suci.Dia harus melewati berbagai rintangan. Bahkan ketika hampir berhasil, masih saja ada orang yang menghalangi.Namun, setiap rintangan pasti ada akhirnya.Siapa tahu, besok sudah ada kabar dan lusa Shelly sudah benar-benar pergi.“Apa kamu sudah mengembalikan uangnya?” Shelly berhenti memikirkan Jeffry.Sejak awal, dia memang tidak pernah benar-benar bisa memahami pria itu.Ekspresi Saryna tampak sedikit aneh. “Aku sudah transfer, tapi dia nggak mau terima. Malah dia bilang mau traktir aku makan.”Shelly mengernyit. “Artinya, dia mau bertemu langsung?”“Iya.” Saryna juga merasa pusing, tetapi dia berusaha berpikir positif. “Dia meminjamkanku uang dengan gampang sek
“Tentu saja Nenek tahu.” Nenek Mina melirik Jeffry sekilas. “Lagipula Lyly juga tidak mungkin mau menikah lagi denganmu.”Entah kenapa, ucapan itu terdengar sangat menusuk di telinga Jeffry.Padahal jelas-jelas .…Dirinyalah yang tidak akan menikah lagi dengan Shelly.Bukankah begitu?“Sudah pergi s
Joyce mendecakkan lidah lalu memutar mata ke arah mereka sebelum menyenggol lengan Nenek Mina.“Nek, Ibu mau bikin masalah apa lagi sekarang?”Nenek Mina membuka matanya sedikit. “Terserah dia mau apa. Yang jelas Lyly pasti tidak akan kembali lagi. Bahkan kalau ibumu mau menikahkan kakakmu dengan se
Meski terpisah oleh satu jalan, tatapan tajam yang diberikan Jeffry tetap terasa begitu kuat dan sulit diabaikan.“Sudah ketemu?” Tatapan Jeffry masih tertuju ke arah Shelly, tapi dia sebenarnya sedang berbicara pada Maxwell di kursi pengemudi.Jari Maxwell bergerak cepat di layar ponsel.“Belum ket
Kalimat pertama yang keluar dari mulut Marina adalah, “Kamu harus minta maaf pada putriku!”“Memangnya kenapa?” Irene menyilangkan tangan di dada lalu tertawa dingin.“Selera setiap orang beda-beda. Aku cuma merasa dia jelek, memangnya itu melanggar hukum?”Mendengar kata “jelek” keluar lagi dari mu







