FAZER LOGIN"Lalu bagaimana urusan pekerjaanmu?" tanya Saryna seperti baru teringat sesuatu. "Grup Vantara memberimu cuti panjang?""Nggak. Aku mengundurkan diri."Kalaupun bukan karena harus ikut Jeffry ke Tavira, Shelly memang sudah tak berniat bertahan di Grup Vantara lagi.Wirya sudah tidak bisa menoleransi keberadaannya di sana."Benar juga. Jery masih kecil. Kamu nggak usah buru-buru kerja. Barusan aku transfer satu miliar ke rekeningmu, pakai untuk keperluanmu."Saryna menepuk punggung tangannya. "Jangan sampai hemat-hemat memakainya. Dulu kita sudah sepakat, siapa pun yang punya uang harus menghidupi yang lain tanpa syarat. Lagipula ini uang Keluarga Gunawan, uang kita berdua, bukan cuma punyaku."Shelly menyahut, "Tapi ....""Berapa nilai saham Keluarga Gunawan? Kamu menyerahkannya padaku begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Ini cuma satu miliar. Kalau kamu tolak, boleh. Aku juga akan tolak saham-saham itu.”Saryna melepaskan genggaman tangannya, lalu bangkit hendak menghampiri Jeffry. "Bi
"Nggak mungkin." Shelly spontan membantah, "Aku sudah baca perjanjiannya."Begitu kata-kata itu meluncur keluar, hatinya tiba-tiba seperti tersandung sesuatu.Dia seperti hilang ingatan. Ada baca atau tidak?”"Itu nggak penting. Intinya, kalau dia mau menahanmu, ada seribu cara yang bisa dia pakai."Denyut jantung Saryna makin cepat. Dia menarik tangan Shelly, mengajaknya duduk di bangku panjang itu."Tapi dia nggak memaksa. Itu tandanya dia laki-laki sejati. Kamu itu …."Dia mau membujuk Shelly agar benar-benar mempertimbangkan untuk menjalani hidup bersama Jeffry. Tapi semakin banyak bicara, semakin besar risiko salah. Saryna menyadarinya saat menangkap tatapan Shelly yang menatapnya dengan kebingungan yang aneh.Saryna terpaksa mengalihkan topik. "Setelah sampai di Tavira, sempatkan mampir lihat Jessica. Bibi Yanti nggak ada. Entah anak-anak itu baik-baik saja atau nggak.""Iya, nanti aku telepon kamu waktu aku ke sana."Shelly duduk sambil bertanya, "Bagaimana keadaan Bibi Yanti se
Shelly menggeleng pelan. "Aku memang berencana mengalihkan saham itu ke kamu, tapi aku pikir harus menunggu momen yang tepat."Rencananya, saham itu akan melewati tangannya dulu, baru kemudian cari kesempatan untuk diserahkan ke Saryna.Siapa sangka, Jeffry langsung menyuruh Saryna menandatangani dokumen pengalihan saham itu sendiri. Ini justru menghemat satu langkah perantara yang tak perlu."Satu hari lebih lama berarti satu peluang lebih besar untuk meleset."Jeffry menyandarkan tangan di pegangan kereta bayi, lalu mengangkat kelopak matanya menatap Shelly. "Satu panah dua target. Tapi, ada satu hal yang masih kurang sempurna. Kamu mesti meninggalkan Kota Sentara dalam waktu 24 jam."Begitu Johan menyadari bahwa yang menandatangani perjanjian itu adalah Saryna, dia pasti akan langsung mencari Shelly.Meski belum tentu bisa berbuat apa-apa pada Shelly, kedatangannya saja sudah cukup untuk mengacaukan suasana hati Shelly."Meninggalkan Kota Sentara?" Suara Saryna tanpa sadar meninggi.
"Pak Johan, tehnya enak, bukan?" tanya Bibi Sari ramah."Memang.""Ini teh kesukaan Tuan Muda. Kalau Anda suka, nanti biar saya bungkus sedikit untuk Anda bawa pulang."Suara percakapan Bibi Sari dengan Johan mengalir dari ruang tamu.Shelly menekan rasa heran atas tingkah aneh Jeffry tadi, lalu menerima pena dari Kak Ratih dan menandatangani dokumen itu dengan cepat dan rapi.Setelah itu, Kak Ratih membawa perjanjian tersebut ke hadapan Johan."Sudah ditandatangani?" Nada Johan terdengar terkejut, disusul suara lembaran kertas yang dibolak-balik."Kalau Pak Johan sudah mendapatkan apa yang diinginkan, sebaiknya segera pamit. Sebentar lagi Tuan Muda dan Nyonya Muda masih ada urusan lain."Bibi Sari menjatuhkan kalimat pengusir itu dengan santai, seolah bukan orang yang sama yang baru saja mengobrol hangat dengan Johan beberapa menit lalu.Johan memeriksa dokumen itu berulang kali, memastikan Shelly benar-benar sudah menandatanganinya.Dia mencoba melirik ke arah ruang makan, tapi panda
Seberkas cahaya matahari melompat melewati garis cakrawala, menerobos masuk ke kamar tidur, menyinari tiga sosok yang terlelap di sana.Pukul sembilan pagi, pintu kamar diketuk.Suara Bibi Sari menembus pintu. "Tuan Muda, Nyonya Muda."Shelly langsung membuka matanya. Baru sadar ternyata sudah pukul sembilan.Jery masih tidur. Lelaki yang entah sejak kapan ada di sisi seberang itu pun masih terlelap.Shelly turun dari ranjang dan membuka pintu. "Mereka belum bangun. Ada apa?""Keluarga Gunawan datang. Mereka mau menemui Anda." Bibi Sari menunjuk ke arah bawah.Keluarga Gunawan datang lebih cepat dari yang diperkirakan Shelly."Suruh mereka tunggu." Suara Jeffry terdengar sedikit serak, berat, khas orang yang baru setengah terjaga.Shelly menoleh. Jeffry sudah duduk tegak di atas ranjang dengan kemalasan dan keseksian yang begitu alami di wajahnya."Baik." Bibi Sari berbalik dan turun untuk menemani tamu.Setengah jam kemudian, Shelly dan Jeffry masing-masing sudah selesai cuci muka dan
"Nggak usah nunggu aku."Jeffry melihat mereka semua menoleh ke arahnya, mengira sedang menungguinya untuk makan malam.Dia melangkah mendekat sambil menggenggam ponsel, dan saat melihat Shelly menggendong Jery, ekspresinya yang biasanya keras itu tampak melunak sedikit."Aku mau telepon beberapa orang dulu. Kamu makan duluan aja."Shelly menggeleng tanpa sadar. "Aku tunggu kamu."Jeffry membungkuk, mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut hitam panjang Shelly. "Ya sudah, makan dulu."Ujung jarinya menyusuri sela-sela rambut itu, menyelipkan helai-helainya ke belakang telinga Shelly. Dia lalu melirik ke arah Bibi Sari. "Tolong siapkan meja makannya."Bibi Sari mengangguk cepat sambil berkata, "Baik," lalu menarik Kak Ratih ke dapur untuk menghidangkan makan malam.Kehangatan ujung jari Jeffry masih terasa samar di sisi telinga Shelly.Dia pura-pura menunduk menatap Jery, mencoba menghindari "pelukan" yang tanpa sadar diciptakan Jeffry saat dia membungkuk ke arahnya, satu tangan be
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.







