LOGINTapi dia tidak pernah menyangka bahwa Agnes sama sekali bukan ibu kandungnya.Ibu kandungnya adalah perempuan itu ….Wajahnya pucat pasi.Jeffry berkata tenang, "Lumpur Keluarga Gunawan sudah cukup keruh sendiri. Aku nggak perlu menambah apa-apa."Dia pun tidak sudi menggunakan cara-cara kotor seperti fitnah dan rekayasa.Sosok Gavin yang tinggi besar itu tiba-tiba tampak lunglai, seolah seluruh tenaganya terkuras seketika."Ungkap semua yang pernah dilakukan Johan dan istrinya kepadamu," kata Jeffry. "Dan kamu bisa benar-benar lepas dari cengkeraman Keluarga Gunawan. Dengan kecerdasan yang kamu punya, masa depanmu tidak terbatas. Aku akan membantumu."Jeffry melempar tawaran itu ke hadapan Gavin. Jika Gavin menolak, itu pun tidak akan menguntungkan Gavin sama sekali dan Jeffry tidak perlu repot-repot menjatuhkannya."Kamu ... juga tahu siapa ibu kandungku?" tanya Gavin.Jeffry mengangguk pelan. "Kalau kamu mau ketemu, aku bisa atur sekarang ….""Jangan!" Gavin memotongnya. "Aku nggak
Berita itu mengupas tuntas hubungan sebenarnya antara Gavin dan pasangan suami istri Gunawan, bahkan Bibi Yanti pun ikut terseret ke permukaan. Keputusan Johan di masa lalu untuk membuang putrinya sendiri, juga kisah bagaimana Saryna ditinggalkan begitu saja, semuanya terbongkar habis-habisan.Tidak ada bukti tertulis, tapi alurnya rapi dan masuk akal, setiap gerak-gerik ganjil Keluarga Gunawan di masa itu selaras dengan fakta-fakta yang dibeberkan. Dalam sekejap, Johan dan istrinya terseret ke pusaran opini publik, saham Grup Gunawan pun terjun bebas menyentuh titik terendah.Shelly menyisir berita itu satu per satu, tapi tidak menemukan satu pun yang menyangkut namanya.Seketika dia paham. Ini ulah Jeffry.Dia yang menyerang Keluarga Gunawan.Tapi kenapa?Shelly menatap layar dengan sorot mata yang sulit dibaca, lalu mengalihkan pandangan ke Jery, kemudian ke Kak Ratih. "Kamu telepon dia, tanya.""Aku mau tanya apa, kamu aja yang tanya." Kak Ratih bergidik begitu nama Jeffry terlinta
Tanpa sadar, Shelly tertidur lagi.Saat terbangun, suasana di sekitarnya begitu hening. Rasanya mirip seperti momen ketika dia bangun dan mendapati Jeffry sudah menggendong Jery keluar kamar.Namun begitu menoleh ke samping, dia melihat Jery masih terlelap di sana.Shelly melirik jam, ternyata sudah lewat pukul 10.00. Dia langsung bangkit duduk dengan kaget, mengamati Jery dari dekat, lalu meletakkan jarinya di bawah hidung si kecil.Merasakan hembusan napas hangat putranya yang masih teratur, barulah dia bisa menghela napas lega.Kok belum bangun juga?Shelly meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Kak Ratih, memintanya untuk naik ke lantai atas.Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Kak Ratih mendorong pintu lalu melangkah masuk."Shelly, kamu sudah bangun? Tadi aku buat sarapan, tapi lihat kamu masih tidur nyenyak, jadi aku nggak langsung bawa naik ke atas."Di tangan Kak Ratih ada seporsi roti lapis dan segelas susu yang baru dihangatkan.Shelly menerimanya d
"Aku memang sudah lama mau melakukan ini, baru sekarang ada kesempatannya."Wajah Melly pun perlahan menegang, rona di pipinya memudar.Dia orangnya sangat gengsi. Tidak mau Jeffry tahu bahwa dirinya sudah dimanfaatkan orang.Urusan dengan Elora akan dia selesaikan sendiri, dengan tangannya sendiri.Jeffry berkata datar, "Aku sudah suruh orang batalkan tes DNA itu. Jery bukan cucu kandungmu. Mulai sekarang, jangan coba-coba menemui dia lagi."Setelah itu, dia berbalik dan melangkah keluar.Melly terpaku. Menatap punggung anaknya yang menjauh, wajahnya berangsur pucat seperti kertas. "Dia ... dia ngomong apa barusan? Maksudnya apa?!""Nyonya, jangan panik dulu. Tuan Muda bicara begitu karena masih terbawa emosi. Kemarin kejadiannya sungguh mengerikan. Tunggu sampai beliau tenang dulu, baru nanti bicara pelan-pelan."Bibi Sari khawatir Melly akan semakin terpukul, jadi buru-buru mencoba membujuknya.Melly merasa pandangannya menggelap. Kepalanya berdengung."Bikin aku mati saja sekalian,
Setelah Melly menelepon Herman waktu itu, Jeffry sempat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengirim pesan kepada Maxwell untuk terus mengawasi gerak-gerik ibunya.Siapa sangka, malam itu juga langsung terjadi kekacauan.Tatapannya menggelap muram. "Untuk apa dia bawa Jery ke rumah sakit?"Wajah Maxwell sudah sepucat mayat. "Bibi Sari bilang, Bu Melly mau tes DNA."Suhu di dalam mobil mendadak merosot drastis hingga ke titik beku.Jeffry menggertakkan gigi dengan rahang mengeras rapat, seolah ingin meremukkan giginya sendiri sampai hancur.Sambil memijat pergelangan tangannya, sorot matanya berubah makin bengis. "Telepon Johan. Suruh dia pergi ke rumah sakit untuk jemput orang-orangnya.""Baik!"Setengah jam kemudian, di ruang rawat VIP rumah sakit.Di dahi Melly tertempel perban kasa yang mulai merembeskan noda darah. Wajahnya pucat pasi. Dia terus-menerus bertanya untuk memastikan kepada Bibi Sari, "Jery benaran nggak apa-apa?""Nggak apa-apa, Nyonya. Untung Pak Maxwell datang dan men
Shelly menoleh ke Jeffry, kebetulan melihat kerutan samar melintas di kening pria itu yang lenyap dalam sekejap.Seolah hanya halusinasi saja. Begitu Shelly melihat lebih saksama, kerutan di kening Jeffry sudah sirna."Nggak apa-apa. Aku antar kamu pulang."Jeffry melangkah menuju area pintu depan."Biar aku yang menyetir saja," sahut Shelly.Dia berpamitan singkat pada Herman, lalu bergegas pergi.Dalam perjalanan pulang, ponsel Jeffry berdering 2 kali. Dua-duanya langsung ditolak.Setelah itu, jemarinya tak berhenti mengetik pesan, membuat kabin mobil dipenuhi deru getaran ponsel yang tiada henti.Dengung getaran itu membuat perasaan Shelly kian gelisah."Ada masalah di kantor?" tanyanya pada Jeffry.Jeffry menyahut, "Cuma masalah kecil. Semuanya sudah hampir beres."Sorot wajahnya yang rupawan sempat diselimuti ketegangan berat, tetapi perlahan melembut saat pandangannya beralih menatap Shelly."Ibuku sedang kurang enak badan, jadi beberapa hari ini Bibi Sari pergi ke sana untuk mer
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







