共有

Bab 15

作者: Kharamiza
last update 公開日: 2026-04-12 21:53:18

Saat diantar pulang oleh Ihsan pun, Eca masih belum bisa memahami semua pembicaraan hari ini.

Bukan apa-apa, tetapi rasanya seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.

Baru kemarin ia mati-matian mencari cara mempertahankan rumahnya. Sampai membuang harga diri memaksa Ihsan menikahinya, meski pria itu menolaknya mentah-mentah.

Sekarang?

Ia sudah punya calon suami. Bonusnya sudah direstui juga. Bahkan … sudah dijadwalkan dilamar minggu depan.

Minggu depan, bukan belan depan. Memang terkesan terla
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
kan nikah kontrak kakk wkwkw di bayangan Eca tuh nikah sederhana aja karena nikah kontrak itu ga selamanya kan, yang penting ada statusnya aja~ cuma demi kepentingan juga hehehe~ tapi orang tuanya ican tuh nganggepnya serius
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
nah gitu dong Ihsan...Eca calon istrimu..lagian ngapain juga Eca nolak dinikahi dengan pesta sekampung?duh Eca ada ada saja
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 122

    Suasana di kamar sempat hening selama beberapa saat.Ihsan menatap lurus ke arah istrinya, lalu perlahan melangkah mendekat. Tangannya terulur mengusap pelan pipi Eca.“Neng ….”Eca mengangkat kepala. Di balik manik mata Ihsan yang teduh, ia tidak menemukan kepanikan sedikit pun.“Tenangin diri dulu.”“Gimana bisa tenang, Kang?” Eca menggeleng lemah dengan wajah kusut. “Rahasia kita ada di situ. Terus sekarang suratnya malah hilang gara-gara kecerobohan aku.”“Nanti saya bantu cari.”“Tapi kalau—”“Saya bantu cari,” ulang Ihsan, kali ini sedikit menekankan ucapannya, meski nada suaranya tetap tenang.Eca terdiam.Rasanya, setiap kali Ihsan bicara setenang itu padanya, dadanya yang semula sesak selalu perlahan ikut mereda.Ia mengembuskan napas pelan.“Mungkin ketinggalan di rumah Mamah,” ucapnya lirih. “Akang coba cari ke sana, ya.”“Iya, Neng Sayang.”Ihsan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 121

    Eca menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.‘Tidak. Tidak mungkin itu hilang, kan,’ batinnya terus meyakinkan diri.Lagipula, itu hanya kertas satu kembar. Bisa saja hanya terselip di tempat lain.Eca kembali memeriksa isi laci meja riasnya untuk ketiga kalinya. Namun, hasilnya tetap sama.Map biru itu masih ada. Berkas-berkas lain juga lengkap. Hanya surat kontraknya yang tidak ada.Eca langsung bangkit dari kursi, berharap dirinya yang mungkin saja salah ingat menaruhnya di mana.Langkahnya pun bergerak cepat menuju nakas di samping ranjang. Satu per satu lacinya dibuka. Hanya saja, hasilnya tetap saja nihil.Eca memejamkan mata sejenak lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.“Astaga ....”Ia kembali memaksa dirinya mengingat.Terakhir kali ia melihat surat itu ... saat akan pindah sementara ke rumah mertuanya.Eca masih ingat jelas. Waktu itu ia mengumpulkan semua berkas penting ke dalam satu map. Ijazah. Akta lahir. Sertifik

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 120

    Sekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Eca akhirnya keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan handuk.Matanya refleks menyapu seisi kamar, mencari sosok Ihsan. Namun, pria itu ternyata sudah tidak ada.“Mana Kang Ican?”Eca mengernyit pelan, tetapi tidak terlalu memikirkannya.Ia beralih mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya.Saat tak sengaja melirik ke arah balkon, barulah ia melihat Ihsan di sana.Pria itu tampak duduk santai sambil membaca buku dan menyeruput kopi.Eca langsung mendecih.Tadi di kamar mandi seperti singa kelaparan.Sekarang malah duduk kalem seperti tak pernah terjadi apa-apa.Setelah merasa cukup rapi, barulah Eca turun dari lantai dua.Udara sore langsung menyambutnya begitu kakinya akhirnya menapaki teras rumah.Seharian berada di dalam rumah, embusan angin hangat sore itu terasa menyenangkan di kulitnya.Eca menarik napas panjang sebelum

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 119

    Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 118

    Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 47

    Eca nyaris kehabisan kata-kata untuk menanggapi saudara tirinya itu. “Astaga, Arina!” pekiknya setengah frustrasi. “Siapa juga yang mau pakai baju bolong-bolong begitu, yang ada aku masuk angin. Kalau ada ide, tuh, dipikir-pikir dulu, dong.”“Ya terus? Masa mau dipajang aja? Ak

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 46

    Tubuh Eca refleks berbalik cepat. Wajahnya jelas-jelas panik. Ia menelan ludah, lalu menggeleng kuat-kuat.“Ng—nggak apa-apa,” ucapnya buru-buru, bahkan sebelum benar-benar memikirkan jawaban.Ihsan berdiri tidak jauh dari sana. Rambutnya masih sedikit basah, celana pendek sudah melekat rapi di pin

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 45

    Genggaman Eca di lengan Ihsan semakin menguat tanpa sadar, seakan hanya itu satu-satunya pegangan yang ia punya saat ini. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Ihsan mengerti. Tanpa banyak bicara, ia menarik pinggang Eca, mendekatkan tubuh mereka. Tangan yang lain naik, mengusap pelan bahu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 44

    Ihsan tak langsung menjawab. Keningnya justru mengerut sejenak. Tatapannya lurus ke arah sang istri. “Pegang tangan lebih baik, daripada pegang ….” Ucapannya langsung terhenti.Namun, entah kenapa Eca tetap bisa langsung menebak ke mana arah kalimat itu. Terlebih, tatapan pria itu sempat turun, se

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status