Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang. Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna. Ihsan … mencalonkan diri jadi kades? “Serius, Bi? Dulu ‘kan, Ihsan betul-betul pendiam? Kok tiba-tiba …” Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Ucapan Eca tidak sempat tersuarakan. Ia kaget dengan kabar yang baru didengarnya ini. Tidak salah? “Begitulah, Neng. Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri. “Iya, Bi. Hatur nuhun.” Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi. Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa. Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan. Eca menatap kosong ke arah meja. Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa. Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide
Last Updated : 2026-04-02 Read more