LOGINHening sempat mengisi ruang tamu itu beberapa detik setelah obrolan mereka soal pencalonan kepala desa.Eca sendiri masih sibuk dengan pikirannya, sementara Ihsan terlihat santai menyandarkan tubuh di sofa.“Oh, ya … Neng mulai ngajar lagi kapan?” tanya Ihsan, memecah sunyi di antara mereka lagi.“Besok udah mulai.” Eca memijat dahinya pelan. “Masih baru pindah juga, jadi nggak enak kalau cuti lama-lama.”“Hm. Berarti nanti Akang anterin.”Eca langsung menoleh cepat. “Nggak perlu. Nanti Akang capek bolak-balik.”“Nggak capek,” ucap Ihsan ringan sekali, seperti tak ada beban. “Anggap saja tugas pertama Akang nganter jemput istri kerja.”Eca langsung meringis geli. “Ya ampun … merdu sekali suara buaya,” cibirnya.“Kok jadi buaya?” Ihsan akhirnya ikut mengernyit bingung.Belum sempat Eca menanggapi lagu, suara ribut mendadak terdengar dari arah kamar. Otomatis membuat mereka terdiam dan menoleh ke sumber kegaduhan.“Adit! Sini! Pakai baju dulu! Susah banget, sih!”Arina muncul mengejar
Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubungan dengan dua hal itu. Ihsan juga sudah menandatangani kontraknya.Namun, kenapa sekarang malah balik bertanya padanya?“Kenapa atuh Akang malah tanya aku lagi?” tanyanya spontan.Ihsan diam sebentar sebelum menjawab dengan nada tenang, “Karena sekarang Neng udah jadi istri Akang.”Deg.Eca langsung salah tingkah sendiri mendengar kata istri itu. Padahal, sudah dua hari menikah, tetapi setiap mendengarnya, tetap saja terasa aneh di telinga. Mungkin, ia hanya benar-benar belum terbiasa saja.Ihsan menoleh pelan ke arahnya. Eca merasa tatapan pria itu begitu lembut hingga membuat dadanya sedikit gelisah.“Suami istri itu tim,” lanjut Ihsan santai. “Apa pun ya harus diobrolin dulu.”Pipi Eca
Tatapannya menancap lurus ke arah Ihsan, seperti menunggu penjelasan atas kalimat ambigu barusan. Jantungnya langsung berdetak tidak jelas, seolah ingin keluar dari dadanya, bahkan telinganya ikut memanas dalam hitungan detik. Sangat berkebalikan drngan pria di sebelahnya yang justru terlihat tenang sekali. Ihsan kembali membuka bukunya seakan tidak sadar baru saja melempar ucapan yang bisa bikin orang berpikir yang tidak-tidak. Eca akhirnya menarik selimut lebih tinggi sampai nyaris menutupi dagu. “Ish, siapa juga yang mau maksa begituan?” gerutunya pelan, nyaris terdengar seperti omelan untuk dirinya sendiri. “Hm?” Ihsan menoleh. Binar matanya yang selalu tenang malah membuat Eca makin salah tingkah. “Nggak ada!” jawabnya cepat sambil membuang muka. Suasana kamar mendadak terasa canggung. Lebih tepatnya, Eca yang canggung sendirian. Pikirannya malah sibuk memutar ulang semua kejadian hari ini. Dari resleting gaun yang bermasalah, handuk melorot, sampai sekarang salah paham
Tentu saja otak Eca langsung berpikir macam-macam. Jangan-jangan Ihsan masih kepikiran kejadian dirinya bugil tadi.Dasar pria. Isi kepalanya memang suka aneh-aneh.Alhasil, pipi dan telinganya kembali memanas. Coba saja jarak rumahnya cuma lima langkah dari sini, mungkin ia sudah pulang sekarang juga.Lihat saja itu, suaminya malah menatapnya dari atas sampai bawah beberapa detik.“Neng seperti orang-orangan sawah,” ujar Ihsan akhirnya.Bara yang tadi sempat menyala di dada Eca langsung padam seketika.“Ck!”Ia spontan menghentak kaki ke lantai sebelum berbalik melihat dirinya sendiri di cermin.Dan … ya, Ihsan memang benar. Tubuhnya benar-benar nampak tenggelam di dalam pakaian itu, sudah seperti orang-orangan sawah.Kaosnya agak kedodoran, belum lagi celana training itu terus melorot setiap beberapa langkah.“Badanmu mah kayak gapura kabupaten, makanya bajumu kegedean di aku.”Ihsan hanya tersenyum tipis. Matanya masih memperhatikan Eca yang kini duduk di depan cermin, sebelum akhi
“Aa Ican?” panggil suara itu lagi. “Mana atuh kunci motorna? Katanya baju Teh Eca rek dijemput.”Eca langsung melotot ke arah Ihsan yang tampak hendak bangkit.“Jangan buka pintu!” bisiknya galak sambil masih berusaha menutupi tubuh seadanya.Ihsan menahan napas sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa menoleh. “Sebentar, Maman,” sahutnya ke arah luar. “Kuncinya belum ketemu.”Eca buru-buru jongkok mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya, tetapi karena terlalu panik, kaos putih di tangannya malah ikut jatuh.Rasa paniknya semakin menjadi saat melihat Ihsan nyaris saja menoleh ke arahnya. “Jangan noleh ke sini juga, dong!” geramnya setengah frustrasi.Tangannya langsung bergerak makin tak karuan. Begitu handuk itu berhasil dijangkau, Eca buru-buru melilitkannya seadanya ke tubuh. Ia sontak hendak berlari ke kamar mandi, tetapi tak sengaja menginjak ujung handuknya sendiri.“Uh!”Tubuhnya nyaris saja terhuyung ke depan. Untung saja keseimbangannya cepat terjaga, kalau tidak mungkin ia aka
Eca masih membeku sepersekian detik, seolah otaknya belum selesai mencerna kejadian barusan. Wajahnya memanas, entah karena panik atau karena hal lain yang tidak ingin ia pikirkan sekarang.Sumpah, ini sangat memalukan.Tanpa berani menoleh lagi ke belakang, Eca langsung berbalik cepat.“Aku mandi dulu,” ucapnya buru-buru, nyaris seperti orang menghindar.Ia menyambar handuk yang terlipat di kasur dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Satu tangannya sibuk menahan gaun agar tidak melorot lagi, sementara tangan satunya mendorong pintu.Ceklek.Begitu pintu kamar mandi tertutup, Eca langsung menyandarkan tubuh di sana.“Ya ampun … hari ieu kacau pisan,” gerutunya sambil menutup wajah.Sudah dikerjain Arina, sekarang gaunnya hampir melorot pula.Debaran di dadanya masih terasa jelas, bahkan bayangan tadi masih berputar-putar di kepala.Perkara resleting saja sudah bisa bikin harinya seberantakan







