INICIAR SESIÓNEca menarik napas panjang sebelum mengangkat kepala dengan perlahan. Tatapannya lurus ke arah ibunya, penuh pertimbangan.
“Mah, aku percaya Papa orangnya baik banget,” ujarnya pelan. “Tapi tetap aja… aku nggak enak.”Ia menunduk, jemarinya memainkan ujung baju tidurnya.“Neng bukan anak kandungnya Papa Arif. Sekarang Neng juga sudah bisa cari uang sendiri. Harusnya .…”Ucapannya menggantung sesaat, suaranya terasa tercekat di tenggerokan. “Sudah bukan tang“Udah selesai ngomongnya?” tanyanya datar.Tawa yang tadi memecah kesunyian perlahan mereda. Sejenak, suasana kamar menjadi canggung.Di balik cermin, Eca masih menatap mereka tanpa ekspresi.“Ya ampun, bercanda atuh.” Wulan buru-buru mengangkat tangan, setengah menyerah. “Biar kamu nggak tegang-tegang pisan.”Eca tak menanggapi lagi, hanya mengembuskan napas agak kasar. Pandangannya turun ke pangkuannya sendiri.Tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin. Ia memang sangat tegang.Tak sekadar gugup, tetapi seperti ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak tadi. Perasaannya tidak bisa dijelaskan. Namun, itu terus saja mengusik.Bagaimana kalau Ihsan tidak datang?Pertanyaan itu muncul begitu saja dalam benaknya.Eca menelan ludah. Bayangan buruk di masa lalunya datang lagi. Di mana, hari itu … saat semuanya sudah siap, dekorasi, bahkan undangan hampir disebar, tetapi calon suaminya mengalami kecelakaan dan pernikahannya langsung dibatalkan sepihak.Eca tahu itu sudah jadi takdir
Seperti yang sudah Eca duga, begitu sampai di rumah, ibunya langsung syok melihat kondisi Adit. “Ya Allah, ini anak kenapa jadi kayak gini?!” seru Nani panik.“Dia nyemplung di kubangan sawah orang, Mah,” jawab Eca datar sambil melepas sandalnya.Ia bahkan tidak berhenti di teras. Langsung masuk ke dalam rumah, membiarkan ibunya mengurus Adit yang sudah mulai merengek saat disuruh mandi.“Nggak mau mandi, Mah!” teriak bocah itu.“Harus mandi! Lihat badan kamu kotor!”Eca hanya mengembuskan napas pelan ketika suara tangisan Adit, omelan ibunya, dan langkah kaki yang saling kejar-kejaran bercampur jadi satu di telinganya.Rasanya … rumah ini ramai sekali. Padahal, mereka hanya bertiga di rumah.Hari itu pun akhirnya berlalu tanpa ada drama lagi, tetapi sejak saat itu, semuanya seakan bergerak lebih cepat dari biasanya.Waktu terus bergulir tanpa terasa. Dua minggu sejak lamaran lewat, kini hari pernikaha
Eca bahkan tidak menunggu jawaban. Ia langsung bergerak, nyaris melompat turun ke pematang.Kakinya baru saja menapak, tetapi tanah yang becek membuat langkahnya goyah. Hampir saja terpeleset kalau tidak cepat-cepat menyeimbangkan tubuh.“Adit!” panggilnya keras.Napasnya langsung memburu. Jantungnya berdegup tak karuan.Pematang yang tadi terasa biasa saja saat dilewati, kini seperti jalur sempit yang menguji kesabarannya, licin dan becek.Sungguh menyebalkan.Di belakangnya, suara langkah kaki menyusul cepat. Ihsan, Maman, dan beberapa kru ikut turun, wajah mereka sama tegangnya.“Adit!” teriaknya lagi, kali ini suaranya mulai bergetar.Ia mempercepat langkah, hampir berlari kecil menuju tempat terakhir ia melihat adiknya tadi.Kalau terjadi apa-apa sama bocah itu … tentu ini salahnya.Dia yang bawa Adit ke sini. Dia juga yang mengizinkan ikut. Harusnya dia yang jaga. Lantas, kenapa bisa sampai luput begini?Dadanya langsung sesak hanya dengan membayangkan kemungkinan terburuk terja
“Hati-hati.”Begitu suara Ihsan terdengar dekat di telinganya, Eca langsung tersadar. Ia sontak menjauh, sambil memalingkan pandangan.Panas di seluruh tubuhnya kini berpusat di pipinya. Bahkan bukan lagi sekadar hangat, rasanya sudah seperti terbakar.“I—iya,” ucap Eca terbata. “Terima kasih … sudah nolongin.”Tangan Ihsan yang tadi menahan pinggangnya sempat bertahan sepersekian detik lebih lama, sebelum akhirnya dilepas. Tatapannya sempat turun ke wajah Eca, lalu kembali datar seperti biasa.Belum sempat ia mengatakan apa-apa lagi, tawa kecil disusul siulan menggoda terdengar dari arah kru pemotretan.“Nah, gitu, dong. Dapat banget ini momen romantisnya!” celetuk fotografer sambil menurunkan kamera.Eca melongo. “Hah? Tadi itu—”“Bagus, Teh. Hasilnya. Natural pisan.”Natural?Kakinya terpeleset, hampir nyungsep ke sawah, jantungnya hampir saja lepas, itu dibilang natural?Astaga … mereka ini fotografer beneran, kan?Eca mendecak sebal. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit
Eca menarik napas panjang sebelum mengangkat kepala dengan perlahan. Tatapannya lurus ke arah ibunya, penuh pertimbangan.“Mah, aku percaya Papa orangnya baik banget,” ujarnya pelan. “Tapi tetap aja… aku nggak enak.”Ia menunduk, jemarinya memainkan ujung baju tidurnya.“Neng bukan anak kandungnya Papa Arif. Sekarang Neng juga sudah bisa cari uang sendiri. Harusnya .…” Ucapannya menggantung sesaat, suaranya terasa tercekat di tenggerokan. “Sudah bukan tanggung jawabnya lagi. Neng ngerasa nggak pantes nerima apa pun dari Papa.”Alis Nani langsung berkerut. Tatapannya langsung mengunci wajah putrinya itu.“Kamu ngomong apa, sih, Neng?”Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup tegas untuk membuat Eca menahan napas.“Dari dulu, Papamu selalu berusaha bikin Neng nyaman. Nggak pernah dibeda-bedain sama anak kandungnya. Dia nikahin Mamah, itu artinya dia juga nerima kamu sebagai tanggung jawabnya. Bukan karena kasihan
Eca melotot tajam. Hampir tak percaya kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Arina.Benar-benar ya … gadis itu kalau bicara, tidak pernah disaring dulu.“Ih, mulut kamu tuh betul-betul ya, Arina,” sahutnya, masih menahan kesal. “Biarin aja, lah. Mereka cuma ambil makanan lebih, bukan ngambil uang kamu. Itu pun mereka izin.”“Makanan yang diambil nggak sebanding sama tenaga mereka dari kemarin bantu-bantu di sini. Jadi orang jangan pelit amat. Nanti hidup kamu yang sempit sendiri,” omel Eca. Ia merasa Arina benar-benar sudah kelewatan kali ini. Perkara makanan saja dipermasalahkan.Arina mendengkus, jelas tak terima. “Susah ngomongnya kalau sama-sama orang kampung.”Eca hanya menggeleng pelan saat gadis itu berlalu begitu saja, tanpa merasa bersalah. Dada Eca masih terasa panas, tetapi ia memilih diam.“Kok bisa ya …,” gumamnya lirih, “ada orang nyebelinnya … nyebelin banget.”Setelah para tetangga yang tersisa ikut pamit, giliran keluarganya yang beranjak pulang menjelang sore ha







