Share

Bab 39

Author: Kharamiza
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-01 08:29:29

Salsa mendecak pelan, memutar bola matanya, jelas menunjukkan kalau ia setengah kesal.

Kini gadis itu berdiri di belakang Eca. Tangannya sudah sibuk membantu melepas siger yang bertengger di kepala Eca.

“Pura-pura amnesia ini anak,” gerutunya. “Kemarin, waktu kamu ngirim undangan ke kita, katanya janji mau jelasin. Kenapa nikahnya dadakan banget. Padahal baru aja gagal nikah.”

Eca mengembuskan napas pelan. Pandangannya sempat jatuh ke lantai, sebelum akhirnya ia menjawab seadanya.

“Oh, itu mah
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
hahahahaa kakk, ga boleh kitu atuh wkwkwkw
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
emang biasanya seperti itu.paling banyak omong. yg paling banyak bawa makanan.ga tau malu ya.??
goodnovel comment avatar
Kharamiza
nanti malem aku update lagi~
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 121

    Eca menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.‘Tidak. Tidak mungkin itu hilang, kan,’ batinnya terus meyakinkan diri.Lagipula, itu hanya kertas satu kembar. Bisa saja hanya terselip di tempat lain.Eca kembali memeriksa isi laci meja riasnya untuk ketiga kalinya. Namun, hasilnya tetap sama.Map biru itu masih ada. Berkas-berkas lain juga lengkap. Hanya surat kontraknya yang tidak ada.Eca langsung bangkit dari kursi, berharap dirinya yang mungkin saja salah ingat menaruhnya di mana.Langkahnya pun bergerak cepat menuju nakas di samping ranjang. Satu per satu lacinya dibuka. Hanya saja, hasilnya tetap saja nihil.Eca memejamkan mata sejenak lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.“Astaga ....”Ia kembali memaksa dirinya mengingat.Terakhir kali ia melihat surat itu ... saat akan pindah sementara ke rumah mertuanya.Eca masih ingat jelas. Waktu itu ia mengumpulkan semua berkas penting ke dalam satu map. Ijazah. Akta lahir. Sertifik

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 120

    Sekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Eca akhirnya keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan handuk.Matanya refleks menyapu seisi kamar, mencari sosok Ihsan. Namun, pria itu ternyata sudah tidak ada.“Mana Kang Ican?”Eca mengernyit pelan, tetapi tidak terlalu memikirkannya.Ia beralih mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya.Saat tak sengaja melirik ke arah balkon, barulah ia melihat Ihsan di sana.Pria itu tampak duduk santai sambil membaca buku dan menyeruput kopi.Eca langsung mendecih.Tadi di kamar mandi seperti singa kelaparan.Sekarang malah duduk kalem seperti tak pernah terjadi apa-apa.Setelah merasa cukup rapi, barulah Eca turun dari lantai dua.Udara sore langsung menyambutnya begitu kakinya akhirnya menapaki teras rumah.Seharian berada di dalam rumah, embusan angin hangat sore itu terasa menyenangkan di kulitnya.Eca menarik napas panjang sebelum

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 119

    Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 118

    Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Astaga. Rasanya ia ingin segera menghilang saja ke balik bantal. Pada akhirnya, selimut itu malah ia tarik sampai menutupi sebagian wajahnya sendiri. Tak lama kemudian, matanya melirik ke sisi ranjang. Kosong. Ihsan sudah tidak ada di sana. Eca mengerjap pelan. Pagi-pagi sekali pria itu pergi ke mana? Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Cuma mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya memaksa dirinya bangun dari ranjang. Hanya saja, baru saja kedua telapak kakinya menyentuh lantai, Eca langsung meringis tipis. Apa yang terjadi semalam rupanya masih meninggalkan bekas di tubuhnya. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup membuat langkah pertamanya terasa sedikit aneh. Eca berdiri b

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 114

    Menyebalkan sekali memang suaminya itu.“Gaya banget main rahasia-rahasiaan segala,” cibir Eca sambil melirik tajam ke arah suaminya.Sayangnya, pria di sebelahnya tampak sama sekali tidak merasa bersalah.Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah tadi ia tidak baru saja membuat kepala Eca penuh pert

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 113

    Eca mengangguk sebagai jawaban. Sudut bibirnya perlahan terangkat, seolah Ihsan juga harus tahu kalau ia benar-benar merasa tenang di tempat ini. “Di sini bagus, Kang,” katanya antusias. “Neng suka?” tanya Ihsan. “Suka banget.” “Hm.” Ihsan mengangguk kecil. “Syukurlah kalau suka. Berarti ngg

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 2

    Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim. Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu. Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang beg

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 1

    “Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!” Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharus

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status