LOGINKetiga temannya itu masih tampak kesal, sesekali melirik ke arah ibu-ibu yang belum juga berhenti mengobrol tanpa tahu tempat.
Andai tak dihalangi Eca, mereka pasti sudah berdiri dan melabrak ibu-ibu itu. Untungnya, Eca berhasil menenangkan sampai akhirnya mereka pamit pulang.Di depan rumah, suasana sudah tidak seramai tadi, meski beberapa kendaraan masih terparkir di pinggir jalan dan sebagaian tamu nampak terlihat berbincang sebelum pulang.Eca, Ihsan, dan Nani iIhsan tak langsung menjawab. Keningnya justru mengerut sejenak. Tatapannya lurus ke arah sang istri. “Pegang tangan lebih baik, daripada pegang ….” Ucapannya langsung terhenti.Namun, entah kenapa Eca tetap bisa langsung menebak ke mana arah kalimat itu. Terlebih, tatapan pria itu sempat turun, sekilas, tetapi cukup jelas.Pipinya sontak memanas.Ingatan soal insiden tadi malam langsung muncul lagi di benaknya.Ngelunjak juga orang ini.“Apa?” tanyanya sinis, pura-pura tidak mengerti. “Tidak ada,” balas Ihsan singkat, seolah memang tidak berniat melanjutkan. “Ayo, saya bantu.”Ia tetap mengulurkan tangannya, seolah sudah yakin sekali Eca tak akan menolaknya.Eca mendecak pelan, sempat memalingkan wajah, tetapi pada akhirnya tetap menerima uluran tangan Ihsan.Begitu tangan mereka bersentuhan, Eca bisa merasakan hangatnya telapak tangan Ihsan. Seperti biasa, kontras dengan tangannya yang dingin.Ia buru-buru mengembalikan fokus saat mereka mulai diarahkan ke depan.Mereka berhenti ke
Di balik selimut, Eca memejam rapat-rapat, seolah dengan begitu pemandangan yang dilihatnya barusan bisa ikut terhapus dari ingatannya.Namun, percuma saja. Toh, yang ada malah makin membayangi.Lagian … kenapa juga pagi-pagi begini ia harus melihat pemandangan seperti itu coba?Menodai matanya saja.“Saya baru mandi,” ujar Ihsan tanpa emosi, sama sekali tidak terdengar terganggu. “Tentu saja belum pakai baju.”Eca mendengkus, agak kasar. Suaranya teredam dari balik selimut.“Kamu tuh nggak lihat apa di sini ada orang? Harusnya kamu pakai baju di kamar mandi aja. Atau .…” Ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan dengan nada mencurigai. “Kamu memang sengaja mau pamer tubuh ke saya?”Hening sepersekian detik.“Nggak mempan, Ican!” lanjutnya ngedumel.Setelah mengucapkan itu, Eca langsung menggigit bibirnya sendiri, seakan tersadar kenapa tiba-tiba bicara seperti itu pada Ihsan.“Saya tidak b
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Eca masih terduduk dengan kepala tertunduk, napasnya belum juga stabil sejak kejadian tadi. Pelan-pelan ia mengangkat wajah, melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, memastikan Arina benar-benar tidak ada di sana. Astaga … kacau sekali hari ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung bergerak. Sengaja menghindari tatapan Ihsan saat ia lewat di depan pria itu. Kutang yang sejak tadi disembunyikan di balik punggung buru-buru ia masukkan ke keranjang cucian di sudut kamar, seperti benda itu bisa sewaktu-waktu kembali mempermalukannya. Padahal, Ihsan juga baru saja keluar kamar. Entah keluar ke ruang depan atau ke kamar mandi di belakang, Eca tidak tahu. Dan, untuk saat ini, ia juga tidak peduli. Justru itu yang ia butuhkan sekarang. Paling tidak, untuk menenangkan dirinya. Cepat-cepat ia merapikan kasur yang agak sedikit kusur. Kebaya yang tadi berserakan segera dipindahkan. Barang-barang pribadinya yang lain langsung ia sembunyikan ke temp
Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini.Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang.Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya.Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kamar mandi. Nanti juga dirapikan setelah mandi.Tetapi, yang lebih parahnya lagi, ia begitu yakin Ihsan belum akan masuk ke kamar. Pria itu masih asyik berbincang dengan keluarga di ruang depan ketika ia mandi tadi.Namun, faktanya … pria itu sekarang sudah di kamar.Eca refleks melempar handuk yang masih ada di tangannya ke sembarang arah, lalu melangkah cepat, nyaris setengah berlari ke arah kasur.“Eh—!”Belum sempat Ihsan bereaksi, Eca sudah lebih dulu merebut kutang miliknya dari tangan sang suami.Gerakannya cepat, hampir panik. Ia langsung menyembunyikannya di belakang punggung, seolah itu benda keramat yang tidak boleh dilihat, apalagi disentuh siapa pun.Entah semerah apa wajahnya sekarang
Ketiga temannya itu masih tampak kesal, sesekali melirik ke arah ibu-ibu yang belum juga berhenti mengobrol tanpa tahu tempat.Andai tak dihalangi Eca, mereka pasti sudah berdiri dan melabrak ibu-ibu itu. Untungnya, Eca berhasil menenangkan sampai akhirnya mereka pamit pulang.Di depan rumah, suasana sudah tidak seramai tadi, meski beberapa kendaraan masih terparkir di pinggir jalan dan sebagaian tamu nampak terlihat berbincang sebelum pulang.Eca, Ihsan, dan Nani ikut mengantar tiga gadis itu sampai ke mobil.“Neng-Neng geulis nggak nginap saja di sini, atuh? Nemenin Eca,” ujar Nani ramah. “Daripada balik ke Jakarta capek nyetir. Bahaya juga.”“Ah, nggak enak, Bina. Ganggu manten baru,” sahut Tika sambil terkekeh.Eca menghela napas pelan. Dari dulu, teman-temannya memang suka menyingkat “Bibi Nani” jadi “Bina” ketika memanggil ibunya. “Ganggu apose? Nginap aja. Suamiku nanti kusuruh pulang ke rumahnya,” katanya asal.
Salsa mendecak pelan, memutar bola matanya, jelas menunjukkan kalau ia setengah kesal. Kini gadis itu berdiri di belakang Eca. Tangannya sudah sibuk membantu melepas siger yang bertengger di kepala Eca.“Pura-pura amnesia ini anak,” gerutunya. “Kemarin, waktu kamu ngirim undangan ke kita, katanya janji mau jelasin. Kenapa nikahnya dadakan banget. Padahal baru aja gagal nikah.”Eca mengembuskan napas pelan. Pandangannya sempat jatuh ke lantai, sebelum akhirnya ia menjawab seadanya.“Oh, itu mah … karena keluarganya Kang Ihsan yang maunya cepat,” ucapnya santai. “Katanya sih biar sekalian beres. Soalnya, Kang Ihsan juga mau daftar kades habis ini. Jadi nggak tabrakan antara urusan nikah sama berkas pencalonan.”“Ohhh ….”Ketiga temannya langsung membulatkan mulut bersamaan.“Calon Ibu PKK, dong?” Tika menyenggol lengannya.Eca langsung tertawa kecil. “Ibu guru aku, mah.”“Ya tetap aja,” sahut Dewi, ikut nimbrung. “Aura-auranya udah beda. Tadi di pelaminan tuh kelihatan banget. Cocok ma







