Partager

Bab 38

Auteur: Kharamiza
last update Date de publication: 2026-04-29 22:10:53
Selesai akad dan acara sungkeman ke orang tua yang menguras air mata, pengantin baru itu diarahkan ke pelaminan. Eca kini duduk anggun di sana, senyum tipis tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.

Sejak tadi, kegiatannya hanya berulang, dari duduk, berdiri, lalu kembali duduk ketika tetangga dan para kerabat datang silih berganti. Menyalami, mengucapkan selamat, dan mendoakan kebaikan serta keberkahan untuk pernikahan mereka.

Tangannya nyaris tak berhenti berpindah dari satu genggaman ke
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (3)
goodnovel comment avatar
Ummi Syahrul
please thor.. updatenya byk sikit..jgn gini2.. satu hari menanti 1 bab aja dapatnya
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
jangan lama lama ah cs nya Eca... segera bubar
goodnovel comment avatar
Kharamiza
teman-teman, aku update 1 dulu ya, lagi chaos banget akhir-akhir ini. betewe, ntar ada insiden di bab besoknya yayy hehe. entahkah insiden lucu, tragis, atau apalah, rahasia ... tungguin yakk~
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 121

    Eca menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.‘Tidak. Tidak mungkin itu hilang, kan,’ batinnya terus meyakinkan diri.Lagipula, itu hanya kertas satu kembar. Bisa saja hanya terselip di tempat lain.Eca kembali memeriksa isi laci meja riasnya untuk ketiga kalinya. Namun, hasilnya tetap sama.Map biru itu masih ada. Berkas-berkas lain juga lengkap. Hanya surat kontraknya yang tidak ada.Eca langsung bangkit dari kursi, berharap dirinya yang mungkin saja salah ingat menaruhnya di mana.Langkahnya pun bergerak cepat menuju nakas di samping ranjang. Satu per satu lacinya dibuka. Hanya saja, hasilnya tetap saja nihil.Eca memejamkan mata sejenak lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.“Astaga ....”Ia kembali memaksa dirinya mengingat.Terakhir kali ia melihat surat itu ... saat akan pindah sementara ke rumah mertuanya.Eca masih ingat jelas. Waktu itu ia mengumpulkan semua berkas penting ke dalam satu map. Ijazah. Akta lahir. Sertifik

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 120

    Sekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Eca akhirnya keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan handuk.Matanya refleks menyapu seisi kamar, mencari sosok Ihsan. Namun, pria itu ternyata sudah tidak ada.“Mana Kang Ican?”Eca mengernyit pelan, tetapi tidak terlalu memikirkannya.Ia beralih mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya.Saat tak sengaja melirik ke arah balkon, barulah ia melihat Ihsan di sana.Pria itu tampak duduk santai sambil membaca buku dan menyeruput kopi.Eca langsung mendecih.Tadi di kamar mandi seperti singa kelaparan.Sekarang malah duduk kalem seperti tak pernah terjadi apa-apa.Setelah merasa cukup rapi, barulah Eca turun dari lantai dua.Udara sore langsung menyambutnya begitu kakinya akhirnya menapaki teras rumah.Seharian berada di dalam rumah, embusan angin hangat sore itu terasa menyenangkan di kulitnya.Eca menarik napas panjang sebelum

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 119

    Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 118

    Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Astaga. Rasanya ia ingin segera menghilang saja ke balik bantal. Pada akhirnya, selimut itu malah ia tarik sampai menutupi sebagian wajahnya sendiri. Tak lama kemudian, matanya melirik ke sisi ranjang. Kosong. Ihsan sudah tidak ada di sana. Eca mengerjap pelan. Pagi-pagi sekali pria itu pergi ke mana? Namun, ia tak terlalu memikirkannya. Cuma mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya memaksa dirinya bangun dari ranjang. Hanya saja, baru saja kedua telapak kakinya menyentuh lantai, Eca langsung meringis tipis. Apa yang terjadi semalam rupanya masih meninggalkan bekas di tubuhnya. Tidak terlalu sakit, tetapi cukup membuat langkah pertamanya terasa sedikit aneh. Eca berdiri b

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 30

    Kening Ihsan mengernyit singkat. Ia menunduk sedikit, sorot matanya yang tenang itu jatuh tepat ke wajah Eca. Namun, ada sesuatu yang sulit ditebak di dalamnya. “Saya ingat,” jawabnya nyaris tanpa ekspresi. “Tapi kenapa aku merasa lamarannya … terlalu resmi?” bisik E

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 29

    Mata Eca masih terpaku pada Ihsan, lalu bergeser ke arah kedua orang tua pria itu. Ia menghela napas panjang, sebelum benar-benar mendekatkan mic hitam itu ke mulutnya. “Bismillahirrahmanirrahim,” katanya, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski getar halus masih terasa. “Dengan izin Allah, sa

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 28

    Suasana itu, membuat Eca refleks mencengkeram ujung kain yang dikenakannya, meremasnya pelan. Ia berusaha terlihat tenang, meski jantungnya sudah tak karuan sejak tadi. Jujur saja, ini bukan pertama kali dirinya dilamar. Ia pernah melewati fase itu, dilamar oleh pria yang dulu benar-benar ia cinta

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 27

    Suasana rumah Eca menjelang lamaran sudah ramai sejak subuh tadi. Bahkan dari kemarin, para tetangga di RT tempat tinggalnya sudah pada datang bantu-bantu.Ua Jajang beserta keluarga dari Sukabumi juga sudah datang sore kemarin. Belum lagi keluarga lain yang tinggal di luar Mekarluyu, satu per satu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status