تسجيل الدخولBeberapa detik berlalu tanpa suara. Eca masih terduduk dengan kepala tertunduk, napasnya belum juga stabil sejak kejadian tadi. Pelan-pelan ia mengangkat wajah, melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, memastikan Arina benar-benar tidak ada di sana. Astaga … kacau sekali hari ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung bergerak. Sengaja menghindari tatapan Ihsan saat ia lewat di depan pria itu. Kutang yang sejak tadi disembunyikan di balik punggung buru-buru ia masukkan ke keranjang cucian di sudut kamar, seperti benda itu bisa sewaktu-waktu kembali mempermalukannya. Padahal, Ihsan juga baru saja keluar kamar. Entah keluar ke ruang depan atau ke kamar mandi di belakang, Eca tidak tahu. Dan, untuk saat ini, ia juga tidak peduli. Justru itu yang ia butuhkan sekarang. Paling tidak, untuk menenangkan dirinya. Cepat-cepat ia merapikan kasur yang agak sedikit kusur. Kebaya yang tadi berserakan segera dipindahkan. Barang-barang pribadinya yang lain langsung ia sembunyikan ke temp
Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini.Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang.Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya.Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kamar mandi. Nanti juga dirapikan setelah mandi.Tetapi, yang lebih parahnya lagi, ia begitu yakin Ihsan belum akan masuk ke kamar. Pria itu masih asyik berbincang dengan keluarga di ruang depan ketika ia mandi tadi.Namun, faktanya … pria itu sekarang sudah di kamar.Eca refleks melempar handuk yang masih ada di tangannya ke sembarang arah, lalu melangkah cepat, nyaris setengah berlari ke arah kasur.“Eh—!”Belum sempat Ihsan bereaksi, Eca sudah lebih dulu merebut kutang miliknya dari tangan sang suami.Gerakannya cepat, hampir panik. Ia langsung menyembunyikannya di belakang punggung, seolah itu benda keramat yang tidak boleh dilihat, apalagi disentuh siapa pun.Entah semerah apa wajahnya sekarang
Ketiga temannya itu masih tampak kesal, sesekali melirik ke arah ibu-ibu yang belum juga berhenti mengobrol tanpa tahu tempat.Andai tak dihalangi Eca, mereka pasti sudah berdiri dan melabrak ibu-ibu itu. Untungnya, Eca berhasil menenangkan sampai akhirnya mereka pamit pulang.Di depan rumah, suasana sudah tidak seramai tadi, meski beberapa kendaraan masih terparkir di pinggir jalan dan sebagaian tamu nampak terlihat berbincang sebelum pulang.Eca, Ihsan, dan Nani ikut mengantar tiga gadis itu sampai ke mobil.“Neng-Neng geulis nggak nginap saja di sini, atuh? Nemenin Eca,” ujar Nani ramah. “Daripada balik ke Jakarta capek nyetir. Bahaya juga.”“Ah, nggak enak, Bina. Ganggu manten baru,” sahut Tika sambil terkekeh.Eca menghela napas pelan. Dari dulu, teman-temannya memang suka menyingkat “Bibi Nani” jadi “Bina” ketika memanggil ibunya. “Ganggu apose? Nginap aja. Suamiku nanti kusuruh pulang ke rumahnya,” katanya asal.
Salsa mendecak pelan, memutar bola matanya, jelas menunjukkan kalau ia setengah kesal. Kini gadis itu berdiri di belakang Eca. Tangannya sudah sibuk membantu melepas siger yang bertengger di kepala Eca.“Pura-pura amnesia ini anak,” gerutunya. “Kemarin, waktu kamu ngirim undangan ke kita, katanya janji mau jelasin. Kenapa nikahnya dadakan banget. Padahal baru aja gagal nikah.”Eca mengembuskan napas pelan. Pandangannya sempat jatuh ke lantai, sebelum akhirnya ia menjawab seadanya.“Oh, itu mah … karena keluarganya Kang Ihsan yang maunya cepat,” ucapnya santai. “Katanya sih biar sekalian beres. Soalnya, Kang Ihsan juga mau daftar kades habis ini. Jadi nggak tabrakan antara urusan nikah sama berkas pencalonan.”“Ohhh ….”Ketiga temannya langsung membulatkan mulut bersamaan.“Calon Ibu PKK, dong?” Tika menyenggol lengannya.Eca langsung tertawa kecil. “Ibu guru aku, mah.”“Ya tetap aja,” sahut Dewi, ikut nimbrung. “Aura-auranya udah beda. Tadi di pelaminan tuh kelihatan banget. Cocok ma
Selesai akad dan acara sungkeman ke orang tua yang menguras air mata, pengantin baru itu diarahkan ke pelaminan. Eca kini duduk anggun di sana, senyum tipis tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya.Sejak tadi, kegiatannya hanya berulang, dari duduk, berdiri, lalu kembali duduk ketika tetangga dan para kerabat datang silih berganti. Menyalami, mengucapkan selamat, dan mendoakan kebaikan serta keberkahan untuk pernikahan mereka.Tangannya nyaris tak berhenti berpindah dari satu genggaman ke genggaman lain.Baru acara di rumahnya saja sudah semelelahkan ini rasanya. Bagaimana dengan acara ngunduh mantu besok?Tentunya lebih ramai lagi. Ya, seperti yang sudah mertuanya katakan sebelumnya kalau mereka akan mengadakan pesta besar dan meriah.“Selamat, ya, Neng.”“Sakinah, mawaddah, warahmah.”“Semoga langgeng sampai tua.”Eca hanya mengangguk pelan, sesekali menjawab singkat. Suaranya hampir tak terdengar di tengah ramainya ucapan yang datang bertubi-tubi.Di sampingnya, Ihsan juga mela
Tatapan penghulu sempat beralih ke arah Eca, membuat gadis itu refleks menelan ludah. Ia mengangguk pelan, seolah memang sudah tahu tatapan itu ditujukan untuk meminta persetujuannya. Saat mic berpindah tangan ke Ua Jajang, dadanya seketika ikut mengencang. Eca mengangkat pandangannya sedikit. Pamannya itu sudah menegakkan tubuh, menarik napas dalam sebelum mengulurkan tangan ke arah Ihsan. Ihsan menyambutnya tanpa ragu, bahkan nampak tersenyum tipis. Wajahnya tenang seperti biasa. Telapak tangan Ua Jajang dan Ihsan kini saling bertaut. Dan, dalam sekejap, suasana benar-benar menjadi hening dan tegang. “Bismillahirrahmanirrahim.” Ua Jajang membuka ijab. Suaranya terdengar jelas dan mantap, meski ada getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang benar-benar memperhatikan. Eca menunduk. Pandangannya jatuh ke lipatan kebayanya sendiri. Dalam hati, ia hanya bisa berdoa satu hal, semoga semuanya berjalan tanpa hambatan, agar setelah ini semua yang menjadi tujuan pernikahan







