Share

Bab 3

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 20:36:50

Pria yang dipanggil Ihsan itu diam. Ekspresinya tenang, namun tatapannya sulit terbaca.

Ihsan adalah teman masa kecil Eca. Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar.

Eca tidak pernah melihatnya lagi sejak ia pergi ke ibukota. Ia hanya sempat mendengar beberapa kabar burung mengenai Ihsan. Ada yang berkata bahwa pria itu melanjutkan studi ke luar negeri, ada juga yang mengatakan bahwa Ihsan pergi karena dijodohkan.

Apapun itu, Eca tidak pernah tahu hal yang sebenarnya. Namun, dipertemukan seperti ini tentu membuat Eca terkejut.

Apalagi, perawakan Ihsan jauh berbeda dengan seseorang yang terlihat culun saat kecil. Kini, pria itu berdiri tegap dengan bahu-bahu yang lebar. Matanya tajam dan rahangnya terbentuk sempurna.

Eca ingin menyapa pria itu, memastikan bahwa apa memang ia benar-benar Ihsan yang Eca kenal. Namun belum sempat Eca berkata apa-apa lagi, suara pria lainnya menggelegar di telinga Eca.

Pria yang jatuh tersungkur di sawah itu bangkit dengan tubuh penuh lumpur.

“Nyetir teh liat-liat, atuh! Matanya jangan ditinggal di rumah!” seru pria itu.

Eca tersentak dari lamunannya dan cepat-cepat melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.

“Abang … maaf, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucapnya cepat, ekspresi penuh penyesalan.

Pria itu mendengkus pelan. Lumpur masih menetes di ujung bajunya.

“Teu sengaja kumaha? Aku basah kuyup begini karena kamu!” balasnya masih dengan nada ketus.

Eca menunduk sedikit. Rasa bersalahnya makin terasa, apalagi saat melihat wajah pria itu yang juga penuh lumpur, tinggal giginya saja yang masih kelihatan putih.

Ia sempat melirik ke arah Ihsan. Tatapan mereka kembali bertemu sekilas, membuat Eca mendadak salah tingkah tanpa alasan.

Ihsan melangkah ke pinggir sawah, berdiri di pematang dekat saluran air.

“Udah, udah. Sini saya bantuin naik,” tangannya terulur ke arah pria yang nampak seperti temannya itu.

Eca berdehem kecil, lantas mundur perlahan.

“Abang, aku buru-buru,” katanya cepat, asal mencari alasan agar bisa segera pergi. “Sekali lagi maaf, Bang ….”

“Heh, mau ke mana? Kamu harus tanggung jawab!” Pria itu berteriak kesal.

Eca sempat terhenyak.

Tanggung jawab?

Bukannya berhenti, ia malah pura-pura tidak mendengar. Eca segera berbalik menuju motornya.

Tangannya sedikit gemetar saat mencoba menyalakan mesin yang tiba-tiba susah hidup.

Lagipula yang salah bukan dirinya. Itik sialan itu yang tiba-tiba memotong jalan.

Setelah beberapa kali menekan starter, motor akhirnya menyala. Di saat yang sama, pria penuh lumpur itu juga berhasil naik ke pinggir jalan.

Tanpa menoleh lagi, Eca langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.

Tiba di rumah, Eca langsung menghempaskan tubuh ke sofa. Tangannya terangkat perlahan memijat pelan pelipisnya.

Huh.

Hari ini benar-benar sial.

Sudah mendapat tawaran tidak masuk akal dari si juragan mesum itu, ia malah menabrak orang juga.

Untungnya, tidak kenapa-kenapa. Coba saja kalau sampai harus dirawat ke rumah sakit, urusannya bisa lebih rumit.

Namun, tetap saja ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak insiden tadi.

Pria yang menolongnya … mirip sekali dengan seseorang yang ia kenal, Ihsan.

Ia sempat yakin kalau dia benar-benar Ihsan, tetapi Eca ragu karena sudah lama sekali mereka tak bertemu dan selama itu juga keduanya tak pernah bertukar kabar. Apalagi pria itu tidak menyahut saat ia menyapanya.

Bisa saja hanya mirip.

Lagipula, kalau dia benar Ihsan … sejak kapan pulang ke desa?

Eca masih memikirkan jawabannya ketika terdengar suara pintu diketuk.

“Neng Eca,” panggil seseorang dari luar.

Eca segera bangkit dan membuka pintu. Bi Lastri sudah berdiri di depan pintu dengan senyum ramahnya.

“Masuk, Bi.”

“Iya, Neng.” Bi Lastri melangkah masuk, lalu duduk di sofa. Sebuah rantang diletakkan di atas meja kayu itu.

“Ini, Bibi bawain sayur lodeh dan ikan gurame sambal lalapan. Tadi masak agak banyak.”

Senyum tipis langsung terbit di bibir Eca, beralih membuka tutup rantang itu dengan antusias. Aroma santan hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan.

“Wah … nuhun, Bi. Ini buat aku doang atau satu kampung sekalian? Banyak amat,” candanya.

Bi Lastri terkekeh kecil. “Buat Neng Eca wae atuh.”

Eca menanggapi dengan anggukan singkat, tangannya masih sibuk merapikan tutup rantang.

“Sehat-sehat si mamah di Jakarta?” tanya Bi Lastri kemudian.

Dalam beberapa saat, Eca hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Sehat, Bi.”

“Alhamdulillah,” balas Bi Lastri. “Terus, kumaha? Udah nemuin Juragan Dasim, belum?”

Ekspresi Eca langsung berubah. Ia mencebik kesal. Mendengar nama pria itu membuatnya bergidik geli. “Sudah, Bi, tapi belum ada solusi.”

Bi Lastri menghela napas pendek. “Emang kitu orangna, Neng. Serakah.” Ia mendekat sedikit sembari memelankan suaranya, “Atau … coba Neng minta tolong ke Ihsan.”

“Ihsan?” ulang Eca.

“Iya, si Ican.” Bi Lastri memperjelas. “Dulu kan Neng sama dia deket pisan. Ke mana-mana bareng. Di mana ada Ihsan, di situ pasti ada Neng Eca. Dia kan keponakannya Juragan Dasim, Bapaknya kerja di kecamatan. Barangkali bisa bantu Neng bujuk si juragan.”

Eca tertegun sejenak.

Alisnya sedikit berkerut, seakan baru menyadari sesuatu yang luput dari pikirannya.

Tunggu … kalau Ihsan memang ada di desa ini, berarti pria yang tadi benar-benar Ihsan?

“Neng belum ketemu Ihsan, nya?” tanya Bi Lastri lagi, membuyarkan lamunannya.

Eca menggeleng pelan.

“Sekarang, dengar-dengar mah … Ihsan mau maju pencalonan kades, Neng,” tambah Bi Lastri santai.

Eca mengangkat kepala, hampir tak mempercayai yang didengarnya itu. “Kades?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 128

    Eca terpaku di ambang pintu kamar beberapa detik. Rumah sudah benar-benar sunyi malam itu. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tengah, terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.Baru ketika pandangannya bergeser ke arah depan rumah, Eca menyadari ada semburat cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Rupanya lampu teras masih menyala. Pintu depan juga tampaknya tidak tertutup rapat.Kening Eca berkerut tipis. Pelan-pelan ia melangkah mendekati jendela depan.Dengan hati-hati, ia menyibakkan sedikit tirai itu. Begitu melihat ke arah luar, tubuhnya seketika membeku. Di kursi kayu teras, ternyata Ihsan sedang duduk sendirian.Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu di paha, sementara satu tangannya terus memijat pelipis tanpa henti.Tatapannya lurus ke halaman yang sudah tenggelam dalam gelap.Jemari Eca yang sedari tadi hanya memegang ujung tirai perlahan mencengkeram kain itu lebih kuat.Entah sejak kapan ia ikut menahan napas.Selama ini, setiap k

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 127

    Beberapa saat kemudian, isak tangis Eca perlahan mulai mereda, meski ia masih bersandar di dada Ihsan. Napasnya belum benar-benar teratur, tetapi setidaknya tidak lagi sesenggukan seperti tadi.Di sudut ruangan, Kang Darma yang sejak tadi memilih diam akhirnya berdiri dari duduknya. Reni pun ikut bangkit di samping suaminya.Pria itu memandang Eca dan Ihsan beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.“Kalian istirahat dulu,” ujarnya pelan. “Mamah sama Papah mungkin suasana haténa belum baik.”“Besok kalian obrolin lagi kalau semuanya sudah lebih tenang.”Tak ada yang membantah. Ihsan bahkan hanya mengangguk datar.“Iya.”Kang Darma menepuk singkat bahu adiknya sebelum berbalik, diikuti oleh Reni.Kang Darma dan Reni pun berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup pelan. Setelahnya, rumah kembali tenggelam dalam keheningan, seolah ikut membiarkan semuanya mengendap.Kini, yang tersisa di ruang tengah itu hanya Eca dan Ihsan. Pria itu kembali menata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 126

    Tak ada seorang pun yang membuka suara setelah itu.Eca hanya bisa menatap suaminya dari samping. Sejak tadi, Ihsan sama sekali tidak berusaha membela diri lagi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut.Melihat itu, rasanya ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam diri Eca.Ia tahu. Setiap ucapan Dedi barusan pasti menghantam tepat ke titik yang paling rapuh dalam diri Ihsan.Selama ini, Ihsan hidup memegang idealismenya. Ia rela menghabiskan malam membaca buku-buku tentang pemerintahan desa hingga kebijakan publik. Setiap kali ada persoalan di kampung, kepalanya juga ikut andil memikirkan jalan keluar.Orang yang begitu tulus ingin memajukan desa ... kini justru dianggap sama dengan mereka yang punya niat terselubung di balik sebuah jabatan.Air mata Eca langsung menggenang. Ia merasa tak rela melihat suaminya dipojokkan seperti itu.“Pah ... Mah ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Semua mata beralih kepadanya.“Jangan bilang begit

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 125

    Suasana ruang tengah yang tadi hangat mendadak berubah tegang. Tak seorang pun di antara mereka yang berani membuka suara.Eca hanya bisa menatap selembar kertas yang tergeletak di atas meja itu. Napasnya terasa tercekat. Bahkan, rasanya ia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.Perlahan, ia menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun, tak ada kata yang terucap. Meski Eca tetap berharap Ihsan mengerti kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.Benar saja. Ihsan segera meraih lembaran kertas itu, lalu membukanya. Sorot matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris yang tertulis di sana, seolah memastikan kertas itu yang dicarinya sejak tadi.Rahang pria itu nampak mengeras perlahan“Mah ...,” ucapnya dengan suara berat. “Surat ini ... Mamah dapat dari mana?”Siti tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu singgah pada wajah putra bungsunya beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan semuanya.“Dari kamar kalian.”Jawaban singkat itu m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 124

    Setelah ayam bakar akhirnya matang, satu per satu hidangan mulai diangkat ke ruang tengah. Tak butuh waktu lama, semua orang pun berkumpul mengelilingi hamparan nasi liwet yang masih mengepul hangat. Makan malam itu berlangsung sederhana, tetapi terasa begitu hangat. Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan piring, diselingi obrolan ringan yang berlanjut dari satu pembahasan ke pembahasan lain. Eca makan dengan tenang di sebelah suaminya, meski sejak tadi lebih banyak diam. Kalau diajak bicara, ia tetap menjawab sambil tersenyum. Hanya saja, senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Ah, entahlah … ia benar-benar hanya merasa tak bisa tenang malam ini. Begitu makan malam selesai, mereka bersama-sama membereskan piring ke dapur. Tak lama kemudian, semuanya sudah kembali berkumpul di ruang tengah. Siti datang paling akhir sambil membawa sebuah tampah berisi pisang goreng yang masih hangat. Aroma pisang dan mentega seketika memenuhi ruangan itu. “Hayu atuh, tuan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 123

    Pulang dari sekolah, Eca hampir tidak membuka suara selama perjalanan. Ia hanya memeluk pinggang Ihsan lebih erat dari biasanya. Pipi kirinya sesekali menyentuh punggung suaminya, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang bahkan ia sendiri tak berani membayangkan. Barangkali karena pelukannya terasa jauh lebih erat, telapak tangan Ihsan perlahan menepuk punggung tangan Eca yang masih melingkar di pinggangnya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Namun, Eca seperti mengerti maksud sentuhan itu. Seolah tanpa perlu mengucapkan apa pun, Ihsan sedang meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, motor mereka pun memasuki halaman rumah. Begitu sampai di teras, Eca segera melepas sepatu, lalu menaruhnya rapi di rak. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke sofa. “Huuuh ....” Helaan napasnya terdengar berat. Kepalanya disandarkan ke belakang, sementara kedua matanya terpejam rapat. Sesaat kemudian, Ihsan baru i

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Asta

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 98

    Eca mengernyit.Untuk sesaat ia benar-benar tidak mengerti kenapa anak-anak itu malah meminta maaf.Harusnya mereka lega. Penampilan sudah selesai.Namun, wajah-wajah itu malam tampak murung seperti habis dimarahi.“Kenapa minta maaf atuh?”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 92

    Setelah meminta maaf kepada Eca dan Ihsan, para warga akhirnya mulai bubar.Meski Eca dan Ihsan memilih memaafkan, beberapa dari mereka masih sempat menoleh ke arah pasangan itu dengan senyum canggung dan tatapan tak enak hati sebelum benar-benar pulang.Tak butuh waktu lama hingga kegaduhan yang s

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 85

    Kalimat itu seperti menghantam telak kepala Eca berkali-kali. Periksa ke bidan? Tubuhnya hampir goyah, tetapi ia segera mencari tangan Ihsan di sampingnya lalu menggenggamnya erat, seakan takut jatuh jika tidak berpegangan. Jemarinya terasa dingin, bahkan telapak tangannya mulai lembap oleh keri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status