Share

Bab 3

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 20:36:50

Eca dan Ihsan menoleh bersamaan.

Detik berikutnya, Eca langsung buru-buru menutup mulut, menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir saja lolos.

“Jalan segede kieu, masih aja nabrak orang!” gerutunya kesal.

Eca cepat-cepat melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.

“Abang … maaf, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucapnya cepat, ekspresi penuh penyesalan.

Pria itu mendengkus pelan. Lumpur masih menetes di ujung bajunya.

“Teu sengaja kumaha? Abdi teh basah kuyup begini karena kamu!” balasnya masih dengan nada ketus.

Eca menunduk sedikit. Rasa bersalahnya makin terasa, apalagi saat melihat wajah pria itu yang juga penuh lumpur, tinggal giginya saja yang masih kelihatan putih.

Ia sempat melirik ke arah Ihsan. Tatapan mereka kembali bertemu sekilas, membuat Eca mendadak salah tingkah tanpa alasan.

Ihsan melangkah ke pinggir sawah, berdiri di pematang dekat saluran air.

“Udah, udah. Sini saya bantuin naik.” Tangannya terulur ke arah temannya itu.

Eca berdehem kecil, lantas mundur perlahan.

“Abang, aku buru-buru,” katanya cepat, asal mencari alasan agar bisa segera pergi. “Sekali lagi maaf, Bang ….”

“Heh, mau ke mana? Kamu harus tanggung jawab!” Pria itu berteriak kesal.

Eca sempat terhenyak.

Tanggung jawab?

Bukannya berhenti, ia malah pura-pura tidak mendengar. Eca segera berbalik menuju motornya.

Tangannya sedikit gemetar saat mencoba menyalakan mesin yang tiba-tiba susah hidup.

Enak saja juga disuruh tanggung jawab. Memang ia merusak masa depan anak orang? Idih.

Lagipula yang salah bukan dirinya. Itik sialan itu yang tiba-tiba memotong jalan.

Setelah beberapa kali menekan starter, motor akhirnya menyala. Di saat yang sama, pria penuh lumpur itu juga berhasil naik ke pinggir jalan.

Tanpa menoleh lagi, Eca langsung tancap gas meninggalkan tempat itu.

Tiba di rumah, Eca langsung menghempaskan tubuh ke sofa. Tangannya terangkat perlahan memijat pelan pelipisnya.

Huh.

Hari ini benar-benar sial.

Sudah mendapat tawaran tidak masuk akal dari si juragan mesum itu, ia malah menabrak orang juga.

Untungnya, tidak kenapa-kenapa. Coba saja kalau sampai harus dirawat ke rumah sakit, urusannya bisa lebih rumit.

Namun, tetap saja ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak insiden tadi.

Pria yang menolongnya … mirip sekali dengan seseorang yang ia kenal, Ihsan.

Ia sempat yakin kalau dia benar-benar Ihsan, tetapi Eca ragu karena sudah lama sekali mereka tak bertemu dan selama itu juga keduanya tak pernah bertukar kabar. Apalagi pria itu tidak menyahut saat ia menyapanya.

Bisa saja hanya mirip.

Lagipula, kalau dia benar Ihsan … sejak kapan kembali?

Eca masih memikirkan jawabannya ketika terdengar suara pintu diketuk.

“Neng Eca,” panggil seseorang dari luar.

Eca segera bangkit dan membuka pintu. Bi Lastri sudah berdiri di depan pintu dengan senyum ramahnya.

“Masuk, Bi.”

“Iya, Neng.” Bi Lastri melangkah masuk, lalu duduk di sofa. Sebuah rantang diletakkan di atas meja kayu itu.

“Ini, Bibi bawain sayur lodeh dan ikan gurame sambal lalapan. Tadi masak agak banyak.”

Senyum tipis langsung terbit di bibir Eca, beralih membuka tutup rantang itu dengan antusias. Aroma santan hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan.

“Wah … nuhun, Bi. Ini buat aku doang atau satu kampung sekalian? Banyak amat,” candanya.

Bi Lastri terkekeh kecil. “Buat Neng Eca wae atuh.”

Eca menanggapi dengan anggukan singkat, tangannya masih sibuk merapikan tutup rantang.

“Sehat-sehat si mamah di Jakarta?” tanya Bi Lastri kemudian.

Dalam beberapa saat, Eca hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Sehat, Bi.”

“Alhamdulillah,” balas Bi Lastri. “Terus, kumaha? Udah nemuin Juragan Dasim, belum?”

Ekspresi Eca langsung berubah. Ia mencebik kesal. Mendengar nama pria itu membuatnya bergidik geli. “Sudah, Bi, tapi belum ada solusi.”

Bi Lastri menghela napas pendek. “Emang kitu orangna, Neng. Serakah.” Ia mendekat sedikit sembari memelankan suaranya, “Atau … coba Neng minta tolong ke Ihsan.”

“Ihsan?” ulang Eca.

“Iya, si Ican.” Bi Lastri memperjelas. “Dulu kan Neng sama dia deket pisan. Ke mana-mana bareng. Di mana ada Ihsan, di situ pasti ada Neng Eca.”

“Dia kan keponakannya Juragan Dasim, Bapaknya kerja di kecamatan. Barangkali bisa bantu Neng bujuk si juragan.”

Eca tertegun sejenak.

Alisnya sedikit berkerut, seakan baru menyadari sesuatu yang luput dari pikirannya.

Tunggu … kalau Ihsan memang ada di desa ini, berarti pria yang tadi benar-benar Ihsan?

“Neng belum ketemu Ihsan, nya?” tanya Bi Lastri lagi, membuyarkan lamunannya.

Eca menggeleng pelan.

“Sekarang, dengar-dengar mah … Ihsan mau maju pencalonan kades, Neng,” tambah Bi Lastri santai.

Eca langsung mengangkat kepala, hampir tak percaya. “Kades?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 6

    Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri.Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja.Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat.“Keluar!” bentak Eca.Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu.“Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!”“Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar.Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka.Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 5

    Eca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna.Menikah?Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri. Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok.Ihsan terlihat diam sejenak. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak berubah tipis, meski hanya sesaat.“Menikah?” ulang Ihsan, seakan memastikan.“Ya,” jawab pria bertopi hitam itu. “Itu satu-satunya cara agar citramu bagus, San.”“Aku bisa bantu nyari calon kalau perlu,” tambahnya.“Saya rasa tidak perlu, Mang,” jawab Ihsan sopan. “Nanti saya pikirkan.”Eca kembali mematung.Di kepalanya langsung mengingat kalau ternyata bukan cuma dirinya yang butuh nikah untuk menyelamatkan rumah?Namun, untuk menjadi kades pun harus menikah agar dipercaya bisa membangun desa.Dari mana coba korelasinya?Eca hampir berdecak.Aneh sekali. Seolah semua masalah di desa ini bisa selesai hanya dengan menikah.Cukup lama, Eca tenggelam dalam pikiranny

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 4

    Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang.Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna.Ihsan … jadi kades?Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar.Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Eca mengerjap pelan.Tidak salah? “Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri.“Iya, Bi. Hatur nuhun.”Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi.Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya lalu mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa.Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan.Eca menatap kosong ke arah meja.Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa. Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide buruk.Har

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 3

    Eca dan Ihsan menoleh bersamaan.Detik berikutnya, Eca langsung buru-buru menutup mulut, menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir saja lolos.“Jalan segede kieu, masih aja nabrak orang!” gerutunya kesal.Eca cepat-cepat melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.“Abang … maaf, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucapnya cepat, ekspresi penuh penyesalan.Pria itu mendengkus pelan. Lumpur masih menetes di ujung bajunya.“Teu sengaja kumaha? Abdi teh basah kuyup begini karena kamu!” balasnya masih dengan nada ketus.Eca menunduk sedikit. Rasa bersalahnya makin terasa, apalagi saat melihat wajah pria itu yang juga penuh lumpur, tinggal giginya saja yang masih kelihatan putih.Ia sempat melirik ke arah Ihsan. Tatapan mereka kembali bertemu sekilas, membuat Eca mendadak salah tingkah tanpa alasan.Ihsan melangkah ke pinggir sawah, berdiri di pematang dekat saluran air. “Udah, udah. Sini saya bantuin naik.” Tangannya terulur ke ara

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 2

    Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim.Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu.Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang begitu mencolok di antara rumah warga lain, halaman luas, pagar besinya tinggi, dan beberapa motor serta mobil terparkir rapi di samping, justru membuat perasaannya mendadak tak tenang.Apakah mungkin juragan itu mau membantunya?Ia merapikan ujung bajunya. Dengan satu tarikan napas, Eca akhirnya melangkah masuk.“Permisi .…”Pria paruh baya yang duduk di kursi rotan teras menoleh sekilas, lalu kembali membaca koran. Perutnya tampak menonjol di balik kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas. Di tangannya ada gelas kopi. Di atas meja kecil di depannya, beberapa bungkus rokok berserakan.“Siapa?” tanyanya santai.“Saya … Ayesha, Juragan. Anaknya almarhum Pak Rahmat.” Eca menjawab sopan.“Oh .…”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 1

    “Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!” Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharusnya, minggu ini ia sudah jadi pengantin.Namun, rencana tetaplah rencana. Satu minggu sebelum pernikahan, calon suaminya justru mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. Eca sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan mengalami musibah tepat sebelum pernikahannya. Ia tentu saja tidak menginginkan ini, namun musibah sama sekali tidak bisa diduga. Eca sebenarnya bersedia menerima keadaan itu, bahkan dalam hati ia sudah berjanji akan merawat pria itu sampai benar-benar pulih.Sayangnya, keluarga calon suaminya justru menganggap semua musibah itu terjadi karena Eca membawa kesialan. Lebih menyakitkan lagi, pria yang sudah tiga tahun bersamanya hanya diam saat Eca dimaki-ma

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status