MasukPria yang dipanggil Ihsan itu diam. Ekspresinya tenang, namun tatapannya sulit terbaca.
Ihsan adalah teman masa kecil Eca. Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar. Eca tidak pernah melihatnya lagi sejak ia pergi ke ibukota. Ia hanya sempat mendengar beberapa kabar burung mengenai Ihsan. Ada yang berkata bahwa pria itu melanjutkan studi ke luar negeri, ada juga yang mengatakan bahwa Ihsan pergi karena dijodohkan. Apapun itu, Eca tidak pernah tahu hal yang sebenarnya. Namun, dipertemukan seperti ini tentu membuat Eca terkejut. Apalagi, perawakan Ihsan jauh berbeda dengan seseorang yang terlihat culun saat kecil. Kini, pria itu berdiri tegap dengan bahu-bahu yang lebar. Matanya tajam dan rahangnya terbentuk sempurna. Eca ingin menyapa pria itu, memastikan bahwa apa memang ia benar-benar Ihsan yang Eca kenal. Namun belum sempat Eca berkata apa-apa lagi, suara pria lainnya menggelegar di telinga Eca. Pria yang jatuh tersungkur di sawah itu bangkit dengan tubuh penuh lumpur. “Nyetir teh liat-liat, atuh! Matanya jangan ditinggal di rumah!” seru pria itu. Eca tersentak dari lamunannya dan cepat-cepat melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Abang … maaf, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucapnya cepat, ekspresi penuh penyesalan. Pria itu mendengkus pelan. Lumpur masih menetes di ujung bajunya. “Teu sengaja kumaha? Aku basah kuyup begini karena kamu!” balasnya masih dengan nada ketus. Eca menunduk sedikit. Rasa bersalahnya makin terasa, apalagi saat melihat wajah pria itu yang juga penuh lumpur, tinggal giginya saja yang masih kelihatan putih. Ia sempat melirik ke arah Ihsan. Tatapan mereka kembali bertemu sekilas, membuat Eca mendadak salah tingkah tanpa alasan. Ihsan melangkah ke pinggir sawah, berdiri di pematang dekat saluran air. “Udah, udah. Sini saya bantuin naik,” tangannya terulur ke arah pria yang nampak seperti temannya itu. Eca berdehem kecil, lantas mundur perlahan. “Abang, aku buru-buru,” katanya cepat, asal mencari alasan agar bisa segera pergi. “Sekali lagi maaf, Bang ….” “Heh, mau ke mana? Kamu harus tanggung jawab!” Pria itu berteriak kesal. Eca sempat terhenyak. Tanggung jawab? Bukannya berhenti, ia malah pura-pura tidak mendengar. Eca segera berbalik menuju motornya. Tangannya sedikit gemetar saat mencoba menyalakan mesin yang tiba-tiba susah hidup. Lagipula yang salah bukan dirinya. Itik sialan itu yang tiba-tiba memotong jalan. Setelah beberapa kali menekan starter, motor akhirnya menyala. Di saat yang sama, pria penuh lumpur itu juga berhasil naik ke pinggir jalan. Tanpa menoleh lagi, Eca langsung tancap gas meninggalkan tempat itu. Tiba di rumah, Eca langsung menghempaskan tubuh ke sofa. Tangannya terangkat perlahan memijat pelan pelipisnya. Huh. Hari ini benar-benar sial. Sudah mendapat tawaran tidak masuk akal dari si juragan mesum itu, ia malah menabrak orang juga. Untungnya, tidak kenapa-kenapa. Coba saja kalau sampai harus dirawat ke rumah sakit, urusannya bisa lebih rumit. Namun, tetap saja ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya sejak insiden tadi. Pria yang menolongnya … mirip sekali dengan seseorang yang ia kenal, Ihsan. Ia sempat yakin kalau dia benar-benar Ihsan, tetapi Eca ragu karena sudah lama sekali mereka tak bertemu dan selama itu juga keduanya tak pernah bertukar kabar. Apalagi pria itu tidak menyahut saat ia menyapanya. Bisa saja hanya mirip. Lagipula, kalau dia benar Ihsan … sejak kapan pulang ke desa? Eca masih memikirkan jawabannya ketika terdengar suara pintu diketuk. “Neng Eca,” panggil seseorang dari luar. Eca segera bangkit dan membuka pintu. Bi Lastri sudah berdiri di depan pintu dengan senyum ramahnya. “Masuk, Bi.” “Iya, Neng.” Bi Lastri melangkah masuk, lalu duduk di sofa. Sebuah rantang diletakkan di atas meja kayu itu. “Ini, Bibi bawain sayur lodeh dan ikan gurame sambal lalapan. Tadi masak agak banyak.” Senyum tipis langsung terbit di bibir Eca, beralih membuka tutup rantang itu dengan antusias. Aroma santan hangat langsung menyeruak memenuhi ruangan. “Wah … nuhun, Bi. Ini buat aku doang atau satu kampung sekalian? Banyak amat,” candanya. Bi Lastri terkekeh kecil. “Buat Neng Eca wae atuh.” Eca menanggapi dengan anggukan singkat, tangannya masih sibuk merapikan tutup rantang. “Sehat-sehat si mamah di Jakarta?” tanya Bi Lastri kemudian. Dalam beberapa saat, Eca hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Sehat, Bi.” “Alhamdulillah,” balas Bi Lastri. “Terus, kumaha? Udah nemuin Juragan Dasim, belum?” Ekspresi Eca langsung berubah. Ia mencebik kesal. Mendengar nama pria itu membuatnya bergidik geli. “Sudah, Bi, tapi belum ada solusi.” Bi Lastri menghela napas pendek. “Emang kitu orangna, Neng. Serakah.” Ia mendekat sedikit sembari memelankan suaranya, “Atau … coba Neng minta tolong ke Ihsan.” “Ihsan?” ulang Eca. “Iya, si Ican.” Bi Lastri memperjelas. “Dulu kan Neng sama dia deket pisan. Ke mana-mana bareng. Di mana ada Ihsan, di situ pasti ada Neng Eca. Dia kan keponakannya Juragan Dasim, Bapaknya kerja di kecamatan. Barangkali bisa bantu Neng bujuk si juragan.” Eca tertegun sejenak. Alisnya sedikit berkerut, seakan baru menyadari sesuatu yang luput dari pikirannya. Tunggu … kalau Ihsan memang ada di desa ini, berarti pria yang tadi benar-benar Ihsan? “Neng belum ketemu Ihsan, nya?” tanya Bi Lastri lagi, membuyarkan lamunannya. Eca menggeleng pelan. “Sekarang, dengar-dengar mah … Ihsan mau maju pencalonan kades, Neng,” tambah Bi Lastri santai. Eca mengangkat kepala, hampir tak mempercayai yang didengarnya itu. “Kades?”Tanpa menjawab pertanyaan Eca, Ihsan lebih dulu meraih ponselnya, membaca pesan yang baru masuk tadi sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja, tanpa membalasnya.Setelah itu, sorot matanya yang dalam jatuh tepat ke wajah Eca yang sejak tadi berusaha terlihat biasa saja, meski ia tak dapat menyembunyikan nada bicaranya yang jelas berubah.“Asih teman SMA saya, Neng.”Eca menatap Ihsan lurus, seperti mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. “Cuma teman?”“Hm.” Ihsan menjawab singkat, hingga membuat bibi Eca mengerucut kesal.Jelas ia tak puas hanya dengan jawaban seperti itu. Kalau memang cuma teman, kenapa terlihat begitu akrab? Sampai nanyain orang tuanya segala.“Tapi kemarin pas di kebun teh keliatan deket banget,” gumam Eca, hampir lirih. “Dia juga nanyain Mamah.”“Cuma kenal aja, Neng,” jelas Ihsan tenang.Ia sempat diam sejenak sebelum melanjutkan, “Waktu di Bandung, kita kenal sebagai sama-sama dari Kecamatan Sukamaju.”Eca masih diam mendengarkan.“Orang tuanya juga suka niti
Eca masih memandangi ponsel Ihsan beberapa saat, sebelum perlahan mengangkat kepala, menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara air masih terdengar dari dalam. Sepertinya, Ihsan masih lama. Dadanya mulai tak tenang lagi rasanya. Jujur saja, sosok itu terus-menerus mengganggu pikirannya sejak bertemu di kebun teh kemarin. Rasa penasarannya belum juga reda sampai kini. Tangannya akhirnya bergerak pelan meraih ponsel Ihsan. Bukan maksudnya lancang buka-buka ponsel suami sendiri. Ia hanya sedikit penasaran. Sedikit saja. Lagipula, Ihsan juga tidak menjelaskan apa-apa soal wanita itu. Jadi, kalau Eca mencari tahu sendiri … harusnya tidak apa-apa, kan? Mereka memang menikah karena kesepakatan, tetapi tidak tahu kenapa hatinya tetap resah ketika mengingat nama Asih. Begitu benda pipih itu akhirnya berpindah ke tangannya, jempol Eca refleks menggeser layar ke atas. Ponsel langsung terbuka begitu saja. ‘Loh?’ batinnya terkejut. ‘Tidak dikunci?’ Eca sampai melotot. Ah, pria itu
Keisengan saudara tirinya itu sukses membuat Eca geram. Rahangnya sampai mengeras menahan kesal yang nyaris meledak.“Arina sialan! Kamu, tuh, ya, ngajarin Adit yang nggak bener!” cecarnya.Tanpa pikir panjang, Eca langsung meraih sandal swallow yang tadi dilepas di teras dan melemparkannya ke arah Arina.“WEH!” Arina refleks menghindar sambil tertawa tak tahu diri. “Galak banget macam Mak Lampir!”“Mana adeknya, Kak?” Suara polos Adit kembali memecah suasana.Bocah itu masih berdiri sambil menengadahkan tangan kecilnya ke arah Eca, benar-benar seperti sedang meminta barang yang dijanjikan.Eca makin gelagapan.Ya Tuhan. Bocah ini bikin tekanan darahnya tiba-tiba melonjak naik saja? Ia sampai bingung harus menjawab bagaimana. Pembahasan begini terlalu tabu untuk dijelaskan panjang lebar, sedangkan Adit jelas belum mengerti apa-apa.Semua ini gara-gara Arina. Mulut wanita itu memang kadang-kadang lebih cepat jalan daripada otaknya.“Kakak belum punya, Sayang,” jawab Eca akhirnya sambi
Suasana rumah sudah cukup ramai pagi itu. Beberapa koper berjajar di teras, sementara Arif sibuk memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ihsan mulai membantu mengangkat koper paling besar ke bagasi mobil dengan santai, seolah koper itu tidak berat sama sekali baginya. Eca yang berdiri dekat pintu bersama Nani, juga mertuanya hanya memperhatikan dalam diam. Jujur saja, dadanya mulai sesak rasanya. Baru beberapa hari lalu rumah ini penuh orang karena acara pernikahannya. Sekarang, satu per satu mulai pulang dan suasananya perlahan kembali sepi. “Eh, itu jangan ditumpuk sembarangan atuh!” protes Nani dari teras. “Nanti oleh-olehnya gepeng.” “Tenang, Mah,” balas Arif santai sambil menahan tawa. “Ini ditaruh paling atas.” Eca ikut terkekeh kecil. Biasalah ibu-ibu, ada saja yang harus dikomentari. Sementara itu, Ihsan menutup bagasi setelah memasukkan koper terakhir. Kaos hitam polos yang dipakai Ihsan pagi itu membuat bahunya terlihat makin bidang. Rambutnya juga agak berantakan
Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu kamu datang.”Eca diam seribu bahasa. Namun, tanpa sadar jemarinya mulai meremas ujung cardigan rajut di pangkuannya.Mereka terlihat sudah cukup dekat sampai Ihsan dikenal orang tua wanita itu. Setidaknya, begitu yang Eca lihat.“Oh, ya, kamu sendirian aja?” tanya wanita itu lagi spontan.“Sama istri saya.”Setelah itu, tatapan wanita bernama Asih tersebut berpindah pada Eca yang berada di atas motor dengan alis bertaut.“Oh!” Ekspresi Asih sontak berubah kaget. “Maaf, aku nggak lihat dari tadi.”Eca membalas dengan senyum tipis sekadarnya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya pelan.Padahal, dalam hati ia ingin mengomel rasanya. Mungkin saja wanita itu sudah rabun? Masa dari tadi tidak melihat a
Kening Eca mengerut tipis. Lagi-lagi kepalanya refleks menoleh, memandangi wajah Ihsan dari samping seolah mencari sesuatu dari ekspresi pria itu. “Kenapa Akang bilang gitu?” “Selain ngajar …,” jawab Ihsan santai, “harus banyak ngelus dada lihat tingkah siswanya.” Eca seketika tertawa lepas, sampai bahunya ikut terguncang. Ia tak menyangka Ihsan akan berkata seperti itu. “Bisa juga Akang ngelucu.” Sudut bibir Ihsan bergerak tipis, meski nyaris tak terlihat. Angin sore kembali bertiup pelan di antara mereka. Sesekali terdengar suara motor lewat disusul samar obrolan para pengendaranya. Suasana kembali tenang setelah tawa Eca mereda. Untuk kesekian kalinya, Eca diam-diam melirik pria di sampingnya itu. Ihsan masih berdiri santai sambil bersandar di stang motor dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun, sekarang entah kenapa Eca jadi menyadari satu hal kalau ternyata, ia tidak benar-benar tahu banyak soal suaminya sendiri, padahal m







