MasukEca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna.
Menikah? Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri. Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok. Ihsan terlihat diam sejenak. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak berubah tipis, meski hanya sesaat. “Menikah?” ulang Ihsan, seakan memastikan. “Ya,” jawab pria bertopi hitam itu. “Itu satu-satunya cara agar citramu bagus, San.” “Aku bisa bantu nyari calon kalau perlu,” tambahnya. “Saya rasa tidak perlu, Mang,” jawab Ihsan sopan. “Nanti saya pikirkan.” Eca kembali mematung. Di kepalanya langsung mengingat kalau ternyata bukan cuma dirinya yang butuh nikah untuk menyelamatkan rumah? Namun, untuk menjadi kades pun harus menikah agar dipercaya bisa membangun desa. Dari mana coba korelasinya? Eca hampir berdecak. Aneh sekali. Seolah semua masalah di desa ini bisa selesai hanya dengan menikah. Cukup lama, Eca tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika tiba-tiba sebuah suara membuatnya sedikit tersentak. “Eh, Neng ….” Ia langsung menoleh. Dan, astaga …. Ternyata, Ihsan dan Mang Asep sudah berdiri di depannya. Sejak kapan? Eca sontak berdiri tegak, refleks memijat tengkuknya yang sebenarnya tidak pegal. “Hehe … itu, Mang … saya tadi .…” Ia tertawa kecil, gelagatnya jelas salah tingkah. Matanya sempat melirik ke arah Ihsan. Seketika itu juga … dadanya langsung mencelos. Tatapan pria itu terlalu dingin. Berbeda sekali dengan Ihsan yang ia kenal dulu, yang selalu menatapnya seolah dunia ini tidak terlalu buruk selama ada Eca di dekatnya. Sekarang? Mereka seperti tak lebih dari dua orang asing. Eca bahkan sempat ragu. Ini benar Ihsan … atau cuma orang yang mirip? “Ada apa, Neng? Nggak bantuin di depan?” tanya Mang Asep lagi. Eca buru-buru mengangguk kecil, lalu menelan ludah. “Ada yang mau aku bicarakan sama Ihsan, Mang.” Mang Asep menoleh ke arah Ihsan, seolah meminta jawaban. “Nanti saja,” jawab Ihsan singkat. “Tapi ini penting ….” Eca mengatakannya dengan sedikit memohon. Dulu, ia tidak pernah perlu memohon seperti ini padanya, tetapi sekarang kenapa rasanya ia terlalu mengemis biar bisa bicara dengannya? “Saya lagi sibuk.” Ucapannya datar, tak benar-benar menatap Eca, bahkan sebelum Eca sempat menanggapi, Ihsan sudah lebih dulu berbalik dan pergi begitu saja. Eca hanya terdiam kaku di tempat, sebelum mencebikkan bibirnya. Ih. Belum juga jadi apa-apa sudah dingin begitu. Bagaimana nanti kalau benar jadi kades? Bisa-bisa rumput di pinggir jalan saja pun harus izin padanya dulu sebelum tumbuh. Napasnya diembuskan kesar. Cara Ihsan memperlakukannya barusan membuat perasaannya benar-benar tidak nyaman. Daripada hanya tinggal berdiri, Eca akhirnya ikut bergabung dengan ibu-ibu di depan balai desa. Ia duduk jongkok, mencabuti rumput liar di pinggir halaman. Tanahnya agak sedikit lembap, sehingga sedikit menempel di ujung kukunya. Sesekali ia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan, walau matanya … tidak benar-benar tertuju pada rumput itu. Sesekali, ia melirik ke arah belakang tanpa sadar. Tepat pada keberadaan Ihsan. Pria itu sedang membantu membakar sampah bersama beberapa warga lain. Wajahnya tampak serius, sesekali berbicara seperlunya. Sebetulnya tidak banyak yang berubah dari Ihsan. Hanya saja, kenapa Acha merasa terlalu jauh darinya? Padahal, dulu mereka sedekat nadi. Beberapa saat kemudian, Eca melihat Ihsan berjalan menghindari tempat ramai, sebelum menerima telepon. Setelah itu, dia langsung pergi dengan motornya dan tidak kembali. Eca sempat menunggu. Berharap pria itu akan kembali lagi, nyatanya sampai warga mulai bubar satu per satu pun Ihsan belum muncul juga. “Sial,” desisnya pelan. Seperti tak ada harapan, Eca memutuskan pulang tanpa membawa kejelasan apa-apa soal rumahnya. Begitu masuk rumah, ia langsung menjatuhkan diri ke sofa sambil memijat keningnya yang terasa berat. Sepersekian detik kemudian, ia baru bangkit dan membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, setidaknya sedikit meredakan lelah walaupun tak mengubah isi kepalanya yang tetap berisik. Baru saja ia ingin bersantai, saat terdengar suara mesin kendaraan berhenti di halaman rumahnya. Tak lama disusul ketukan pintu. “Neng Ayesha ….” Eca terpaksa bangkit, keluar dari kamar, lalu berjalan ke ruang tengah. Tubuhnya sontak membatu ketika ia membuka pintu dan melihat Juragan Dasim berdiri di sana. Senyum yang terbit di bibirnya membuat Eca ingin refleks ingin mundur. “Ju-juragan … ada apa ke sini?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. Juragan Dasim tersenyum lebar. Tanpa dipersilahkan, langsung masuk ke rumah Eca. Duduk bagi tuan rumah dengan kaki menyilang. “Gimana, Neng … sudah dipikirkan?” tanyanya santai. “Pikirkan apa, Juragan?” tanya Eca hati-hati. Juragan Dasim menatapnya dengan sorot mata yang tak pantas. Pria itu bangkit mendekat ke arah Eca. “Tawaran menjadi istri saya,” katanya percaya diri. Eca menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang saat menjawab, “Maaf, Juragan. Saya tidak tertarik.” Dasim tertawa kecil. Namun, nadanya justru membuat bulu kuduk Eca meremang. “Jangan buru-buru nolak, atuh,” katanya sambil melangkah semakin mendekat. “Kesempatan nggak datang dua kali.” Eca refleks mundur satu langkah begitu Juragan Dasim benar-benar berdiri di hadapannya. “Saya sudah jawab, Juragan.” Sayangnya, Juragan Dasim tidak mengindahkan jawaban itu. Ia semakin mendekat, seakan merasa tertantang. “Sayang, loh …,” bisiknya, matanya kembali menyapu tubuh Eca tanpa malu. “Rumah kamu nanti digusur.” Eca menahan napas. Juragan Dasim tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyampirkan rambut Eca ke belakang telinganya. “Juragan, tolong jaga sikap,” ucap Eca tegas, spontan menjauh. Namun, Dasim malah tertawa lagi, seakan yang dilakukannya itu adalah hal biasa. “Kalau kamu jadi istri saya …,” bisik Juragan Dasim, “semua aman. Hidupmu akan enak.” Tubuh Eca menegang saat jarak di antara mereka kian terkikis. Bau kopi dan rokok dari napas pria itu menusuk tajam, membuat perutnya mual. Tangannya refleks mengepal di sisi tubuh. Di saat yang sama, kedua tangan Juragan Dasim terulur semakin mendekat … tepat ke arah pipinya.Tanpa menjawab pertanyaan Eca, Ihsan lebih dulu meraih ponselnya, membaca pesan yang baru masuk tadi sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja, tanpa membalasnya.Setelah itu, sorot matanya yang dalam jatuh tepat ke wajah Eca yang sejak tadi berusaha terlihat biasa saja, meski ia tak dapat menyembunyikan nada bicaranya yang jelas berubah.“Asih teman SMA saya, Neng.”Eca menatap Ihsan lurus, seperti mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. “Cuma teman?”“Hm.” Ihsan menjawab singkat, hingga membuat bibi Eca mengerucut kesal.Jelas ia tak puas hanya dengan jawaban seperti itu. Kalau memang cuma teman, kenapa terlihat begitu akrab? Sampai nanyain orang tuanya segala.“Tapi kemarin pas di kebun teh keliatan deket banget,” gumam Eca, hampir lirih. “Dia juga nanyain Mamah.”“Cuma kenal aja, Neng,” jelas Ihsan tenang.Ia sempat diam sejenak sebelum melanjutkan, “Waktu di Bandung, kita kenal sebagai sama-sama dari Kecamatan Sukamaju.”Eca masih diam mendengarkan.“Orang tuanya juga suka niti
Eca masih memandangi ponsel Ihsan beberapa saat, sebelum perlahan mengangkat kepala, menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara air masih terdengar dari dalam. Sepertinya, Ihsan masih lama. Dadanya mulai tak tenang lagi rasanya. Jujur saja, sosok itu terus-menerus mengganggu pikirannya sejak bertemu di kebun teh kemarin. Rasa penasarannya belum juga reda sampai kini. Tangannya akhirnya bergerak pelan meraih ponsel Ihsan. Bukan maksudnya lancang buka-buka ponsel suami sendiri. Ia hanya sedikit penasaran. Sedikit saja. Lagipula, Ihsan juga tidak menjelaskan apa-apa soal wanita itu. Jadi, kalau Eca mencari tahu sendiri … harusnya tidak apa-apa, kan? Mereka memang menikah karena kesepakatan, tetapi tidak tahu kenapa hatinya tetap resah ketika mengingat nama Asih. Begitu benda pipih itu akhirnya berpindah ke tangannya, jempol Eca refleks menggeser layar ke atas. Ponsel langsung terbuka begitu saja. ‘Loh?’ batinnya terkejut. ‘Tidak dikunci?’ Eca sampai melotot. Ah, pria itu
Keisengan saudara tirinya itu sukses membuat Eca geram. Rahangnya sampai mengeras menahan kesal yang nyaris meledak.“Arina sialan! Kamu, tuh, ya, ngajarin Adit yang nggak bener!” cecarnya.Tanpa pikir panjang, Eca langsung meraih sandal swallow yang tadi dilepas di teras dan melemparkannya ke arah Arina.“WEH!” Arina refleks menghindar sambil tertawa tak tahu diri. “Galak banget macam Mak Lampir!”“Mana adeknya, Kak?” Suara polos Adit kembali memecah suasana.Bocah itu masih berdiri sambil menengadahkan tangan kecilnya ke arah Eca, benar-benar seperti sedang meminta barang yang dijanjikan.Eca makin gelagapan.Ya Tuhan. Bocah ini bikin tekanan darahnya tiba-tiba melonjak naik saja? Ia sampai bingung harus menjawab bagaimana. Pembahasan begini terlalu tabu untuk dijelaskan panjang lebar, sedangkan Adit jelas belum mengerti apa-apa.Semua ini gara-gara Arina. Mulut wanita itu memang kadang-kadang lebih cepat jalan daripada otaknya.“Kakak belum punya, Sayang,” jawab Eca akhirnya sambi
Suasana rumah sudah cukup ramai pagi itu. Beberapa koper berjajar di teras, sementara Arif sibuk memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ihsan mulai membantu mengangkat koper paling besar ke bagasi mobil dengan santai, seolah koper itu tidak berat sama sekali baginya. Eca yang berdiri dekat pintu bersama Nani, juga mertuanya hanya memperhatikan dalam diam. Jujur saja, dadanya mulai sesak rasanya. Baru beberapa hari lalu rumah ini penuh orang karena acara pernikahannya. Sekarang, satu per satu mulai pulang dan suasananya perlahan kembali sepi. “Eh, itu jangan ditumpuk sembarangan atuh!” protes Nani dari teras. “Nanti oleh-olehnya gepeng.” “Tenang, Mah,” balas Arif santai sambil menahan tawa. “Ini ditaruh paling atas.” Eca ikut terkekeh kecil. Biasalah ibu-ibu, ada saja yang harus dikomentari. Sementara itu, Ihsan menutup bagasi setelah memasukkan koper terakhir. Kaos hitam polos yang dipakai Ihsan pagi itu membuat bahunya terlihat makin bidang. Rambutnya juga agak berantakan
Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu kamu datang.”Eca diam seribu bahasa. Namun, tanpa sadar jemarinya mulai meremas ujung cardigan rajut di pangkuannya.Mereka terlihat sudah cukup dekat sampai Ihsan dikenal orang tua wanita itu. Setidaknya, begitu yang Eca lihat.“Oh, ya, kamu sendirian aja?” tanya wanita itu lagi spontan.“Sama istri saya.”Setelah itu, tatapan wanita bernama Asih tersebut berpindah pada Eca yang berada di atas motor dengan alis bertaut.“Oh!” Ekspresi Asih sontak berubah kaget. “Maaf, aku nggak lihat dari tadi.”Eca membalas dengan senyum tipis sekadarnya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya pelan.Padahal, dalam hati ia ingin mengomel rasanya. Mungkin saja wanita itu sudah rabun? Masa dari tadi tidak melihat a
Kening Eca mengerut tipis. Lagi-lagi kepalanya refleks menoleh, memandangi wajah Ihsan dari samping seolah mencari sesuatu dari ekspresi pria itu. “Kenapa Akang bilang gitu?” “Selain ngajar …,” jawab Ihsan santai, “harus banyak ngelus dada lihat tingkah siswanya.” Eca seketika tertawa lepas, sampai bahunya ikut terguncang. Ia tak menyangka Ihsan akan berkata seperti itu. “Bisa juga Akang ngelucu.” Sudut bibir Ihsan bergerak tipis, meski nyaris tak terlihat. Angin sore kembali bertiup pelan di antara mereka. Sesekali terdengar suara motor lewat disusul samar obrolan para pengendaranya. Suasana kembali tenang setelah tawa Eca mereda. Untuk kesekian kalinya, Eca diam-diam melirik pria di sampingnya itu. Ihsan masih berdiri santai sambil bersandar di stang motor dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun, sekarang entah kenapa Eca jadi menyadari satu hal kalau ternyata, ia tidak benar-benar tahu banyak soal suaminya sendiri, padahal m







