Share

Bab 5

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-02 05:56:13

Eca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna.

Menikah?

Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri.

Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok.

Ihsan terlihat diam sejenak. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak berubah tipis, meski hanya sesaat.

“Menikah?” ulang Ihsan, seakan memastikan.

“Ya,” jawab pria bertopi hitam itu. “Itu satu-satunya cara agar citramu bagus, San.”

“Aku bisa bantu nyari calon kalau perlu,” tambahnya.

“Saya rasa tidak perlu, Mang,” jawab Ihsan sopan. “Nanti saya pikirkan.”

Eca kembali mematung.

Di kepalanya langsung mengingat kalau ternyata bukan cuma dirinya yang butuh nikah untuk menyelamatkan rumah?

Namun, untuk menjadi kades pun harus menikah agar dipercaya bisa membangun desa.

Dari mana coba korelasinya?

Eca hampir berdecak.

Aneh sekali. Seolah semua masalah di desa ini bisa selesai hanya dengan menikah.

Cukup lama, Eca tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika tiba-tiba sebuah suara membuatnya sedikit tersentak.

“Eh, Neng ….”

Ia langsung menoleh. Dan, astaga ….

Ternyata, Ihsan dan Mang Asep sudah berdiri di depannya.

Sejak kapan?

Eca sontak berdiri tegak, refleks memijat tengkuknya yang sebenarnya tidak pegal.

“Hehe … itu, Mang … saya tadi .…” Ia tertawa kecil, gelagatnya jelas salah tingkah.

Matanya sempat melirik ke arah Ihsan. Seketika itu juga … dadanya langsung mencelos.

Tatapan pria itu terlalu dingin. Berbeda sekali dengan Ihsan yang ia kenal dulu, yang selalu menatapnya seolah dunia ini tidak terlalu buruk selama ada Eca di dekatnya.

Sekarang? Mereka seperti tak lebih dari dua orang asing.

Eca bahkan sempat ragu. Ini benar Ihsan … atau cuma orang yang mirip?

“Ada apa, Neng? Nggak bantuin di depan?” tanya Mang Asep lagi.

Eca buru-buru mengangguk kecil, lalu menelan ludah.

“Ada yang mau aku bicarakan sama Ihsan, Mang.”

Mang Asep menoleh ke arah Ihsan, seolah meminta jawaban.

“Nanti saja,” jawab Ihsan singkat.

“Tapi ini penting ….” Eca mengatakannya dengan sedikit memohon.

Dulu, ia tidak pernah perlu memohon seperti ini padanya, tetapi sekarang kenapa rasanya ia terlalu mengemis biar bisa bicara dengannya?

“Saya lagi sibuk.”

Ucapannya datar, tak benar-benar menatap Eca, bahkan sebelum Eca sempat menanggapi, Ihsan sudah lebih dulu berbalik dan pergi begitu saja.

Eca hanya terdiam kaku di tempat, sebelum mencebikkan bibirnya.

Ih.

Belum juga jadi apa-apa sudah dingin begitu. Bagaimana nanti kalau benar jadi kades? Bisa-bisa rumput di pinggir jalan saja pun harus izin padanya dulu sebelum tumbuh.

Napasnya diembuskan kesar. Cara Ihsan memperlakukannya barusan membuat perasaannya benar-benar tidak nyaman.

Daripada hanya tinggal berdiri, Eca akhirnya ikut bergabung dengan ibu-ibu di depan balai desa.

Ia duduk jongkok, mencabuti rumput liar di pinggir halaman. Tanahnya agak sedikit lembap, sehingga sedikit menempel di ujung kukunya.

Sesekali ia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan, walau matanya … tidak benar-benar tertuju pada rumput itu.

Sesekali, ia melirik ke arah belakang tanpa sadar. Tepat pada keberadaan Ihsan.

Pria itu sedang membantu membakar sampah bersama beberapa warga lain. Wajahnya tampak serius, sesekali berbicara seperlunya.

Sebetulnya tidak banyak yang berubah dari Ihsan. Hanya saja, kenapa Eca merasa terlalu jauh darinya? Padahal, dulu mereka sedekat nadi.

Beberapa saat kemudian, Eca melihat Ihsan berjalan menghindari tempat ramai, sebelum menerima telepon.

Setelah itu, dia langsung pergi dengan motornya dan tidak kembali.

Eca sempat menunggu. Berharap pria itu akan kembali lagi, nyatanya sampai warga mulai bubar satu per satu pun Ihsan belum muncul juga.

“Sial,” desisnya pelan.

Seperti tak ada harapan, Eca memutuskan pulang tanpa membawa kejelasan apa-apa soal rumahnya.

Begitu masuk rumah, ia langsung menjatuhkan diri ke sofa sambil memijat keningnya yang terasa berat.

Sepersekian detik kemudian, ia baru bangkit dan membersihkan diri. Air dingin menyentuh kulitnya, setidaknya sedikit meredakan lelah walaupun tak mengubah isi kepalanya yang tetap berisik.

Baru saja ia ingin bersantai, saat terdengar suara mesin kendaraan berhenti di halaman rumahnya. Tak lama disusul ketukan pintu.

“Neng Ayesha ….”

Eca terpaksa bangkit, keluar dari kamar, lalu berjalan ke ruang tengah.

Tubuhnya sontak membatu ketika ia membuka pintu dan melihat Juragan Dasim berdiri di sana. Senyum yang terbit di bibirnya membuat Eca

ingin refleks ingin mundur.

“Ju-juragan … ada apa ke sini?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Juragan Dasim tersenyum lebar. Tanpa dipersilahkan, langsung masuk ke rumah Eca. Duduk bagi tuan rumah dengan kaki menyilang.

“Gimana, Neng … sudah dipikirkan?” tanyanya santai.

“Pikirkan apa, Juragan?” tanya Eca hati-hati.

Juragan Dasim menatapnya dengan sorot mata yang tak pantas. Pria itu bangkit mendekat ke arah Eca.

“Tawaran menjadi istri saya,” katanya percaya diri.

Eca menarik napas dalam-dalam, mencoba tetap tenang saat menjawab, “Maaf, Juragan. Saya tidak tertarik.”

Dasim tertawa kecil. Namun, nadanya justru membuat bulu kuduk Eca meremang.

“Jangan buru-buru nolak, atuh,” katanya sambil melangkah semakin mendekat. “Kesempatan nggak datang dua kali.”

Eca refleks mundur satu langkah begitu Juragan Dasim benar-benar berdiri di hadapannya.

“Saya sudah jawab, Juragan.”

Sayangnya, Juragan Dasim tidak mengindahkan jawaban itu. Ia semakin mendekat, seakan merasa tertantang.

“Sayang, loh …,” bisiknya, matanya kembali menyapu tubuh Eca tanpa malu. “Rumah kamu nanti digusur.”

Eca menahan napas. Juragan Dasim tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyampirkan rambut Eca ke belakang telinganya.

“Juragan, tolong jaga sikap,” ucap Eca tegas, spontan menjauh.

Namun, Dasim malah tertawa lagi, seakan yang dilakukannya itu adalah hal biasa.

“Kalau kamu jadi istri saya …,” bisik Juragan Dasim, “semua aman. Hidupmu akan enak.”

Tubuh Eca menegang saat jarak di antara mereka kian terkikis. Bau kopi dan rokok dari napas pria itu menusuk tajam, membuat perutnya mual.

Tangannya refleks mengepal di sisi tubuh.

Di saat yang sama, kedua tangan Juragan Dasim terulur semakin mendekat … tepat ke arah pipinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 128

    Eca terpaku di ambang pintu kamar beberapa detik. Rumah sudah benar-benar sunyi malam itu. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tengah, terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.Baru ketika pandangannya bergeser ke arah depan rumah, Eca menyadari ada semburat cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Rupanya lampu teras masih menyala. Pintu depan juga tampaknya tidak tertutup rapat.Kening Eca berkerut tipis. Pelan-pelan ia melangkah mendekati jendela depan.Dengan hati-hati, ia menyibakkan sedikit tirai itu. Begitu melihat ke arah luar, tubuhnya seketika membeku. Di kursi kayu teras, ternyata Ihsan sedang duduk sendirian.Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu di paha, sementara satu tangannya terus memijat pelipis tanpa henti.Tatapannya lurus ke halaman yang sudah tenggelam dalam gelap.Jemari Eca yang sedari tadi hanya memegang ujung tirai perlahan mencengkeram kain itu lebih kuat.Entah sejak kapan ia ikut menahan napas.Selama ini, setiap k

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 127

    Beberapa saat kemudian, isak tangis Eca perlahan mulai mereda, meski ia masih bersandar di dada Ihsan. Napasnya belum benar-benar teratur, tetapi setidaknya tidak lagi sesenggukan seperti tadi.Di sudut ruangan, Kang Darma yang sejak tadi memilih diam akhirnya berdiri dari duduknya. Reni pun ikut bangkit di samping suaminya.Pria itu memandang Eca dan Ihsan beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.“Kalian istirahat dulu,” ujarnya pelan. “Mamah sama Papah mungkin suasana haténa belum baik.”“Besok kalian obrolin lagi kalau semuanya sudah lebih tenang.”Tak ada yang membantah. Ihsan bahkan hanya mengangguk datar.“Iya.”Kang Darma menepuk singkat bahu adiknya sebelum berbalik, diikuti oleh Reni.Kang Darma dan Reni pun berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup pelan. Setelahnya, rumah kembali tenggelam dalam keheningan, seolah ikut membiarkan semuanya mengendap.Kini, yang tersisa di ruang tengah itu hanya Eca dan Ihsan. Pria itu kembali menata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 126

    Tak ada seorang pun yang membuka suara setelah itu.Eca hanya bisa menatap suaminya dari samping. Sejak tadi, Ihsan sama sekali tidak berusaha membela diri lagi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut.Melihat itu, rasanya ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam diri Eca.Ia tahu. Setiap ucapan Dedi barusan pasti menghantam tepat ke titik yang paling rapuh dalam diri Ihsan.Selama ini, Ihsan hidup memegang idealismenya. Ia rela menghabiskan malam membaca buku-buku tentang pemerintahan desa hingga kebijakan publik. Setiap kali ada persoalan di kampung, kepalanya juga ikut andil memikirkan jalan keluar.Orang yang begitu tulus ingin memajukan desa ... kini justru dianggap sama dengan mereka yang punya niat terselubung di balik sebuah jabatan.Air mata Eca langsung menggenang. Ia merasa tak rela melihat suaminya dipojokkan seperti itu.“Pah ... Mah ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Semua mata beralih kepadanya.“Jangan bilang begit

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 125

    Suasana ruang tengah yang tadi hangat mendadak berubah tegang. Tak seorang pun di antara mereka yang berani membuka suara.Eca hanya bisa menatap selembar kertas yang tergeletak di atas meja itu. Napasnya terasa tercekat. Bahkan, rasanya ia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.Perlahan, ia menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun, tak ada kata yang terucap. Meski Eca tetap berharap Ihsan mengerti kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.Benar saja. Ihsan segera meraih lembaran kertas itu, lalu membukanya. Sorot matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris yang tertulis di sana, seolah memastikan kertas itu yang dicarinya sejak tadi.Rahang pria itu nampak mengeras perlahan“Mah ...,” ucapnya dengan suara berat. “Surat ini ... Mamah dapat dari mana?”Siti tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu singgah pada wajah putra bungsunya beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan semuanya.“Dari kamar kalian.”Jawaban singkat itu m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 124

    Setelah ayam bakar akhirnya matang, satu per satu hidangan mulai diangkat ke ruang tengah. Tak butuh waktu lama, semua orang pun berkumpul mengelilingi hamparan nasi liwet yang masih mengepul hangat. Makan malam itu berlangsung sederhana, tetapi terasa begitu hangat. Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan piring, diselingi obrolan ringan yang berlanjut dari satu pembahasan ke pembahasan lain. Eca makan dengan tenang di sebelah suaminya, meski sejak tadi lebih banyak diam. Kalau diajak bicara, ia tetap menjawab sambil tersenyum. Hanya saja, senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Ah, entahlah … ia benar-benar hanya merasa tak bisa tenang malam ini. Begitu makan malam selesai, mereka bersama-sama membereskan piring ke dapur. Tak lama kemudian, semuanya sudah kembali berkumpul di ruang tengah. Siti datang paling akhir sambil membawa sebuah tampah berisi pisang goreng yang masih hangat. Aroma pisang dan mentega seketika memenuhi ruangan itu. “Hayu atuh, tuan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 123

    Pulang dari sekolah, Eca hampir tidak membuka suara selama perjalanan. Ia hanya memeluk pinggang Ihsan lebih erat dari biasanya. Pipi kirinya sesekali menyentuh punggung suaminya, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang bahkan ia sendiri tak berani membayangkan. Barangkali karena pelukannya terasa jauh lebih erat, telapak tangan Ihsan perlahan menepuk punggung tangan Eca yang masih melingkar di pinggangnya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Namun, Eca seperti mengerti maksud sentuhan itu. Seolah tanpa perlu mengucapkan apa pun, Ihsan sedang meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, motor mereka pun memasuki halaman rumah. Begitu sampai di teras, Eca segera melepas sepatu, lalu menaruhnya rapi di rak. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke sofa. “Huuuh ....” Helaan napasnya terdengar berat. Kepalanya disandarkan ke belakang, sementara kedua matanya terpejam rapat. Sesaat kemudian, Ihsan baru i

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru y

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 116

    Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Asta

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 98

    Eca mengernyit.Untuk sesaat ia benar-benar tidak mengerti kenapa anak-anak itu malah meminta maaf.Harusnya mereka lega. Penampilan sudah selesai.Namun, wajah-wajah itu malam tampak murung seperti habis dimarahi.“Kenapa minta maaf atuh?”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 92

    Setelah meminta maaf kepada Eca dan Ihsan, para warga akhirnya mulai bubar.Meski Eca dan Ihsan memilih memaafkan, beberapa dari mereka masih sempat menoleh ke arah pasangan itu dengan senyum canggung dan tatapan tak enak hati sebelum benar-benar pulang.Tak butuh waktu lama hingga kegaduhan yang s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status