Share

Bab 2

Penulis: Kharamiza
last update Tanggal publikasi: 2026-03-31 20:36:16

Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim.

Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu.

Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur.

Namun, melihat rumah yang begitu mencolok di antara rumah warga lain, halaman luas, pagar besinya tinggi, dan beberapa motor serta mobil terparkir rapi di samping, justru membuat perasaannya mendadak tak tenang.

Apakah mungkin juragan itu mau membantunya?

Ia merapikan ujung bajunya. Dengan satu tarikan napas, Eca akhirnya melangkah masuk.

“Permisi .…”

Pria paruh baya yang duduk di kursi rotan teras menoleh sekilas, lalu kembali membaca koran. Perutnya tampak menonjol di balik kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas.

Di tangannya ada gelas kopi. Di atas meja kecil di depannya, beberapa bungkus rokok berserakan.

“Siapa?” tanyanya santai.

“Saya … Ayesha, Juragan. Anaknya almarhum Pak Rahmat.” Eca menjawab sopan.

“Oh .…”

Juragan Dasim menurunkan koran yang menutupi wajahnya. Matanya menyipit, memperhatikan Eca seakan memastikan sesuatu.

“Duduk dulu.”

Eca menurut. Ia duduk di ujung kursi rotan, punggungnya tegak, berusaha menjaga jarak.

Sementara itu, Juragan Dasim masih memperhatikannya. Matanya naik turun di tubuh Eca tanpa malu-malu.

Gadis itu pun refleks merapatkan tangan di depan tubuhnya.

Dalam hati ia menggerutu sebal. ‘Ish … ini orang kenapa liatinnya begitu banget?’

“Ada perlu apa Neng Ayesha ke rumah saya?” Juragan Dasim memecah keheningan.

“Begini, Juragan ….” Eca menatap lurus ke depan. “Saya dengar rumah saya masuk daftar penggusuran untuk proyek desa.”

Ia menarik napas sejenak, sebelum melanjutkan, “Rumah itu satu-satunya peninggalan ayah saya, Juragan.”

”Jadi … saya memohon bantuan Juragan. Sebagai PLT Desa, juga orang yang paling disegani di Desa Mekarluyu … saya berharap rumah saya bisa dipertahankan.”

“Hm .…” Juragan Dasim bangkit dari kursinya, berjalan pelan ke ujung teras. Kedua tangannya ditaruh di belakang punggung.

“Bisa.”

Eca ikut bangkit. Raut wajahnya berubah sumringah.

Juragan Dasim menoleh. “Tapi, aya syaratna.”

“Saya mengerti, Juragan.”

Pria itu mengulas senyum tipis. “Yang bisa dipertahankan itu rumah milik warga tetap.”

“Yang sudah berkeluarga,” tambahnya santai.

Eca mengangguk pelan. Beberapa saat ia membisu, berusaha mencerna.

Kalau hanya menjadi warga tetap sebenarnya tidak sulit, tetapi berkeluarga?

Masalahnya, ia masih lajang. Baru kemarin gagal menikah. Tidak mungkin juga ia menyeret pria random untuk menikahinya, kan?

Otomatis dari syarat itu saja sudah tidak bisa dipenuhi.

Huh. Menyebalkan!

“Tapi .…” Juragan Dasim menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Eca mengangkat kepala. Harapan yang tadi sempat pupus, kembali tumbuh.

“Untuk gadis perawan secantik kamu … ada cara lain.”

Eca mengernyit. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba menjalar di perutnya mendengar ucapan Juragan Dasim.

Kenapa coba tiba-tiba membahas hal seperti itu? Apa hubungannya dengan rumahnya?

“A-apa itu caranya, Pak?” tanyanya mulai ragu.

Alih-alih langsung menjawab, Juragan Dasim justru berjalan mendekat ke arah Eca sambil mengusap-usap kumis tebalnya.

Langkahnya pelan, memutari tubuh Eca perlahan seakan sedang menilai, hingga gadis itu sontak menegang.

Hingga akhirnya, pria itu berhenti tepat di belakangnya.

Eca bisa merasakan napasnya yang begitu dekat, membuat bulu kuduknya langsung meremang.

“Jadi istri saya,” bisiknya, tepat di dekat telinga Eca. “Istri keempat.”

Eca nyaris terlonjak, namun tubuhnya mendadak kaku.

Beberapa detik, ia bahkan tidak mampu bergerak sama sekali.

Perlahan, ia menoleh. Napasnya seketika tertahan saat mendapati Juragan Dasim berdiri jauh lebih dekat dari yang ia kira.

Eca sontak menggeser tubuhnya menjauh.

“Maaf … Juragan,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

Juragan Dasim terkekeh tanpa rasa bersalah, seolah penawaran itu bukan hal aneh baginya.

“Tidak perlu kaget begitu, atuh” katanya santai. “Neng Eca tenang saja. Hidupmu bakal terjamin nikah sama saya. Rumahmu juga aman.”

Tangannya terulur, tiba-tiba mencolek pipi Eca. “Perawan seperti kamu mah saya suka … pasti lebih mantep dari istri-istri saya yang lain.”

Eca refleks menepis tangan itu dan mundur satu langkah.

“Maaf, Juragan … saya ke sini untuk minta bantuan, bukan untuk hal seperti itu.”

Juragan Dasim mengangkat bahu.

“Ya, itu syaratnya. Dipikir-pikir dulu aja.”

Eca mengepalkan tangan tanpa sadar.

Gila! Ini tua bangka benar-benar tidak tahu diri.

Tahu syaratnya begitu, dari awal ia tidak akan pernah mau menemuinya. Sudah punya istri tiga, masih juga belum cukup.

Rasanya Eca ingin menarik ucapannya tadi pagi, yang katanya akan memenuhi apa pun syaratnya, sekarang bahkan apa pun ia tidak akan mau. Apalagi, harus menjadi istri pria yang lebih cocok jadi kakeknya.

“Kalau begitu … saya permisi, Juragan.” Eca masih menjaga nada bicaranya agar tetap sopan, walau sebenarnya mulutnya sudah gatal ingin memaki-maki.

Ia tidak menunggu jawaban. Langsung berbalik dan melangkah cepat meninggalkan teras.

Angin sore menerpa wajahnya saat ia melajukan motor meninggalkan halaman rumah Juragan Dasim.

Jujur, ia sangat kesal, malu, jijik sekaligus.

Menjadi istri keempat, sungguh penawaran yang tidak waras.

Tangannya menggenggam setang motor lebih erat sambil menggerutu dalam hati.

Amit-amit, kayak tidak ada pria lain saja di dunia ini.

Ia mendengkus pelan.

Setelah ini, sepertinya Eca harus mencari cara lain untuk mempertahankan rumahnya.

Tua bangka itu tidak bisa diharapkan. Kayaknya di otaknya tidak ada yang lain selain urusan ranjang.

Motor melaju di jalan desa yang lengang. Di kiri kanan, hamparan sawah terbentang hijau. Beberapa petani masih terlihat mengarit di kejauhan.

Sepanjang jalan, pikirannya terasa penuh sesak, sampai-sampai ia tak terlalu fokus memperhatikan jalan di depannya.

Ia pun tak sadar dua ekor itik tiba-tiba melintas, menggeol-geol ekornya.

“Eh—!”

Eca refleks menekan rem, lalu membanting setang. Sayangnya, motornya telanjur oleng.

“Ya Tuhan!” pekiknya panik.

Motor itu melaju tak terkendali ke arah dua pria yang sedang berjalan di pinggir jalan.

Brak!

Salah satu dari mereka tanpa sengaja tersenggol. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan dan terlempar ke sawah.

Byur!

Lumpur dan air terciprat ke mana-mana.

Keadaan Eca sendiri tidak lebih baik. Motornya miring dan tubuhnya terpental ke samping, tersangkut di batang pohon jambu kecil di pinggir jalan.

“Aduh!” Ia meringis, mencoba melepaskan diri.

Sementara itu, pria satunya langsung beralih membantu Eca.

“Neng … Neng nggak apa-apa?” tanyanya.

Eca akhirnya berhasil berdiri, meski bajunya sedikit kotor.

Ia menoleh ke arah pria yang menolongnya dan seketika itu juga mulutnya sedikit terbuka.

Tatapan mereka bertemu sekilas, waktu pun seakan melambat saat itu.

“Ihsan …?” ujar Eca pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 66

    Tanpa menjawab pertanyaan Eca, Ihsan lebih dulu meraih ponselnya, membaca pesan yang baru masuk tadi sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja, tanpa membalasnya.Setelah itu, sorot matanya yang dalam jatuh tepat ke wajah Eca yang sejak tadi berusaha terlihat biasa saja, meski ia tak dapat menyembunyikan nada bicaranya yang jelas berubah.“Asih teman SMA saya, Neng.”Eca menatap Ihsan lurus, seperti mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. “Cuma teman?”“Hm.” Ihsan menjawab singkat, hingga membuat bibi Eca mengerucut kesal.Jelas ia tak puas hanya dengan jawaban seperti itu. Kalau memang cuma teman, kenapa terlihat begitu akrab? Sampai nanyain orang tuanya segala.“Tapi kemarin pas di kebun teh keliatan deket banget,” gumam Eca, hampir lirih. “Dia juga nanyain Mamah.”“Cuma kenal aja, Neng,” jelas Ihsan tenang.Ia sempat diam sejenak sebelum melanjutkan, “Waktu di Bandung, kita kenal sebagai sama-sama dari Kecamatan Sukamaju.”Eca masih diam mendengarkan.“Orang tuanya juga suka niti

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 65

    Eca masih memandangi ponsel Ihsan beberapa saat, sebelum perlahan mengangkat kepala, menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara air masih terdengar dari dalam. Sepertinya, Ihsan masih lama. Dadanya mulai tak tenang lagi rasanya. Jujur saja, sosok itu terus-menerus mengganggu pikirannya sejak bertemu di kebun teh kemarin. Rasa penasarannya belum juga reda sampai kini. Tangannya akhirnya bergerak pelan meraih ponsel Ihsan. Bukan maksudnya lancang buka-buka ponsel suami sendiri. Ia hanya sedikit penasaran. Sedikit saja. Lagipula, Ihsan juga tidak menjelaskan apa-apa soal wanita itu. Jadi, kalau Eca mencari tahu sendiri … harusnya tidak apa-apa, kan? Mereka memang menikah karena kesepakatan, tetapi tidak tahu kenapa hatinya tetap resah ketika mengingat nama Asih. Begitu benda pipih itu akhirnya berpindah ke tangannya, jempol Eca refleks menggeser layar ke atas. Ponsel langsung terbuka begitu saja. ‘Loh?’ batinnya terkejut. ‘Tidak dikunci?’ Eca sampai melotot. Ah, pria itu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 64

    Keisengan saudara tirinya itu sukses membuat Eca geram. Rahangnya sampai mengeras menahan kesal yang nyaris meledak.“Arina sialan! Kamu, tuh, ya, ngajarin Adit yang nggak bener!” cecarnya.Tanpa pikir panjang, Eca langsung meraih sandal swallow yang tadi dilepas di teras dan melemparkannya ke arah Arina.“WEH!” Arina refleks menghindar sambil tertawa tak tahu diri. “Galak banget macam Mak Lampir!”“Mana adeknya, Kak?” Suara polos Adit kembali memecah suasana.Bocah itu masih berdiri sambil menengadahkan tangan kecilnya ke arah Eca, benar-benar seperti sedang meminta barang yang dijanjikan.Eca makin gelagapan.Ya Tuhan. Bocah ini bikin tekanan darahnya tiba-tiba melonjak naik saja? Ia sampai bingung harus menjawab bagaimana. Pembahasan begini terlalu tabu untuk dijelaskan panjang lebar, sedangkan Adit jelas belum mengerti apa-apa.Semua ini gara-gara Arina. Mulut wanita itu memang kadang-kadang lebih cepat jalan daripada otaknya.“Kakak belum punya, Sayang,” jawab Eca akhirnya sambi

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 63

    Suasana rumah sudah cukup ramai pagi itu. Beberapa koper berjajar di teras, sementara Arif sibuk memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ihsan mulai membantu mengangkat koper paling besar ke bagasi mobil dengan santai, seolah koper itu tidak berat sama sekali baginya. Eca yang berdiri dekat pintu bersama Nani, juga mertuanya hanya memperhatikan dalam diam. Jujur saja, dadanya mulai sesak rasanya. Baru beberapa hari lalu rumah ini penuh orang karena acara pernikahannya. Sekarang, satu per satu mulai pulang dan suasananya perlahan kembali sepi. “Eh, itu jangan ditumpuk sembarangan atuh!” protes Nani dari teras. “Nanti oleh-olehnya gepeng.” “Tenang, Mah,” balas Arif santai sambil menahan tawa. “Ini ditaruh paling atas.” Eca ikut terkekeh kecil. Biasalah ibu-ibu, ada saja yang harus dikomentari. Sementara itu, Ihsan menutup bagasi setelah memasukkan koper terakhir. Kaos hitam polos yang dipakai Ihsan pagi itu membuat bahunya terlihat makin bidang. Rambutnya juga agak berantakan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 62

    Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu kamu datang.”Eca diam seribu bahasa. Namun, tanpa sadar jemarinya mulai meremas ujung cardigan rajut di pangkuannya.Mereka terlihat sudah cukup dekat sampai Ihsan dikenal orang tua wanita itu. Setidaknya, begitu yang Eca lihat.“Oh, ya, kamu sendirian aja?” tanya wanita itu lagi spontan.“Sama istri saya.”Setelah itu, tatapan wanita bernama Asih tersebut berpindah pada Eca yang berada di atas motor dengan alis bertaut.“Oh!” Ekspresi Asih sontak berubah kaget. “Maaf, aku nggak lihat dari tadi.”Eca membalas dengan senyum tipis sekadarnya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya pelan.Padahal, dalam hati ia ingin mengomel rasanya. Mungkin saja wanita itu sudah rabun? Masa dari tadi tidak melihat a

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 61

    Kening Eca mengerut tipis. Lagi-lagi kepalanya refleks menoleh, memandangi wajah Ihsan dari samping seolah mencari sesuatu dari ekspresi pria itu. “Kenapa Akang bilang gitu?” “Selain ngajar …,” jawab Ihsan santai, “harus banyak ngelus dada lihat tingkah siswanya.” Eca seketika tertawa lepas, sampai bahunya ikut terguncang. Ia tak menyangka Ihsan akan berkata seperti itu. “Bisa juga Akang ngelucu.” Sudut bibir Ihsan bergerak tipis, meski nyaris tak terlihat. Angin sore kembali bertiup pelan di antara mereka. Sesekali terdengar suara motor lewat disusul samar obrolan para pengendaranya. Suasana kembali tenang setelah tawa Eca mereda. Untuk kesekian kalinya, Eca diam-diam melirik pria di sampingnya itu. Ihsan masih berdiri santai sambil bersandar di stang motor dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun, sekarang entah kenapa Eca jadi menyadari satu hal kalau ternyata, ia tidak benar-benar tahu banyak soal suaminya sendiri, padahal m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status