Share

Bab 4

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-02 02:38:30

Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang.

Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna.

Ihsan … jadi kades?

Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar.

Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa?

Eca mengerjap pelan.

Tidak salah?

“Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri.

“Iya, Bi. Hatur nuhun.”

Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi.

Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya lalu mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa.

Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan.

Eca menatap kosong ke arah meja.

Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa.

Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide buruk.

Harusnya, urusan mempertahankan satu rumah saja tidak akan sesulit itu.

.

.

.

Keesokan paginya, Eca benar-benar datang ke rumah Ihsan. Motornya berhenti tepat di depan pagar, namun ia belum juga bergerak untuk turun.

Matanya justru menatap rumah itu cukup lama

Dulu … ia sering main ke sini, keluar masuk tanpa permisi, bahkan pernah hampir dimarahi orang tua Ihsan karena terlalu berisik.

Sekarang, rasanya justru terlalu asing. Seperti datang ke rumah orang lain, bukan sahabatnya.

Eca menghela napas pelan, lebih terdengar pasrah.

Ia akhirnya turun dari motor, lalu melangkah masuk.

Baru saja ia hendak mengetuk pintu ketika pintu terbuka duluan.

Ceklek.

Namun, bukan Ihsan yang muncul, melainkan seorang pria yang wajahnya terasa familiar, tetapi Eca belum langsung menyadarinya.

“Ihsan ada?” tanya Eca tanpa basa-basi.

Pria itu terdiam beberapa detik, lalu menjawab, “Teu aya, Teh.”

Eca mengerutkan kening. “Ke mana?”

“Tidak tahu. Teteh cari aja sendiri.”

Alis Eca langsung naik sebelah,

“Ya udah, nanti aku ke sini lagi.”

Eca sudah berbalik, hendak pergi, ketika tiba-tiba tangannya dicekal.

Eca langsung menoleh, terkejut.

“Teteh yang kemarin nabrak aku, kan?” Mata pria itu langsung melotot.

Eca terhenyak. Mulutnya sedikit membulat.

Pantesan rasanya familiar. Ternyata, dia yang mendadak jadi manusia lumpur di sawah kemarin.

“Bu-bukan, Bang. Salah orang kayaknya,” elaknya cepat sambil berusaha menarik tangannya.

Hanya saja, pria itu malah makin mengeratkan cekalannya.

“Aih! Jangan ngeles, Teh! Gara-gara Teteh tanganku harus diurut, tau! Teteh harus tanggung jawab.”

Eca melotot kaget. Serius sampai diurut? Apa separah itu?

Alih-alih kasihan, Eca malah refleks nyolot. “Abang kan bukan hamil, kenapa aku harus tanggung jawab?”

Pria itu langsung terdiam setengah detik.

“Heh, kamu—!”

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, Eca langsung menarik tangannya, lalu buru-buru berlari kecil ke arah motor.

“Woi! Tanggung jawab kamu!” teriak pria itu dari belakang.

Eca pura-pura tidak mendengar. Mesin motor langsung dinyalakan dan berlalu dengan cepat.

Sial. Sungguh sial.

Niat hati mau bertemu Ihsan, malah ia harus ketemu apes lagi.

Eca menghela napas kesal sepanjang jalan.

Lagian itu orang sebenarnya siapa? Kenapa ada di rumah Ihsan?

Setahunya, Ihsan tidak punya adik. Atau … jangan-jangan selama ia pergi ke Jakarta, keluarganya bertambah?

Entahlah! Yang jelas, hari ini bukan rezekinya bertemu Ihsan.

Motor Eca melaju agak pelan kali ini. Pikirannya masih kesal setengah mati, tetapi juga … kepikiran.

Kalau Ihsan memang akan menjadi kepala desa, harusnya dia tidak jauh-jauh dari urusan warga.

Orang yang mau jadi kades … pasti lagi sibuk di mana-mana.

Eca mengerucutkan bibir. “Paling juga nongkrongnya di balai desa,” gumamnya pelan.

Tanpa sadar, tangannya membelokkan setang ke arah balai desa.

Motornya melambat saat mendekati balai desa. Dari kejauhan saja sudah terlihat ramai. Beberapa bapak-bapak sedang menyapu jalan, ada juga yang membersihkan saluran air.

Ibu-ibu ikut merapikan pinggir jalan sambil sesekali mengobrol. Suara sapu lidi bergesekan dengan tanah bercampur tawa dan pembicaraan warga.

Eca menghentikan motornya di pinggir.

“Neng Eca!” panggil seseorang.

Eca menoleh, melihat Bi Lastri melambai sambil masih memegang sapu lidinya.

“Dari mana, Neng?”

“Dari rumahnya Ihsan, Bi. Tapi orangnya nggak ada.”

“Lah, si kasep mah di belakang balai, Neng. Lagi sama bapak-bapak,” sahut ibu lain sambil tetap menyapu.

“Oh .…” Eca mengangguk.

“Ini mah tiap Jumat, Neng. Jumat bersih,” tambah Bi Lastri. “Ayo atuh ikutan. Biar sekalian kenal lagi sama warga.”

Eca tersenyum tipis. “Iya, nanti, Bi.”

Ia akhirnya turun dari motor, lalu berjalan ke arah belakang balai desa.

Awalnya, biasa saja. Namun, semakin dekat langkahnya justru melambat saat tak sengaja mendengar obrolan samar dari kejauhan.

Bukan obrolan santai seperti Ibu-Ibu di depan, tetapi ini terdengar serius.

Eca tetap berjalan, hingga akhirnya melihat Ihsan dan salah satu pria sedang mengobrol terpisah dari yang lain.

Eca sontak berhenti di balik tembok.

“Status kamu yang masih lajang itu bisa dipakai lawan buat ngejatuhin kamu, San.”

Eca langsung diam di tempat.

“Apalagi sekarang mulai banyak yang kontra. Warga ragu kamu bisa memimpin desa, kalau rumah tangga saja belum bisa kamu bangun.”

“Apa itu harus dijadiin patokan?” tanya Ihsan terdengar tenang.

“Ah, kamu juga tahu sendiri warga sini, San. Mereka lihatnya dari situ.”

Eca menahan napas.

“Banyak juga yang nggak mau kamu naik. Visi kamu beda sama mereka. Apalagi …,” suara itu lebih pelan dari sebelumnya, “Juragan Dasim juga tidak sepenuhnya mendukungmu.”

Eca mengernyit.

“Kalau begini terus, kita bisa kalah sebelum pilkades,” lanjutnya.

Hening sejenak.

“Apa aku batalkan saja?” tanya Ihsan.

“Jangan, San. Banyak yang berharap sama kamu.”

“Tapi mereka nggak percaya sama statusku.”

“Ya … kalau bisa, sebelum pendaftaran dibuka … kamu menikah dulu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 6

    Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri.Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja.Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat.“Keluar!” bentak Eca.Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu.“Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!”“Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar.Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka.Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 5

    Eca tertegun. Ucapan itu seperti berhenti di kepalanya, namun tak bisa langsung dicerna.Menikah?Dadanya tiba-tiba sedikit sesak. Rasanya, itu terlalu dekat dengan masalahnya sendiri. Ia menelan ludah dalam-dalam, lalu sedikit mengintip dari balik tembok.Ihsan terlihat diam sejenak. Wajahnya yang tadi tenang, kini tampak berubah tipis, meski hanya sesaat.“Menikah?” ulang Ihsan, seakan memastikan.“Ya,” jawab pria bertopi hitam itu. “Itu satu-satunya cara agar citramu bagus, San.”“Aku bisa bantu nyari calon kalau perlu,” tambahnya.“Saya rasa tidak perlu, Mang,” jawab Ihsan sopan. “Nanti saya pikirkan.”Eca kembali mematung.Di kepalanya langsung mengingat kalau ternyata bukan cuma dirinya yang butuh nikah untuk menyelamatkan rumah?Namun, untuk menjadi kades pun harus menikah agar dipercaya bisa membangun desa.Dari mana coba korelasinya?Eca hampir berdecak.Aneh sekali. Seolah semua masalah di desa ini bisa selesai hanya dengan menikah.Cukup lama, Eca tenggelam dalam pikiranny

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 4

    Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang.Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna.Ihsan … jadi kades?Dulu, yang Eca kenal, Ihsan itu anaknya pendiam. Ke mana-mana ikut saja. Jarang bicara, bahkan kalau diajak main, seringnya cuma mengangguk tanpa banyak komentar.Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Eca mengerjap pelan.Tidak salah? “Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri.“Iya, Bi. Hatur nuhun.”Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi.Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya lalu mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa.Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan.Eca menatap kosong ke arah meja.Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa. Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide buruk.Har

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 3

    Eca dan Ihsan menoleh bersamaan.Detik berikutnya, Eca langsung buru-buru menutup mulut, menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha mati-matian menahan tawa yang hampir saja lolos.“Jalan segede kieu, masih aja nabrak orang!” gerutunya kesal.Eca cepat-cepat melangkah mendekat, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada.“Abang … maaf, ya. Aku benar-benar nggak sengaja,” ucapnya cepat, ekspresi penuh penyesalan.Pria itu mendengkus pelan. Lumpur masih menetes di ujung bajunya.“Teu sengaja kumaha? Abdi teh basah kuyup begini karena kamu!” balasnya masih dengan nada ketus.Eca menunduk sedikit. Rasa bersalahnya makin terasa, apalagi saat melihat wajah pria itu yang juga penuh lumpur, tinggal giginya saja yang masih kelihatan putih.Ia sempat melirik ke arah Ihsan. Tatapan mereka kembali bertemu sekilas, membuat Eca mendadak salah tingkah tanpa alasan.Ihsan melangkah ke pinggir sawah, berdiri di pematang dekat saluran air. “Udah, udah. Sini saya bantuin naik.” Tangannya terulur ke ara

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 2

    Menjelang sore, Eca menepikan motornya di dekat pagar rumah besar milik Juragan Dasim.Langkahnya sempat terhenti saat melihat pemandangan rumah itu.Tadi pagi, ia memang terdengar begitu yakin akan memenuhi apa pun syarat yang diberikan asal rumahnya tidak digusur. Namun, melihat rumah yang begitu mencolok di antara rumah warga lain, halaman luas, pagar besinya tinggi, dan beberapa motor serta mobil terparkir rapi di samping, justru membuat perasaannya mendadak tak tenang.Apakah mungkin juragan itu mau membantunya?Ia merapikan ujung bajunya. Dengan satu tarikan napas, Eca akhirnya melangkah masuk.“Permisi .…”Pria paruh baya yang duduk di kursi rotan teras menoleh sekilas, lalu kembali membaca koran. Perutnya tampak menonjol di balik kemeja yang sedikit terbuka di bagian atas. Di tangannya ada gelas kopi. Di atas meja kecil di depannya, beberapa bungkus rokok berserakan.“Siapa?” tanyanya santai.“Saya … Ayesha, Juragan. Anaknya almarhum Pak Rahmat.” Eca menjawab sopan.“Oh .…”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 1

    “Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!” Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharusnya, minggu ini ia sudah jadi pengantin.Namun, rencana tetaplah rencana. Satu minggu sebelum pernikahan, calon suaminya justru mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. Eca sama sekali tidak menyangka bahwa ia akan mengalami musibah tepat sebelum pernikahannya. Ia tentu saja tidak menginginkan ini, namun musibah sama sekali tidak bisa diduga. Eca sebenarnya bersedia menerima keadaan itu, bahkan dalam hati ia sudah berjanji akan merawat pria itu sampai benar-benar pulih.Sayangnya, keluarga calon suaminya justru menganggap semua musibah itu terjadi karena Eca membawa kesialan. Lebih menyakitkan lagi, pria yang sudah tiga tahun bersamanya hanya diam saat Eca dimaki-ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status