Partager

Bab 4

Auteur: Kharamiza
last update Date de publication: 2026-04-02 02:38:30

Eca masih terpaku di tempatnya. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, seolah enggan hilang.

Ia menelan ludah pelan, mencoba mencerna.

Ihsan … mencalonkan diri jadi kades?

“Serius, Bi? Dulu ‘kan, Ihsan betul-betul pendiam? Kok tiba-tiba …”

Sekarang … tiba-tiba mau memimpin satu desa? Ucapan Eca tidak sempat tersuarakan. Ia kaget dengan kabar yang baru didengarnya ini.

Tidak salah?

“Begitulah, Neng. Ya udah, Bibi pamit dulu, Neng. Makanannya jangan lupa dihangatin, nya” ujar Bi Lastri sambil berdiri.

“Iya, Bi. Hatur nuhun.”

Setelah pintu tertutup, rumah itu kembali sepi.

Eca masih berdiri beberapa detik, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang dan menjatuhkan diri ke sofa.

Baru kemarin ia kembali ke desa ini, tetapi rasa penasaran semuanya sudah berubah, termasuk Ihsan.

Eca menatap kosong ke arah meja.

Kalau memang Ihsan sekarang mau maju jadi kades, berarti dia punya pengaruh di desa.

Jika itu benar, mungkin benar kata Bi Lastri. Meminta bantuan ke dia bukan ide buruk.

Harusnya, urusan mempertahankan satu rumah saja tidak akan sesulit itu! Tekad Eca dalam hatinya.

***

Keesokan paginya, Eca benar-benar datang ke rumah Ihsan. Motornya berhenti tepat di depan pagar, namun ia belum juga bergerak untuk turun.

Matanya justru menatap rumah itu cukup lama

Dulu … ia sering main ke sini, keluar masuk tanpa permisi, bahkan pernah hampir dimarahi orang tua Ihsan karena terlalu berisik.

Sekarang, rasanya justru terlalu asing. Seperti datang ke rumah orang lain, bukan sahabatnya.

Eca menghela napas pelan, lebih terdengar pasrah. Ia akhirnya turun dari motor, lalu melangkah masuk.

Baru saja ia hendak mengetuk pintu ketika pintu terbuka duluan.

Ceklek.

Namun, bukan Ihsan yang muncul, melainkan seorang wanita paruh baya. Yang jelas, hari ini bukan rezekinya bertemu Ihsan.

Motor Eca melaju agak pelan kali ini. Pikirannya masih kesal setengah mati, tetapi juga … kepikiran.

Kalau Ihsan memang akan menjadi kepala desa, harusnya dia tidak jauh-jauh dari urusan warga.

Orang yang mau jadi kades … pasti lagi sibuk di mana-mana.

Eca mengerucutkan bibir. “Paling juga nongkrongnya di balai desa,” gumamnya pelan.

Tanpa sadar, tangannya membelokkan setang ke arah balai desa.

Motornya melambat saat mendekati balai desa. Dari kejauhan saja sudah terlihat ramai. Beberapa bapak-bapak sedang menyapu jalan, ada juga yang membersihkan saluran air.

Ibu-ibu ikut merapikan pinggir jalan sambil sesekali mengobrol. Suara sapu lidi bergesekan dengan tanah bercampur tawa dan pembicaraan warga.

Eca menghentikan motornya di pinggir.

“Neng Eca!” panggil seseorang.

Eca menoleh, melihat Bi Lastri melambai sambil masih memegang sapu lidinya.

“Dari mana, Neng?”

“Dari rumahnya Ihsan, Bi. Tapi orangnya nggak ada.”

“Lah, si kasep mah di belakang balai, Neng. Lagi sama bapak-bapak,” sahut ibu lain sambil tetap menyapu.

“Oh .…” Eca mengangguk.

“Ini mah tiap Jumat, Neng. Jumat bersih,” tambah Bi Lastri. “Ayo atuh ikutan. Biar sekalian kenal lagi sama warga.”

Eca tersenyum tipis. “Iya, nanti, Bi.”

Ia akhirnya turun dari motor, lalu berjalan ke arah belakang balai desa.

Awalnya, biasa saja. Namun, semakin dekat langkahnya justru melambat saat tak sengaja mendengar obrolan samar dari kejauhan.

Bukan obrolan santai seperti Ibu-Ibu di depan, tetapi ini terdengar serius.

Eca tetap berjalan, hingga akhirnya melihat Ihsan dan salah satu pria sedang mengobrol terpisah dari yang lain.

Eca sontak berhenti di balik tembok.

“Status kamu yang masih lajang itu bisa dipakai lawan buat ngejatuhin kamu, San.”

Eca langsung diam di tempat.

“Apalagi sekarang mulai banyak yang kontra. Warga ragu kamu bisa memimpin desa, kalau rumah tangga saja belum bisa kamu bangun.”

“Apa itu harus dijadiin patokan?” tanya Ihsan terdengar tenang.

“Ah, kamu juga tahu sendiri warga sini, San. Mereka lihatnya dari situ.”

Eca menahan napas.

“Banyak juga yang nggak mau kamu naik. Visi kamu beda sama mereka. Apalagi …,” suara itu lebih pelan dari sebelumnya, “Juragan Dasim juga tidak sepenuhnya mendukungmu.”

Eca mengernyit.

“Kalau begini terus, kita bisa kalah sebelum pilkades,” lanjutnya.

Hening sejenak.

“Apa saya batalkan saja?” tanya Ihsan.

“Jangan, San. Banyak yang berharap sama kamu.”

“Tapi mereka nggak percaya sama status saya.”

“Ya … kalau bisa, sebelum pendaftaran dibuka … kamu menikah dulu!”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 128

    Eca terpaku di ambang pintu kamar beberapa detik. Rumah sudah benar-benar sunyi malam itu. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tengah, terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.Baru ketika pandangannya bergeser ke arah depan rumah, Eca menyadari ada semburat cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Rupanya lampu teras masih menyala. Pintu depan juga tampaknya tidak tertutup rapat.Kening Eca berkerut tipis. Pelan-pelan ia melangkah mendekati jendela depan.Dengan hati-hati, ia menyibakkan sedikit tirai itu. Begitu melihat ke arah luar, tubuhnya seketika membeku. Di kursi kayu teras, ternyata Ihsan sedang duduk sendirian.Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu di paha, sementara satu tangannya terus memijat pelipis tanpa henti.Tatapannya lurus ke halaman yang sudah tenggelam dalam gelap.Jemari Eca yang sedari tadi hanya memegang ujung tirai perlahan mencengkeram kain itu lebih kuat.Entah sejak kapan ia ikut menahan napas.Selama ini, setiap k

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 127

    Beberapa saat kemudian, isak tangis Eca perlahan mulai mereda, meski ia masih bersandar di dada Ihsan. Napasnya belum benar-benar teratur, tetapi setidaknya tidak lagi sesenggukan seperti tadi.Di sudut ruangan, Kang Darma yang sejak tadi memilih diam akhirnya berdiri dari duduknya. Reni pun ikut bangkit di samping suaminya.Pria itu memandang Eca dan Ihsan beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.“Kalian istirahat dulu,” ujarnya pelan. “Mamah sama Papah mungkin suasana haténa belum baik.”“Besok kalian obrolin lagi kalau semuanya sudah lebih tenang.”Tak ada yang membantah. Ihsan bahkan hanya mengangguk datar.“Iya.”Kang Darma menepuk singkat bahu adiknya sebelum berbalik, diikuti oleh Reni.Kang Darma dan Reni pun berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup pelan. Setelahnya, rumah kembali tenggelam dalam keheningan, seolah ikut membiarkan semuanya mengendap.Kini, yang tersisa di ruang tengah itu hanya Eca dan Ihsan. Pria itu kembali menata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 126

    Tak ada seorang pun yang membuka suara setelah itu.Eca hanya bisa menatap suaminya dari samping. Sejak tadi, Ihsan sama sekali tidak berusaha membela diri lagi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut.Melihat itu, rasanya ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam diri Eca.Ia tahu. Setiap ucapan Dedi barusan pasti menghantam tepat ke titik yang paling rapuh dalam diri Ihsan.Selama ini, Ihsan hidup memegang idealismenya. Ia rela menghabiskan malam membaca buku-buku tentang pemerintahan desa hingga kebijakan publik. Setiap kali ada persoalan di kampung, kepalanya juga ikut andil memikirkan jalan keluar.Orang yang begitu tulus ingin memajukan desa ... kini justru dianggap sama dengan mereka yang punya niat terselubung di balik sebuah jabatan.Air mata Eca langsung menggenang. Ia merasa tak rela melihat suaminya dipojokkan seperti itu.“Pah ... Mah ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Semua mata beralih kepadanya.“Jangan bilang begit

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 125

    Suasana ruang tengah yang tadi hangat mendadak berubah tegang. Tak seorang pun di antara mereka yang berani membuka suara.Eca hanya bisa menatap selembar kertas yang tergeletak di atas meja itu. Napasnya terasa tercekat. Bahkan, rasanya ia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.Perlahan, ia menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun, tak ada kata yang terucap. Meski Eca tetap berharap Ihsan mengerti kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.Benar saja. Ihsan segera meraih lembaran kertas itu, lalu membukanya. Sorot matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris yang tertulis di sana, seolah memastikan kertas itu yang dicarinya sejak tadi.Rahang pria itu nampak mengeras perlahan“Mah ...,” ucapnya dengan suara berat. “Surat ini ... Mamah dapat dari mana?”Siti tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu singgah pada wajah putra bungsunya beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan semuanya.“Dari kamar kalian.”Jawaban singkat itu m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 124

    Setelah ayam bakar akhirnya matang, satu per satu hidangan mulai diangkat ke ruang tengah. Tak butuh waktu lama, semua orang pun berkumpul mengelilingi hamparan nasi liwet yang masih mengepul hangat. Makan malam itu berlangsung sederhana, tetapi terasa begitu hangat. Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan piring, diselingi obrolan ringan yang berlanjut dari satu pembahasan ke pembahasan lain. Eca makan dengan tenang di sebelah suaminya, meski sejak tadi lebih banyak diam. Kalau diajak bicara, ia tetap menjawab sambil tersenyum. Hanya saja, senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Ah, entahlah … ia benar-benar hanya merasa tak bisa tenang malam ini. Begitu makan malam selesai, mereka bersama-sama membereskan piring ke dapur. Tak lama kemudian, semuanya sudah kembali berkumpul di ruang tengah. Siti datang paling akhir sambil membawa sebuah tampah berisi pisang goreng yang masih hangat. Aroma pisang dan mentega seketika memenuhi ruangan itu. “Hayu atuh, tuan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 123

    Pulang dari sekolah, Eca hampir tidak membuka suara selama perjalanan. Ia hanya memeluk pinggang Ihsan lebih erat dari biasanya. Pipi kirinya sesekali menyentuh punggung suaminya, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang bahkan ia sendiri tak berani membayangkan. Barangkali karena pelukannya terasa jauh lebih erat, telapak tangan Ihsan perlahan menepuk punggung tangan Eca yang masih melingkar di pinggangnya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Namun, Eca seperti mengerti maksud sentuhan itu. Seolah tanpa perlu mengucapkan apa pun, Ihsan sedang meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, motor mereka pun memasuki halaman rumah. Begitu sampai di teras, Eca segera melepas sepatu, lalu menaruhnya rapi di rak. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke sofa. “Huuuh ....” Helaan napasnya terdengar berat. Kepalanya disandarkan ke belakang, sementara kedua matanya terpejam rapat. Sesaat kemudian, Ihsan baru i

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 85

    Kalimat itu seperti menghantam telak kepala Eca berkali-kali. Periksa ke bidan? Tubuhnya hampir goyah, tetapi ia segera mencari tangan Ihsan di sampingnya lalu menggenggamnya erat, seakan takut jatuh jika tidak berpegangan. Jemarinya terasa dingin, bahkan telapak tangannya mulai lembap oleh keri

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 81

    Eca yang baru tersadar dari lamunannya cepat-cepat menggeleng. “Nggak apa-apa, Akang,” jawabnya pelan. Meski begitu, setelah menjawab, tubuhnya malah menyandar pelan ke kursi. Tatapannya masih sempat kembali melirik bangunan tua tadi dari balik kaca mobil, seolah sedang memikirkan sesuatu. Mob

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 77

    Selama Ihsan di kamar mandi, Eca masih duduk di depan cermin sambil memainkan ponselnya asal. Namun, meski ia sudah membuka beberapa aplikasi untuk mengalihkan pikiran itu tetap tidak cukup untuk mengusir bayangan Juragan Dasim yang tadi dilihatnya.Ia sudah mencoba berpikir positif.Mungkin pria

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 76

    Eca nyaris saja menghentikan laju motornya saat itu juga. Namun, di waktu yang sama, pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita yang masih terlihat muda keluar dari dalam sambil tersenyum menyambut Juragan Dasim. Kening Eca berkerut tipis. Mulutnya nyaris terbuka saking terkejutnya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status