Share

Bab 53

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-05-11 22:35:10

Hening sempat mengisi ruang tamu itu beberapa detik setelah obrolan mereka soal pencalonan kepala desa.

Eca sendiri masih sibuk dengan pikirannya, sementara Ihsan terlihat santai menyandarkan tubuh di sofa.

“Oh, ya … Neng mulai ngajar lagi kapan?” tanya Ihsan, memecah sunyi di antara mereka lagi.

“Besok udah mulai.” Eca memijat dahinya pelan. “Masih baru pindah juga, jadi nggak enak kalau cuti lama-lama.”

“Hm. Berarti nanti Akang anterin.”

Eca langsung menoleh cepat. “Nggak perlu. Nanti Akang c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Null_null
Lucu lo kak , aku malah sering ketawa wkwk
goodnovel comment avatar
Kharamiza
nanti juga kecintaan~
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bagus kok. ga garing..cuma bikin Eca jangan terlalu jaim sama Ihsan..kasian Ihsan..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 122

    Suasana di kamar sempat hening selama beberapa saat.Ihsan menatap lurus ke arah istrinya, lalu perlahan melangkah mendekat. Tangannya terulur mengusap pelan pipi Eca.“Neng ….”Eca mengangkat kepala. Di balik manik mata Ihsan yang teduh, ia tidak menemukan kepanikan sedikit pun.“Tenangin diri dulu.”“Gimana bisa tenang, Kang?” Eca menggeleng lemah dengan wajah kusut. “Rahasia kita ada di situ. Terus sekarang suratnya malah hilang gara-gara kecerobohan aku.”“Nanti saya bantu cari.”“Tapi kalau—”“Saya bantu cari,” ulang Ihsan, kali ini sedikit menekankan ucapannya, meski nada suaranya tetap tenang.Eca terdiam.Rasanya, setiap kali Ihsan bicara setenang itu padanya, dadanya yang semula sesak selalu perlahan ikut mereda.Ia mengembuskan napas pelan.“Mungkin ketinggalan di rumah Mamah,” ucapnya lirih. “Akang coba cari ke sana, ya.”“Iya, Neng Sayang.”Ihsan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 121

    Eca menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski jantungnya mulai berdebar tidak nyaman.‘Tidak. Tidak mungkin itu hilang, kan,’ batinnya terus meyakinkan diri.Lagipula, itu hanya kertas satu kembar. Bisa saja hanya terselip di tempat lain.Eca kembali memeriksa isi laci meja riasnya untuk ketiga kalinya. Namun, hasilnya tetap sama.Map biru itu masih ada. Berkas-berkas lain juga lengkap. Hanya surat kontraknya yang tidak ada.Eca langsung bangkit dari kursi, berharap dirinya yang mungkin saja salah ingat menaruhnya di mana.Langkahnya pun bergerak cepat menuju nakas di samping ranjang. Satu per satu lacinya dibuka. Hanya saja, hasilnya tetap saja nihil.Eca memejamkan mata sejenak lalu memijat pelipisnya yang mulai berdenyut.“Astaga ....”Ia kembali memaksa dirinya mengingat.Terakhir kali ia melihat surat itu ... saat akan pindah sementara ke rumah mertuanya.Eca masih ingat jelas. Waktu itu ia mengumpulkan semua berkas penting ke dalam satu map. Ijazah. Akta lahir. Sertifik

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 120

    Sekitar tiga puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Eca akhirnya keluar dengan tubuh yang jauh lebih segar.Rambutnya masih sedikit lembap ketika ia melangkah keluar sambil mengeringkannya dengan handuk.Matanya refleks menyapu seisi kamar, mencari sosok Ihsan. Namun, pria itu ternyata sudah tidak ada.“Mana Kang Ican?”Eca mengernyit pelan, tetapi tidak terlalu memikirkannya.Ia beralih mengambil hairdryer lalu mulai mengeringkan rambutnya.Saat tak sengaja melirik ke arah balkon, barulah ia melihat Ihsan di sana.Pria itu tampak duduk santai sambil membaca buku dan menyeruput kopi.Eca langsung mendecih.Tadi di kamar mandi seperti singa kelaparan.Sekarang malah duduk kalem seperti tak pernah terjadi apa-apa.Setelah merasa cukup rapi, barulah Eca turun dari lantai dua.Udara sore langsung menyambutnya begitu kakinya akhirnya menapaki teras rumah.Seharian berada di dalam rumah, embusan angin hangat sore itu terasa menyenangkan di kulitnya.Eca menarik napas panjang sebelum

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 119

    Tanpa menunggu lama, pria itu mulai menggerakkan pinggulnya. Maju mundur dengan ritme yang lambat namun menghujam dalam. Setiap kali ihsan menghantam ke dalam, Eca hanya bisa mendesah hebat, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, menikmati rasa penuh yang menjalar di perut bawahnya. “Ahhh ... ahh ... Kang Ihsan … pelanghh!”Namun, Eca merasa Ihsan seperti tak lagi benar-benar mendengarkan. Gerakannya kian tak terkontrol, seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas.Tempo unggahannya semakin cepat. Suara decakan basah akibat penyatuan keduanya sampai terdengar memenuhi ruangan.Eca hanya bisa menggigit bibirnya, napasnya tersengal ketika kulit keduanya terus beradu, menciptakan suara tamparan daging yang makin cepat dan liar.Eca kelabakan, tubuhnya seolah kehilangan pijakan, mengikuti setiap tarikan dan gerakan Ihsan yang tak memberinya ruang untuknya benar-benar berpikir jernih.Tangannya memeluk leher ihsan semakin erat ketika bagian bawahnya terus dihantam sensasi panas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 118

    Mature Content (21+)Ihsan tidak menjawab.Namun, tatapan pria itu yang mulai menggelap sudah cukup membuat jantung Eca berdebar kencang.Padahal tadi, ia hanya berniat mencari kenyamanan dalam pelukan suaminya.Tetapi, memang sejak semalam, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.Kini, setiap kali Ihsan memandangnya seperti itu, Eca tidak lagi merasa ingin menghindar.Sebaliknya, ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya saat menyadari betapa diinginkannya dirinya oleh sang suami.Detik berikutnya, bibir hangat Ihsan sudah mendarat di atas bibirnya yang sedikit terbuka.Kali ini Eca tidak lagi terkejut seperti semalam.Ia bahkan mendongak sedikit, membiarkan Ihsan memperdalam ciuman itu sambil memejamkan mata perlahan.Kehangatan yang mengalir di antara mereka rasanya begitu akrab sekarang.Eca merasa seluruh tubuhnya perlahan ikut melunak.Di tengah ciuman yang semakin dalam itu, tangan Ihsan mulai bergerak menyentuhnya.“Emh ….”Desahan tertahan lolos dari bibir Eca saat ciu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 117

    Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru yang sedang ramai dibicarakan orang. Namun, entah kenapa, ia mulai merasa bosan. Sambil menghela napas panjang, Eca menutup laptopnya lalu meletakkannya di atas meja. Matanya beralih ke belakang. Ihsan masih berbaring santai di sofa panjang sambil menatap ponselnya dengan ekspresi serius. Dari suara yang samar terdengar, sepertinya pria itu sedang menonton sesuatu tentang politik lagi. Eca mengangkat bahunya santai, sambil menghela napas panjang. Kalau dipikir-pikir, nonton politik seperti itu jauh lebih membosankan daripada drama yang baru saja ia tinggalkan. Dasar pria. Setelah beberapa saat berlalu, entah dapat keberanian dari mana, Eca akhirnya bangkit dari tempatnya duduk. Ia m

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 79

    Motor Ihsan baru saja berhenti di depan ruang guru ketika beberapa guru yang kebetulan datang bersamaan sontak melirik ke arah mereka.“Saya pulang dulu nya, Neng,” ujar Ihsan setelah Eca turun dari motor.Seperti biasa, Eca meraih tangan pria itu dan menciumnya singkat sebelum berkata, “Akang hati

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 77

    Selama Ihsan di kamar mandi, Eca masih duduk di depan cermin sambil memainkan ponselnya asal. Namun, meski ia sudah membuka beberapa aplikasi untuk mengalihkan pikiran itu tetap tidak cukup untuk mengusir bayangan Juragan Dasim yang tadi dilihatnya.Ia sudah mencoba berpikir positif.Mungkin pria

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 76

    Eca nyaris saja menghentikan laju motornya saat itu juga. Namun, di waktu yang sama, pintu rumah itu terbuka dan seorang wanita yang masih terlihat muda keluar dari dalam sambil tersenyum menyambut Juragan Dasim. Kening Eca berkerut tipis. Mulutnya nyaris terbuka saking terkejutnya

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 73

    Eca masih melongo beberapa detik. Otaknya benar-benar tidak sampai untuk mencerna ucapan ibu mertuanya barusan.Ia bahkan sempat mendongak ke arah Ihsan, berharap pria itu memberi penjelasan atau minimal bilang kalau ibunya hanya bercanda.Hanya saja, suaminya itu juga terdiam.Tangan Ihsan yang ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status