Share

Bab 53

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-05-11 22:35:10

Hening sempat mengisi ruang tamu itu beberapa detik setelah obrolan mereka soal pencalonan kepala desa.

Eca sendiri masih sibuk dengan pikirannya, sementara Ihsan terlihat santai menyandarkan tubuh di sofa.

“Oh, ya … Neng mulai ngajar lagi kapan?” tanya Ihsan, memecah sunyi di antara mereka lagi.

“Besok udah mulai.” Eca memijat dahinya pelan. “Masih baru pindah juga, jadi nggak enak kalau cuti lama-lama.”

“Hm. Berarti nanti Akang anterin.”

Eca langsung menoleh cepat. “Nggak perlu. Nanti Akang c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Null_null
Lucu lo kak , aku malah sering ketawa wkwk
goodnovel comment avatar
Kharamiza
nanti juga kecintaan~
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
bagus kok. ga garing..cuma bikin Eca jangan terlalu jaim sama Ihsan..kasian Ihsan..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 55

    Suasana di Mekarluyu pagi itu masih dingin sekali saat Eca keluar rumah sambil membawa tas ranselnya.Embun bahkan masih terlihat menempel di daun-daun depan rumah. Jalanan desa pun belum terlalu ramai, hanya ada beberapa ibu-ibu yang mulai menyapu halaman dan suara ayam tetangga yang sejak subuh tadi sudah berkokok.Eca menguap kecil sambil menarik cardigan rajutnya lebih rapat.Di halaman, Ihsan sudah duduk di atas motor matic milik Eca. Pria itu mengenakan jaket hitam dan celana jeans gelap sambil membenarkan rambutnya sekilas lewat pantulan spion.Duduk diam begitu saja pun tetap terlihat tampan.Ih. Eca langsung menggeleng cepat, begitu menyadari isi kepalanya sendiri. Benci sekali ia dengan pikirannya akhir-akhir ini.“Kenapa malah bengong?” tanya Ihsan saat menyadari Eca memandanginya sudah cukup lama.Eca refleks memalingkan wajah sambil pura-pura sibuk memasang kaus kaki. “Nggak bengong.”Padahal, jelas-jelas ia memang bengong.Setelah itu, ia buru-buru menghampiri Ihsan dan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 54

    Saat Eca masih sibuk mencari alasan, Ihsan mendadak menyahut lebih dulu.“Harus aktif ikut kegiatan-kegiatan desa yang melibatkan warga juga, Pah,” ujarnya tenang.Eca spontan menoleh dengan napas yang masih tertahan.Untung saja pria itu cepat tanggap.Meski itu bukan alasan sebenarnya, setidaknya semua orang di ruang tamu langsung terlihat percaya begitu saja dengan jawaban Ihsan. Eca akhirnya bisa bernapas lega lagi.“Nanti sertifikat rumah, Mamah kasih aja ke Neng,” sambung Nani. “Biar kamu yang pegang sendiri. Jaga-jaga weh kalau nanti ada apa-apa.”Eca mengangguk pelan. “Iya, Mah.”“Kalau begitu Papah tenang,” ujar Arif sebelum kembali melanjutkan maksud pembicaraannya tadi. “Sebenarnya Papah ada rencana mau renovasi rumah ini dalam waktu dekat.”Eca menoleh lagi ke arah Arif.“Mamahnya Neng kemarin juga sudah ngomong, kan? Dan, Neng setuju.”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 53

    Hening sempat mengisi ruang tamu itu beberapa detik setelah obrolan mereka soal pencalonan kepala desa.Eca sendiri masih sibuk dengan pikirannya, sementara Ihsan terlihat santai menyandarkan tubuh di sofa.“Oh, ya … Neng mulai ngajar lagi kapan?” tanya Ihsan, memecah sunyi di antara mereka lagi.“Besok udah mulai.” Eca memijat dahinya pelan. “Masih baru pindah juga, jadi nggak enak kalau cuti lama-lama.”“Hm. Berarti nanti Akang anterin.”Eca langsung menoleh cepat. “Nggak perlu. Nanti Akang capek bolak-balik.”“Nggak capek,” ucap Ihsan ringan sekali, seperti tak ada beban. “Anggap saja tugas pertama Akang nganter jemput istri kerja.”Eca langsung meringis geli. “Ya ampun … merdu sekali suara buaya,” cibirnya.“Kok jadi buaya?” Ihsan akhirnya ikut mengernyit bingung.Belum sempat Eca menanggapi lagu, suara ribut mendadak terdengar dari arah kamar. Otomatis membuat mereka terdiam dan menoleh ke sumber kegaduhan.“Adit! Sini! Pakai baju dulu! Susah banget, sih!”Arina muncul mengejar

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 52

    Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubungan dengan dua hal itu. Ihsan juga sudah menandatangani kontraknya.Namun, kenapa sekarang malah balik bertanya padanya?“Kenapa atuh Akang malah tanya aku lagi?” tanyanya spontan.Ihsan diam sebentar sebelum menjawab dengan nada tenang, “Karena sekarang Neng udah jadi istri Akang.”Deg.Eca langsung salah tingkah sendiri mendengar kata istri itu. Padahal, sudah dua hari menikah, tetapi setiap mendengarnya, tetap saja terasa aneh di telinga. Mungkin, ia hanya benar-benar belum terbiasa saja.Ihsan menoleh pelan ke arahnya. Eca merasa tatapan pria itu begitu lembut hingga membuat dadanya sedikit gelisah.“Suami istri itu tim,” lanjut Ihsan santai. “Apa pun ya harus diobrolin dulu.”Pipi Eca

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 51

    Tatapannya menancap lurus ke arah Ihsan, seperti menunggu penjelasan atas kalimat ambigu barusan. Jantungnya langsung berdetak tidak jelas, seolah ingin keluar dari dadanya, bahkan telinganya ikut memanas dalam hitungan detik. Sangat berkebalikan drngan pria di sebelahnya yang justru terlihat tenang sekali. Ihsan kembali membuka bukunya seakan tidak sadar baru saja melempar ucapan yang bisa bikin orang berpikir yang tidak-tidak. Eca akhirnya menarik selimut lebih tinggi sampai nyaris menutupi dagu. “Ish, siapa juga yang mau maksa begituan?” gerutunya pelan, nyaris terdengar seperti omelan untuk dirinya sendiri. “Hm?” Ihsan menoleh. Binar matanya yang selalu tenang malah membuat Eca makin salah tingkah. “Nggak ada!” jawabnya cepat sambil membuang muka. Suasana kamar mendadak terasa canggung. Lebih tepatnya, Eca yang canggung sendirian. Pikirannya malah sibuk memutar ulang semua kejadian hari ini. Dari resleting gaun yang bermasalah, handuk melorot, sampai sekarang salah paham

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 50

    Tentu saja otak Eca langsung berpikir macam-macam. Jangan-jangan Ihsan masih kepikiran kejadian dirinya bugil tadi.Dasar pria. Isi kepalanya memang suka aneh-aneh.Alhasil, pipi dan telinganya kembali memanas. Coba saja jarak rumahnya cuma lima langkah dari sini, mungkin ia sudah pulang sekarang juga.Lihat saja itu, suaminya malah menatapnya dari atas sampai bawah beberapa detik.“Neng seperti orang-orangan sawah,” ujar Ihsan akhirnya.Bara yang tadi sempat menyala di dada Eca langsung padam seketika.“Ck!”Ia spontan menghentak kaki ke lantai sebelum berbalik melihat dirinya sendiri di cermin.Dan … ya, Ihsan memang benar. Tubuhnya benar-benar nampak tenggelam di dalam pakaian itu, sudah seperti orang-orangan sawah.Kaosnya agak kedodoran, belum lagi celana training itu terus melorot setiap beberapa langkah.“Badanmu mah kayak gapura kabupaten, makanya bajumu kegedean di aku.”Ihsan hanya tersenyum tipis. Matanya masih memperhatikan Eca yang kini duduk di depan cermin, sebelum akhi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status