MasukSetelah makan malam mereka berakhir, Reon tidak langsung mengantar Ellena pulang. Mobil Reon saat ini berhenti di parkiran eksklusif gedung apartemen.
Di dalam SUV mewah itu, Reon melepaskan seat belt, lalu memajukan badannya. Tangan pria itu kemudian terulur untuk membantu Ellena melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh gadis itu. Setelah terlepas, Reon tidak kembali ke posisinya, dia menahan tubuhnya di depan sang sekretaris. "Aku mau kamu, Elle…" Suara beraBeberapa saat yang lalu, di kantor Reon, tepatnya di ruangan meeting yang masih terang benderang. Layar besar menampilkan dashboard aplikasi finansial yang dikembangkan Reon dan timnya. Beberapa laptop terbuka, kabel charger berserakan dan gelas kopi kosong berjajar jadi saksi kelelahan mereka. Reon berdiri di ujung meja, jasnya sudah dilepas dan hanya menyisakan kemeja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tetap fokus meski sorot matanya mulai lelah.Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Reon menatap timnya yang mulai terlihat kehabisan tenaga. Beberapa memijat pelipis, yang lain menatap layar dengan mata sayu.Reon mengambil hapenya yang baterainya sisa dua persen. Dia mengecek makanan yang sudah dia order sebelumnya di aplikasi delivery food. "Oke, kita istrahat dulu," ujar Reon, suaranya melunak. "Sebentar lagi makanannya sampai."Beberapa kepala langsung terangkat."Serius, Pak?
Ellena berdiri di tepi balkon, membiarkan angin menerpa wajahnya. Matanya naik memandang langit luas dan di sela cahaya matahari yang hampir tenggelam, ada semburat sinar keemasan menembus celah awan. Hangat. Seperti tangan tak terlihat yang menenangkan bahu Ellena."Apa aku yang terlalu sensitif?" tanya Ellena pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar. Tangannya terangkat membawa helai rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya disusul matanya yang terpejam beberapa lama. Dia harus bicara langsung dengan Reon mengenai foto-foto yang dia terima itu. Ellena harus mengkonfirmasi sendiri. Apalagi foto yang dia kira Reon berciuman dengan Sherine itu tidak menunjukkan bibir suaminya disentuh oleh bibir Sherine. Ellena membuka matanya perlahan. Bisa saja memang mereka tidak ciuman dan sudut pengambilan fotonya yang memperlihatkan Reon dan Sherine berciuman. Setelah perasaannya sedikit
Di mejanya, Sharron menerima sebuah file foto yang dikirim oleh Diana. Senyum tipis yang tajam tersungging di bibir merah wanita itu. Dia kemudian menyesap teh melati yang baru saja disajikan oleh asisten pribadinya. "Hmm… sangat nikmat."Sharron kemudian beranjak dengan anggun dari kursinya dan berjalan menuju sisi jendela tinggi. Wajahnya yang tampak jauh lebih muda dari usianya memantul di kaca. Dia melipat satu tangan di atas perut. Tangannya yang satu naik menempelkan hape ke telinga. Dia sedang menelepon Diana dan tidak lama panggilannya terjawab. "Aku sudah menerima foto yang kamu kirimkan, Diana," kata Sharron. "Aku juga sudah menerima foto dari kamu, Kak Sharron," balas Diana di seberang sana. "Sejauh ini, rencana kita berjalan dengan mulus.""Iya, Kak Sharron. Kita tetap harus berhati-hati agar semuanya tampak bersih.""Tentu, Diana.""Aku menantikan update terbaru dari Kak Sharron."
Di ruangan meeting di kantor barunya, Reon mengakhiri sesi rapat dengan tim barunya yang baru direkrut. Setelah keluar dari ruangan itu, resepsionis menghampirinya. "Permisi, Pak Reon, ada yang ingin bertemu dengan Bapak. Katanya urusan pribadi."Alis Reon berkerut tipis. "Siapa?""Dia tidak menyebutkan janji temu, Pak, tapi… sepertinya mengenal Bapak."Reon tidak suka dengan pertemuan tiba-tiba yang berlabel urusan pribadi, tapi dia tetap melangkah keluar. Langkah lelaki itu terhenti sepersekian detik begitu melihat sosok yang berdiri di area lobby depan kantor startup-nya.Di antara dinding marmer putih dan logo perusahaan yang menyala, seorang gadis tersenyum padanya. Itu Sherine. Gaun biru muda lembut membingkai tubuhnya. Dia langsung menghampiri begitu melihat Reon. Di sisi lain, Reon menghela napas kasar dengan rahangnya yang mengeras. Entah ada urusan apa perempuan itu datang kemari. Dia bi
Kenapa Areksa ada di kantor Ellena? Ellena menghentikan langkah untuk beberapa saat. Lelaki itu terlihat berbincang dengan Sharron. Namun, ketika menyadari kehadiran Ellena, mereka berhenti dan menoleh ke arah gadis itu. "Ini dia desainer baru yang saya rekomendasikan," sahut Sharron. Ellena menyunggingkan senyum profesional, dia lalu melangkah mendekat. Bersamaan dengan itu, Areksa beranjak dari sofa dan menjulurkan tangan saat Ellena tiba di depannya. "Areksa, direktur kreatif Star Games," kata Areksa penuh percaya diri. Ellena menerima uluran tangan besar itu dan menjabatnya singkat. "Ellena, desainer SS Jewel Co."Areksa tersenyum tipis yang menunjukkan jejeraan gigi putihnya yang rapi, lalu kembali duduk. Ellena juga menyusul menurunkan badan di sofa seberang. Sharron kemudian menyahut. "Walaupun masih baru, tapi saya bisa menjamin Ellena sangat cocok untuk kolaborasi ini. Desainnya baru-baru ini ter
Tak terasa satu minggu berlalu, hari presentasi desain untuk koleksi terbaru SS Jewel Co untuk perayaan anniversary ke-50 akhirnya tiba. Di balik pintu kaca buram ruangan presentasi, para desainer lainnya duduk menunggu giliran. Ada yang memejamkan mata mengulang kalimat pembuka dalam hati. Ada juga yang menatap tablet sambil merapalkan kalimat inti presentasi mereka. Sementara itu, Ellena hanya duduk sambil menautkan tangan di atas pangkuannya. Pendingin ruangan menyala stabil, tapi telapak tangan gadis itu basah. Detak jantungnya memompa kuat seperti mau loncat keluar. Ellena mencoba memeriksa ulang materi presentasi di tablet, tapi tetap saja napasnya tidak seimbang. Dia coba menarik dan mengeluarkan udara perlahan, tapi dadanya tetap terasa sempit. "Hai, Ellena," sapa seorang rekan kerjanya—bernama Paulina—desainer berusia dua puluh delapan tahun. Ellena menoleh saat wanita itu duduk di sebelahnya sambil menyilangkan kaki.







