LOGINEllena melangkah keluar dari kantin karyawan sambil membalas pesan Reon.
[Kita nanti aja ngobrolnya]Tepat sebelum berbelok ke area lift, sebuah tangan menarik pergelangan Ellena, sehingga gadis itu terseret keluar koridor. Masuk ke area pintu darurat.Ellena membeku sekilas, napasnya terengah."Reon—?!"Lelaki yang dimaksud berdiri di depannya. Tangan Ellena digenggam erat."Nanti ada yang lihat," bisik Ellena."Biarin aja."<Bugh! Pukulan keras Reon mendarat di wajah seorang laki-laki bernama Erlangga. Kemeja putihnya yang selalu rapi kini kusut di bagian lengan. Mansetnya tergulung sampai siku. Salah satu buku jari Reon memerah setelah beberapa pukulan terakhir. Erlangga kini tergeletak setengah bersandar pada tumpukan kardus dalam gudang yang sunyi. Lampu neon redup yang menggantung di langit-langit tinggi memantul di wajahnya yang sudah babak belur—bibir pecah dan sudut matanya menghitam. Napas laki-laki itu terengah-engah.Tak jauh dari mereka, Vino berdiri di sudut ruangan dengan punggung lurus dan wajah tetap datar seperti patung. Dia tidak berusaha menghentikan apa pun.Sementara itu, Reon mencengkeram kerah Erlangga di lantai dan menariknya sedikit lebih tegak."Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Reon dengan suaranya yang tajam. Erlangga terbatuk. Darah tipis menetes dari sudut bibirnya. "Maksud Ba—pak apa? Sa—ya gak ngerti kenapa Bapak tiba
Cahaya fajar mulai menyelinap lewat celah tirai, menyapa lembut lantai kamar. Udara terasa lebih tenang setelah malam panjang yang membara oleh gairah. Di atas ranjang yang seprainya sedikit kusut, Ellena dan Reon masih terdiam, napas mereka perlahan kembali teratur.Ellena berbaring menyamping dalam selimut, rambutnya terurai di atas bantal. Wajahnya terlihat lelah, tapi sudah tidak tegang. Ada sisa kemerahan di sudut matanya, namun ekspresinya jauh lebih lembut.Reon bangkit dari kasur, lalu mengenakan celananya. Tanpa banyak kata, dia merapikan apa yang perlu dirapikan. Setelah memastikan semuanya beres, lelaki itu berjalan ke meja kecil dan menuangkan segelas air.Reon kembali ke sisi ranjang dan menyerahkan gelas itu pada Ellena"Minum dulu, sayang," ujarnya pelan sembari mengulas senyum tipis. "Kamu pasti haus."Ellena menerima gelas tersebut, jari-jarinya sempat bersentuhan dengan tangan suaminya. "Makasih, sayang." Dia m
Reon menarik pinggang istrinya seraya menundukkan kepala untuk melihat lebih dekat wajah cantik Ellena. "Jadi kamu cemburu?"Ellena memalingkan wajah sedikit, bibirnya merapat.Reon semakin mendekatkan wajahnya. Tangan laki-laki juga tidak diam saja, melainkan bergerak lembut meniti pinggang ramping Ellena. "Kejadian itu ada baiknya juga, akhirnya aku bisa lihat kamu cemburu secara terang-terangan."Ellena memukul dada bidang Reon. "Please, Elle, lain kali jangan abaikan chat atau telepon aku, aku khawatir, sayang," ujar Reon. "Iya, sayang.""Pokoknya kalau ada sesuatu kita harus langsung ngomong, jangan kayak kemarin sampai kita salah paham dan bertengkar kayak tadi."Ellena mengangguk. Mata mereka kemudian bertemu dengan dalam, napas mereka pun bercampur. Dan jantung mereka bersahutan. Lantas bibir mereka sama-sama mendekat hingga akhirnya menyatu dalam ritme yang lambat tapi penuh perasaan.
Ellena masih membelakangi Reon. Air matanya jatuh tanpa suara. Dia cepat-cepat mengangkat tangan, mengusap pipinya sebelum tetes berikutnya menyusul. Bibirnya terkatup rapat, giginya menekan pelan agar tak ada isak yang lolos.Di belakangnya, Reon melihat bahu Ellena bergetar tipis. Dia hendak meraih lengan Ellena untuk kedua kalinya, tapi istrinya itu menghindar lagi. Tanpa berpikir panjang, Reon maju dan memeluk Ellena dari belakang, kedua lengannya mengunci di sekitar tubuh istrinya."Lepas!" suara Ellena pecah, dia memberontak, mendorong lengan Reon, berusaha melepaskan diri. Reon tidak menyerah, dia mempertahankan tubuh Ellena dalam pelukannya. "Aku gak bakalan lepas, sayang." Suaranya rendah, serak, menempel dekat di telinga Ellena. Sementara itu, Ellena terus berusaha melepaskan diri, tapi pelukan Reon sangat kuat. Tangisan yang tadi ditahan akhirnya pecah. Isak kecil keluar tak terkendali. Tubuhnya melemah perlahan di dalam pel
Ellena tiba di apartemen ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam lewat dua menit. Dia masuk ke kamar dengan wajah berseri, namun rona itu perlahan memudar ketika menangkap sosok suaminya. Reon berdiri bersandar di depan meja kerja sambil menyilangkan tangan. Kemeja hitamnya masih terpasang rapi, namun dua kancing teratas terbuka. Lengan tergulung sampai siku, memperlihatkan urat halus yang menegang di pergelangan tangannya. Jas Reon tergeletak sembarangan di kursi, tidak seperti biasanya.Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan. Tidak ada sapaan, godaan ataupun senyuman, hanya ada benturan mata mereka yang sama-sama keras. Ellena berjalan melewati Reon begitu saja, seolah suaminya itu tidak ada di sana. Dia kemudian melepas tas dari bahu dan meletakkannya di meja kerja dengan bunyi pelan. Papan sketsanya menyusul diletakkan. Sementara itu, Rahang Reon mengeras melihat Ellena yang tidak acuh padanya. Saat Ellena melewatinya lagi,
Ellena turun ke lantai bawah untuk mengambil makan malam Sharron. Mansion keluarga Ravindra sangat luas dengan dinding berbelit. Ellena harus bertanya arah pada beberapa pelayan yang lewat untuk sampai ke dapur. Begitu tiba di tujuan, Ellena mendongak ke langit-langit tinggi di mana sebuah lampu kristal tergantung indah. Ellena menganga tipis saat, menurunkan pandangan dan mendapati pemandangan yang tidak biasa baginya—marmer putih yang membentang panjang, deretan oven baja mengilap berdiri rapi, alat masak dengan teknologi terbaru dan sejumlah staf dapur bergerak nyaris tanpa suara.Gadis itu pikir dapur di mansion keluarga Adinata sudah paling megah, tapi ternyata memasuki dapur di mansion keluarga Ravindra membuatnya menyaksikan kemegahan yang jauh lebih tinggi. Ellena berdiri canggung di dekat island table, menerima baki perak berisi makan malam untuk Sharron. Ada sup krim hangat, salad segar dan hidangan utama yang ditata seperti karya seni.







