Se connecterDi sisi lain, Laura melangkah menuju ke ruangan CEO setelah memeriksa ulang brief yang disusun Ellena. Soalnya tadi dia asal saja memeriksanya. Tepat di depan pintu ganda, tangannya terangkat, melonggarkan bagian depan blusnya. Dia mengetuk singkat lalu melangkahkan heels masuk ke dalam. Laura berhenti di sisi kursi CEO, berdiri sedikit terlalu dekat untuk ukuran profesional. Ketika map itu diletakkan di atas meja kerja, perempuan itu mencondongkan badan, sengaja memperlihatkan belahan dadanya. "Permisi, Pak Reon, saya membawa brief email dari investor Swiss dan Singapura," kata Laura lembut. Dia tidak akan mau kalah dengan Ellena. Dia harus memenangkan hati Reon. "Saya sudah rangkum poin utamanya," sambung Laura. Tapi, sayangnya Reon bahkan tidak melirik sama sekali. Matanya sibuk pada berkas yang dibuka di tangannya. Jemari lelaki itu membalik halaman dengan fokus penuh."Buatkan proposal balasan," ucap Reon sing
Tangan Ellena terangkat untuk menutupi mulutnya yang terbuka sedikit karena menguap. Bagaimana tidak? Semalam, dia pulang larut dan bangun pagi-pagi untuk ke kantor. Untungnya Ellena mengatur alarm banyak dan nyaring serta tidak mengunci pintu kamarnya, agar tidak telat lagi. Di balik meja kerjanya, Ellena berusaha menegakkan bahu sambil berkutat dengan komputer. Matanya dibuka lebar-lebar.Dari meja sebelah, Laura memperhatikan gadis yang mengikat setengah rambutnya di belakang itu. "Akhir-akhir ini kamu selalu kelihatan lemas ya, Ellena," sahut Laura. Ellena menoleh singkat, "aktivitas saya memang lagi padat-padatnya, Kak." Dia tahu Laura ingin memprovokasi tapi Ellena menanggapinya santai. "Oohh…" Laura menumpukan dagu di punggung tangan kanannya. "Yang penting kamu gak telat aja sih kayak kemarin dan kerjaan kamu beres," tekan perempuan itu. "Pasti, Kak.""Oh iya, saya cek ada dua email penti
"Untuk mendapatkan uang tentunya, Tuan Lucien," jawab Ellena setelah mengerjap pelan. "Pekerjaan banyak, Ellena, apa kamu tidak memikirkan perasaan mama papa kamu kalau tahu kamu memilih pekerjaan berisiko seperti ini?" Lucien terus menatap mata Ellena. Bola mata dan lekuk bibir gadis itu sangat familiar baginya. Dia sesekali menyesap cerutunya.Di sisi lain, Ellena berdiri mematung menyesuaikan diri dengan asap cerutu serta bau alkohol yang mendominasi ruangan. Dia menarik napas pelan sebelum menjawab. "Saya tidak punya mama ataupun papa, Tuan Lucien," ujarnya dingin dan tajam. Bukan seperti Ellena yang biasanya. "Mereka ke mana? Jadi kamu tinggal bersama siapa?" tanya Lucien lagi. Dia penasaran dengan gadis itu. Kalau saja putri pertamanya masih hidup, pasti sudah seumuran dan tumbuh cantik seperti Ellena. "Saya tinggal bersama nenek saya dan soal orang tua saya… mereka membuang saya sejak bayi," nada Ellena semakin dingin. Lebih menusuk. Jik
Pria itu maju selangkah, cukup untuk menipiskan jarak, bukan dengan gestur intim, melainkan dengan sikap tenang yang terasa seperti tekanan halus. Kehadirannya memenuhi lorong sempit itu. Ellena refleks menguatkan pegangan pada baki, menahannya tetap sejajar dada, bahunya sedikit menegang karena kaget. "Kamu—" suara pria itu rendah, terpotong sejenak, seolah ia sedang memastikan sesuatu."A—ada apa, Tuan?" Ellena menjawab cepat namun sopan, suaranya nyaris tenggelam oleh dentuman musik di balik dinding. Matanya tetap terangkat dengan tangan yang memegang baki.Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertambat pada Ellena—tajam, menilai, seolah membaca lebih dalam. Bukan pada penampilan seksi Ellena, tapi pada setiap struktur dari wajah gadis tersebut. Jeda itu terasa panjang, walau hanya beberapa detik."Tuan Lucien." Seorang pria berkacamata dengan setelan rapi menghampiri dari sisi lorong. Panggilan itu membuat pria tinggi
Ellena Gadis cantik itu berdiri di depan cermin kamarnya, pantulan tubuhnya terlihat lembut dalam cahaya lampu hangat. Rambut panjangnya yang bergelombang jatuh rapi hingga punggung. Gaun pastel yang dikenakannya membalut tubuh Ellena dengan anggun—warna lembut yang membuatnya tampak manis dan tenang, meski jantungnya berdetak lebih cepat."Semangat, Elle," ujarnya pada pantulan di cermin. Ellena meraih long coat berwarna cokelat dan menyampirkannya ke bahu, lalu mengancingkannya dengan hati-hati. Mantel itu cukup panjang untuk menutupi gaunnya, seolah menyamarkan niat kecil yang ingin dia sembunyikan. Ellena menatap dirinya sekali lagi di cermin, menarik napas pelan, memastikan tidak ada yang mencurigakan.Dengan langkah teratur, Ellena menuju kamar neneknya. Pintu diketuk perlahan sebelum dia masuk, wajahnya sudah dipoles dengan senyum biasa dia pasang sebelum duduk di tepi ranjang. "Nek, aku keluar sebentar ya," ucap Ellena lembut, nadanya tenang seolah tidak ada rahasia di bali
Reon berdiri dengan setelan bespoke navy double-breasted yang melekat sempurna di tubuhnya. Aura dingin yang meliputi lelaki itu terasa makin tebal—seperti dinding kaca yang sulit ditembus. Bahunya tegak, rahangnya mengeras, satu tangan masih tenang di saku celana. Dia hanya berniat melintas.Namun layar hape Ellena menangkap perhatiannya.Sejenak, tatapan hitam dinginnya berhenti. Bukan tatapan ingin tahu—melainkan refleks yang terlambat dia cegah.Di balik garis jas rapi dan dasinya yang terikat sempurna, ada denyut kecil yang mengkhianatinya.Selfie di layar menampilkan wajah Ellena dalam cahaya lembut. Kulit putihnya yang mulus bersinar, bibirnya dipoles lipstik merah yang tidak terang tapi cukup memantik api di dada Reon, bola mata kecokelatan gadis itu berbinar memantulkan cahaya bening. Ya, saat mereka berpacaran, Ellena sangat susah diajak foto apalagi selfie. Dulu, Reon selalu memaksa meminta foto selfie Ellena, tapi gadis itu b







