Se connecterEllena berdiri tegak di depan meja Laura, punggungnya lurus meski bahunya terasa tegang. Wajah Laura mengetat dengan tatapan meruncing. "Kamu dari mana aja sih! Kamu tahu jam kerja dimulai pukul berapa kan, Ellena?" tanya Lautan tajam"Maaf, Kak," jawab gadis itu pelan. "Saya memang terlambat. Itu kesalahan saya dan gak akan saya ulangi."Laura mendengus kesal. Tatapannya semakin tajam, tidak ada empati di sana. "Pak bos gak suka alasan dan saya juga enggak."Dia menggeser sebuah map ke arah gadis itu. "Pak bos fokus penuh di divisi investasi hari ini, jadi mengalihkan ke saya untuk memberikan kamu sanksi.""Iya, Kak, saya mengerti," sahut Ellena. "Kamu susun ulang draft MoU ini dan harus selesai sebelum jam makan siang," tutup Laura. Ellena mengangguk. "Baik, Kak."Dia kembali ke mejanya dengan langkah cepat, menyalakan komputer, menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak , tapi dia memaksa diri fokus.Tadinya, Ellena berpikir ingin bolos masuk kantor atau melakukan kesalahan ag
Ellena mengalihkan tatapannya sekilas, mengatupkan bibir, memikirkan jawaban dari pertanyaan Reon. Sementara itu, Reon menarik wajahnya dari leher Ellena, tapi wajahnya singgah beberapa inci dari wajah gadis itu. "Itu… karena…" Ellena menatap Reon, berusaha membuat lelaki itu percaya, "…parfum saya mudah ditemukan dan memang lagi viral, Pak, jadi pasti banyak yang pakai.""Oh ya?" sorot mata Reon tetap dingin. "I–ya, Pak."Reon menarik napas dengan tatapannya terpaku pada wajah Ellena, iris hitamnya memandangi bola mata, hidung tinggi, lekuk bibir lalu kembali ke mata gadis itu. Tidak sadar jakun lelaki itu naik turun. Ellena selalu saja membuatnya ingin menuntut lebih.Reon akhirnya meluruskan punggung, memasukkan kedua tangan dalam saku. Dia harus mengendalikan diri kali ini. "Oke," sahutnya datar. Setelah menyimpan apron kembali ke tempat semula, Reon melangkah menjauh. "Segera bawa perempuan itu ke hadapan saya,
"Pak Reon…" ujar Ellena dengan napas pendek. Sedangkan jantungnya berdetak cepat. "Hm, jangan gerak dulu, Elle," protes Reon. Nada beratnya terdengar halus. Bukan sekali momen seperti ini—Reon membetulkan tali apron yang dikenakan Ellena. Hal ini beberapa kali terjadi saat mereka masih pacaran, tepatnya di apartemen Reon. Ada suatu waktu, mereka tidak jadi cuci piring bersama karena Reon dikuasai oleh nafsu. Alih-alih membetulkan ikatan, Reon malah mencium Ellena dari belakang, setelah menolehkan wajah gadis itu. Bibir mereka terus saling memagut sambil Reon melucuti pakaian Ellena satu per satu.Dan, meski tidak sepenuhnya ingat yang terjadi malam kemarin, tapi beberapa potongan ingatan penyatuannya dengan Reon membekas di kepala gadis itu. Posisi Reon saat ini membuat Ellena melayang ke bayangan saat Reon menghentak tubuhnya dari belakang dengan ritme yang liar. Debar jantung Ellena semakin sulit dikendalikan rasanya, sepe
Ellena akhirnya tiba di apartemennya setelah singgah di toko swalayan untuk belanja kebutuhan bulanan serta bahan makanan. Dia membawa beberapa tas belanja di tangan. Begitu, pintu terbuka aroma masakan hangat langsung menyambutnya. "Nenek masak, ya?" gumam Ellena meletakkan belanjaannya sebentar, menanggalkan high heels lalu mengenakan slippers. Keningnya berkerut ketika tatapannya menangkap sepasang sepatu Oxford hitam yang mengilap tenang di bawah cahaya dengan ujung sedikit meruncing. Itu bukannya sepatu milik Reon? Apa dia—"Ellena, kamu sudah pulang," suara neneknya terdengar ceria dari dalam.Niar akhirnya muncul dan menghampiri Ellena menepuk pundaknya dengan lembut. "Oh iya, Pak Reon singgah membawa makan malam," wanita tua itu tersenyum. Ternyata sepatu itu memang punya bosnya. Niar berniat mengangkat belanjaan Ellena, tapi gadis itu menahan tangan keriput neneknya. "Nek, aku aja.""Nene
Ellena dan Alyssa sudah duduk berhadapan di sudut kafe. Untungnya suasana sore itu tidak terlalu ramai, jadi Ellena bisa leluasa untuk berbicara. "Kamu tadi malam pulang jam berapa?" tanya Ellena. "Saya lupa jam berapa, Kak, tapi di pertengahan after party seingat saya," jawab Alyssa. "Memangnya ada apa, Kak? Kayaknya ini serius, yah?"Ellena menghela napas ringan dan mulai memaparkan. "Saya dapat tugas yang sangat personal dari Pak Reon dan saya kesulitan melakukan itu, Alyssa" ujarnya dengan nada pelan. "Tugas apa itu, Kak?" Alyssa mulai penasaran. "Pak Reon menyuruh saya mencari perempuan yang tidur dengan dia tadi malam," ungkap Ellena berbisik. Dagu Alyssa mendadak turun, dia sedikit menganga syok lalu membungkam mulut dengan tangannya. "Oh gosh! Jadi Pak Reon abis tidur sama seseorang semalam? Wah beruntung banget perempuan itu, Kak," ujarnya antusias dengan nada yang ditahan agar tidak meledak. Ali
Ellena tidak lembur hari itu, tapi tugas terbaru dari Reon selalu menjerat pikirannya. Di dalam lift yang meluncur turun dengan dengungan halus, Ellena berdiri di sudut sambil bersandar ringan pada dinding kaca. "Aku juga gak bisa asal pilih perempuan yang mau menyamar jadi orang yang tidur sama Reon. Dia harus bagian dari RCA Investments dan hadir di fun day," gumam Ellena. Bahu gadis itu turun lemas, dalam satu waktu sangat banyak yang harus dia hadapi. Lalu, pintu lift terbuka di sebuah lantai yang Ellena tahu lokasi divisi investasi. Empat orang perempuan masik sekaligus. Aroma parfum mereka ringan dan tatapan Ellena sempat tertuju pada ID Card salah satu dari mereka. Ternyata para anak magang. Di tengah tawa kecil dan obrolan mereka, Ellena memfokuskan tatapannya pada layar ponsel, menekan aplikasi bus, memastikan rute yang melewati halte depan tower masih beroperasi. Pasalnya, sejak pindah tempat tinggal, Ellena mulai nyaman me







