Share

Bab 63. Bercinta dalam Mimpi?

Penulis: Sweety
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 22:00:50

Begitu tiba di ruangan istirahatnya dalam suite, Reon mendudukkan Ellena di atas kasur. Tangannya dengan pelan mengangkat paha Ellena dan menarik lepas gaun sekretarisnya itu. Kini, tersisa kain segitiga yang ada di tubuh gadis itu, menutupi intinya.

Reon menurunkan badannya, Ellena menyambut dengan kedua lengan yang bertumpu pada bahu lelaki itu.

"Kamu semakin cantik, Elle," ujar Reon dengan suara beratnya yang parau. Jemarinya terangkat membelai rambut hitam halus Ellena
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 179. Pertengkaran Ellena dan Reon

    Ellena tiba di apartemen ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam lewat dua menit. Dia masuk ke kamar dengan wajah berseri, namun rona itu perlahan memudar ketika menangkap sosok suaminya. Reon berdiri bersandar di depan meja kerja sambil menyilangkan tangan. Kemeja hitamnya masih terpasang rapi, namun dua kancing teratas terbuka. Lengan tergulung sampai siku, memperlihatkan urat halus yang menegang di pergelangan tangannya. Jas Reon tergeletak sembarangan di kursi, tidak seperti biasanya.Tatapan mereka bertemu di tengah ruangan. Tidak ada sapaan, godaan ataupun senyuman, hanya ada benturan mata mereka yang sama-sama keras. Ellena berjalan melewati Reon begitu saja, seolah suaminya itu tidak ada di sana. Dia kemudian melepas tas dari bahu dan meletakkannya di meja kerja dengan bunyi pelan. Papan sketsanya menyusul diletakkan. Sementara itu, Rahang Reon mengeras melihat Ellena yang tidak acuh padanya. Saat Ellena melewatinya lagi,

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 178. Sebuah Kalung yang Familier

    Ellena turun ke lantai bawah untuk mengambil makan malam Sharron. Mansion keluarga Ravindra sangat luas dengan dinding berbelit. Ellena harus bertanya arah pada beberapa pelayan yang lewat untuk sampai ke dapur. Begitu tiba di tujuan, Ellena mendongak ke langit-langit tinggi di mana sebuah lampu kristal tergantung indah. Ellena menganga tipis saat, menurunkan pandangan dan mendapati pemandangan yang tidak biasa baginya—marmer putih yang membentang panjang, deretan oven baja mengilap berdiri rapi, alat masak dengan teknologi terbaru dan sejumlah staf dapur bergerak nyaris tanpa suara.Gadis itu pikir dapur di mansion keluarga Adinata sudah paling megah, tapi ternyata memasuki dapur di mansion keluarga Ravindra membuatnya menyaksikan kemegahan yang jauh lebih tinggi. Ellena berdiri canggung di dekat island table, menerima baki perak berisi makan malam untuk Sharron. Ada sup krim hangat, salad segar dan hidangan utama yang ditata seperti karya seni.

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 177. Desainer Favorit Sharron

    Ada yang bilang jika wanita jatuh hati, maka tingkatan cintanya akan berjalan dari angka nol ke seratus. Ellena merasa sudah sangat mengerti makna di balik kata-kata itu. Dulu, saat SMA banyak cewek yang mengejar Reon, ada yang terang-terangan mengatakan suka dan mendekati Reon dengan berbagai cara. Ellena awalnya tidak merasakan apa-apa, tapi semakin lama hatinya perih dan paham rasa cemburu seperti apa.Saat bertemu lagi setelah putus, Ellena pun kerap kali cemburu, meski sempat menyangkal. Dari semua kecemburuannya selama ini, Ellena masih bisa mengontrol perasaannya. Tapi, kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti kata hatinya yang cemburu dan kecewa berat. Sejak tadi malam sampai sekarang dia berada di meja kerjanya di kantor, Ellena mengabaikan telepon dan pesan Reon. Total ada 31 panggilan tak terjawab dan 72 pesan tak terbaca dari suaminya. Ellena fokus mengisi halaman putih kosong dengan desain cincin yang pewar

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 176. Kamu Kenapa Elle

    Beberapa saat yang lalu, di kantor Reon, tepatnya di ruangan meeting yang masih terang benderang. Layar besar menampilkan dashboard aplikasi finansial yang dikembangkan Reon dan timnya. Beberapa laptop terbuka, kabel charger berserakan dan gelas kopi kosong berjajar jadi saksi kelelahan mereka. Reon berdiri di ujung meja, jasnya sudah dilepas dan hanya menyisakan kemeja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tetap fokus meski sorot matanya mulai lelah.Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam.Reon menatap timnya yang mulai terlihat kehabisan tenaga. Beberapa memijat pelipis, yang lain menatap layar dengan mata sayu.Reon mengambil hapenya yang baterainya sisa dua persen. Dia mengecek makanan yang sudah dia order sebelumnya di aplikasi delivery food. "Oke, kita istrahat dulu," ujar Reon, suaranya melunak. "Sebentar lagi makanannya sampai."Beberapa kepala langsung terangkat."Serius, Pak?

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 175. Kamu Jahat, Reon

    Ellena berdiri di tepi balkon, membiarkan angin menerpa wajahnya. Matanya naik memandang langit luas dan di sela cahaya matahari yang hampir tenggelam, ada semburat sinar keemasan menembus celah awan. Hangat. Seperti tangan tak terlihat yang menenangkan bahu Ellena."Apa aku yang terlalu sensitif?" tanya Ellena pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar. Tangannya terangkat membawa helai rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga. Helaan napas panjang keluar dari bibirnya disusul matanya yang terpejam beberapa lama. Dia harus bicara langsung dengan Reon mengenai foto-foto yang dia terima itu. Ellena harus mengkonfirmasi sendiri. Apalagi foto yang dia kira Reon berciuman dengan Sherine itu tidak menunjukkan bibir suaminya disentuh oleh bibir Sherine. Ellena membuka matanya perlahan. Bisa saja memang mereka tidak ciuman dan sudut pengambilan fotonya yang memperlihatkan Reon dan Sherine berciuman. Setelah perasaannya sedikit

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 174. Kena Kamu, Ellena

    Di mejanya, Sharron menerima sebuah file foto yang dikirim oleh Diana. Senyum tipis yang tajam tersungging di bibir merah wanita itu. Dia kemudian menyesap teh melati yang baru saja disajikan oleh asisten pribadinya. "Hmm… sangat nikmat."Sharron kemudian beranjak dengan anggun dari kursinya dan berjalan menuju sisi jendela tinggi. Wajahnya yang tampak jauh lebih muda dari usianya memantul di kaca. Dia melipat satu tangan di atas perut. Tangannya yang satu naik menempelkan hape ke telinga. Dia sedang menelepon Diana dan tidak lama panggilannya terjawab. "Aku sudah menerima foto yang kamu kirimkan, Diana," kata Sharron. "Aku juga sudah menerima foto dari kamu, Kak Sharron," balas Diana di seberang sana. "Sejauh ini, rencana kita berjalan dengan mulus.""Iya, Kak Sharron. Kita tetap harus berhati-hati agar semuanya tampak bersih.""Tentu, Diana.""Aku menantikan update terbaru dari Kak Sharron."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status