แชร์

Bab 9 Pakde Nggeblak

ผู้เขียน: Er_Su
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-15 13:41:05

“Eh!” Danu langsung loncat dari tubuh Lily saat itu juga, dan ia langsung menutupi si Jarot dengan telapak tangannya yang besar. Tapi sepertinya masih tidak muat.

“Pakde, Kak Lily! Kalian… ngapain?” tanya Silvy yang datang tiba tiba dengan mata yang membulat sempurna karena kaget.

Jelas posisi seperti itu membuat isi pikirannya meliar kemana-mana, apalagi keduanya memang sama sama manusia dewasa.

“Eh, Silvy? Ini, anu tadi—"

Danu terlihat gugup sekali. Ia raup wajahnya dari lumpur yang sempat menempel dan sangat basah. ia tahu kondisi pasti canggung, terutama untuk Lily dan Silvy. Ia berusaha agar tak terjadi kesalahpahaman yang lebih dari ini.

“Anu apa, Pakde?” tanya Silvy, seakan menuntut penjelasan dari keduanya.

Lily juga bangkit saat itu dan menutupi tubuhnya yang basah karena kaos oblongnya transparan.

Silvy tatap Lily yang diam sejak tadi. Ia perhatikan dari atas sampai bawah, dan ia sadar bahwa memang tubuh Lily begitu indah. Dadanya yang berisi, pinggangnya ramping. Pria mana yang tidak terpana dengan Lily yang begitu sempurna.

Ia sedikit cemburu, apalagi ketika ia mendapat perlakuan yang begitu baik dari Danu. Ia kadang bandingkan Lily dengan dirinya sendiri, dan ingin perhatian yang sama dari Danu padanya.

Danu masih belum menjelaskan. Ia raih sebuah handuk lama yang ia dijemur di garasi itu, lalu ia pakai untuk menutup tubuh Lily agar fokusnya tidak terganggu nanti.

“Terimakasih, Pakde,” ucap Lily dengan bibir yang terlihat sudah pucat.

“Itu, Vy. Lily tadi, mau bantuin pakde benerin pipa yang jebol. Taunya, malah kena air bareng-bareng dan basah.” Danu segera menjelaskan apa yang terjadi tadi, karena ia lihat Silvy memperhatikan Lily.

“Oh, gitu?” balas Silvy padanya.

Tapi kemudian Danu pamit karena ia juga mulai dingin, apalagi berada diantara mereka berdua. “Pakde, mau bilas badan di kamar mandi dulu. Lily, juga, biar nggak masuk angin nanti.”

“Iya, Pakde,” jawab Lily padanya.

“Kak Ai, kenapa tatap Lily seperti itu?” tanya Lily pada Silvy yang masih diam sejak tadi.

“Ah, engga, nggak papa.” Silvy langsung merubah mode wajahnya menjadi ramah seperti biasa.

“Yasudah. Lily balik ke kamar, ya? Dingin, kotor juga ini.” Lily pamit, dan Silvy masih di sana dalam keadaan diam.

Gadis itu menatap kaca usang yang ada di gudang itu, tergantung dan ia bisa melihat dirinya sendiri dari sana.

Ia teringat dengan apa yang ia lihat dari Lily tadi dan membandingkannya. Ia pegang dadanya sendiri yang memang lebih kecil karena tubunya lebih kurus dan pendek dari Lily.

“Pakde, suka yang seperti Lily?” gumamnya sendiri.

“Loh, Vy masih di sini?” Mendadak Danu datang ke gudang kembali untuk mengambil beberapa jemuran miliknya yang ada di tempat itu.

Silvy langsung kaget dan ia buru-buru ambil sapu dan serok, lalu ia bergerak untuk membersihkan semua yang berantakan tadi.

“Pakde? Ini, Vy beresin ini dulu, soalnya berantakan banget. Dari kemarin, fokusnya cuma di rumah sama Pakde saja,” ucap gadis itu.

Danu hanya mengangguk dan ia segera mengambil boxernya di jemuran, lalu ia juga pakai di sana sambil melirik celana pendek yang akan ia kenakan nanti.

Rambutnya yang basah, tubuhnya yang atletis itu membuat Silvy kehilangan fokus. Ia menyapu dan terus melirik ke arah Danu, tanpa ia sadari jika ada tiang bekas jemuran lama di depannya.

“Aah!” Silvy memekik ketika keningnya kejedot tiang itu.

“Loh! Apa itu?” Danu kaget dan langsung menatapnya.

“Ai nggak papa, Pakde!” Silvy segera memberi konfirmasi.

Sakitnya tak seberapa, tapi malu sekali kalau ketahuan ia meleng tadi.

Selesai dari belakang, Danu mandi dan kembali duduk di depan. Ia lihat sebungkus rokok surya 12 di meja, dan itu pasti untuknya dari salah satu anak kost yang ia jaga.

Danu ambil rokok itu dan kemudian ia buka. Satu batangnya ia ambil, kemudian nyalakan dengan korek api yang juga sudah tersedia dengan begitu lengkapnya di sana.

Dalam keadaan seperti ini, Danu diam lagi. Ia kembali kepikiran dengan semua yang terjadi, terutama dengan Tina yang akhirnya juga pergi.

“Kamu akhirnya milih mereka, Tin? Dua brondong itu, daripada aku yang sudah dua belas tahun bersama kamu dan berikan semuanya untukmu.” Danu bergumam dengan tatapan yang kosong.

Tapi mendadak Danu tersenyum. Ia ingat bagaimana pada gadis yang ada di kost tadi membelanya dari Tina, bahkan berjuang sekuat tenaga mengusir Tina darinya.

“Ya, aku lebih percaya dengan mereka yang baru beberapa bulan bersamaku. Mereka justru lebih paham aku, Tin. Mereka lebih tahu perasaanku.” Danu hembuskan asap rokok dari mulutnya itu, membumbung tinggi ke udara hingga akhirnya tak terlihat lagi bentuknya.

“Dan! Danu!” Suara seorang pria memecah ketegangan yang ada.

Suara itu adalah suara kang Yanto, tetangga sebelah kost Danu. Pria paruh baya itu terdengar semakin mendekat dan sudah tiba di depan pagar besi kost, dan tangannya mulai terlihat membuka pengait pagar untuk segera masuk rumah itu.

Danu yang mendengar suara itu langsung beranjak dari sofa, dan ia hampiri pria itu untuk mempertanyakan keperluannya.

“Ya, Kang?” jawab Danu yang kemudian mereka bertemu di teras dekat kursi rotan.

Tampak pria paruh baya itu membawa sebuah jaket kulit bermerk, dan terus ia tatap untuk ia berikan pada Danu.

“Ada apa, Kang?” tanya Danu padanya.

“Ini, aku kemarin lihat istrimu itu, si Tina. Dia duduk di lobi Hotel bintang empat di kota, aku lupa namanya apa. Dia dengan sama cowok muda dan pakai motor sport mahal. Ini aku lihat, jaket dia ketinggalan di sofa lobi Hotel itu.”

Pria itu menyodorkan jaket yang ia bawa pada Danu agar diperiksa. “Pria itu terlihat necis sekali, Dan. Aku ndak tahu dia siapa, wong aku juga nggak sempet tanya. Aku cuma heran aja, dan aku ingat-ingat kalau Tina itu jarang pulang.”

Danu terdiam mendengar berita yang diberikan oleh pria itu. Ia berusaha sekuat tenaga untuk membuang luka itu, tapi entah kenapa datang lagi dan lagi menghujam hati.

Danu raih jaket itu, dan ia tahu bahwa yang ada di tangannya adalah benda mahal. Pasti Tina juga yang sudah membelikannya.

“Iya, Kang. Tina memang jarang pulang. Sesekali dia datang, melihat kost sama minta uang,” aku Danu dengan suara yang bergetar saat itu.

“Kamu belikan mereka barang mahal, Tin. Sementara aku, kaos oblong sudah banyak bolong dan celanaku sudah banyak jahitannya.” Danu emosi dalam hati.

Ingatan Danu masih cukup tajam. Ia ingat sekali jika jaket itu adalah milik salah satu brondongnya Tina.

“Dan… aku bukannya mau apa apa, atau buat sesuatu sama kalian. Tapi aku mau jujur, kalau kemaren itu Tina sama cowok muda, ngganteng dan mereka jalan pelukan mesra.” Kang Yanto memperjelas pengelihatannya.

Hal itu sontak semakin membuat hati Danu sakit, karena keburukan istrinya semakin lama semakin dikuliti faktanya. Jangan-jangan, motor itu Tina belikan dengan uang tabungan yang ia tilep selama ini.

“Kalau ada sesuatu, bilang Dan. Tadi juga, aku dengar suara ribut dari kost. Ada apa?” tanya Kang Yanto lagi.

“Ya. Itu, tadi Tina ngamuk. Dia ngga terima dituduh selingkuh, dan dia justru ribut sama anak kost yang suruh dia pergi.” Suara Danu mulai terdengar serak lagi.

Kang Yanto paham betapa sakit hati Danu. Tapi ini kenyataan yang memang harus dibahas, dan Danu harus tegas sebagai seorang pria. Apalagi, kelakuan Tina bisa saja mencoreng nama kompleks mereka.

Mendadak jantung Danu berdenyut dengan begitu hebat, pandangannya kabur dan tubuhnya terhuyung lemas.

“Eh, Dan!” Kang Yanto yang melihat itu langsung cemas dan meraihnya agar tidak jatuh ke tanah.

“Tolong! Ada yang masih di kost apa engga? Ini, Pakdenya nggeblak!” Kang Yanto memanggil siapapun yang kemungkinan bisa menolong, karena ia tak akan kuat urus Danu sendiri dengan tubuhnya yang besar itu.

“Eh! Pakde!” Lily keluar dari kamar ketika dipanggil, dan kebetulan Silvy juga baru dari dapur umum.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 285 Di Titik Lelah

    Ane tersenyum senang karena rencananya bersambut dengan apik. Belum lagi saat ia lihat di mana Rumah sakit yang mereka datangi, adalah benar benar Rumah sakit tempatnya magang.“Rumah Sakit HS, ruang Kebidanan. Oke, kita cari jalan untuk ambil sample air ketuban. Untung, Mas Daus mau fasilitasi demi membuktikan itu anaknya.” Gadis itu semakin antusias.Nanti malam Ane dinas lagi, di ruangan tempat Silvy berada. Saat itu ia akan susun semuanya dengan matang. Tapi untuk Danu, sepertinya ia tak perlu ikut test karena ini urusan Daus. Dia yang ingin mencocokkan.Ane lantas pulang, dan ia berpas pasan dengan Darma yang baru antar Ainun. Pria itu mulai ramah, mau menyapa meski dengan klakson saja.Saat tiba di kost, Ane segera hampiri mereka berdua untuk ucapkan rencananya. Tapi, belum ingin yang lain tahu demi kelancaran rencana tersebut.“Sebenarnya, Daus sendiri sudah yakin jika itu adalah anaknya dan mau tanggung jawab. Tapi, kenapa Silvy sesulit itu?” gumam Amy.Andai tidak membuat ula

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 284 Kesepakatan Dengan Daus

    “Pakde, Lily. Ini sakit. Tadi nggak kenapa napa, mendadak sakit terus ada darahnya.” Silvy memegangi perut dan meringis kesakitan dengan wajah yang pucat.Lily panik, tapi dengan tenang ia ambil Hp di saku untuk memberitahu Susan Ia yang paling cepat dan bisa meminjam mobilnya dalam keadaan yang darurat ini.“Ya, Dek?” Susan menjawab dengan cepat.“Kak, tolong! Ini, Silvy sakit perut dan berdarah.”“Astaga! Kakak segera ke sana, persiapkan dan kita bawa ke Rumah sakit!” Susan beranjak dari tabnya. Ia segera meraih kunci mobil di laci dan lari keluar menuju rumah Danu.“Kak, ada apa?” Amy yang keluar langsung menghadangnya.“Dek, Silvy berdarah. Kakak mau tolong dia!”“Amy ikut!”“Nggak usah, Dek. Biar kak Susan, Lily sama Pakde aja. Kamu jaga kost’an.” Mau tak mau Amy menurut, dan Ane juga masih di kamarnya karena sedang istirahat.Susan tiba di dapur umum, bertepatan dengan Lily yang keluar dari rumah Danu membawa beberapa perlengkapan untuk Silvy. Saat Danu lihat mereka, ia segera b

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 283 Silvy, Kamu Kenapa?

    Danu menikmati sarapan yang dibawakan Ane, ia duduk di pohon rambutan halaman belakang sendirian.Dalam situasi seperti ini, tak ada yang mendekat padanya. Susan dan Amy hanya melirik lewat jendela dan membiarkannya dalam keadaan yang cukup nelangsa. Pasti serba salah.Saat Danu selesai sarapan yang kesiangan, tak lama kemudian sebuah nomor asing menelpon. Danu serasa enggan menjawab, tapi takutnya itu adalah nomor dari kolega yang penting dari pak Bondan.“Halo,” sapa Danu lebih dulu.“Mas, Danu.” Suara familiar itu memanggil, Danu langsung mengusap wajahnya dengan kasar.“Mbak Di, ada apa?” Danu bertanya, berharap jawaban kali ini tanpa basa basi.“Tawaran saya, bagaimana, Mas?”“Tawaran apa? Saya rasa, Mbak Di nggak pernah menawarkan sesuatu terhadap saya pribadi. Tapi jika itu urusan bisnis, maka nanti akan kita bicarakan lagi.” Danu menegaskan sesuatu.“Tapi, bagaimana jika semaunya saling berkaitan? Saya ingin—”“Mbak. Saya orang yang paling tidak bisa, mencampur adukkan urusan

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 282 Sudah Baik Mau Tanggung Jawab

    Susan dan adik adiknya turun di sebuah kedai sarapan. Mereka duduk dan memesan menu masing masing masing yang mereka inginkan, sekaligus menunggu Ane yang kabarnya akan datang.Ainun juga, menunggu kekasihnya di luar karena katanya sudah dekat dari lokasi tersebut.“Mas!” panggil Ainun pada Darma yang menggunakan mogenya. Terlihat tampan dan gagah. Darma turun, ia buka helm dan kemudian ia hampiri sang kekasih dengan pelukan hangat. “Yang lain, nunggu di dalam. Kita sekalian aja sarapan,” bisik Ainun dengan lembut padanya.“Iya, tapi nanti pulangnya ikut aku, ya?” balas Darma yang sudah ada mau itu.Mereka masuk ke dalam, lalu sarapan bersama lebih dulu karena sudah kelaparan. Ane nanti akan menyusul, sarapan sembari mendengarkan.“Kak!” Ane datang dengan wajah yang riang meski terlihat lesu dan lelah.“Dek, sudah sampai? Itu, Kakak pesenin nasi uduk buat kamu. Sarapan aja lah ya,” ucap Anin padanya. Suasana menjadi serius ketika Ainun memberi kode pada kekasihnya untuk keluarkan be

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 281 Jangan Fikir, Pakde Bodoh

    Danu datang, ia tatap sambal cumi yang ada di meja kemudian ia tatap pada Silvy yang terlihat begitu santai. Danu sendiri menatapnya dengan penuh kecewa.“Pakde nggak tahu lagi harus ngomong apa ke kamu, Vy. Pakde capek, dan pakde kehabisan kata sabar.” Danu masih pelan.Susan yang ada di sana juga terlihat sangat kecewa. Ia sudah berangan menikmati cumi balakutak hitamnya, dan kini jadi sambel cumi pedas. Sangat tidak nikmat.“Pakde, Vy cuma mau bantu. Karena beberapa bahan udah ada, jadinya—”“Nggak usah membela diri lagi, Vy. Muak dengernya!” sergah Lily dengan kemarahan yang sudah tidak bisa dihindari lagi.“Dek, udah ya? Cari cumi lagi kita, masak sesuai yang kita mau.” Susan berusaha menenanhkan.Tapi jelas Susan juga paham, bahwa permasalahan yang ada sebenarnya bukan hanya cumi. Tapi tingkah Silvy yang sudah benar benar kelewatan saat ini. Apa lagi dari ekspresi dan nada bicaranya seolah tanpa rasa bersalah sama sekali.“Atau, kita makan di luar, yuk? Kalian mandi, siap siap.

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 280 Gara Gara Cumi

    Pagi datang di kost melati. Mereka semua bangun dengan wajah ceria dan keluar dari kamar masing masing.Tak lama kemudian, Susan pulang dengan mobil mewahnya. Ia parkir di halaman seperti biasa dengan wajah ngantuknya."Kak Susan, baru pulang?" Lily menyapa saat ia melakukan olahraga kecil di teras."Iya, Dek. Semalam ada rapat dadakan, karena ada yang mau pesen dress untuk pesta." Susan menjawab sembari menguap."Oh, gitu. Yaudah, Kakak tidur aja ke kamar." Lily usapi bahunya sebentar."Oh, iya. Kakak beli cumi tadi. Seger seger banget. Tolong masakin, ya? Pake tinta itemnya enak. Pengen.""Waaah! Cumi! Siap, Kakak. Lily masakin dengan bumbu yang medok dan super enak!" Lily terlihat sangat semangat dan segera ambil cumi segar yang Susan beli di pasar, bagian belakang butiknya.Dengan langkah yang begitu gemoy, Lily bawa cumi itu ke dapur dan ia segera ia cuci sampai bersih. Sembari menunggu marinasi agar tak amis, ia kumpulkan dan racik bumbu untuk memasak."Aduh! Asem jawa sama leng

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 4 Kamu Sok Setia

    “Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 3 Perhatian Anak Kost

    Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 2 Gadis Di Kost Melati

    “Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily

  • Pakde, Masa Dia Terus, Aku Juga Mau   Bab 1 Pakde, Bude Selingkuh!

    “Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status