Beranda / Urban / Pakde, Aku Juga Mau DIpilih! / Bab 8 Kami Pelindung Pakde

Share

Bab 8 Kami Pelindung Pakde

Penulis: Er_Su
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 13:38:03

“Aku cuma minta kamu jujur, Tina. Selama ini, aku kurang apa ke kamu sampai kamu giniin aku?” Danu masih mencari penjelasan darinya.

“Ini pasti kerjaan mereka, kan? Dia! Dia yang tadi pagi bales panggilan aku dan ledek aku! Pasti dia yang buat semua ini, dan ia mau kita berantem, Mas! Aku ngga terima!” Tina menatap tajam pada Lily dan menunjuk wajahnya dengan begitu kasar.

Lily tidak gentar. Ia justru angkat pandangannya pada Tina dan ia siap melawan kapan saja wanita itu demi pakde Danunya.

“Bude!” sergah Ainun yang langsung raih tangan Tina dengan cengkraman yang kuat.

“Mas! Kamu ngapain di situ? Harusnya kamu bantuin aku yang dibully di rumah sendiri!” Tina terus memanggil Danu yang hanya diam menatapnya dengan begitu datar.

“Mas, kamu ngga mungkin terpengaruh oleh fitnah mereka semua, kan? Mas, aku itu istrimu sudah dua belas tahun, masa kalah sama anak anak yang baru beberapa bulan?” Tina terus berusaha, tapi jelas ia kalah tenaga dengan ketiga gadis itu.

“Kalau Bude nekat, kami akan sebarkan semuanya ke warga kompleks! Bude mau malu?” ancam Ane.

“Apa yang bisa kalian lakukan? Memangnya, aku percaya dengan ancaman para bocah macam kalian, hah!”

Perdebatan terus terjadi, tapi Danu hanya diam melihat mereka semua dengan perasaan yang sudah tidak karuan. Mendadak dadanya nyeri.

Gerakan perlawanan itu terus dilakukan para anak kost pada Tina. Mereka sangat kompak berjuang demi Danu agar Tina segera keluar dari rumah itu.

“Hey! Kalian brengsek! Awas kalian, ya! Mas, jangan diem aja! Mas!” panggil Tina dengan suara yang begitu keras.

Akhirnya tubuh Tina terdorong keluar dengan keras oleh mereka semua, dan ia oleng sampai nyaris jatuh. Ia malu sekali, belum lagi keributan yang ia buat itu membuat semua gadis penghuni kost lantas keluar melihatnya.

“Kalian! Apa yang kalian lakukan pada suamiku?” tukas Tina, tak terima.

“Bude yang harusnya sadar, apa yang sudah Bude lakuin ke Pakde!” balas Lily dengan suaranya yang sangat tegas itu.

Tina merasa terdesak karena dikeroyok oleh tiga gadis yang ada di hadapannya saat ini. Danu sama sekali tak mau keluar dan membelanya, bahkan tatapan yang diberikan masih saja begitu datar dan dingin.

“Awas kalian! Aku akan lapor satpam kompleks agar kalian ditindak! Jangan harap kalian—”

“Lapor aja, lapor! Memangnya kami takut? Bude yang harusnya takut malu kalau semua berita bahwa Bude yang suka main brondong itu kesebar kemana-mana!” Ane begitu semangat memprovokasi.

Danu menarik napas panjang, ia malas dengan perdebatan ini. Apalagi ia dengar suara Tina yang begitu keras dengan ego tanpa merasa bersalah sama sekali. Ia tatap para gadisnya yang terus berusaha mengusir Tina dan ia malas terlibat dengan perdebatan itu.

Ia memutuskan untuk segera pergi dari rumah lewat pintu belakang sembari ambil beberapa alat di tangan. Jelas ia ingin mempersibuk diri untuk mengalihkan perhatian dan perasaan yang ada di hati.

Danu melangkah menuju mesin pompa air yang ada di samping, tepat di garasi, memang sudah beberapa hari ini sering macet dan harus ia perbaiki, tapi belum tersentuh karena adanya masalah ini.

“Hayo! Bude jadi, berani mau laporin kami?” tanya Lily.

“Kalau Bude berani, kita maju! Semua anak Kost Melati bakal maju buat lawan Bude dan belain Pakde!” sambung Silvy.

Tina mendengkus kesal. Ia hentakan kaki lalu ia memilih pergi dari tempat itu segera daripada semakin jadi bulan-bulanan nantinya. Ia juga tahu jika warga di dekat kost itu baik pada Danu, hingga ia pasti kalah jika harus ngeyel dengan situasi seperti ini. Ia kalah.

Wanita itu akhirnya pergi, bahkan mobil Danu ia bawa lagi tanpa rasa bersalah sama sekali. “Awas kamu, Mas. Aku ngga terima kamu giniin aku!” ketus Tina yang masih menatap mereka semua di sana.

Selesai perdebatan itu dan Tina pergi, ketiga gadis itu merasa lega kali ini. Mereka tarik napas bersama dan tenang karena Danu aman. Tapi mereka tak lihat Danu di tempat tadi, hingga langsung mempertanyakan keadaannya.

“Yasudah, Ane ke kampus saja dulu, dan Silvy istirahat sebelum sift siang. Biar kak Lily yang cari pakde.” Lily membujuk mereka pergi ke tugas masing-masing.

Lily mau tak mau mengalah untuk jaga Danu agar tidak sendirian di rumah itu. Takutnya Tina terus datang lagi dan terus memprovokasi hingga membuat Danu stres lagi.

Gadis itu sendiri setelah yang lain pergi, lalu ia mulai cari Danu. Ia lihat pintu belakang yang terhubung dengan garasi terbuka, dan ia datangi ia di sana.

“Tuh, kan, bener di sini? Memang ngga bisa diem, Pakde ini. Ada aja yang dikerjain.” Lily menatapnya dari jauh, menikmati semua pemandangan indah itu dengan seksama sembari terus mengagumi kesempurnaan Bapak Kost favoritnya.

Apalagi saat Danu memutar kunci inggris dengan kuat, cetakan otot di punggung dan lengannya tercetak sangat jelas. Tembus pandang dari kaos oblong putih yang Danu kenakan.

“Pakde?” panggil Lily yang mendekat tak lama kemudian.

“Loh, kamu kenapa kesini, Nduk?” tanya Danu, sedikit kaget.

“Tidak apa, mau bantuin Pakde aja. Apa perlunya?” tanya Lily.

Danu menunjuk senter dan meminta Lily untuk senteri dirinya ketika tengah memperbaiki beberapa komponen kecil untuk pompa air tersebut.

Gadis itu berjongkok dan menyenteri Danu yang tengah sibuk. Tadinya ia fokus perhatikan Danu yang bekerja, tapi mendadak pandangannya mulai kemana-mana.

Rahangnya yang tegas, wajahnya yang simetris dengan tatapan yang tajam membuat hati para kaum hawa berdebar. Lily bahkan menelan saliva ketika pesona maskulin Danu yang berkeringat dan kotor itu justru terlihat semakin mempesona dan memanjakan mata.

“Eh, ya ampun!” Danu spontan kaget ketika salah satu pipa yang tengah ia tangani itu justru patah.

“Aaargh!” Lily ikut kaget, bahkan sampai jatuh terduduk ketika air dari pipa langsung menyembur ke arahnya.

“Waduh!” Danu langsung panik saat itu.

Danu langsung meraih tubuh Lily agar tak terkena semburan air yang semakin kuat, apalagi saat yang keluar adalah lumpur. Ia menarik tubuh Lily agar berdiri dan membawanya pergi dari sana, tapi kaki Danu justru menginjak senter yang jatuh dari tangan Lily hingga tergelincir dan jatuh.

Danu kesulitan menyeimbangkan diri karena tangan satunya memegangi pinggang Lily.

Bugh!

Akhirnya mereka berdua jatuh bersama. Tapi untungnya Danu masih bisa membawa mereka ke tumpukan karpet yang ada di Garasi itu hingga jatuhnya tak terlalu sakit.

“Aaah!” Lily memekik dan napasnya kembang kempis.

Mata yang tadi sempat terpejam itu ia buka, ia tatap Danu ada di atas dan menindihnya. Ia tatap Danu tanpa berkedip saat itu. Lagi lagi ia terkesima dengan perlakuan Danu yang melindunginya sekuat tenaga, hingga telapak tangan besar itu ada kepala Lily saat ini. Danu menjaganya agar tak terbentur meski itu karpet.

Deru napas Danu begitu dalam. Ia tersengal, tapi ia lega ketika Lily tak kenapa-napa. Ia juga lantas menatap Lily saat itu, ia pastikan bahwa Lily baik-baik saja. Akan tetapi, Danu justru gugup dengan tatapan dalam yang diberikan Lily padanya.

“Nduk, kamu, ngga papa?” tanya Danu, cemas dan sedikit canggung.

Tubuh indah itu sekarang ada dalam rengkuhannya, ia tindih dan keduanya saling bertatapan dengan begitu dekat. Gadis itu bahkan hanya diam dan tak berusaha melawannya dengan refleks yang biasa dilakukan para wanita.

“Ngga papa, Pakde. Terimakasih, tapi—” Lily seperti ragu untuk mengatakan itu.

“Tapi apa? Ada yang sakit?” Danu terlihat cemas.

Lily menggeleng. Ia menarik napas beberapa kali. “Pakde, Lily mau jujur sama Pakde. Pakde jangan marah,” ucap Lily dengan kedipan matanya yang manja.

“Mau ngomong apa?” tanya Danu dengan jakun naik turun menelan salivanya.

“Rasanya… ada ngganjel di bawah sana.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ros sy
istilah kata Danu dapet rejeki nomplok wkwkwk
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 306 Syarat Dari Susan

    Suasana menjadi semakin tegang, dan mereka semua saksikan bagaimana Danu mencurahkan perasaan yang sekian lama ia pendam.Sejak Ane memberitahu berapa kisaran dana untuk tes DNA, Danu mulai memikirkan cara untuk mendapatkan uang itu dengan berbagai cara. Ia lembur dan patuh pada pak Bondan demi perhatian, ia berusaha keras untuk segera naik jabaan.“Pakde, Vy nggak mau! Vy cintanya sama Pakde, dan maunya anak ini anak Pakde. Vy janji nggak akan macam macam setelah ini, akan patuh sama semua yang Pakde katakan!” Silvy meraung dan memohon padanya.“Vy, Pak Danu tidak mau menanggung anak yang bukan dari benihnya. Memang kamu mau?” Daus berusaha menasehati Silvy dan meraihnya untuk segera menerima pinangan yang ia berikan.“Enggak! Nggak mau! Biar bagaimanapun, Pakde itu sayang sama Vy, kan? Pakde urusin Vy, bayarin Rumah Sakit Vy dan kasih uang buah Vy. Pakde beliin vitamin yang bagus buat bayi ini dan—”“Vy, itu dari Pak Daus.” Ane menyahutnya dengan suara yang berat. Ia lega akhirnya b

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 305 Kalian Curang!

    Silvy lari, masuk ke kamar dan ia kunci pintunya rapat rapat dari dalam. Napasnya terengah engah, dadanya naik turun dan keringat menetes membasahi wajah turun ke leher. Lily yang melihat itu langsung takut jika Silvy berbuat macam macam, ia langsung susul dan jaga di depan pintu."Dek, kenapa secepat ini? Katanya tiga hari? Harusnya besok, kan?" tanya Susan yang menghampirinya bersama Amy."Iya, Dek. Kenapa cepet banget? Mana Silvy baru keluar dari Rumah sakit, lagi." Amy juga khawatirkan kondisi Silvy kali ini. Biar bagaimanapun, mereka saudara sekampung.Danu sibuk telepon beberapa perangkat Desa, termasung Danang dan yang lainnya. Kali ini mereka berkumpul di rumah Danu, tak perlu pergi ke balai karena memikirkan Silvy yang pasti dengan kacau."Neng, siapin tempat!" Danu memerintah mereka yang berdiri di tempat itu agar segera bereskan ruang pertemuan.Tiga dara di kost Melati itu dengan sigap pergi dari sana. Mereka rapikan ruang tamu Danu, susun kursi ala tempat pertemuan pen

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 304 Daus dan Hasil DNA

    “Pakde, kenapa lama banget sampainya? Vy udah tungguin daritadi.” Silvy melangkah dengan begitu hati hati, hampiri Danu di tempatnya berdiri.Susan menjauh sedikit. Ia malas cari ribut karena yang penting urusannya dengan Danu sudah tersampaikan dan ia lega meski harus terus berhati hati.“Eh, Vy. Kamu nggak istirahat?” sapa Danu, basa basi.“Daritadi, Vy udah istirahat, juga karena pengaruh obat. Capek tiduran terus, dan efeknya nggak baik buat baby.”Danu duduk dengan tenang sembari menyeruput kopi di tangan. Sore itu mendung, dan sepertinya sebentar lagi akan hujan.Danu menatap pak tukang yang masih bekerja di atas, tapi sepertinya mereka juga sudah akan selesaikan tugas itu cepat cepat lalu tutup dinding semen dengan terpal agar tak basah.“Pakde, boleh Vy tanya?”“Ya, kenapa?” Danu memiliki feeling tak enak kali ini.“Kapan kita nikahnya? Perut makin gede, dan nanti udah nggak memungkinkan untuk Vy pakai gaun pengantin. Setidaknya, meski Cuma kebaya.”Danu menghela napas panjang

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 303 Mas, Kamu Ganteng

    "Iya, sekarang aku udah kerja di pabrik semen punya pak Bondan." Danu mau tak mau menjawabnya meski tidak ramah. Tina tersenyum dan terus menatap Danu yang duduk jauh darinya. Ia hampiri, duduk di depan Danu dengan gaya yang menggoda. Ia mengenakan dress dengan bagian dada rendah, sengaja ia lekatkan di atas meja agar semangka mengkalnya terhimpit dan Danu memperhatikannya saat itu. "Mas, kamu makin ganteng dan rapi kalau begini. Kenapa, nggak dari dulu aja balik kerja di sana dan-" "Aku nggak mau bahas masa lalu, terutama jika itu tentang kita!" Danu langsung memberi sikap tegas padanya. "Mas, aku cuma mau agar hubungan kita membaik. Masa, kita yang pernah suami istri ini jadi musuh." Semua orang yang ada di sana dan tahu bagaimana kasus mereka, seketika menahan tawa. Masih mending dianggap musuh. Daripada Danu langsung tinggal atau ludahi Tina bagai sampah yang hina di matanya. "Sudahlah, Tina. Kamu sebenarnya mau apa?" Danu mulai risih padanya. "Aku cuma mau... Kamu

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 302 Tina Lagi, Tina Lagi

    Silvy sudah pulang ke kost, dan langsung diantar ke kamar tamu rumah Danu yang sudah dipersiapkan oleh Amy dan Ainun. “Akhirnya, bisa menghembuskan napas kebebasan.” Ia hirup napas panjang dan ia hembuskan dengan begitu lega. “Ya, Vy. Setelah ini, kamu harus lebih banyak istirahat lagi demi jaga bayi kamu juga. Vitamin semuanya sudah ditebus dan—” “Lily tahu, kapan pakde akan nikahi Vy?” Pertanyaan itu memotong pernyataan yang sedang Lily berikan. Ada Susan di sana, tapi dia hanya diam dan tak memberi respon apa. Ia dengan tenang sedang rapikan semua pakaian Silvy yang dibawa dari Rumah sakit tadi. “Vy… kalau itu, mending tanya pakde langsung ketika kalian berdua nanti. Kami nggak tahu apa apa, dan juga… kamu sudah berapa kali kecewakan pakde sama sikap kamu sendiri.” Silvy menunduk, tapi entah karena mendengarkan dan sadar atau hanya karena malas mendengar omelan Lily yang lebih panjang dari ini. “Dek, kakak keluar, ya?” pamit Susan pada keduanya untuk segera keluar dari sana.

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 301 Janji Ketemu Lily

    Danu terbayang bayang sosok Rama. Senyumnya, perhatiannya pada Susan yang masih sulit ia berikan, dan apa yang ia bawa ketika menghampiri di rumah tadi.Saat ia tengah termenung, terasa gerakan tangan halus mengusap bagian pahanya, merambat makin lama makin dekat dengan si Jarot yang sedang tidur. Tak hanya itu, sebuah gumpalan kenyal menempel di lengannya dan menjepit cukup kuat.“Eh~” Danu terhenyak kaget, tapi saat itu juga Fatma justru tersenyum padanya dengan begitu gemas.“Pak Danu, kenapa melamun?” tanya gadis itu padanya.Danu menelan saliva. Tatapannya tertuju pada delima gemoy yang seolah ingin loncat dari kemeja yang Fatma kenakan saat ini. Indah, putih, mulus dan menggiurkan.“Pak Danu! Iih! Kok lihatin ini terus?” Fatma segera menutup kembali kemeja yang kancingnya terbuka tiga. “Bapak, mau, ya?” goda Fatma padanya.“Ah, Bu Fatma bisa aja. Ibu kali, yang mau.” Danu balik meledeknya sembari mematikan cerutu yang tadi ia hisap.“Kalau Fatma, sih… memang mau. Sekarang juga m

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 6 Wong Banyak Yang Merawat

    Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga l

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 5 Astaga, Pakde!

    Danu mengangkat kedua tangannya saat itu, berusaha untuk tak balik memeluk Amy yang tengah ketakutan. Ia menarik napas beberapa kali sembari terus melirik kanan kiri.Entah bagaimana Danu harus menyikapi hal ini. Harusnya ia sedih, tapi justru mendapat rejeki nomplok. Bergemuruh di hati Danu. Takut

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 4 Kamu Sok Setia

    “Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya

  • Pakde, Aku Juga Mau DIpilih!   Bab 3 Perhatian Anak Kost

    Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status