로그인Jordan tahu semua perhatian istrinya hanyalah bagian dari sebuah sandiwara.
Dia melangkah ke kamar mandi, di mana uap panas beraroma lemon sudah mengepul dari bathtub.
Ini adalah hal yang selalu disiapkan Olivia setiap hari.
Dengan tenang, Jordan kembali ke kamar, mengambil masker dan sarung tangan lateks dari dalam tasnya.
Setelah memakainya, Jordan kembali ke kamar mandi. Dia memasukkan tangannya yang bersarung tangan ke dalam air hangat itu, memutar sumbatan pembuangan hingga bathtub kosong. Dia membilasnya dengan air bersih sebelum mengisinya kembali dengan air baru.
Saat akhirnya berendam, matanya tertuju pada botol minyak esensial yang isinya tersisa setengah. Jordan mengambil botol itu dan menatapnya dengan dingin.
Wanita itu benar-benar ingin dia mati.
Permainan mematikan ini sudah berjalan selama setahun, dan selama itu pula Jordan harus terus waspada.
Minyak esensial yang dicampur dengan air dalam bathtub sebelumnya adalah salah satu rencana licik wanita itu.
Bukan hanya itu, setiap kali Olivia membuat masakan kesukaan Jordan, dia akan menaruh sedikit racun supaya kesehatan Jordan memburuk secara perlahan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Seperti malam ini, setelah Jordan duduk di depan meja makan, Olivia tak melewatkan kesempatan. Dengan raut wajah tanpa rasa bersalah itu, Olivia tersenyum manis sambil menaruh hidangan beracun yang dipersiapkan khusus untuk dirinya.
“Makan yang banyak. Aku tahu kamu sangat menyukai masakan laut dan tadi siang aku sengaja pergi ke pesisir untuk memilih sendiri lobster yang paling segar dan gemuk.”
Jordan tahu racunnya tidak ada dalam makanan yang juga dikonsumsi Olivia, melainkan dari piring Jordan yang dilapisi racun tanpa warna dan tanpa bau sehingga tidak meninggalkan jejak sedikit pun, membaur dengan makanan yang hanya ditelan Jordan.
Jordan memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa ragu, membuat senyum di wajah Olivia semakin lebar.
Tetapi, setelah makan malam berakhir, dia lekas menuju ruang kerja. Begitu pintu terkunci di belakangnya, ekspresi tenangnya runtuh. Rasa sakit mulai menusuk dadanya dan napasnya menjadi berat.
Dengan gerakan cepat, dia membuka laci tersembunyi, mengambil sebotol pil, dan menelannya tanpa air.
Jordan bersandar di meja, memejamkan mata sambil menunggu efek penawar itu bekerja. Setelahnya napasnya kembali teratur, dia menatap ruangannya yang kosong. Tatapannya benar-benar dingin.
Menegakkan tubuh, tangannya yang sudah tidak gemetar terulur ke arah laci yang dikunci dengan sidik jari, kemudian mengambil dokumen yang berisi bukti-bukti kejahatan Olivia dan Mark, sepupunya.
Jika bukan karena tindakan ceroboh Mark, Jordan tidak akan mendapatkan informasi tentang mereka. Tentang fakta bahwa Olivia dan Mark sebenarnya adalah pasangan kekasih dan mereka berencana ingin melenyapkan dirinya.
Setelah kejadian malam itu, Jordan langsung berjaga-jaga. Dia telah terjebak satu kali, dia tidak boleh terjebak lagi. Namun, pasangan itu tidak pernah berhenti berusaha untuk menyingkirkan dirinya.
Sebelumnya, mereka sudah mencoba untuk membunuhnya dengan cepat. Mereka menyabotase rem mobilnya di jalan perbukitan, membuatnya nyaris jatuh ke jurang. Namun, rencana itu gagal.
Tidak berhenti disitu, mereka menyabotase lift pribadinya di kantor agar jatuh bebas. Mereka bahkan mencoba meledakkan jet pribadinya sebelum lepas landas.
Semua usaha mereka untuk membuatnya terlihat seperti mengalami kecelakaan, tetapi selalu gagal.
Karena tiga kali gagal membunuhnya secara langsung, wanita itu mengubah taktiknya. Rupanya wanita itu berpikir, jika tidak bisa menghabisinya dalam sekejap, dia akan melakukannya secara perlahan. Maka, dimulailah perang racun ini, sebuah sandiwara yang sudah berjalan selama setahun terakhir.
Rahangnya mengeras saat menatap foto Olivia yang tersenyum di samping Mark. Kebencian berkilat di matanya.
Jordan tidak hanya ingin mengakhiri kejahatan mereka. Dia ingin menghancurkan mereka hingga tidak bersisa, membuat mereka membayar setiap detik penderitaan yang mereka lakukan padanya.
Saat jarinya menelusuri laporan toksikologi, ponsel di sakunya bergetar. Nama ‘Liam’ tertera di layar.
“Tuan, saya mendapat kabar lain lagi!” suara asistennya terdengar bersemangat di seberang telepon, benar-benar berbanding terbalik dengan atmosfer kelam di ruangan itu. “Menyusul berita kedatangan perwakilan Blackwood tadi, saya baru dapat konfirmasi bahwa perwakilan dari Aura Tech sampai di Veridian! Otak di balik teknologi Aura Tech yang kita incar selama ini! Keduanya di hari yang sama!”
Aura Tech, perusahaan teknologi rintisan yang sedang mulai berkembang akan membuka cabang di Veridian.
Jordan meletakkan bukti-bukti kejahatan Olivia dan Mark sejenak. Pikirannya langsung berputar cepat.
Blackwood, keluarga taipan yang akhirnya berekspansi ke wilayahnya, dan Aura Tech. Keduanya adalah incaran utama para investor besar, dan Reed Group harus mendapatkan mereka.
Untuk sesaat, urusan bisnis yang krusial ini berhasil mengalihkan fokusnya dari pengkhianatan Olivia. Menjalin kerja sama dengan keduanya kini adalah prioritas utamanya.
“Fokus pada Aura Tech dulu,” perintah Jordan, suaranya tenang dan berkuasa. “Undang orang itu ke kantor. Besok siang,”
“Anda tahu, aku bukan orang yang akan membela kejahatan meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri,” tegas Jordan.Benar, seperti itulah cara keluarga Reed bertindak dan mempertahankan takhta mereka di Veridian City sesuai yang diketahui Marilyn dan orang lain. Dia harus segera mengumpulkan bukti atas semua kecurigaannya tentang keluarga Carter, terutama pada Nancy dan Olivia, lalu memikirkan rencana agar bisa terlepas dari situasi buruk yang mungkin terjadi.Selama ini, Marilyn selalu menjaga hubungan baik dengan para istri pengusaha besar di Veridian City. Ada beberapa teman yang dekat dengannya, namun hubungan Marilyn dan Nancy hanya sebatas saling memberi dukungan.Tidak dapat dipungkiri, dia dulu sempat hampir menjodohkan George dengan Olivia. Ketika dia melontarkan candaan tentang rencana itu, Nancy menolak dengan halus seolah telah memiliki rencana masa depan yang sudah pasti untuk putrinya. Saat itu, Luna masih jadi tunangan Jordan. Dan setelahnya, banyak rangkaian kejadian
Jordan beruntung ada di tempat itu sekarang. Bukan hanya Luna yang akan berurusan dengan keluarga Carter, namun juga dirinya. Luna membuka jalan yang lebih lebar untuk membalas kejahatan Olivia. Dan dia menemukan cara yang lebih efektif untuk menarik Luna ke pihaknya.“Olivia dan ibunya punya hubungan yang sangat dekat. Aku tidak mau mencurigai istriku, tetapi aku tidak bisa membiarkannya kalau dia berbuat buruk pada orang lain, apalagi pada kakaknya sendiri.” Dengan tegas menjawab Marilyn, Jordan sekaligus memancing Luna meskipun dia sudah tahu kebenarannya.Luna dan Jordan seperti sedang bicara dengan tatapan mereka meski hanya sekilas. Luna mengerti apa yang diinginkan Jordan darinya, mengingat Olivia tega memberikan racun pada pria itu.Dia pun merasa diuntungkan. Tadinya dia hanya bisa menanamkan benih kecurigaan pada Marilyn agar tidak terkesan menjatuhkan nama baik Olivia. Jordan membuka peluang agar Luna bisa membicarakan tentang Olivia lebih banyak.“Ti
“Dengan satu syarat.” Mata Jordan mengilat oleh cahaya petir yang menyambar. Seringai pria itu membuatnya tampak lebih berbahaya.Luna mendadak sedikit ragu ketika Jordan memberi sebuah syarat. Namun, dia tidak mau mundur jika memang dia bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan dari tawaran Jordan.“Katakan,” tantang Luna.Sebelum Jordan mengatakan syarat itu, suara derapan langkah kaki terdengar. Luna buru-buru mendorong Jordan. Kali ini, Jordan melepaskan Luna dengan mudah.Mereka langsung duduk di kursi yang berjauhan, tepat ketika Marilyn muncul ke ruangan itu. Marilyn terkejut sejenak melihat Jordan ada di dalam, namun segera melangkah hingga duduk di samping Luna.“Jordan, kupikir kamu sedang bersama William.”“Tuan William sedang menelepon seseorang. Kupikir, tidak ada salahnya menemui kakak iparku sebentar untuk menanyakan kabarnya.”Ekspresi Jordan sudah kembali seperti semula. Tenang, datar, dan tidak terbaca, seakan-akan dia dan Luna tidak pernah membicarakan hal rumit yang
“Aku juga tidak pernah menyangka seorang Jordan Reed ternyata punya kebiasaan menguping pembicaraan orang,” balas Luna sinis.Luna tiba-tiba menelan ludah susah payah. Petir menyambar berulang kali saat Jordan mendekat, seolah-olah langit mengiringi setiap langkahnya.Kaki Luna bereaksi terlambat. Ketika dia beranjak pergi untuk menghindari pembicaraan yang tidak perlu dengan Jordan, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya.“Luna … Blackwood …” Jordan menekan kata Blackwood, masih tak terbiasa mengucapkannya setelah nama Luna. “Jangan bermain-main denganku. Kesabaranku ada batasnya.” Nada bicaranya terdengar rendah dan mengancam.Namun, Luna tetap menatap Jordan dengan sorot mata menantang. “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Lepaskan aku sebelum Nyonya Marilyn kembali dan salah paham.” Dia membalas dengan nada mengancam.Jordan bergeming, menatap Luna secara intens. Rahangnya tampak mengeras, seperti sedang menahan amarah.“Apa kamu sengaja mendekatkan putraku dengan G
Marilyn ternganga, lalu sontak menutup mulutnya. Dia tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Semua yang pernah dikatakan Nancy hanyalah keluarga dan kediaman Carter yang sempurna, kecuali Luna yang seperti duri yang menodai nama baik keluarga. “Yah, tapi itu semua sudah jadi masa lalu.” Dengan mata berkaca-kaca, Luna memandang Marilyn dengan sedih. “Yang menjadi penyesalanku hanya satu. Aku seharusnya keluar dari rumah itu sejak mama kandungku meninggal dan mengetahui bahwa mereka tidak menginginkan aku.” Luna tidak malu menjual kesedihan di masa lalu. Lagi pula, memang itulah yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, dia dulu tidak punya keberanian bicara seperti sekarang. Mata Marilyn ikut berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan untuk menaruh cangkir teh yang digenggam Luna ke atas meja, kemudian menggenggam tangannya. “Aku minta maaf, Luna. Aku benar-benar tidak tahu ada kejadian seperti itu.” Marilyn bukan wanita yang mudah percaya dengan omongan orang. Namun, semua yang dikatak
George masuk bersama seorang pria yang tidak asing bagi mereka. Tuan Muda Kennedy itu tampak tidak nyaman, melirik-lirik pria di sebelahnya.“Jordan, aku tidak tahu kamu mau datang ke sini.” Bahkan, William tidak tahu dan juga terkejut melihat Jordan tiba-tiba muncul bersama putranya.George menjawab dengan canggung, “Tadi sewaktu aku keluar, kami tidak sengaja bertemu dan membicarakan proyek sampai lupa waktu. Aku sampai lupa Nona Blackwood datang ke sini dan malah mengajak Tuan Jordan makan malam bersama kita.”Luna menatap Marilyn sekilas. Ibu George itu memicingkan mata pada putranya, terlihat tak memercayai alasan putranya membawa Jordan secara tiba-tiba.“Duduk dan makan malam bersama kami, Jordan,” perintah William.William memelototi George setelahnya. Demi bisa makan malam bersama Luna hari ini, dia sampai mendatangi Harvey dan minta maaf atas perkataan kasar putranya di pesta kehamilan Olivia. Dari informasi yang dia dengar dari asistennya yang juga ikut hadir di pesta itu,







