Share

Pamer Suami
Pamer Suami
Penulis: Ika Armeini

1. Pacar Baru Ralin

Ralin mengedarkan pandangannya begitu masuk ke sebuah cafe, tempat diadakannya perkumpulan bersama sahabat-sahabat terdekatnya semasa SMA. Dari jauh ia dapat melihat empat perempuan yang berkumpul di satu meja.

"Ralin, sebelah sini!" Salah satu perempuan yang duduk di sana melambaikan tangannya ke arah Ralin. Dengan cepat Ralin pun melesat menuju ke meja tempat teman-temannya berkumpul.

"Sorry, agak terlambat. Di jalan cukup macet," kata Ralin memberi alasan karena kedatangannya yang terlambat.

"Kita baru sampai juga, kok! Aku pikir kamu terlambat karena datang bersama dengan calon suami kamu," celetuk Hana, salah satu teman Ralin.

"Huush ... gimana mau punya calon suami kalau pacar aja belum ada sampai sekarang," timpal Sisca, satu temannya yang memakai make-up paling tebal. Sisca orang yang selalu tahu tentang hubungan asmara para sahabatnya. Ia juga tahu kalau Ralin sangat sibuk dengan pekerjaannya dan tak pernah sempat menyisakan waktu untuk mencari pacar.

Ralin tersenyum kecut mendengarnya, entah itu sebuah ledekan atau kalimat motivasi agar Ralin terpacu untuk mencari pacar. Tapi sayangnya untuk kali ini tebakan Sisca harus salah.

"Siapa bilang belum ada pacar?" sahut Ralin langsung, ia menyimpulkan senyum paling manis di bibirnya. Tak mau kali ini menjadi bahan ledekan para sahabatnya semasa SMA itu.

Telinga Sisca langsung berkedut begitu mendengar kata-kata Ralin. Ia menatap intens ke arah Ralin yang telah duduk manis sambil meraih buku menu di cafe itu.

"Jadi Ralin yang super sibuk karena menjadi sekretaris CEO perusahaan besar, sekarang sudah memiliki kekasih?" tanya Sisca dengan nada penekanan.

"Sudah!" jawab Ralin singkat.

Empat orang sahabat Ralin pun langsung antusias. Mereka memasang mata dan telinga mereka, ini kali pertamanya setelah beberapa tahun Ralin memutuskan untuk tetap jomlo dan hanya fokus bekerja serta mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli semua barang-barang impiannya.

Semua sahabat Ralin sudah menikah, ada yang sudah memiliki anak, dan ada juga yang baru saja hamil setelah tiga tahun pernikahannya. Satu lagi, ada Kania yang baru dua bulan bercerai dan kini menyandang status janda. Memang hanya Ralin saja yang belum menikah, dan tetap betah sendiri dengan ambisi pekerjaannya walaupun kini sudah berusia 29 tahun.

"Jadi, kamu sudah berapa lama pacaran? Kenapa tidak beritahu kami kalau sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi?" cecar Sisca, orang yang rasa ingin tahunya selalu tinggi kalau urusan asmara Ralin.

"Belum lama, kok! Kami kebetulan bertemu di kantor secara tidak sengaja, perusahaan dia bekerjasama dengan perusahaan tempatku bekerja, lalu kami dekat dan akhirnya pacaran," jelas Ralin dengan wajah tenang, sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga menggunakan jari tangan kirinya. Dengan halus ia bermaksud memamerkan cincin berlian yang tersemat di jari manis tangan kirinya itu.

Lily sahabat Ralin yang sedikit mengerti tentang perhiasan, tampak membulatkan netranya. Apalagi posisi Lily yang duduk tepat di sebelah kiri Ralin. "Astaga, ini cincin berlian, kan? Kamu beli sendiri, Ral? Atau diberi oleh pacarmu itu?" tanya Lily penasaran sambil meraih tangan kiri Ralin, memperhatikan dengan saksama cincin tersebut.

"Diberi oleh pacarku, tentunya," kata Ralin dengan bangga.

"Wow ... kalau cincin yang begini harganya sekitar ratusan juta, Ral!" ujar Lily masih meneliti cincin yang tersemat di jari manis Ralin itu.

"Oh, ya?" Ralin pura-pura terbelalak tak percaya, tapi kemudian pandangannya mengedar ke arah tiga orang temannya yang lain. Seperti menyiratkan pamer pada sahabat-sahabatnya kalau dirinya memiliki kekasih yang memberikannya cincin mahal. "Aku kurang tahu kalau masalah harga. Tapi kemarin waktu ulang tahunku, dia tiba-tiba saja memberikanku hadiah cincin ini, jadi aku terima saja."

Tampak jelas teman-temannya memandang kagum. Bagi Ralin ini baru pemanasan, hanya cincin berlian saja teman-temannya sudah kaget, apalagi kalau dia menunjukkan benda lain pemberian kekasih barunya. Bisa saja mereka makin kaget saat mengetahui siapa sebenarnya sosok laki-laki yang kini menjadi kekasih Ralin itu.

"Jadi, kenalin ke kita siapa pacar baru kamu, dong! Kan kita juga pengen tahu, penasaran," sahut Hana, sahabat Ralin yang kini sedang hamil 4 bulan.

"Betul, kira-kira siapa yang sudah berhasil meluluhkan hati Ralin? Tahu sendiri, kan, kalau Ralin ini sibuk kerja, dan selalu menolak kalau kita kenalkan dengan laki-laki. Eh ... tahu-tahu sekarang malah kasih kita surprise," sambung Kania. Ia juga sangat penasaran dibuatnya, pastinya menjadi Ralin sangatlah beruntung, bisa punya pacar yang memberikan barang mewah.

"Tunggu saja, sebentar lagi dia sampai, kok!" Jawab Ralin sambil mengusap-usap layar gawai keluaran terbaru miliknya. Ia melihat ada balasan pesan dari kekasihnya yang mengatakan kalau sudah dekat dari lokasi tempat Ralin dan para sahabatnya berkumpul.

"Ini juga ... handphone keluaran terbaru, kan, Ral? Gila, ini harganya mahal juga," ucap Lily, si pemerhati barang-barang mewah. Netranya berbinar melihat gawai baru milik Ralin.

"Oh, kalau yang ini kebetulan handphoneku rusak, jadi dibelikan yang baru oleh pacarku. Aku kurang tahu juga kalau masalah harganya," jelas Ralin sedikit berbohong. Nyatanya ia mengetahui betul berapa harga gawai baru miliknya ini. Ralin lantas memasukkan kembali gawainya ke dalam tas yang ia bawa, lagi-lagi sedikit menunjukkan pada para sahabatnya kalau dirinya juga memiliki tas kulit bermerek terkenal buatan Perancis. Memang sebelumnya Ralin sudah biasa memakai tas bermerek, tapi ini adalah yang paling mahal dan pemberian dari kekasih barunya juga.

"Sekarang Ralin juga punya tas branded kulit buaya paling mahal itu?" tanya Hana yang tahu betul tas mahal tersebut. Netranya juga terus-terusan memperhatikan barang itu.

"Ini juga pemberian dari pacar baruku itu, kok!" kata Ralin dengan bangga.

"Wah, jadi makin penasaran sama pacar baru kamu itu. Pasti tajir melintir, kan?" tebak Hana.

Ralin hanya melebarkan senyumnya pada para sahabatnya itu. Ia sengaja menunggu waktu yang pas seperti saat ini. Cukup gerah selama bertahun-tahun selalu menjadi bahan ledekan teman-temanya karena Ralin yang belum memiliki kekasih, juga terlalu fokus dengan pekerjaan. Sementara para sahabatnya ini sudah berumah tangga, mereka selalu membanggakan para suami mereka. Diantara mereka berempat hanya Kania yang paling jarang membahas suaminya, tahu-tahu sudah bercerai.

Tak berselang lama, seorang laki-laki datang menghampiri meja mereka. Ia menggunakan pakaian khas eksekutif muda, dengan rambut yang di sisir klimis rapi.

"Hai, maaf aku terlambat, Sayang!" ucap laki-laki itu sembari menghampiri kursi Ralin.

"Hai juga, Sayang! Nggak apa-apa, pasti kamu sibuk tadi di kantor, kan?" ucap Ralin pada kekasihnya yang baru saja datang. Kekasih baru Ralin itu melempar senyum pada Ralin dan kemudian tersenyum ramah juga pada para sahabat Ralin.

Empat orang sahabat Ralin jadi tercengang begitu melihat betapa tampan dan sempurnanya laki-laki itu. Mereka pun membalas senyum ramah dari kekasih Ralin tersebut.

"Sudah lama sekali tidak bertemu kalian, apa kalian masih ingat denganku?" tanya kekasih Ralin pada empat perempuan itu.

Mereka mengernyit secara bersamaan, saling bertukar pandang dengan teman di sebelahnya. Merasa kalau mereka belum pernah sebelumnya bertemu dengan laki-laki ini.

"Maaf, kalian pasti bingung. Apa kalian masih ingat dengan teman SMA kita yang bernama Juan Harris Poernomo? Ini Juan, teman SMA kita dan sekarang menjadi CEO di Poernomo Group, sekaligus pacar baruku," jelas Ralin memperkenalkan Juan, kekasih barunya.

"Juan? Juan si gendut, maksudnya?" celetuk Sisca tiba-tiba. Netranya membulat tak percaya memperhatikan laki-laki tampan dengan tubuh sempurna di hadapannya. 

 

 

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sari Komala
aku mampir kak...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status