LOGINCITTT! Arga menginjak rem mendadak. Ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal tol yang basah, membuat tubuh Naya tersentak ke depan hingga tertahan sabuk pengaman. Suara klakson truk dari arah belakang menggema panjang karena terkejut dengan manuver gila tersebut. Mobil berhenti di bahu jalan yang gelap. Deru hujan menghantam atap mobil menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian mencekam di dalam sana. Arga memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Naya. Kilat amarah yang luar biasa gelap, buas, dan mengerikan membakar manik matanya. Topeng kakak tiri yang menderita itu runtuh sesaat, digantikan oleh wajah asli sang iblis. "Coba ulang kalimatmu barusan, Naya," desis Arga mematikan. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Naya dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan. "Siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu? Otakmu udah dicuci lagi sama bayang-bayang kakak iparmu yang brengsek itu?!" Naya menahan air mata karena sakit di rahangnya, tapi ia
Hujan gerimis mulai turun. Di tengah perjalanan, Arga menepikan mobil di sebuah *rest area* kecil yang sepi karena mesin mobil perlu diisi bahan bakar, dan Arga harus membeli perban baru di minimarket. "Kamu tunggu di mobil. Kunci pintunya dari dalam. Mas cuma lima menit," perintah Arga mutlak, menurunkan kaca jendela Naya hanya selebar dua sentimeter agar udara bisa masuk. Begitu Arga melangkah masuk ke minimarket, Naya tidak membuang waktu sedetik pun. Matanya menyapu seluruh isi kabin mobil. Tidak ada kertas, tidak ada pulpen. Naya menggeledah *dashboard*. Kosong. Arga terlalu teliti. Naya merogoh saku jaketnya, jarinya menyentuh lipstik merah yang semalam sengaja ia simpan, serta potongan struk Indomaret yang ia sembunyikan. Naya menatap ke luar jendela. Di sebelah mobil mereka, terparkir sebuah truk boks pengiriman barang antar-provinsi yang mesinnya masih menyala. Sopirnya sedang merokok di dekat toilet umum. *Aku harus ninggalin jejak. Sekecil apa pun.* Naya membu
Sementara itu, di sebuah markas rahasia di Jakarta. Udara di dalam ruang rapat itu terasa membekukan, berbanding terbalik dengan cuaca di luar yang terik. Rekha Adhitama duduk di ujung meja oval dengan wajah mengeras bak patung marmer. Di sekelilingnya, Kapten Yudha, Bima, dan beberapa petinggi *Shadow Team* sedang memperhatikan peta Pulau Jawa yang terpampang di layar proyektor. "Intelijen kita dari sektor timur baru saja mengirimkan laporan, Kapten Yudha," suara Rekha memecah keheningan, berat dan berwibawa. Ia menatap lekat-lekat mata sang kapten. "Jejak pelat nomor mobil sewaan yang digunakan Arga terpantau oleh CCTV *exit* tol Probolinggo Timur. Dari polanya, mereka sedang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Arga akan menyeberang ke Bali malam ini." Kapten Yudha mengangguk tegas, memasang raut wajah profesional tanpa cela. "Kalau begitu kita harus segera memblokir pelabuhan, Tuan. Jika target lolos ke Bali, mereka bisa menggunakan jalur laut gelap untuk kabur ke Austra
Tubuh Naya menegang sesaat. Nalurinya untuk memberontak meronta-ronta di dalam dada, ingin rasanya ia menjerit, menampar wajah palsu itu, dan melompat keluar dari mobil yang melaju kencang ini. Namun logika bertahan hidupnya dengan cepat mengambil alih kemudi. Naya tahu, jika ia menunjukkan sedikit saja perlawanan sekarang, jika ia membongkar bahwa ia telah mengetahui kebusukan Arga, pria psikopat ini tidak akan segan-segan menghukumnya dengan cara yang jauh lebih mengerikan dari sekadar merantai kakinya. Arga bisa membunuhnya malam ini juga, atau yang lebih buruk, benar-benar melumpuhkannya secara fisik. Naya harus berpura-pura bodoh. Ia harus kembali memakai topeng boneka penurut yang telah dipahat Arga di wajahnya. Naya menghela napas panjang, memaksakan tubuhnya untuk rileks, lalu menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu kiri Arga. Ia memejamkan mata, membiarkan wajahnya memancarkan kepasrahan yang sempurna. "Aku nggak apa-apa, Mas," bisik Naya lembut, meremas balik tangan A
"Ada tikus di dalam pasukan kita, Bima," desis Rekha, matanya berkilat penuh dendam kesumat yang membakar jiwa. "Ada pengkhianat yang selalu membocorkan jadwal pergerakanku pada Arga. Tikus keparat itu memastikan aku akan selalu berada dua langkah di belakang iblis cacat itu, membiarkanku mengamuk pada ruang-ruang kosong sementara Arga melenggang bebas membawa Naya!" "Tuan... Kapten Yudha sudah mengabdi pada Anda selama tujuh tahun. Apa Anda yakin—" "Siapa yang mematikan radar di malam Naya diculik dari kabin Puncak?" potong Rekha tajam, mematahkan keraguan Bima. "Siapa yang mengurus logistik *Shadow Team* di sektor belakang saat kita mengejar ke Yogyakarta malam ini?" Bima menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Kapten Yudha." Senyum miring yang luar biasa mengerikan, yang jauh lebih menakutkan daripada amarahnya, perlahan terukir di bibir Rekha. Ia telah menemukan titik terang dari labirin kegilaan ini. Rekha menekan *ear-piece* komunikator di telinganya. Suaranya tid
Hujan badai mengguyur kawasan Sleman, Yogyakarta, seolah langit ikut menangisi keputusasaan yang telah mengakar selama berminggu-minggu. Petir menyambar ganas, menerangi sebuah rumah sewaan terpencil bergaya Hindia Belanda yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan bambu. Di luar pagar besi yang berkarat, tiga mobil SUV hitam pekat tanpa pelat nomor berhenti dengan mesin yang masih menderu pelan. Tidak ada aba-aba suara, hanya isyarat tangan. Belasan anggota *Shadow Team* berseragam taktis serba hitam merangsek maju menembus tirai hujan. Senjata laras panjang dengan peredam terhunus tajam, menyapu setiap sudut halaman yang gelap gulita. Di barisan paling depan, Rekha Adhitama berdiri layaknya malaikat pencabut nyawa yang kehilangan kewarasannya. Kemeja hitamnya basah kuyup menempel di tubuhnya yang semakin kurus. Rambutnya berantakan, dan kantung mata yang sangat pekat menghiasi wajahnya yang pucat. Ia tampak seperti mayat hidup—seorang raja yang kerajaannya telah runtuh, dig







