/ Rumah Tangga / Panasnya Ranjang Kakak Ipar / Mengeranglah Di Bawahku

공유

Mengeranglah Di Bawahku

작가: Dre LA
last update 게시일: 2026-07-24 21:10:51

"Kamu... ini meja kerjamu..." napas Naya terengah-engah, matanya sayu menatap pesona iblis di depannya.

"Dan kamu milikku. Di mana pun."

"Rekha, jangan di sini... bagaimana kalau dia tiba-tiba membuka pintu?"

"Pintunya terkunci."

"Dia punya kunci cadangan rumah ini!"

"Lebih bagus. Biar dia lihat sendiri bagaimana rupa istrinya saat berada di bawah kendaliku."

"Aku benci kamu."

"Bohong." Rekha menunduk, menempelkan hidung mancungnya dengan hidung Naya. "Tatap aku, Naya. Katakan pad
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dihantui Rasa Takut

    Hari berganti minggu, dan setiap detiknya terasa seperti belati yang mengiris kewarasan Naya secara perlahan. Kehidupan pelarian yang terus-menerus ini tidak hanya menguras fisiknya hingga tersisa tulang berbalut kulit pucat, tetapi juga menghancurkan mentalnya hingga ke akar. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Di setiap pejaman mata, Naya selalu dihantui oleh halusinasi pendengaran yang menyiksa; suara langkah kaki sepatu lars yang berat, derit pintu yang dibuka paksa, pelatuk pistol yang ditarik, atau bisikan dingin Rekha di telinganya. Belum lagi perintah tiba-tiba dari Arga di tengah malam buta untuk segera mengemasi barang dan menembus gelapnya malam menuju tempat persembunyian baru. Sore itu, hujan turun rintik-rintik, menambah kesan suram pada sebuah paviliun remang-remang berbau apak di sebuah kota yang namanya pun Naya dilarang untuk tahu. Naya duduk bersimpuh di atas karpet tipis, jemarinya yang bergetar melipat beberapa helai pakaian basah yang baru saja ia setrika. Lampu b

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kabur!

    Arga membanting ritsleting tasnya, lalu mencengkeram kedua lengan Naya hingga wanita itu memekik tertahan. Wajah pria itu mendekat, matanya membelalak liar. "Kamu pikir aku peduli dengan badai?! Radar Rekha hampir menjangkau perairan ini, Sayang! Kamu mau dia menemukan kita di sini?!" Naya menggeleng panik, napasnya mulai memburu. "Enggak, Mas. Tentu saja enggak..." > *"Maka bergegaslah! Atau kamu mau melihat kepalaku berlubang ditembus peluru tajamnya tepat di depan matamu sendiri, hah?!"* Kalimat sakti itu meluncur, dan seperti biasa, selalu berhasil membuat seluruh tubuh Naya bergetar hebat. Ketakutan mengambil alih akal sehatnya. Begitu kaki mereka dibantu turun ke sebuah perahu motor kecil dan akhirnya menginjak daratan melalui pelabuhan kecil yang sepi dan berbau amis ikan, hal pertama yang Arga lakukan adalah menengadahkan tangan. "Sini ponselmu." Naya mundur selangkah, menyembunyikan tangannya di balik mantel. "Buat apa, Mas? Aku... aku cuma mau kirim satu pesan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dibawah Kungkungan Arga

    Tiga jam penerbangan terasa begitu cepat. Helikopter akhirnya perlahan menurunkan ketinggian saat fajar mulai merekah di ufuk timur, memancarkan semburat jingga kemerahan yang memantul di atas permukaan air. Naya membuka matanya yang sempat terlelap karena kelelahan. Ia menoleh ke arah jendela, dan seketika napasnya tercekat. Tidak ada gunung. Tidak ada hutan. Tidak ada daratan sejauh mata memandang. Di bawah mereka, terbentang luas Samudra Hindia yang biru pekat dan tak bertepi. Dan tepat di tengah-tengah lautan kosong itu, mengapung sebuah *superyacht* raksasa berwarna hitam legam—begitu mewah, masif, dan tampak sangat angkuh membelah ombak. Geladak helipad di bagian buritan kapal sudah menyala, memberikan sinyal pendaratan. "Mas... ini di mana?" tanya Naya kebingungan, melihat helikopter mulai mendarat dengan mulus di atas *yacht* tersebut. "Ini rumah baru kita, Sayang," bisik Arga di telinga Naya, melepaskan sabuk pengaman wanita itu. "Sebuah benteng mengapung di perai

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Gila

    "Itu masalahnya, Tuan," Bima tertunduk, tubuhnya bergetar di bawah cengkeraman tuannya. "Setelah kami telusuri ulang... serangan siber yang Anda perintahkan ternyata diarahkan ke rekening kosong. Arga memindahkan dananya sebelum kita menyerang. Dan kami baru saja menemukan laporan bahwa ada aliran dana gelap senilai ratusan miliar masuk ke rekening Arga malam tadi..." Rekha melepaskan cengkeramannya. Tubuhnya terhuyung mundur. "Dana dari siapa?" "Dari... Nona Bianca, Tuan." Mendengar nama itu, rahang Rekha mengeras hingga berbunyi gemeretuk. Darahnya mendidih. Bianca si ular berbisa itu rupanya membalas dendam dengan cara menyokong kekuatan sang psikopat. "Dan soal radar yang mati..." Bima melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, takut kepalanya sendiri akan dipenggal. "...log sistem menunjukkan radar itu dimatikan dari dalam ruang kontrol kita sendiri menggunakan sandi otorisasi tingkat tinggi. Tuan... ada mata-mata di dalam pasukan kita." Dunia Rekha seakan berhenti berpu

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Yang Licik!

    Senyum miring yang luar biasa sinis terukir di bibir Arga. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan garis-garis merah berkedip—simbol dari serangan siber besar-besaran yang sedang berusaha menghancurkan seluruh infrastruktur keuangannya. Arga sedang duduk di tepi ranjang kabin kacanya, menatap santai ke arah layar sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing memecah sisa badai semalam. "Anjing gila itu rupanya sudah belajar menggigit pakai otak," kekeh Arga rendah, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang sunyi. Ia tahu persis ini ulah Rekha. Memutus aliran dana, mencekik pasokan logistik, dan membiarkannya mati kelaparan di atas gunung. Sebuah taktik brilian dari sang raja bisnis. Sayangnya, Rekha lupa satu hal mutlak: Arga adalah iblis yang lahir dari neraka pengkhianatan, dan ia tidak pernah bermain tanpa kartu as di lengan bajunya. *Bip.* Sebuah panggilan masuk ke telepon satelit terenkripsi di atas meja nakas. Arga meletakkan tabletnya, mengambil telepon itu, dan mene

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Putar Balik!

    Deru baling-baling helikopter senyap yang melayang tinggi di atas tebing Puncak tertelan oleh suara amukan badai salju. Di tengah suhu yang membekukan tulang, sesosok bayangan hitam meluncur turun perlahan menggunakan tali taktis, menembus pekatnya malam menuju atap kabin kaca yang tersembunyi. Rekha mendarat tanpa suara di atas atap datar tersebut. Pakaian serba hitamnya seketika diselimuti butiran salju. Dengan tangan gemetar yang bukan disebabkan oleh udara dingin—melainkan oleh adrenalin yang memuncak—sang raja bisnis membersihkan tumpukan salju tebal yang menutupi panel *skylight* kaca raksasa di bawah kakinya. Cahaya temaram dari dalam kabin perlahan menembus kaca. Jantung Rekha berpacu sekeras genderang perang. Ia mengeluarkan alat pemotong laser, bersiap memberikan aba-aba kepada Bima dan tim *Shadow* yang sudah mengepung perimeter bawah. "Bima, aku sudah di titik masuk. Bersiap untuk infiltrasi dalam hitungan tiga," bisik Rekha melalui komunikator di telinganya. Namun, se

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status