Share

Arga Yang Licik!

Penulis: Dre LA
last update Tanggal publikasi: 2026-08-22 22:46:18

Senyum miring yang luar biasa sinis terukir di bibir Arga. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan garis-garis merah berkedip—simbol dari serangan siber besar-besaran yang sedang berusaha menghancurkan seluruh infrastruktur keuangannya.

Arga sedang duduk di tepi ranjang kabin kacanya, menatap santai ke arah layar sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing memecah sisa badai semalam.

"Anjing gila itu rupanya sudah belajar menggigit pakai otak," kekeh Arga rendah, suaranya menggema pelan d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Gila

    "Itu masalahnya, Tuan," Bima tertunduk, tubuhnya bergetar di bawah cengkeraman tuannya. "Setelah kami telusuri ulang... serangan siber yang Anda perintahkan ternyata diarahkan ke rekening kosong. Arga memindahkan dananya sebelum kita menyerang. Dan kami baru saja menemukan laporan bahwa ada aliran dana gelap senilai ratusan miliar masuk ke rekening Arga malam tadi..." Rekha melepaskan cengkeramannya. Tubuhnya terhuyung mundur. "Dana dari siapa?" "Dari... Nona Bianca, Tuan." Mendengar nama itu, rahang Rekha mengeras hingga berbunyi gemeretuk. Darahnya mendidih. Bianca si ular berbisa itu rupanya membalas dendam dengan cara menyokong kekuatan sang psikopat. "Dan soal radar yang mati..." Bima melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, takut kepalanya sendiri akan dipenggal. "...log sistem menunjukkan radar itu dimatikan dari dalam ruang kontrol kita sendiri menggunakan sandi otorisasi tingkat tinggi. Tuan... ada mata-mata di dalam pasukan kita." Dunia Rekha seakan berhenti berpu

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Yang Licik!

    Senyum miring yang luar biasa sinis terukir di bibir Arga. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan garis-garis merah berkedip—simbol dari serangan siber besar-besaran yang sedang berusaha menghancurkan seluruh infrastruktur keuangannya. Arga sedang duduk di tepi ranjang kabin kacanya, menatap santai ke arah layar sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing memecah sisa badai semalam. "Anjing gila itu rupanya sudah belajar menggigit pakai otak," kekeh Arga rendah, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang sunyi. Ia tahu persis ini ulah Rekha. Memutus aliran dana, mencekik pasokan logistik, dan membiarkannya mati kelaparan di atas gunung. Sebuah taktik brilian dari sang raja bisnis. Sayangnya, Rekha lupa satu hal mutlak: Arga adalah iblis yang lahir dari neraka pengkhianatan, dan ia tidak pernah bermain tanpa kartu as di lengan bajunya. *Bip.* Sebuah panggilan masuk ke telepon satelit terenkripsi di atas meja nakas. Arga meletakkan tabletnya, mengambil telepon itu, dan mene

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Putar Balik!

    Deru baling-baling helikopter senyap yang melayang tinggi di atas tebing Puncak tertelan oleh suara amukan badai salju. Di tengah suhu yang membekukan tulang, sesosok bayangan hitam meluncur turun perlahan menggunakan tali taktis, menembus pekatnya malam menuju atap kabin kaca yang tersembunyi. Rekha mendarat tanpa suara di atas atap datar tersebut. Pakaian serba hitamnya seketika diselimuti butiran salju. Dengan tangan gemetar yang bukan disebabkan oleh udara dingin—melainkan oleh adrenalin yang memuncak—sang raja bisnis membersihkan tumpukan salju tebal yang menutupi panel *skylight* kaca raksasa di bawah kakinya. Cahaya temaram dari dalam kabin perlahan menembus kaca. Jantung Rekha berpacu sekeras genderang perang. Ia mengeluarkan alat pemotong laser, bersiap memberikan aba-aba kepada Bima dan tim *Shadow* yang sudah mengepung perimeter bawah. "Bima, aku sudah di titik masuk. Bersiap untuk infiltrasi dalam hitungan tiga," bisik Rekha melalui komunikator di telinganya. Namun, se

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hanya Mimpi!

    "Jangan menangis, Rekha... tolong..." Suara Naya menggema di telinga Rekha. Berulang-ulang. Namun lambat laun, suara mekanis yang hampa itu terdistorsi, berubah menjadi dengungan statis yang memekakkan telinga. Sentuhan tangan Naya di rambutnya mendadak terasa sedingin es, lalu memudar menjadi ketiadaan. Bau masakan rumahan lenyap, digantikan oleh aroma tajam kopi hitam dan udara steril pendingin ruangan. Rekha terkesiap hebat. Matanya terbuka lebar dengan dada yang bergemuruh brutal, memompa udara seakan ia baru saja ditarik paksa dari dasar lautan. Keringat dingin membanjiri pelipis hingga lehernya. Ia tidak berada di lantai ruang makan mansionnya. Ia tidak sedang berlutut di bawah kaki Naya. Rekha mendapati dirinya duduk tersentak di kursi besi command center. Di depannya, puluhan layar monitor masih menyala terang, menampilkan citra satelit termal dari pegunungan Puncak. "Tuan Rekha? Anda baik-baik saja?" Suara panik Bima langsung menyadarkan sang raja bisnis kembali ke alam

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Hukum Aku

    Melihat Naya yang gemetar ketakutan, air mata Rekha akhirnya tumpah. Hatinya hancur lebur. "Sayang, hei, lihat aku..." Rekha segera berlutut di lantai, tepat di samping kursi Naya. Ia mengangkat kedua tangannya terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak membawa ancaman. "Aku nggak akan menghukummu. Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak sedang mengujimu untuk marah. Aku mohon, jangan takut padaku. Jawab jujur, Sayang... apa kamu ingin menemuinya?" Naya terdiam. Dadanya naik-turun dengan cepat. Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah Rekha dengan sangat awas, menelusuri setiap inci ekspresi pria itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau amarah yang tersembunyi. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, bibir Naya bergetar. "Kalau... kalau kamu beneran nggak marah..." bisik Naya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. Suaranya pecah oleh isak tangis yang selama sebulan ini ia pendam rapat-rapat. "...aku mau, Rekha. Aku mau pergi ke tempat Mas Arga." Tubuh Rekha seakan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Maafkan Aku.

    Rekha mematung. Jantungnya berdebar kencang oleh rasa bahagia yang membuncah. Ia melangkah mendekat, menyerahkan buket bunga itu. "Untukmu, Sayang. Kata Bima, kamu hari ini pergi melukis di taman. Kamu senang?" tanya Rekha, mengusap puncak kepala Naya dengan sayang. Naya menerima bunga itu tanpa penolakan. Ia mencium aromanya sejenak, lalu meletakkannya di vas terdekat. "Iya, aku senang. Lukisannya belum selesai, tapi udaranya sangat segar. Terima kasih bunganya, Rekha. Ayo makan, makanannya nanti dingin." Naya menarik kursi untuk Rekha, lalu duduk di hadapannya. Ia mengambilkan nasi dan lauk dengan cekatan, melayani Rekha selayaknya seorang istri yang sempurna. Namun, tepat di detik itulah, rasa dingin yang aneh tiba-tiba merayap di tengkuk Rekha. Rekha menatap Naya yang sedang makan dengan tenang. Memang, wanita di depannya ini tidak lagi menangis. Ia tidak meronta. Ia tersenyum dan melayani Rekha. Tapi... ada sesuatu yang sangat, sangat salah. Gerakan Naya terlalu mek

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status