Compartilhar

Tolong, Rekha!

Autor: Dre LA
last update Data de publicação: 2026-09-01 21:49:18

Dulu, di detik-detik seperti ini, Naya akan langsung menjatuhkan benda itu, berlutut, dan menangis memohon ampun sambil meratapi nasibnya. Tapi malam ini, cangkang ketakutan itu telah pecah dari dalam. Di balik dadanya, *voice recorder* yang menyimpan kebohongan busuk Arga tentang kecelakaan lima tahun lalu berdenyut bagaikan bara api. Naya tidak lagi melihat Arga sebagai pahlawan yang terluka. Ia melihat monster yang harus dihancurkan.

Naya tidak menyerah.

Alih-alih melempar ponsel itu a
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tolong, Rekha!

    Dulu, di detik-detik seperti ini, Naya akan langsung menjatuhkan benda itu, berlutut, dan menangis memohon ampun sambil meratapi nasibnya. Tapi malam ini, cangkang ketakutan itu telah pecah dari dalam. Di balik dadanya, *voice recorder* yang menyimpan kebohongan busuk Arga tentang kecelakaan lima tahun lalu berdenyut bagaikan bara api. Naya tidak lagi melihat Arga sebagai pahlawan yang terluka. Ia melihat monster yang harus dihancurkan. Naya tidak menyerah. Alih-alih melempar ponsel itu atau gemetar ketakutan, Naya justru menegakkan dagunya. Ia perlahan mengangkat tangan kanannya, memamerkan ponsel satelit itu di bawah sorot lampu senter, lalu menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang dingin—senyuman yang belum pernah dilihat Arga seumur hidupnya. "Ponselmu, Mas," jawab Naya dengan suara yang luar biasa tenang, tanpa ada getar kepanikan sedikit pun. "Benda yang selama ini kamu sembunyiin rapat-rapat dari aku. Benda yang kamu pake buat ngatur semuanya." Wajah Arga menegang se

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menipu Arga

    Pintu terbuka selebar sepuluh sentimeter. Naya mengintip ke luar. Koridor lantai dua rumah singgah itu tampak sepi dan remang-remang. Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara Arga sedang berbicara dengan nada tinggi menggunakan walkie-talkie, membahas koordinat pelayaran dengan anak buahnya. Naya melangkah keluar dari kamar, berjalan jinjit di atas lantai kayu tua yang dingin tanpa alas kaki. Tujuannya bukan langsung kabur keluar rumah—ia tahu ia tidak akan bisa melarikan diri lewat gerbang depan yang dijaga ketat oleh preman-preman bayaran Arga tanpa tertangkap. Tujuannya adalah meja kerja kecil di sudut ruang tengah lantai dua, tempat di mana Arga sering meninggalkan barang-barang penting saat pria itu merasa aman. Naya tiba di meja tersebut. Di atas permukaan kayu yang berdebu, tergeletak sebuah benda persegi panjang berwarna hitam legam: ponsel satelit enkripsi milik Arga. Ponsel yang sama yang digunakan Arga untuk berkomunikasi dengan Bastian, sang pengkhianat, dan me

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Usaha Naya.

    Pintu kamar mandi berderit terbuka, menampilkan Arga yang keluar dengan handuk melilit di pinggang, sementara sisa air masih menetes dari rambut hitamnya yang basah. Pria itu menatap ke arah tempat tidur, tempat Naya meringkuk diam dengan selimut yang menutupi setengah wajahnya. "Kamu belum tidur, Sayang?" suara Arga terdengar lembut, sarat akan kepedihan palsu yang selalu ia gunakan untuk memancing rasa iba. "Mas masih bikin kamu ketakutan, ya?" Naya perlahan menurunkan selimutnya. Ia sengaja membuat matanya tampak sayu, merah, dan membengkak—efek dari tangisan palsu yang ia latih di depan cermin beberapa menit lalu. Bibirnya bergetar hebat saat ia menatap pria yang baru saja ia ketahui sebagai dalang utama di balik kehancuran hidupnya. "Aku... aku cuma masih kebayang omonganmu soal Rekha tadi, Mas..." cicit Naya pelan, suaranya parau dan lemah, seolah menyisakan sedikit saja sisa tenaga. "Aku takut... kalau Rekha nemuin kita, dia bakal bunuh kita..." Arga mendengus pelan, sebuah

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Pembalasan Naya (maaf ketukar, bab masih ditinjau)

    Di dalam dadanya, Naya merasa ada sesuatu yang patah dan mati selamanya. Naya yang lugu, Naya yang penuh rasa iba, dan Naya sang korban, telah tewas di dalam kamar ini malam ini. Yang tersisa kini hanyalah seorang wanita yang otaknya telah berevolusi menjadi hakim dan algojo. Naya melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman manis dan polos yang terlampau sempurna, meniru persis topeng yang selama ini digunakan Arga padanya. "Nggak apa-apa, Mas," balas Naya lembut, meraih tangan Arga dan mengecup punggung tangan pria itu dengan kepatuhan palsu yang menipu. "Aku bisa nunggu. Asal ada Mas Arga, aku rela nunggu sampai kapan pun." Mendengar itu, dada Arga membusung bangga. Sang psikopat merasa kemenangannya sudah mutlak, tak menyadari bahwa wanita yang sedang menunduk di hadapannya ini diam-diam telah mengasah sebilah belati tak kasat mata di dalam pikirannya. */'Nikmati kemenanganmu malam ini, Mas,' batin Naya dengan tatapan sedingin es di balik matanya yang terpejam. 'Karena be

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kebenaran Pahit

    Hujan deras mengguyur atap seng sebuah rumah singgah rahasia di pinggiran Pelabuhan Tanjung Emas. Arga terpaksa menunda keberangkatan mereka malam itu karena ombak badai terlalu ganas untuk *yacht* Bianca. Pria itu baru saja keluar dari kamar, turun ke lantai bawah untuk menemui sang kapten kapal bayaran yang mengurus rute pelarian mereka. Di dalam kamar yang temaram, Naya ditinggalkan sendirian. Dulu, momen seperti ini akan digunakan Naya untuk menangis di pojokan atau meratapi nasib. Namun malam ini, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Begitu suara langkah kaki Arga menjauh, Naya langsung melompat dari ranjang. Mata Naya tertuju pada tas ransel kulit hitam milik Arga yang diletakkan sembarangan di atas sofa. Arga sudah terlalu percaya diri. Ia mengira Naya telah sepenuhnya hancur dan menjadi boneka penurut, sehingga ia tak lagi repot-repot menyembunyikan barang-barangnya. Dengan tangan bergetar, Naya membuka ritsleting tas itu. Ia mencari apa saja—ponsel cadangan, kunci

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Kabur!

    BRAK! Pintu kayu lapuk dari sebuah motel murahan di pesisir Garut hancur berkeping-keping, ditendang hingga lepas dari engselnya oleh sepatu bot Rekha. Belasan anggota *Shadow Team* langsung menyebar, moncong senjata laras panjang mereka menyapu setiap sudut ruangan pengap yang hanya diterangi satu lampu bohlam kuning yang berkedip mati-nyala. "Ruang utama kosong!" "Kamar mandi *clear*!" "Tidak ada target di area belakang!" Laporan-laporan itu sahut-menyahut menembus deru hujan di luar, menggemakan kembali mimpi buruk yang sama untuk yang kesekian kalinya. Rekha melangkah masuk. Kemeja hitam mahalnya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang kehilangan berat badan secara drastis dalam sebulan terakhir. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di lehernya menonjol mengerikan. Ia mengabaikan Bima yang sedang menginterogasi pemilik motel yang gemetar ketakutan di lorong. Langkah gontai Rekha membawanya ke tengah kamar. Matanya yang merah, dihiasi kantung mata pekat bak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status