Share

007 - Kunjungan Alaric

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-20 12:10:24

"Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!"

Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat.

Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran."

"Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!"

Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Montclair tidak menghina siapa pun. Mereka bernegosiasi. Grand Duke menawarkan stabilitas militer dan ekonomi akan berjalan seperti biasa asalkan pertunangan dibatalkan. Jujur saja, lagipula pertunangan itu tidak pernah kau inginkan juga."

Alaric tertegun sejenak. Kata-kata ayahnya seperti tamparan. Memang benar, ia tidak pernah menginginkan Celestine. Gadis itu adalah beban, bayang-bayang obsesif yang selalu mengikutinya. Namun, dicampakkan saat ia sedang berlutut di pusara ibunya adalah penghinaan yang tidak bisa ia telan begitu saja.

Terlebih lagi, Kata Grand Duke menawarkan stabilitas? Apa dia kira keluarga kerajaan selemah itu? Alaric mulai kesal.

"Apa yang mereka berikan pada Anda sampai Anda mengizinkan mawar manja itu membatalkan pertunangan sesuka hatinya?" tuntut Alaric.

"Sebuah potensi, Alaric. Celestine mengklaim dirinya mampu memimpin Barat. Dia bukan lagi gadis yang kau kenal."

Alaric mendengus meremehkan. "Dia hanya seorang pengecut yang pandai bersandiwara. Saya akan menemuinya sekarang juga."

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari istana, keheningan menyelimuti perpustakaan kediaman Montclair. Namun, di balik ketenangan itu, ada badai yang sedang diredam.

Celestine duduk di meja kayu besarnya, dikelilingi oleh tumpukan peta wilayah dan laporan logistik. Tangannya yang pucat memegang pena bulu dengan stabil, meski jauh di dalam dadanya, jantungnya masih berdegup kurang teratur karena sisa-sisa serangan panik kemarin.

"Fokus, Celine... kau adalah Celestine sekarang." bisiknya pada diri sendiri.

Ia baru saja selesai memetakan rencana hidupnya untuk lima tahun ke depan. Langkah pertama, mengamankan otoritas di wilayah Barat. Langkah kedua, membangkitkan sihir tanaman sebelum batas waktu enam bulan dari Raja berakhir. Langkah ketiga, mncari tahu siapa sebenarnya yang meracuni Selir Grace sebelum tuduhan itu jatuh ke leher keluarganya.

Celestine menarik napas dalam-dalam, aroma teh di sampingnya membantu menjernihkan pikiran. Ia tidak punya waktu untuk menangisi nasib atau meratapi kematian yang belum terjadi. Serangan panik kemarin adalah pengingat bahwa dunia ini jauh lebih kejam daripada deretan kalimat di novel.

"Nona, Anda belum makan sejak pagi." suara pengasuhnya terdengar dari balik pintu.

"Nanti saja," jawab Celestine singkat. Suaranya tidak lagi memiliki nada manja yang melengking. Ada ketegasan yang dingin di sana.

Ia sedang menyiapkan perisai mentalnya. Ia tahu Alaric akan datang. Ia tahu pria itu akan meledak. Dan ia sudah menyiapkan skenario untuk memadamkan api tersebut tanpa harus terbakar.

Alaric memacu kudanya dengan gila-gilaan menuju kediaman Montclair. Angin dingin menusuk wajahnya, membawa kembali kepingan ingatan tentang Celestine yang dulu.

Ia ingat bagaimana gadis itu pernah menyusulnya hingga ke kamp militer di perbatasan hanya untuk mengantarkan sapu tangan yang disulam dengan buruk. Ia ingat tangis histeris Celestine saat Alaric mengabaikannya di pesta dansa, atau bagaimana gadis itu akan mengancam akan melompat ke danau jika Alaric tidak membalas surat cintanya.

Dia adalah parasit, pikir Alaric pahit. Celestine adalah gangguan yang tidak tahu malu.

Amarah Alaric semakin memuncak saat ia teringat bagaimana Celestine menyalahgunakan kekayaan keluarganya untuk memaksanya bertunangan dulu. Dan sekarang, setelah ia berhasil menjeratnya, gadis itu melepaskannya begitu saja saat Alaric kehilangan satu-satunya sumber kehangatannya. Ini terasa seperti permainan kucing dan tikus yang kejam.

"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja setelah mengacaukan hidupku?" gumam Alaric di sela derap langkah kudanya.

Ia ingin melihat ketakutan di wajah Celestine. Ia ingin melihat gadis itu hancur karena kesalahannya sendiri.

Gerbang kediaman Montclair sudah terlihat di depan mata. Alaric tidak berniat turun dengan sopan. Ia akan masuk sebagai seorang pangeran yang menuntut haknya, sebagai pangeran yang terluka yang siap mencabik-cabik kebohongan mawar perak tersebut.

Tok tok tok...

Suara ketukan pintu terdengar bersamaan suara pelayan yang sedikit gemetar. "Nona, Pangeran Alaric datang berkunjung dan sedang menunggu anda di ruang tamu. Beliau memaksa untuk bertemu dengan Nona."

Di dalam perpustakaan, Celestine menutup bukunya kencang. Wajahnya terkejut, tidak pernah sekali pun Pangeran Alaric berkunjung ke kediaman Montclair tanpa diundang. Jantungnya yang tadi coba ia tenangkan, kini justru berulah seperti genderang perang.

"T-tunggu sebentar! Aku akan segera keluar." teriak celestine dari dalam perpustakaan.

"Sialan, kerasukan hantu apa pangeran maut itu sampai sudi datang kemari? Sepanjang sejarah novel, Alaric tidak pernah sudi menginjakkan kaki di kediaman Montclair."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   010 - Aethel Flora

    Hutan belakang kediaman Montclair bukanlah sekadar taman bunga yang tertata rapi. Semakin jauh kaki melangkah ke barat, pepohonan tumbuh semakin rapat, dengan dahan-dahan tua yang saling membelit menciptakan kanopi gelap yang jarang tertembus cahaya matahari. Di sinilah letak jantung kekuatan keluarga Montclair, tempat yang dulu sangat dihindari oleh Celestine asli karena dianggap kotor dan tidak elegan.​Celine, yang kini menempati tubuh itu, berjalan dengan napas yang sedikit tersengal. Ia telah mengganti gaun merahnya dengan setelan ksatria—celana kulit hitam ketat dan kemeja linen putih yang ditutupi rompi pelindung. Pakaian ini terasa jauh lebih benar bagi jiwanya daripada tumpukan kain sutra yang menyesakkan.​Milly berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil berisi air dan handuk. Pelayan itu terus menatap punggung Lady-nya dengan dahi berkerut. "Lady, kita sudah berjalan terlalu jauh. Area ini biasanya hanya dimasuki oleh para ksatria penjaga perbatasan." bisi

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   009 - Perasaan Celestine Asli

    "Sial, aura pangeran itu benar-benar menyesakkan." batin Celestine sesaat setelah keluar dari ruang tamu.Celine menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, memastikan bunyi klik pengaitnya tidak terdengar oleh telinga tajam Alaric. Namun, begitu kayu ek itu tertutup rapat, lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dinginnya kayu menembus gaun merahnya.Ia menarik napas panjang, mencoba teknik pernapasan box breathing yang sering ia ajarkan pada kliennya dulu di dunia nyata. Tarik empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik."Tenanglah, Celestine. Ayo tenangkan dirimu." bisiknya pada diri sendiri.Tangannya gemetar hebat. Sebagai mahasiswa psikologi semester akhir, Celine tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan sekadar rasa takut, ini adalah reaksi psikosomatik. Tubuh Celestine de Montclair telah dikondisikan selama bertahun-tahun untuk bereaksi secara ekstrem terhadap kehadiran Alaric Alderwyn. Detak jantung yang berpacu kencang ini a

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   008 - Senyum Asing Celestine

    "Sialan! Aku kesal sekali." gerutu Alaric yang sedang duduk di sofa mewah ruang tamu keluarga Montclair. Aroma kayu cendana dan amis darah seolah masih melekat di jubah hitam Alaric Alderwyn, meski ia telah membasuh diri setibanya di ibu kota. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lorong kediaman musim panas keluarga Montclair. Para pelayan tertunduk lesu, tubuh mereka gemetar merasakan aura dingin yang memancar dari sang Pangeran Ke-2. Bagi Alaric, kembali ke peradaban setelah tujuh tahun di perbatasan Utara yang membeku adalah sebuah transisi yang mengganggu. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua hal, kawan yang bisa memegang pedang, atau lawan yang harus ditebas. Namun, ada satu variabel yang selalu ia benci karena sifatnya yang berisik dan emosional—Celestine de Montclair. Dalam benak Alaric, pertemuan ini seharusnya berjalan seperti biasa. Celestine akan berlari ke arahnya, mata ungu amethyst miliknya akan banjir air mata, dan ia akan meracau tentang betapa

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   007 - Kunjungan Alaric

    "Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat. Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran." "Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!" Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tata

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   006 - Alaric Mengamuk

    ​"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!" ​Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. ​Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. ​Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekai

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   005 - Tidak Sesuai Alur

    Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?" Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status