Mag-log in"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!"
Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekaisaran, dianggap telah menunjukkan wajah asli mereka yang keji, sebuah keluarga tentara bayaran yang tidak punya hati, yang memutuskan hubungan dengan seorang pangeran justru saat sang pria sedang dalam masa berkabung. "Lihatlah keluarga Montclair itu. Mereka mencabut dukungan saat Selir Grace baru saja dikuburkan? Benar-benar mawar perak yang beracun." bisik seorang Baroness di balik kipas sutranya saat melewati gerbang istana. "Kudengar Lady Celestine yang merengek meminta pembatalan itu. Mungkin dia sadar Pangeran Alaric hanyalah pangeran buangan." timpal yang lain dengan nada sinis. Di dalam paviliun yang kini terasa dingin dan kosong, Alaric duduk di kursi kayu jati milik mendiang ibunya. Zirah perangnya yang penuh goresan pedang sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang kusut dan berbau debu medan perang Utara. Selir Grace adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki di istana yang membeku ini. Baginya, Grace bukan sekadar ibu, melainkan jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan perang. Alaric tumbuh sebagai pangeran yang diabaikan. Ia bukan lagi seorang Putra Mahkota, dan kehadirannya seringkali dianggap sebagai ancaman politik, sehingga ia dikirim ke medan perang di usia muda dengan harapan ia takkan pernah kembali. Namun, ia kembali sebagai pahlawan, hanya untuk mendapati ibunya meninggal dunia dan tunangannya membuangnya seperti sampah yang tidak lagi berharga. Brak! Pintu paviliun terbuka paksa. Sir Kael, ajudan setianya, masuk dengan wajah memerah karena amarah. "Pangeran, Anda harus mendengar ini. Kabar itu sudah dikonfirmasi oleh pihak istana. Raja telah menandatangani surat pembatalan tersebut!" Alaric tidak bergerak. Ia masih menatap nanar ke arah meja rias ibunya yang kini tak lagi berpenghuni. "Biarkan saja. Celestine memang selalu melakukan hal-hal gila untuk menarik perhatianku. Mungkin besok dia akan datang merangkak sambil menangis minta maaf." "Ini berbeda, Pangeran!" Kael memotong dengan nada mendesak, meletakkan salinan dokumen resmi di hadapan Alaric. "Ini bukan sekadar drama picisan. Celestine secara resmi melepaskan haknya sebagai calon istri pangeran untuk menjadi penerus Grand Duke Montclair. Dia memilih kekuasaan wilayah Barat daripada Anda." Mendengar kata 'kekuasaan', jemari Alaric berkedut. Perlahan, ia menoleh. Kabut duka di matanya perlahan tersibak, digantikan oleh bara amarah yang dingin. Ia menyambar dokumen itu dan membacanya dalam satu tarikan napas. Isinya singkat, formal, dan mematikan. Tidak ada permohonan maaf atau pun alasan emosional. Hanya pernyataan dingin bahwa kontrak politik ini telah berakhir. "Pewaris keluarga?" Alaric terkekeh, suara tawa yang kering dan mengerikan yang membuat Kael bergidik. "Gadis manja yang bahkan akan pingsan jika melihat setetes darah itu... ingin memimpin militer Barat? Dia pikir memimpin wilayah adalah seperti memilih perhiasan di butik?" Alaric berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sangat menekan—aura yang biasa ia keluarkan saat hendak memenggal kepala panglima musuh di perbatasan. Duka karena kematian ibunya kini bercampur dengan rasa terhina yang luar biasa. Baginya, waktu pembatalan ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah sebuah trik dari wanita gila yang haus perhatian ya. "Jadi kau benar-benar sedang mencari perhatianku ya, Celestine?" gumamnya dengan nada jengkel. Ia teringat sekilas wajah Celestine saat pemakaman kemarin. Gadis itu tidak menangis. Ia tidak mencoba mendekatinya untuk memberikan simpati yang palsu. Ia hanya berdiri di sana dengan mata ungu yang menatap peti mati ibunya dengan intensitas yang tidak biasa. "Siapkan kudaku!" perintah Alaric dengan nada rendah yang mengandung ancaman. "Pangeran? Anda baru saja kembali dari Utara, Anda belum tidur selama tiga hari—" "Siapkan kudaku, Kael! Sekarang!" Alaric membentak, suaranya menggelegar di seluruh paviliun. "Aku ingin melihat dengan mataku sendiri, permainan apa yang sedang dimainkan oleh mawar kecil Montclair itu. Jika dia ingin menarik perhatianku dengan cara menghina kematian ibuku, maka dia sudah berhasil." Alaric menyambar jubah hitamnya dan melangkah keluar. Jiwanya yang sudah 'mati' di medan perang kini dipaksa bangkit oleh api kemarahan. Ia tidak peduli jika ia harus menghancurkan gerbang kediaman Montclair sekalipun. Ia ingin menyeret Celestine keluar dan menanyakan secara langsung. Apa yang sebenarnya sedang wanita itu rencanakan? Ia membayangkan Celestine yang akan gemetar ketakutan saat melihatnya. Ia membayangkan Celestine yang akan segera berlutut dan memohon ampun begitu ia menatap matanya. Namun, Alaric tidak menyadari bahwa wanita yang menunggunya di kediaman Montclair saat ini bukanlah Celestine yang ia kenal selama bertahun-tahun. Di balik kemarahannya, Alaric belum menyadari bahwa ini bukan lagi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini adalah awal dari perang catur yang akan menentukan siapa yang akan bertahan hidup di kekaisaran yang mulai membusuk ini.Celestine melihat Elian mulai menanam benih-benih itu di tanah yang subur, gerakannya penuh kasih seolah sedang merawat sesuatu yang paling berharga di dunia."Bunga ini bernama Solara." jelas Elian sembari menepuk tanah dengan lembut. "Ia tidak butuh banyak air, ia hanya butuh kehadiran seseorang yang tulus menjaganya. Ia akan mekar dengan warna emas yang sangat cantik, persis seperti warna hatimu yang sebenarnya, Celestine."Celestine berjongkok di samping Elian, jemarinya menyentuh tanah yang hangat. Menggunakan sihir Aethel-flora miliknya untuk mempercepat pertumbuhan benihnya, Celestine mengerahkan seluruh pehatian dan kasih sayangnya pada tunas bunga itu. Seolah-olah ia bertelepati agar bunga ini cepat tumbuh dan mekar."Tunas ini kelak akan tumbuh menjadi bunga yang sangat indah." gumam Celestine, suaranya kini terdengar lebih tenang saat merasakan kehangatan tanah meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Untuk sejenak, bayangan Alaric yang sedang tersenyum pada Seraphina memudar
Pagi di kediaman Montclair biasanya membawa aroma embun dan mawar yang menenangkan, namun bagi Celestine, udara pagi ini terasa mencekik. Ia duduk di ruang makannya yang luas, menatap sebuah selebaran gosip istana, "The Royal Whispers", yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayannya dengan tangan gemetar.Di halaman depan, tertulis dengan tinta emas yang mencolok. "Cinta Bersemi di Bawah Pilar Kuil? Pangeran Mahkota Alaric mengirimkan rangkaian Lilac langka dan Mawar Putih tanpa duri kepada Lady Seraphina. Apakah ini pertanda bahwa sang Serigala telah menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan dari Mawar berduri?"Celestine meletakkan selebaran itu dengan perlahan. Tangannya tidak bergetar, namun dingin yang luar biasa mulai merambat dari ujung jemarinya, sebuah tanda bahwa mananya mulai beresonansi dengan ketakutan yang ia tekan jauh di dalam dirinya."Jadi... alurnya benar-benar kembali." bisik Celestine pada kesunyian ruangan.Dalam novel asli yang ia ingat, Seraphina ad
Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma
Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak
Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d
"Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli







