Share

006 - Alaric Mengamuk

Author: Chryztal
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-20 12:06:54

​"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!"

​Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya.

​Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya.

​Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan.

Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekaisaran, dianggap telah menunjukkan wajah asli mereka yang keji, sebuah keluarga tentara bayaran yang tidak punya hati, yang memutuskan hubungan dengan seorang pangeran justru saat sang pria sedang dalam masa berkabung.

​"Lihatlah keluarga Montclair itu. Mereka mencabut dukungan saat Selir Grace baru saja dikuburkan? Benar-benar mawar perak yang beracun." bisik seorang Baroness di balik kipas sutranya saat melewati gerbang istana.

​"Kudengar Lady Celestine yang merengek meminta pembatalan itu. Mungkin dia sadar Pangeran Alaric hanyalah pangeran buangan." timpal yang lain dengan nada sinis.

​Di dalam paviliun yang kini terasa dingin dan kosong, Alaric duduk di kursi kayu jati milik mendiang ibunya. Zirah perangnya yang penuh goresan pedang sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang kusut dan berbau debu medan perang Utara.

Selir Grace adalah satu-satunya kehangatan yang ia miliki di istana yang membeku ini. Baginya, Grace bukan sekadar ibu, melainkan jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan perang.

​Alaric tumbuh sebagai pangeran yang diabaikan. Ia bukan lagi seorang Putra Mahkota, dan kehadirannya seringkali dianggap sebagai ancaman politik, sehingga ia dikirim ke medan perang di usia muda dengan harapan ia takkan pernah kembali.

Namun, ia kembali sebagai pahlawan, hanya untuk mendapati ibunya meninggal dunia dan tunangannya membuangnya seperti sampah yang tidak lagi berharga.

​Brak!

​Pintu paviliun terbuka paksa. Sir Kael, ajudan setianya, masuk dengan wajah memerah karena amarah. "Pangeran, Anda harus mendengar ini. Kabar itu sudah dikonfirmasi oleh pihak istana. Raja telah menandatangani surat pembatalan tersebut!"

​Alaric tidak bergerak. Ia masih menatap nanar ke arah meja rias ibunya yang kini tak lagi berpenghuni. "Biarkan saja. Celestine memang selalu melakukan hal-hal gila untuk menarik perhatianku. Mungkin besok dia akan datang merangkak sambil menangis minta maaf."

​"Ini berbeda, Pangeran!" Kael memotong dengan nada mendesak, meletakkan salinan dokumen resmi di hadapan Alaric. "Ini bukan sekadar drama picisan. Celestine secara resmi melepaskan haknya sebagai calon istri pangeran untuk menjadi penerus Grand Duke Montclair. Dia memilih kekuasaan wilayah Barat daripada Anda."

​Mendengar kata 'kekuasaan', jemari Alaric berkedut. Perlahan, ia menoleh. Kabut duka di matanya perlahan tersibak, digantikan oleh bara amarah yang dingin. Ia menyambar dokumen itu dan membacanya dalam satu tarikan napas. Isinya singkat, formal, dan mematikan.

Tidak ada permohonan maaf atau pun alasan emosional. Hanya pernyataan dingin bahwa kontrak politik ini telah berakhir.

​

​"Pewaris keluarga?" Alaric terkekeh, suara tawa yang kering dan mengerikan yang membuat Kael bergidik. "Gadis manja yang bahkan akan pingsan jika melihat setetes darah itu... ingin memimpin militer Barat? Dia pikir memimpin wilayah adalah seperti memilih perhiasan di butik?"

​Alaric berdiri, auranya mendadak berubah menjadi sangat menekan—aura yang biasa ia keluarkan saat hendak memenggal kepala panglima musuh di perbatasan. Duka karena kematian ibunya kini bercampur dengan rasa terhina yang luar biasa. Baginya, waktu pembatalan ini bukan sekadar kebetulan, ini adalah sebuah trik dari wanita gila yang haus perhatian ya.

"Jadi kau benar-benar sedang mencari perhatianku ya, Celestine?" gumamnya dengan nada jengkel.

​Ia teringat sekilas wajah Celestine saat pemakaman kemarin. Gadis itu tidak menangis. Ia tidak mencoba mendekatinya untuk memberikan simpati yang palsu. Ia hanya berdiri di sana dengan mata ungu yang menatap peti mati ibunya dengan intensitas yang tidak biasa.

​"Siapkan kudaku!" perintah Alaric dengan nada rendah yang mengandung ancaman.

​"Pangeran? Anda baru saja kembali dari Utara, Anda belum tidur selama tiga hari—"

​"Siapkan kudaku, Kael! Sekarang!" Alaric membentak, suaranya menggelegar di seluruh paviliun. "Aku ingin melihat dengan mataku sendiri, permainan apa yang sedang dimainkan oleh mawar kecil Montclair itu. Jika dia ingin menarik perhatianku dengan cara menghina kematian ibuku, maka dia sudah berhasil."

​Alaric menyambar jubah hitamnya dan melangkah keluar. Jiwanya yang sudah 'mati' di medan perang kini dipaksa bangkit oleh api kemarahan. Ia tidak peduli jika ia harus menghancurkan gerbang kediaman Montclair sekalipun. Ia ingin menyeret Celestine keluar dan menanyakan secara langsung.

Apa yang sebenarnya sedang wanita itu rencanakan?

​Ia membayangkan Celestine yang akan gemetar ketakutan saat melihatnya. Ia membayangkan Celestine yang akan segera berlutut dan memohon ampun begitu ia menatap matanya. Namun, Alaric tidak menyadari bahwa wanita yang menunggunya di kediaman Montclair saat ini bukanlah Celestine yang ia kenal selama bertahun-tahun.

​Di balik kemarahannya, Alaric belum menyadari bahwa ini bukan lagi tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Ini adalah awal dari perang catur yang akan menentukan siapa yang akan bertahan hidup di kekaisaran yang mulai membusuk ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   296 - Akhir Kisah Celestine

    Bip... bip... bip...Suara berisik dari monitor detak jantung yang monoton menjadi hal pertama yang merayap masuk ke dalam kesadaran Celine. Rasa dingin yang menggigit dan aroma antiseptik yang tajam menyengat penciumannya, menggantikan aroma wangi mawar dan lavender yang biasa menenangkannya.Celine perlahan membuka matanya. Pandangannya buram, terhalang oleh silau lampu neon putih yang menusuk dari langit-langit bangsal rumah sakit. Tidak ada kubah kaca megah, tidak ada kanopi beludru, dan tidak ada kehangatan dada bidang Alaric yang biasanya mendekapnya erat."Pasien di kamar 405 sadar! Dokter, pasien koma selama dua tahun ini akhirnya sadar!"Suara panik perawat dan derap langkah kaki sibuk mengudara di sekelilingnya. Namun, Celine tidak memedulikan semua kebisingan itu. Tangannya yang dipasangi selang infus bergetar hebat saat ia meraba jari manis tangan kirinya. Kosong. Cincin emass bermaterikan permata amethyst yang menjadi saksi sumpah sehidup sematinya bersama Alaric tidak ad

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   295 - Bukan Akhir Yang Diharapkan

    Petir menyambar membakar langit malam Ethelwilde, disusul oleh deru angin badai yang menghantam dinding istana dengan brutal. Di dalam kamar utama yang temaram, suasana mencekam itu mendadak pecah oleh erangan kesakitan. Celestine meremas seprai tempat tidur dengan jemari yang memutih. Usia kandungannya baru menginjak delapan bulan, namun kontraksi hebat yang datang tiba-tiba memaksa anak kedua mereka untuk lahir lebih cepat dari perkiraan."Tahan, aku bersamamu, Sayang. Tarik napasmu." bisik Alaric parau. Wajah tampan sang Raja tampak luar biasa pucat, dipenuhi oleh kepanikan yang ia rasakan lebih daripada saat kelahiran Regulus. Ia menggenggam erat telapak tangan Celestine, menyalurkan mananya dengan kelembutan tertinggi untuk meredakan rasa sakit sang istri.Perjuangan hidup dan mati itu berlangsung dramatis di tengah kepungan badai malam. Setelah berjam-jam bertaruh nyawa di atas ranjang dengan sisa-sisa tenaganya, tangisan melengking seorang bayi perempuan akhirnya pecah, membe

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   294 - Ketakutan dan Rajukan Regi

    Kelopak mawar merah yang berguguran di sela-sela ranting pohon mawar merambat di taman kaca tampak seperti hujan keperakan yang lambat. Angin sore berembus tipis, membawa keharuman lavender yang pekat dan menenangkan sirkuit mana di dalam tubuh Celestine.Dua tahun telah berlalu sejak tawa renyah Regulus meramaikan lorong-lorong istana, dan kini, kebahagiaan di bawah atap kediaman agung Ethelwilde kembali membuncah. Celestine sedang mengandung anak kedua mereka. Usia kandungannya telah memasuki bulan kelima, membuat perutnya kini tampak membuncah bulat di balik gaun sutra longgar berwarna hijau mint yang ia kenakan.Namun, kehamilan kedua ini sukses mengubah sang Raja Agung menjadi sosok yang protektifnya sudah di luar batas kewajaran.Alaric benar-benar menolak membiarkan Celestine berada di luar jangkauan pandangannya lebih dari beberapa blok. Bahkan, demi tidak meninggalkan istrinya sendirian saat ia harus memeriksa tumpukan dokumen negara, Alaric dengan ugal-ugalan memerintahkan p

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   293 - Sosok Ayah Yang Hangat

    Tap, tap, tap!Suara derap langkah kaki kecil yang terburu-buru bergaung renyah di atas lantai marmer, seketika memecah keheningan koridor sayap barat Istana Utama Ethelwilde. Lorong-lorong megah yang empat tahun lalu terasa begitu dingin, kaku, dan sarat akan intimidasi politik, kini telah berubah total. Tempat itu kini dipenuhi oleh energi kehidupan yang teramat hangat, berkat kehadiran seorang balita berpipi gempal yang sedang berlari ugal-ugalan sambil memeluk sebuah boneka naga kain rajutan."Kuda! Cepat, Pangeran mau naik kuda!" pekik suara cempreng nan menggemaskan itu, memicu tawa renyah dari para pelayan istana yang berpapasan dengannya.Bocah laki-laki berusia tiga tahun itu bernama Regulus Alderwyn. Dia adalah putra pertama, sekaligus sang Putra Mahkota kecil Ethelwilde. Regulus mewarisi ketampanan dari ayahnya, sepasang netra safir biru malam yang berkilau tajam bak permata, serta helai rambut hitam pekat yang legam. Namun, berbeda dengan sang ayah yang irit senyum, sifat

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   292 - Tidak Ingin Kembali

    Satu minggu setelah suasana pesta pernikahan agung mereda, ketenangan yang meneduhkan perlahan kembali menyelimuti Istana Utama Ethelwilde. Pagi itu, sinar matahari menembus lembut tirai tipis kamar pribadi sang Ratu, menyiram meja marmer tempat Celestine duduk bersantai dengan segelas teh Chamomile madu hangat yang masih mengepulkan aroma wangi.Di atas meja tersebut, berjejer beberapa kotak beludru besar berhiaskan ukiran permata dari kerajaan seberang—hadiah pernikahan susulan yang baru saja tiba melalui jalur laut. Namun, perhatian Celestine tidak tertuju pada kilaunya emas atau sutra mewah di dalam kotak-kotak itu. Sepasang netra amethyst-nya terfokus sepenuhnya pada selembar kertas perkamen beraroma wangi bunga melati yang sedang ia pegang.Itu adalah surat dari kakak perempuannya, Aureliane.“Untuk adik kecilku tercinta, Celestine.” tulis Aureliane dengan guratan tinta emas yang rapi dan anggun. “Maafkan kakakmu yang tidak bisa hadir di hari paling megah dalam hidupmu. Tabib ke

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   291 - Hari Yang Dinantikan

    Gema ribuan lonceng emas dan perak kembali bersahutan membelah langit ibu kota, tetapi hari ini getarannya terasa jauh lebih hangat dan membahagiakan. Tidak ada lagi sisa ketegangan politik atau bayang-bayang kelam dari kudeta masa lalu. Hari yang dinantikan oleh seluruh pelosok kekaisaran Ethelwilde akhirnya tiba. Ribuan rakyat berkumpul di sepanjang jalan protokol sejak matahari belum sepenuhnya terbit, melambaikan bendera kerajaan dan menaburkan kelopak bunga ke udara. Seluruh ibu kota seolah menjelma menjadi lautan pesta yang penuh dengan sorak-sorai suka cita.Di dalam Katedral Agung Elidyr, kemegahan dekorasi hari itu benar-benar memanjakan mata siapa pun yang memandangnya. Sesuai dengan instruksi rahasia yang dipesan langsung oleh sang Raja, seluruh sudut dinding batu katedral dihias indah oleh rangkaian bunga abadi dan hamparan bunga mawar dan bunga camelia segar. Aroma wangi yang menenangkan dan manis menguar di udara, menciptakan atmosfer sakral yang terasa begitu intim dan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status