Share

111 - Busur Rusa Bulan Perak

Author: Chryztal
last update publish date: 2026-03-13 23:36:18
Aroma tanah basah dan wangi bunga yang baru mekar memenuhi udara di taman belakang kediaman Montclair. Celestine berjongkok di antara deretan tanaman obat, jemarinya yang terbungkus sarung tangan kulit tipis dengan telaten memangkas dahan-dahan yang layu. Tidak ada lagi getaran keraguan dalam gerakannya. Sejak ia memutuskan untuk berhenti menjadi budak dari alur novel yang menghantuinya, dunianya terasa jauh lebih luas.

Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi seluruh ibu kota.

Di atas meja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   276 - Puing-Puing Takdir

    "Setelah kupikir-pikir lagi, lebih baik lemparkan dia ke kedalaman Sektor Ketujuh, pastikan belenggu besi hitam menekan sirkuit mana mereka." perintah Alaric, suaranya yang bariton menggema dingin di koridor yang masih menyisakan bau anyir darah.Para ksatria pengawal langsung menyentak tubuh Julian yang sudah terkulai lemas, sementara di sisi lain koridor, Caelum mendorong Seraphina yang terus merancau dalam kegilaan psikologisnya. Langkah kaki mereka yang terseret menjauh menandai runtuhnya faksi pemberontak untuk selamanya. Di saat yang sama, tabib istana berlari terburu-buru membawa ramuan penawar murni yang diracik dari ekstrak tumbuhan Barat milik Celestine; racun Mortis-Gutta di tubuh Raja Alderwyn akhirnya berhasil dinetralkan tepat waktu, menghentikan masalah detak jantung sang penguasa tua dari ambang kematian.Saat kegaduhan perlahan menyurut menjadi keheningan yang melelahkan, Celestine—atau lebih tepatnya, jiwa Celine yang berada di dalam tubuh itu—melangkah menjauh dari

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   275 - Tikus Kecil yang Tertangkap

    Gema derap langkah ksatria yang menyeret tubuh bonyok Pangeran Julian perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang ganjil di dalam aula Emas. Di atas podium takhta yang kini ternoda oleh cipratan darah pengkhianat, Alaric berdiri tegak memandangi sisa-sisa kehancuran dengan napas yang mulai teratur. Di sampingnya, Celestine menghela napas panjang, membiarkan tubuhnya bersandar lemas pada pilar marmer, merasakan perlahan badai di dalam sirkuit mananya mulai mereda. Kudeta di dalam ruang takhta memang telah diredam dengan pukulan telak, namun di luar sana, sisa-sisa racun dari faksi pemberontak ini masih mencoba mencari celah untuk meloloskan diri.Di koridor luar istana yang pengap dan dipenuhi sisa asap mesiu, Caelum melangkah gesit membelah barisan ksatria Montclair. Sepasang mata gelapnya memancarkan kilat ketajaman yang teramat dingin. Beberapa menit yang lalu, seekor burung merpat pembawa pesan memberikan pesan singkat dari mata-mata klan Devereux di perbatasan utara "Kuil pengasi

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   274 - Kemarahan Alaric

    Detik ketika bilah pedang Julian seharusnya menembus gaun Celestine, suara dentuman yang jauh lebih keras daripada suara pintu kayu mana pun meledak di seluruh ruangan. Pintu kembar aula Emas yang tadinya sudah rusak akibat dobrakan ksatria Montclair, sekarang meledak berkeping-keping tidak terbentuk, menghujani lantai marmer dengan puing-puing kayu yang berserakan bagai peluru.KLANG!Sebuah pedang besar dengan guratan mana hitam yang pekat menghantam pedang Julian dengan kekuatan yang sanggup meremukkan fondasi ruang takhta. Getaran dari benturan itu begitu dahsyat hingga lantai di sekitar mereka retak berbentuk jaring laba-laba. Julian terlempar mundur beberapa langkah, tubuhnya terhuyung dengan napas yang memburu kencang, matanya membelalak saat mendapati sosok yang berdiri kokoh di depannya.Alaric. Sang Putra Mahkota yang sah sejak lahir telah tiba, matanya menyala dengan kebencian murni yang sanggup membakar jiwa siapa pun yang menatapnya."Kau berani menyentuhnya?" suara Alari

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   273 - Nekat

    "Kau pikir kau siapa, hah?! Hanya karena kau memegang selembar kertas sialan itu, kau merasa bisa mendikte jalannya takdirku?!" raung Julian, suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang pangeran, melainkan lengkingan binatang buas yang terluka dan terpojok di sudut tergelap gua.Gema makiannya memantul kasar pada pilar-pilar emas aula, namun atmosfer di sekitarnya tetap bergeming dalam kebekuan yang menghina. Konfrontasi yang memojokkan dirinya kian menjadi-jadi. Di bawah tatapan menghakimi dari puluhan pasang mata bangsawan tinggi dan Dewan Tetua, posisi Julian telah benar-benar terkunci mati di sudut tersempit takdirnya. Tidak ada satu pun tangan yang terulur untuk membelanya, tidak ada satu pun ksatria istana yang melangkah maju untuk melindunginya.Dalam kepanikan yang kian menguliti sisa kewarasannya, sepasang mata Julian bergerak liar, menyapu sudut-sudut tirai beludru di belakang podium takhta. Ia mencari satu-satunya sekutu setianya, sosok yang telah mengikat janji dosa den

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   272 - Terpojok

    Gulungan dokumen bersegel lilin biru malam itu dilemparkan Celestine dengan gerakan yang teramat santai namun penuh penekanan. Gulungan perkamen itu menggelinding di atas lantai marmer aula Emas, berhenti tepat di undakan pertama podium takhta, tepat di bawah sepasang mata Julian yang melebar panik. Di belakang Celestine, Caelum melangkah masuk membawa sebuah kotak kayu hitam yang langsung dibuka, menumpahkan belasan lencana ular perak kuno dan salinan manifes perdagangan pasar gelap ke atas lantai.Atmosfer di dalam balairung yang semula mencekik kini berubah menjadi riuh oleh kepanikan masal yang meledak dari barisan para penasihat kerajaan dan menteri faksi netral. Mereka semua mengenali segel magis pada dokumen itu—segel resmi Kementerian Logistik yang seharusnya telah dibekukan pasca eksekusi Selir Alice."Buka mata kalian dan lihatlah baik-baik, para Tetua Kekaisaran yang agung." suara Celestine mengalir jernih, bergema menembus ketakutan yang merajai ruangan. Ia menunjuk dokum

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   271 - Kemarahan Celestine

    "Buka pintunya!" perintah Celestine, suaranya mengalir jernih namun sedingin es yang membeku di puncak gunung utara.BRAKK!Dua ksatria Montclair menghantamkan perisai baja mereka secara serentak, mendobrak paksa pintu kembar aula berlapis emas hingga terbuka lebar. Dentum hantamannya bergema dahsyat, memotong paksa kepanikan dan kasak-kusuk ketakutan yang sejak tadi merajai ruangan mahakarya kekaisaran tersebut.Celestine melangkah masuk dengan keanggunan seorang lady berkuasa yang teramat menawan namun mematikan. Sisa-sisa energi sihir dari pelepasan Verdant Domain masih berpendar halus di sekitar tubuhnya, menciptakan aura lavender tipis yang meliuk-liuk bagai kelopak mawar perak tak kasat mata. Gaunnya sedikit terkoyak di bagian bawah, menyapu lantai marmer yang bersih dengan sisa bercak darah musuh yang mengering. Rambut peraknya melayang halus seiring langkah kakinya yang konstan dan penuh penekanan. Ia tampak bagai seorang dewi kematian yang datang untuk menjemput nyawa para p

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   105 - Kekhawatiran Celestine yang Berlebihan

    Pagi di kediaman Montclair biasanya membawa aroma embun dan mawar yang menenangkan, namun bagi Celestine, udara pagi ini terasa mencekik. Ia duduk di ruang makannya yang luas, menatap sebuah selebaran gosip istana, "The Royal Whispers", yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayannya dengan ta

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   097 - Terus Menyangkal Perasaan Yang Mengganggu

    "Kau memegang pusat manamu terlalu kaku, Celestine. Jika kau terus memperlakukannya seperti bendungan yang menahan air, maka saat ia meluap, tubuhmu sendirilah yang akan hancur pertama kali." Suara bariton Alaric memecah kesunyian hutan belakang kediaman Montclair. Di bawah naungan pepohonan kuno

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   083 - Ketakutan Alaric

    Dingin. Kehampaan yang merayap di dada Celestine jauh lebih membekukan daripada udara gua yang lembap. Di sekelilingnya, genangan darah dan sisa-sia pertempuran brutal Alaric menjadi saksi bisu kebuasan yang baru saja terjadi. Alaric berdiri hanya beberapa langkah darinya, pedangnya masih menetesk

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   082 - Bayangan Kematian Oleh Pengeran

    ​BUM!​Pintu besi di ujung ruangan meledak menjadi serpihan, puing-puing logam dan batu beterbangan dengan kecepatan mematikan. Alaric menyerbu masuk seperti iblis yang baru saja dilepaskan dari neraka. Auranya yang pekat dan dingin segera menyelimuti seluruh gudang, menyingkirkan kabut ungu Celest

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status