LOGINKetika kesadaran Yangxiang kembali, hal pertama yang dirasakannya adalah aroma bunga.Bukan bau kamar penginapan.Bukan pula aroma obat.Aroma yang lembut dan mahal.Ia membuka mata perlahan.Langit-langit kamar tinggi dengan ukiran kayu yang rumit terbentang di atasnya. Tirai sutra menggantung di sisi tempat tidur. Lampu minyak berlapis emas menerangi ruangan yang begitu mewah hingga Yangxiang sempat lupa bahwa dirinya baru saja diculik.Ia mencoba bangun.Kepalanya masih berat.Pintu kamar terbuka.Seorang lelaki masuk.Qiu Hui.Lukanya masih terlihat. Perban melilit bagian tubuhnya, tetapi wajahnya tetap tenang."Jangan bangun terlalu cepat."Suara itu masih sama.Lembut.Tenang.Seolah mereka sedang bertemu di sebuah kedai, bukan setelah dirinya diculik.Yangxiang menatapnya."Kau..."Qiu Hui tersenyum."Aku tahu kau marah.""Kenapa kau menculikku?""Aku tidak ingin kau terluka.""Ini bukan jawaban."Qiu Hui berjalan mendekat."Kalau aku membiarkanmu tetap bersama Wu Keming, merek
Malam semakin larut setelah duel Wu Keming dan Huang Liang.Di ruang utama penginapan, suasana kembali tenang.Yangxiang tidak ikut berkumpul.Sejak sore tubuhnya terasa lebih mudah lelah. Zhushu sudah memeriksanya dan memberikan obat penguat tubuh yang aman untuk kehamilan awal."Minum ini sebelum tidur," pesan Zhushu.Yangxiang menurut."Aku merasa merepotkan kalian."Zhushu menggeleng."Kau sedang membawa satu kehidupan. Istirahat bukan merepotkan."Yangxiang tersenyum kecil.Setelah itu ia kembali ke kamarnya.Sementara itu, di ruang utama, Huang Liang mengeluarkan sangkar kecil.Seekor Burung Awan Patah berada di dalamnya."Li Huatang."Li Huatang menoleh."Ini untukmu."Ia menyerahkan sangkar tersebut."Gunakan burung ini untuk mengirim laporan kepada gurumu. Jauh lebih cepat daripada pengantar biasa."Li Huatang menerimanya."Terima kasih."Huang Liang mengangguk."Kalian juga bisa menggunakannya jika menemukan sesuatu selama berada di kota."Wu Keming tersenyum."Kalau begitu
Malam semakin larut, tetapi halaman penginapan justru semakin ramai.Huang Liang berdiri beberapa langkah di hadapan Wu Keming.Ia tidak menghunus pedang.Tidak pula mengambil sikap bertarung.Hanya tersenyum sopan."Aku sudah lama mendengar tentangmu."Wu Keming menggaruk kepala."Semoga yang kau dengar bukan soal aku sering tersesat."Huang Liang tertawa kecil."Justru itu yang paling sering kudengar."Li Huatang menahan senyum.Wu Keming menoleh kepadanya."Kau juga?""Tentu."Di samping Li Huatang, Huang Jiayu duduk dengan tenang.Ia menatap ayahnya."Ayah mau melawan Om Wu?"Huang Liang menggeleng."Bukan melawan.""Kalau begitu apa?"Huang Liang tersenyum."Hanya bertukar sedikit ilmu."Huang Jiayu mengangguk.Kemudian ia menoleh kepada Li Huatang."Tante Li, aku boleh duduk di sini?""Silakan."Huang Liang menatap anaknya."Jiayu, duduk di dekat Ayah.""Tidak."Jawaban itu begitu cepat sampai semua orang terdiam.Borise bahkan menghentikan kunyahannya.Huang Liang menarik napas
Malam semakin larut ketika penginapan mulai sepi.Di salah satu kamar, Wu Keming, Li Huatang, dan Yangxiang masih berbicara."Kita harus berhati-hati besok," kata Li Huatang. "Kalau Qiu Hui memang pernah tinggal di kota ini, pasti ada orang yang mengenalnya."Yangxiang mengangguk."Aku akan mencoba mengingat siapa saja yang pernah dekat dengannya."Wu Keming duduk bersandar."Jangan terlalu memaksakan diri.""Aku ingin tahu kebenarannya.""Aku tahu."Yangxiang tersenyum tipis.Di luar jendela, malam tampak tenang.Namun sebenarnya, sejak mereka memasuki kota, seseorang sudah mengikuti mereka.Seorang lelaki berpakaian hitam berjongkok di atas atap penginapan.Matanya mengarah ke jendela kamar.Ia mendengarkan setiap kata."Qiu Hui...""Perguruan...""Racun Tulang Hitam..."Lelaki itu semakin mendekat.Ia begitu fokus sampai tidak menyadari bahwa di sampingnya...sudah ada seseorang.Borise.Lelaki besar itu sedang jongkok dengan tenang.Di tangannya terdapat sebuah bakpao.Ia melihat
Malam itu mereka berhenti di sebuah penginapan kecil di pinggir kota.Setelah makan malam, Yangxiang akhirnya menceritakan semuanya.Tentang lelaki bernama Qiu Hui.Pertemuan pertama mereka terjadi setelah Yangxiang kembali bertengkar dengan beberapa anggota Mohua mengenai keinginannya membuka perguruan terhadap dunia luar."Dia bertanya kenapa aku terlihat murung."Yangxiang menatap nyala lampu minyak."Aku tidak menjawab."Wu Keming bertanya, "Dia memaksa?""Tidak.""Memberimu nasihat?""Kadang.""Memintamu melakukan sesuatu?"Yangxiang menggeleng."Tidak pernah."Li Huatang menatapnya."Jadi apa yang sebenarnya dia lakukan?"Yangxiang tersenyum kecil."Dia mendengarkan."Ruangan menjadi sunyi."Dia bilang terkadang seseorang tidak membutuhkan nasihat. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan."Yangxiang menunduk."Setelah itu kami beberapa kali bertemu.""Apa yang dia katakan?" tanya Li Huatang."Dia berkata Mohua terlalu lama hidup dalam ketakutan. Bahwa dunia luar
Perjalanan meninggalkan Gunung Mohua ternyata tidak berjalan setenang yang dibayangkan.Baru beberapa jam berjalan, Wu Keming sudah berhenti."Sebentar."Yangxiang menoleh."Ada apa?"Wu Keming menunjuk sebuah persimpangan."Kita pernah lewat sini."Li Huatang menatapnya."Kita belum pernah lewat sini."Wu Keming mengerutkan kening."Yakin?""Sangat."Borise melihat papan penunjuk arah di pinggir jalan."Kota di kiri."Wu Keming menunjuk kanan."Kita ke kanan."Li Huatang menghela napas."Kenapa?""Karena jalan kiri terlihat lebih panjang."Zhushu tertawa."Jadi?"Wu Keming menjawab serius,"Jalan yang panjang biasanya menuju tempat yang jauh."Li Huatang menatapnya lama."Logikamu semakin hari semakin berbahaya."Mereka akhirnya mengikuti Wu Keming.Dua jam kemudian mereka menemukan sebuah desa.Yangxiang melihat papan namanya."Kita kembali ke desa yang tadi."Wu Keming berhenti."Oh."Li Huatang menutup wajah."Hebat."Borise mengangguk pelan."Kita berputar."Wu Keming melihat ke







