Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Perang yang Tidak Dipahami

Share

Perang yang Tidak Dipahami

Author: Ocyobot
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-05 20:31:10

Dentuman genderang perang menggema di perbatasan utara.

Debu tebal membumbung di atas padang luas. Pasukan bangsa utara terus mendesak maju, sementara barisan pertahanan kerajaan mulai kehilangan kekuatan.

Di tengah pertempuran, Li Dihua mengayunkan pedangnya dengan anggun namun mematikan. Setiap gerakannya berhasil menahan serangan para prajurit berkuda yang berusaha menerobos barisan.

“Jangan biarkan mereka menembus pertahanan!” serunya.

Di sisi lain, para pendekar Jianghu juga bertarung tanp
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Perang yang Tidak Dipahami

    Dentuman genderang perang menggema di perbatasan utara.Debu tebal membumbung di atas padang luas. Pasukan bangsa utara terus mendesak maju, sementara barisan pertahanan kerajaan mulai kehilangan kekuatan.Di tengah pertempuran, Li Dihua mengayunkan pedangnya dengan anggun namun mematikan. Setiap gerakannya berhasil menahan serangan para prajurit berkuda yang berusaha menerobos barisan.“Jangan biarkan mereka menembus pertahanan!” serunya.Di sisi lain, para pendekar Jianghu juga bertarung tanpa henti. Moxian memimpin para murid Mohua yang ikut membantu, sementara Wu Jian bersama pendekar Pedang Wu menjaga sisi pertahanan yang mulai rapuh.Namun, pasukan utara seolah tidak mengenal lelah.Para panglima mereka terus memimpin serangan dengan semangat tinggi. Bahkan ketika beberapa prajurit terluka, barisan mereka tetap bergerak maju.Di belakang pasukan, Kubai Khan berdiri di atas kudanya, mengamati medan perang.Kehadirannya membuat para panglima utara semakin bersemangat.“Yang Mulia

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Titah Penumpasan

    Suasana ibu kota mendadak berubah muram ketika sebuah rombongan memasuki gerbang istana.Qiu Lan berjalan dengan wajah pucat. Di belakangnya, para pengawal membawa sebuah tandu tertutup kain putih.Jenazah Shen Lang.Raja segera memanggil para pejabat penting untuk menghadiri sidang darurat. Di aula utama, Perdana Menteri Chou Ye, He Ming, Menteri Perang Lu Wenqiao, dan Menteri Keuangan Shen Yizhong telah hadir.Qiu Lan berlutut di hadapan takhta.“Yang Mulia, Shen Lang telah gugur. Ia menjadi korban kekejaman orang-orang wilayah barat. Mereka juga bekerja sama dengan orang-orang Miao yang menggunakan racun untuk menyerang para jenderal kerajaan.”Aula mendadak gaduh.Qiu Lan melanjutkan laporannya.“Kelompok-kelompok tersebut bukan sekadar pemberontak biasa. Mereka adalah sekte iblis jahat yang mengancam keamanan kerajaan. Jika dibiarkan, mereka akan semakin berani melawan kekuasaan istana.”Chou Ye mengerutkan kening.“Apakah bukti keterlibatan orang-orang Miao telah dipastikan?”“S

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Duka Sang Pemilik Burung

    Malam itu, di sebuah tempat yang jauh dari perkemahan Wu Keming, Qiu Lan berdiri memandangi Shen Lang yang terbaring lemah.Racun dari jarum perak Zhushu masih membuat tubuh Shen Lang kesakitan. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, sementara Qi dalam tubuhnya terus bergejolak.“Qiu Lan… apa yang sebenarnya terjadi?” Shen Lang bertanya dengan susah payah.Qiu Lan mengepalkan tangan.Ia teringat perintah Qiu Hui.Bunuh Shen Lang.Perintah itu terus terngiang di kepalanya. Qiu Lan tahu, jika ia membiarkan Shen Lang hidup, kakaknya tidak akan pernah memaafkannya. Namun, membunuh seseorang yang sudah tak berdaya juga membuat hatinya gelisah.“Maafkan aku.”Qiu Lan mengeluarkan sebotol kecil racun.Racun Tulang Hitam.Ia menuangkannya ke mulut Shen Lang. Tubuh pria itu langsung menegang. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggeliat dan merintih.Qiu Lan memalingkan wajah. Tangannya gemetar.Ia tidak berani melihat terlalu lama.Beberapa saat kemudian, Shen Lang terkulai. Qi

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Tabib yang Membuat Jenderal Bertekuk Lutut

    Pagi itu, suasana perkemahan Wu Keming mulai ramai.Di dalam tenda perawatan, empat orang dari utara akhirnya membuka mata.Putri Altani mengerjap beberapa kali. Tubuhnya masih terasa lemah setelah pertarungan sebelumnya. Ketika mengingat bagaimana Wu Keming berhasil mengalahkannya, wajahnya sedikit memanas.Di ranjang sebelah, Batu terbaring dengan tubuh dibalut perban begitu rapat hingga hampir seluruh badannya tertutup. Hanya kedua mata dan hidungnya yang terlihat.“Panglima Batu…” Altani menatapnya prihatin.Batu menggerakkan matanya.“Aku masih hidup.”“Syukurlah.”“Namun, siapa yang membalutku seperti ini?”Zhushu yang sedang merapikan obat menjawab santai, “Agar kau tidak bergerak dan merusak lukamu sendiri.”Batu terdiam.Ketika mereka keluar dari tenda, Wu Keming, Borise, dan Zhushu sedang menikmati sarapan.Altani segera menghampiri Wu Keming. Tatapannya langsung tertuju pada bahu pria itu yang masih dibalut.“Bagaimana keadaan bahumu?”Wu Keming tersenyum santai.“Sudah jau

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pertahanan yang Mulai Retak

    Laporan dari wilayah barat akhirnya tiba di istana.Shen Lang menuliskan bahwa pemeriksaan wilayah telah selesai dilakukan. Ia mengklaim sejumlah perguruan Jianghu masih menunjukkan sikap membangkang, sementara penduduk Miao dianggap tidak cukup patuh terhadap pemerintahan kerajaan.Namun, laporan itu tidak menyebutkan penghinaan yang dialaminya di Desa Miao.Di dalam aula istana, Chou Ye membaca dokumen tersebut dengan wajah muram.“Shen Lang kembali menyebut wilayah barat tidak stabil.”Pei Rong mengamati laporan itu.“Informasi ini belum dapat dipastikan. Laporan dari pengawas daerah berbeda dengan yang disampaikan Shen Lang.”Raja menghela napas berat.“Utara juga terus mengirimkan kabar buruk. Berapa lama keadaan seperti ini akan berlangsung?”Tidak ada pejabat yang mampu memberikan jawaban pasti.---Di perbatasan utara, keadaan semakin kacau.Kelompok-kelompok pasukan dari bangsa padang rumput terus berusaha menerobos wilayah Kerajaan Tengah. Pertempuran kecil terjadi di bebera

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bencana di Desa Miao

    Desa Miao di wilayah barat tampak tenang di bawah sinar matahari pagi.Penduduknya menjalani kehidupan sederhana. Sebagian bekerja di ladang, sebagian meracik obat-obatan tradisional, sementara anak-anak bermain di antara rumah kayu.Namun, ketenangan itu segera terusik ketika rombongan Shen Lang memasuki desa.Shen Lang turun dari kudanya dengan wajah angkuh. Ia memandang rumah-rumah sederhana dan penduduk yang segera menundukkan kepala ketika melihat rombongan pejabat kerajaan.“Jadi, inilah desa Miao yang terkenal itu?” katanya sambil tertawa kecil. “Ternyata jauh lebih miskin daripada yang kubayangkan.”Qiu Lan berdiri di belakangnya. Ia sebenarnya sudah lelah dengan sikap Shen Lang yang semakin hari semakin menyebalkan.Seorang tetua desa maju menyambut mereka.“Selamat datang, Tuan. Apakah ada keperluan kerajaan di desa kami?”Shen Lang tidak menjawab dengan sopan.“Kerajaan sedang memeriksa wilayah barat. Kalian harus memberikan laporan mengenai penduduk, hasil bumi, dan kegiat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status