Share

Bab 2

Penulis: Ungu
Sebenarnya, begini ceritanya.

Aku mendapat tiga tiket ke resor pemandian air panas dari seorang rekan kerja, jadi berniat untuk mengajak pacar dan calon ibu mertuaku.

Ibu pacarku bernama Lenny, berusia 40 tahun. Tapi dia sangat cantik, dewasa, dan seksi, wanita yang benar-benar memikat.

Lenny memiliki bentuk tubuh yang seksi, dengan lekuk yang sempurna. Dia suka mengenakan rok ketat yang menonjolkan kontur pantatnya yang bulat dan kencang, membuat orang ingin meremas sepuasnya.

Oleh karena itu, setelah mendapatkan tiket pemandian air panas, Bibi Lenny adalah orang pertama yang terlintas di benakku.

Hanya membayangkannya mengenakan baju renang, terlihat begitu seksi dan menawan, membuatku sangat bersemangat.

Namun, Lenny tidak bisa berenang dan belum pernah ke pemandian air panas sebelumnya, jadi dia tidak memiliki baju renang.

Oleh karena itu, pacarku yang berbakti membelikannya saat di lobi.

Ketika Bibi Lenny mengenakannya, dia baru menyadari bahwa baju renang itu tidak hanya terlalu kecil, tetapi juga sangat terbuka.

Kain tipis itu sama sekali tidak mampu menutupi sosoknya yang menggoda, terutama payudaranya yang besar dan penuh, seperti dua bom yang bergoyang saat dia berjalan, seolah akan meledak dari pakaian renang itu.

Selain itu, bantalan di cup-nya juga sangat tipis, sama sekali tidak menutupi, malah menciptakan lekukan yang menggoda.

Pemandangan itu membuat tubuhku panas dan aku terpaku.

Kecantikan dan bentuk tubuh Bibi Lenny yang menawan, menarik perhatian banyak pria, membuatnya merasa tidak nyaman.

“David, Cecilia, kita cari tempat yang lebih sepi saja deh,” bisik Bibi Lenny.

Bibi Lenny merasa sedikit tidak nyaman di bawah tatapan orang-orang di sekitarnya. Tangannya secara refleks menutupi dadanya, tapi malah secara tidak sengaja memperdalam belahan payudaranya.

Dia melirikku dengan gugup.

Mengerti ketidaknyamanannya, aku segera mengarahkan kami ke kolam kosong bernama "Kolam Anggur Merah".

Namun begitu Bibi Lenny memasuki kolam renang, tali baju renangnya putus.

Saat pakaian itu terlepas, aku menyaksikan dua payudara putih besar mantul keluar.

Pemandangan itu benar-benar menakjubkan, bagaikan badai yang bergemuruh dan bergejolak!

Dua gundukan daging lembut itu jatuh ke permukaan air, dadanya berkilauan karena air panas, bahkan membawa aroma yang lembut dan menggoda.

Aku terpaku, merasa darahku berdesir ke satu tempat.

Begitu besar, begitu putih!

Aku sangat ingin melangkah maju, meraih kedua payudara ukuran F itu, dan meremasnya kuat.

Bibi Lenny tersentak kaget, menjerit, lalu dengan cepat menutupi dirinya dengan kedua tangan, wajahnya memerah karena malu.

Namun, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan payudara montoknya itu.

“Cecilia, baju renang apa yang kau beli ini? Jelek kali kualitasnya!”

Bibi Lenny tak bisa menahan diri untuk memarahi putrinya.

Namun, pacarku menjelaskan dengan tertawa, “Ma, bukan karena kualitasnya jelek, tapi ukuranmu terlalu besar. Mereka nggak ada ukuranmu!”

Setelah mengatakan itu, dia menggoda ibunya beberapa kali, jarinya bermain-main dengan puting yang basah, sehingga tubuh Bibi Lenny bergetar sedikit.

Hasratku meluap, air liurku hampir menetes.

Bibi Lenny dengan cepat menepis tangan pacarku, gugup dan kesal.

“Dasar kurang ajar, jangan gitu! Pacarmu masih melihat!”

Pacarku terkekeh, menutup mulutnya, dan menatapku dengan tajam.

“Jangan mengintip! Aku pergi beli baju renang baru yang lebih baik.”

Lalu, dia pergi, meninggalkan Bibi Lenny dan aku di kolam.

Hatiku berdebar dengan hasrat, tergoda untuk mengintip, namun posisiku sebagai calon menantu menahanku.

Ibu mertuaku menutupi dadanya dengan kedua tangan, wajahnya memerah dan menundukkan pandangannya dengan tidak nyaman.

Kami berdua tidak tahu harus berkata apa, dan tepat ketika suasana menjadi canggung, tiga pria memasuki kolam pemandian air panas.

Terkaget, Bibi Lenny berpaling dan bersembunyi dalam pelukanku.

Darahku mendidih karena terangsang, sementara Bibi Lenny yang masih agak linglung, tidak bereaksi sama sekali.

Sebuah tangan kecil yang lembut dan halus langsung menjangkau ke dalam air. Seluruh tubuhku bergetar, jiwaku hampir terbang.

Ibu mertuaku tersentak kaget, akhirnya menyadari apa yang terjadi. Seperti menyentuh kentang panas, dia cepat-cepat menarik tangannya.

Tapi saat itu, pipinya memerah seperti tomat, kemerahan menyebar ke leher dan telinganya.

Tangannya mengepal sedikit, seolah mengenang ukuranku, sorot matanya berubah.

“Ayo kita ke sana,” bisiknya serak, menunjuk ke sudut.

“Di sana ... lebih aman.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 10

    “Kau ... kau berpura-pura!” Ekspresi Lenny berubah.Alih-alih menjawab, aku membalas, “Bibi, kau sudah lama sendirian. Paman selalu pergi dinas. Pasti kau menginginkan kepuasan, kan?”Saat berbicara, aku menarik selimut ke samping, menempelkan diriku di atas ibu mertuaku. Tanganku langsung masuk ke dalam pakaiannya, meraih dan meremas payudaranya yang montok dan lembut.Lenny berontak, tapi aku semakin berani, tanganku yang lain bergerak ke perutnya dan masuk ke dalam gaun tidurnya dari bawah. Tubuh bagian bawahnya sudah becek, seolah-olah sudah siap untuk tindakan selanjutnya. “Bibi, kau belum puas tadi, kan? Maukah aku mengisi kekosongan itu?”Sambil berbicara, aku meraih tangan ibu mertuaku dan menempatkannya di alat kelaminku. Lenny menarik tangannya seketika, alisnya berkerut. “David, kau ... kau benar-benar berniat melakukan ini?” Lenny menatapku dengan tatapan memelas, dan menghela napas. “Aku berharap kau memikirkannya dengan matang. Setelah kau lakukan ini, gimana kau bi

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 9

    Astaga, apa dia berfantasi tentangku sebagai orang yang mengisi kekosongannya? Memikirkannya saja sudah sangat menggairahkan! Karena takut membangunkanku, dia melanjutkan sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.“Mmmm ....” Suara tertahan namun penuh gairah itu membuat darahku berdesir. Tapi aku tahu harus menahan diri sekarang, menunggu momen yang tepat untuk menaklukkan wanita dewasa yang menawan di hadapanku. Seperti harimau yang mengincar mangsanya, aku menikmati sosok indah Bibi Lenny saat dia menyerah pada hasratnya.Kepalanya sedikit mendongak, mata indahnya yang berair menyipit. Rambut panjangnya terurai di bahunya, sementara butiran keringat berkilau di kulitnya yang putih seperti salju. Karena terlalu terangsang, seluruh tubuh Lenny memerah. Aku belum pernah melihat pemandangan yang begitu menggairahkan dalam hidupku. Namun, aku merasa ibu mertuaku masih terlalu menahan diri, dia butuh lebih banyak rangsangan.Dengan pikiran itu, pandanganku tertuju pada remote kont

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 8

    Entah mengapa, setiap kali dia memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan David, dia menjadi sangat sensitif. Hampir tanpa sadar, Lenny membawa celana dalam itu kembali ke kamarnya.Dia mendekati tempat tidur, mengambil vibrator yang sudah lama tidak digunakan dari meja samping tempat tidur, lalu berbaring, menghirup aroma dari celana dalam itu dengan penuh gairah. Hasrat di dalam dirinya semakin kuat.Hubungannya dengan David agak istimewa, mereka tidak bisa berhubungan seks, namun hubungan itu sangat ambigu.Bagi mereka berdua, itu adalah suatu bentuk siksaan.“Meskipun nggak bisa berhubungan seks dengan calon menantuku, aku boleh berfantasi tentangnya, kan?”Hasrat batinnya menjadi tak terkendali. Lenny membuka kakinya, berserah pada sensasi itu.Desahan merdunya bergema di seluruh ruangan.“Mmm ... oh ....”Saat itu juga, aku pulang ke rumah.Toleransiku terhadap alkohol buruk, baru minum 3 botol sudah membuat kepalaku pusing, jadi aku pulang lebih awal.Aku membuka pintu dengan ku

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 7

    “Bibi, sini kubantu.” Dapur itu tidak terlalu luas, jadi terasa agak sempit untuk kami berdua. Tubuhku menempel erat pada lengan Lenny, pandanganku sesekali melirik ke arah kerahnya yang terbuka. Kulit seputih salju yang lembut di bawah kerahnya sangat menggoda, dengan dua puting merah muda menambah daya tariknya.Lenny merasakan aura maskulin yang kuat dari diriku, napasnya menjadi sedikit tidak teratur. “Nggak apa-apa, aku bisa urus sendiri. Kau istirahat saja di ruang tamu,” kata Lenny perlahan.“Nggak apa-apa, Bibi, biar kubantu.” Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk melangkah maju dan menempelkan tubuhku ke punggung Lenny dari belakang. Sensasi lembut itu langsung membangkitkan gairahku. Menempel kuat ke punggung ibu mertuaku hampir membuatku mengerang karena kenikmatan.Tubuh Lenny sepertinya semakin sensitif. Setelah beberapa kali gesekan lembut, dia langsung terangsang, tubuhnya menegang tanpa disadari. Dia berusaha keras untuk tetap diam, tapi sensasi itu terlalu kuat

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 6

    Jika aku menyelinap ke dapur sekarang dan mengejutkan Lenny dari belakang, dia pasti akan merasa sangat senang! Saat aku membayangkan adegan mendebarkan di mana kami berpelukan dengan penuh gairah di dapur, celana pendekku langsung menonjol dengan jelas. Aku buru-buru mandi dan berlari keluar dari kamar mandi. Aku tidak menyangka akan bertemu Lenny di ruang tamu.Dia mengenakan setelan piyama yang pas di tubuh, lekuk tubuhnya yang montok dan anggun terpampang jelas.Kakinya yang panjang, putih dan mulus, dihiasi dengan sandal pink yang memperlihatkan jari-jari kakinya yang mungil dan seksi.Cat kuku merah di jari-jari kakinya menambah sentuhan pesona yang menggemaskan.Dia membawa sepiring telur goreng, tampaknya baru saja selesai menyiapkan sarapan.“Pagi, Bibi!” Aku terkekeh, tatapanku yang membara menatap tubuhnya tanpa malu. Lenny membeku saat melihatku hanya mengenakan celana pendek. Lalu, tatapannya tertuju pada tonjolan mencolok di bawah celanaku, pipinya langsung memerah.

  • Paras Cantik, Tubuh Bahenol   Bab 5

    “Jangan, jangan di sini, nanti ada yang lihat ....” “Nggak apa-apa. Nggak ada orang di kolam renang, dan kita di bawah air, nggak ada yang bisa melihat kita. Bibi, kau sudah lama nggak merasakan sentuhan seorang pria, kan? Aku akan memberimu kenikmatan tertinggi sekarang juga.” Dalam sekejap, kami benar-benar telanjang di hadapan satu sama lain.Bibi Lenny duduk di pangkuanku, dengan gugup memutar-mutar kakinya, tetapi dia jelas bisa merasakan gairahku. Pandangannya yang berkaca-kaca tampak berkabut karena nafsu, tapi juga diwarnai sedikit ketegangan. Melihat Bibi Lenny begitu terangsang, aku sengaja memperlambat ritme. Sebaliknya, aku menggunakan alatku untuk terus merangsangnya.Ini adalah taktik yang biasa kulakukan terhadap pacarku, agar dia berinisiatif. Menurutnya, perasaan ini sama seperti menjuntai seekor ikan di hadapan kucing, begitu dekat tapi tak bisa menggapainya! Benar saja, dalam sekejap saja Bibi Lenny sudah tak bisa menahan diri lagi. Suaranya yang lembut sedikit m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status