登入Badru melangkah mantap menuju beranda samping rumah besar. Dari kejauhan, ia sudah melihat Haji Sodiq duduk di kursi rotan dengan wajah kusut dan mata sembab. Di atas meja, asbak kuningan sudah penuh dengan puntung rokok yang masih mengepulkan asap tipis.Brak!Haji Sodiq menggebrak meja kecil di sampingnya begitu melihat bayangan Badru mendekat. Orang tua itu langsung berdiri, menatap Badru dengan pandangan menyelidik yang tajam.Deg!Langkah Badru terhenti dua meter di depan beranda. Embusan angin pagi meniup kaos oblong hitamnya, mengalirkan aroma madu jantan yang pekat tepat ke arah Haji Sodiq.Sniff! Sniff!Haji Sodiq sempat mengernyitkan hidung, tampak terkejut dengan perubahan aroma dan perawakan Badru yang kini tampak jauh lebih tegap dan berisi. Namun, amarah dan rasa frustrasi akibat kehilangan anak gadisnya langsung mengubur rasa heran itu."Sini kamu, Badru! Duduk!" bentak Haji Sodiq, suaranya serak namun menggelegar.Badru tetap tenang. Ia melangkah naik ke beranda dan du
Suasana dapur mendadak hening. Hanya terdengar suara gemercik sisa minyak di wajan dan desis kayu bakar di dalam tungku.Badru meletakkan gelas kalengnya ke atas meja kayu.Teng!Bunyi nyaring itu memecah keheningan. Ego lelaki Badru yang sempat ciut bertahun-tahun kini meronta karena ucapan spontan Merpati.Badru menegakkan punggungnya. Kaos oblong hitam yang membungkus dada bidangnya meregang kaku, menampilkan lekuk otot tegap."Wangi kayak saya, Mer?" tanya Badru dengan suara rendah.Merpati langsung membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.Deg!"Eh... i-itu, maksud aku... kan kamu sekarang gak bau tahi sapi lagi, Dru! Udah wangi!" sahut Merpati terbata-bata.Gadis itu tetap membelakangi Badru. Tangan halusnya pura-pura sibuk mengelap meja kompor yang sudah bersih.Badru tidak menjawab. Ia bangkit dari bangku kayu tanpa suara. Langkah kakinya yang tegap perlahan mengikis jarak di antara mereka.Whuushh!Hawa hangat dari tubuh Badru memompa aroma madu jantan yang pekat dan
Badru menerima piring seng itu, lalu duduk di atas bangku kayu panjang dekat meja makan dapur. Uap mengepul dari nasi goreng porsi kuli di depannya. Tanpa babibu, ia langsung menyendok nasi hangat itu ke dalam mulutnya.Nyam! Nyam!"Dru, asli ya, semalam itu kacau pisan di rumah depan," buka Merpati sambil ikut duduk di bangku seberang meja. Kedua tangannya menopang dagu, menatap Badru yang sedang mengunyah lahap. "Abah Haji sampai gebrak meja. Katanya cowok kota itu cuma modal tampang sama asal-usulnya gak jelas. Lilis beneran buta banget sampai mau diajak kabur."Badru hanya manggut-manggut seadanya, menyuap sesendok telur dadar tebal. "Oh, gitu.""Ih, kok tanggapannya cuma gitu sih?" Merpati mengerucutkan bibirnya yang ranum, membuat daster kaos putihnya sedikit terangkat di bagian dada karena posisi badannya yang condong ke depan. "Padahal seisi kampung lagi heboh, Dru. Tapi ya syukurlah kalau kamu gak sedih. Malah kelihatan makin segar. Kamu beneran gak kepikiran Lilis lagi kan?"
Merpati buru-buru memalingkan wajah manisnya yang sudah merona padam. Hidung mungilnya masih kembang kempis menghirup sisa wangi madu dari dada tegap Badru.Sret!Ia membetulkan letak handuk di lehernya, lalu melangkah mundur satu langkah untuk menetralkan debar jantungnya."Ya sudah kalau kamu gak apa-apa, Dru. Aku... aku duluan ya," ucap Merpati, suaranya kembali normal meski ada sedikit nada lega di sana. "Pakaian kotor di rumah Haji Sodiq sudah numpuk pisan dari kemarin. Aku mau langsung bawa ke kali bawah sebelum mataharinya naik."Badru mengangguk pelan. "Iya, Mer. Hati-hati di jalan. Jangan melamun di pinggir kali."Merpati menghentikan langkahnya yang baru berjalan beberapa meter. Gadis berdaster biru itu menoleh kembali, menatap Badru dengan tatapan penuh perhatian. Wajah manis alaminya menyunggingkan senyum tulus."Eh, iya, Dru! Nanti kalau kamu sudah beres ngarit dan sampai di kandang, langsung ke dapur rumah Haji Sodiq saja ya?" seru Merpati. "Gak usah pulang ke gubuk buat
Kukuruyuuuk!Suara ayam jago berkokok bersahutan membelah kabut subuh. Badru langsung membuka mata, lalu duduk tegak di atas bale-bale bambu. Tidak ada rasa lelah sedikit pun di badannya.Sret!Badru menyibak sarungnya, melangkah keluar gubuk menuju sumur belakang untuk mandi subuh. Di dalam bilik sumur yang dingin dan remang, ia menanggalkan kainnya.Deg!Badru menunduk, menatap ke bawah. Miliknya, si Jono, tampak berdiri tegak dan tegang maksimal. Sebuah reaksi alami yang biasa dirasakan oleh pria setiap pagi. Batangnya yang kekar berdenyut kencang menantang udara dingin. Badru memandangnya sejenak, namun pagi ini ia sama sekali tidak berminat untuk memuaskan dirinya.Byur! Byur!Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang segar, meredam ketegangan paginya dengan basuhan air dingin hingga tuntas.Setelah selesai bilas dan kembali ke dalam gubuk, Badru melangkah mendekati meja kayu. Ia teringat sesuatu, lalu membuka laci kecil dan mengambil sebotol minyak wangi murah dua bela
Byur! Byur!Badru mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang dingin. Sensasi segar seketika menusuk kulit sawo matangnya, membasuh sisa keringat yang menempel di sela paha. Ia menggosok dadanya kasar menggunakan sabun batangan murah sampai berbusa tebal.Di bawah guyuran air, dadanya mendadak naik turun. Rasa bersalah dan kepuasan yang teramat sangat bertarung hebat di dalam kepalanya.'Gusti... saya beneran sudah mencicipi tubuh Teh Laras,' batin Badru, menyapu wajahnya yang basah.Ia menggelengkan kepala, masih tidak menyangka bisa menikmati tubuh matang yang luar biasa menggoda itu. Bayangan kejadian tadi siang kembali berputar jelas. Bukan cuma menghantam liang hangatnya, Badru bahkan ingat betul bagaimana ia menyusu pada dua gundukan ranum Laras seperti orang kelaparan, mereguk sisa cairan putih hangat langsung dari sumbernya hingga Laras melenguh pasrah.Brak!Badru mendorong pintu gubuknya kembali, hanya mengenakan sarung yang melilit pinggangnya. Badan kekarnya kini terasa lebi
Badru menghentikan garpunya sejenak. Ia teringat kejadian panas tadi siang di depan lemari kayu bersama Teh Laras. "Masa sih, Mang? Perasaan biasa aja. Mungkin karena tadi siang makannya banyak, jadi tenaganya awet.""Bukan cuma tenaga, itu bau parfum dua belas ribu kamu juga awet pisan!" Mang Jaka
Lilis menatap Badru dengan tatapan menghina yang seketika kembali ke wajahnya. Kesedihannya menguap, digantikan rasa angkuh. "Puas! Puas akang liat hidup Lilis gini? Tapi, daripada sama akang, mending aku sama juragan Darsa sih!" semburnya.Sret!Ia membalikkan badan, menghentakkan kaki dengan kasa
Mang Jaka mengernyitkan dahi, hidungnya kembang kempis seperti sedang mengendus sesuatu di udara.Sniff... Sniff..."Tapi kok... bau kamu aneh begini, Dru? Bukan bau got kamar mandi," celetuk Mang Jaka, matanya kembali menyipit curiga. "Bau wangi manis... bau apa ini?"Deg!Jantung Badru mencelos s
Badru bangkit dari rebahan, duduk tegak di tepi ranjang. Ia mencengkeram tengkuk Laras, memandu kepala wanita itu dengan ritme yang lebih mendesak.Plak!Telapak tangan Badru mendarat telak di pantat Laras yang montok dan menukik tinggi. Kulit putih mulus itu bergetar, meninggalkan bekas kemerahan






