로그인Badru menerima piring seng itu, lalu duduk di atas bangku kayu panjang dekat meja makan dapur. Uap mengepul dari nasi goreng porsi kuli di depannya. Tanpa babibu, ia langsung menyendok nasi hangat itu ke dalam mulutnya.Nyam! Nyam!"Dru, asli ya, semalam itu kacau pisan di rumah depan," buka Merpati sambil ikut duduk di bangku seberang meja. Kedua tangannya menopang dagu, menatap Badru yang sedang mengunyah lahap. "Abah Haji sampai gebrak meja. Katanya cowok kota itu cuma modal tampang sama asal-usulnya gak jelas. Lilis beneran buta banget sampai mau diajak kabur."Badru hanya manggut-manggut seadanya, menyuap sesendok telur dadar tebal. "Oh, gitu.""Ih, kok tanggapannya cuma gitu sih?" Merpati mengerucutkan bibirnya yang ranum, membuat daster kaos putihnya sedikit terangkat di bagian dada karena posisi badannya yang condong ke depan. "Padahal seisi kampung lagi heboh, Dru. Tapi ya syukurlah kalau kamu gak sedih. Malah kelihatan makin segar. Kamu beneran gak kepikiran Lilis lagi kan?"
Merpati buru-buru memalingkan wajah manisnya yang sudah merona padam. Hidung mungilnya masih kembang kempis menghirup sisa wangi madu dari dada tegap Badru.Sret!Ia membetulkan letak handuk di lehernya, lalu melangkah mundur satu langkah untuk menetralkan debar jantungnya."Ya sudah kalau kamu gak apa-apa, Dru. Aku... aku duluan ya," ucap Merpati, suaranya kembali normal meski ada sedikit nada lega di sana. "Pakaian kotor di rumah Haji Sodiq sudah numpuk pisan dari kemarin. Aku mau langsung bawa ke kali bawah sebelum mataharinya naik."Badru mengangguk pelan. "Iya, Mer. Hati-hati di jalan. Jangan melamun di pinggir kali."Merpati menghentikan langkahnya yang baru berjalan beberapa meter. Gadis berdaster biru itu menoleh kembali, menatap Badru dengan tatapan penuh perhatian. Wajah manis alaminya menyunggingkan senyum tulus."Eh, iya, Dru! Nanti kalau kamu sudah beres ngarit dan sampai di kandang, langsung ke dapur rumah Haji Sodiq saja ya?" seru Merpati. "Gak usah pulang ke gubuk buat
Kukuruyuuuk!Suara ayam jago berkokok bersahutan membelah kabut subuh. Badru langsung membuka mata, lalu duduk tegak di atas bale-bale bambu. Tidak ada rasa lelah sedikit pun di badannya.Sret!Badru menyibak sarungnya, melangkah keluar gubuk menuju sumur belakang untuk mandi subuh. Di dalam bilik sumur yang dingin dan remang, ia menanggalkan kainnya.Deg!Badru menunduk, menatap ke bawah. Miliknya, si Jono, tampak berdiri tegak dan tegang maksimal. Sebuah reaksi alami yang biasa dirasakan oleh pria setiap pagi. Batangnya yang kekar berdenyut kencang menantang udara dingin. Badru memandangnya sejenak, namun pagi ini ia sama sekali tidak berminat untuk memuaskan dirinya.Byur! Byur!Ia memilih mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang segar, meredam ketegangan paginya dengan basuhan air dingin hingga tuntas.Setelah selesai bilas dan kembali ke dalam gubuk, Badru melangkah mendekati meja kayu. Ia teringat sesuatu, lalu membuka laci kecil dan mengambil sebotol minyak wangi murah dua bela
Byur! Byur!Badru mengguyur tubuhnya dengan air sumur yang dingin. Sensasi segar seketika menusuk kulit sawo matangnya, membasuh sisa keringat yang menempel di sela paha. Ia menggosok dadanya kasar menggunakan sabun batangan murah sampai berbusa tebal.Di bawah guyuran air, dadanya mendadak naik turun. Rasa bersalah dan kepuasan yang teramat sangat bertarung hebat di dalam kepalanya.'Gusti... saya beneran sudah mencicipi tubuh Teh Laras,' batin Badru, menyapu wajahnya yang basah.Ia menggelengkan kepala, masih tidak menyangka bisa menikmati tubuh matang yang luar biasa menggoda itu. Bayangan kejadian tadi siang kembali berputar jelas. Bukan cuma menghantam liang hangatnya, Badru bahkan ingat betul bagaimana ia menyusu pada dua gundukan ranum Laras seperti orang kelaparan, mereguk sisa cairan putih hangat langsung dari sumbernya hingga Laras melenguh pasrah.Brak!Badru mendorong pintu gubuknya kembali, hanya mengenakan sarung yang melilit pinggangnya. Badan kekarnya kini terasa lebi
Badru memejamkan mata erat. Telapak tangannya yang kasar langsung mencengkeram erat pangkal kejantannya yang sudah tegak menantang. Urat-urat di batangnya menonjol tegang sekeras kayu jati.Sreeet! Sreeet!Ia mulai memijat dan mengocoknya lambat. Kulitnya bergesekan kencang dengan telapak tangannya sendiri. Otot-otot lengan sawo matangnya menegang kaku. Tangan kirinya menaikkan celana dalam merah berenda itu ke wajahnya. Ia menekan kain tipis tersebut ke hidung dan mulutnya dengan brutal.Sniff! Sniff!Aroma gairah yang manis bercampur noda kering dari si pengintip misterius langsung membakar isi kepalanya. Ingatan Badru melesat kembali ke adegan ranjang tadi siang bersama Laras. Wanita itu adalah istri muda saudagar tua sekaligus anak Haji Sodiq pemilik peternakan.Laras biasanya berjalan dengan dagu terangkat. Ia selalu menatap Badru dengan pandangan menjijikkan seolah Badru hanyalah seonggok kotoran sapi yang berjalan. Laras yang sama tadi siang justru berlutut dan menungging pasra
Badru menarik napas panjang, menahan gejolak di dadanya. Ia melepaskan tangan Merpati dari kaosnya secara perlahan."Maaf, Mer. Bukannya gak mau temenin, tapi badan saya rasanya remuk pisan dari siang," ucap Badru, suaranya dipaksakan setenang mungkin. "Besok subuh saya harus angon sekalian babat rumput gajah ke hutan buat stok di kandang. Takut kesiangan."Badru menatap wajah sahabat masa kecilnya itu. Ia masih waras. Merpati bukan Laras yang bisa ia jadikan mainan tanpa beban. Gadis ini terlalu berharga untuk sekadar pelampiasan sesaat.Merpati tertegun. Matanya yang bulat berkejap, memancarkan rasa kecewa yang nyata sebelum akhirnya ia memaksakan senyum tipis."Oh... gitu ya, Dru? Ya sudah gak apa-apa. Kamu emang keliatan capek banget," sahut Merpati, suaranya agak bergetar namun mencoba terdengar biasa saja."Iya, Mer. Maaf ya. Yuk, lanjut jalan."Whuushh!Angin malam berembus di antara sela-sela pohon pisang mengiringi langkah kaku mereka hingga sampai di persimpangan jalan desa.
Angin sore yang mulai mendingin menerpa wajah sawo matang Badru saat ia berjalan pulang dari peternakan Haji Sodiq. Langkah kakinya terasa ringan menyusuri jalan setapak berbatu.Saat berbelok di dekat jembatan bambu kecil, sesosok gadis dengan handuk melingkar di leher berjalan berlawanan arah den
Badru menghentikan garpunya sejenak. Ia teringat kejadian panas tadi siang di depan lemari kayu bersama Teh Laras. "Masa sih, Mang? Perasaan biasa aja. Mungkin karena tadi siang makannya banyak, jadi tenaganya awet.""Bukan cuma tenaga, itu bau parfum dua belas ribu kamu juga awet pisan!" Mang Jaka
Mang Jaka mengernyitkan dahi, hidungnya kembang kempis seperti sedang mengendus sesuatu di udara.Sniff... Sniff..."Tapi kok... bau kamu aneh begini, Dru? Bukan bau got kamar mandi," celetuk Mang Jaka, matanya kembali menyipit curiga. "Bau wangi manis... bau apa ini?"Deg!Jantung Badru mencelos s
Badru bangkit dari rebahan, duduk tegak di tepi ranjang. Ia mencengkeram tengkuk Laras, memandu kepala wanita itu dengan ritme yang lebih mendesak.Plak!Telapak tangan Badru mendarat telak di pantat Laras yang montok dan menukik tinggi. Kulit putih mulus itu bergetar, meninggalkan bekas kemerahan







