เข้าสู่ระบบSepulang dari pelatihan bersama kakaknya, Zea merasakan kepalanya berdenyut hebat, sementara nyeri di dadanya tak kunjung mereda meski tadi ia sudah memaksimalkan memompa ASI di lounge.
Hingga malam itu, Zea hanya bisa berbaring di kasurnya sambil memijat pelipisnya. Selain rasa penuh di dadanya yang tak kunjung hilang, tubuhnya kini mulai terasa panas, seolah demam datang secara tiba-tiba. "Kenapa lagi, sih …" gumamnya lemah. Ia meraih ponsel di nakas dan mulai mengetik di kolom pencarian internet: [Payudara penuh ASI disertai demam, kenapa?] Beberapa artikel bermunculan. Zea membaca satu per satu dengan mata setengah terpejam karena pusing. Ada salah satu artikel menjelaskan bahwa demam bisa muncul akibat saluran ASI yang tersumbat, dan kondisi itu biasanya membaik apabila payudara dikosongkan secara maksimal, baik lewat pompa, atau lewat isapan langsung dari pasangan. Zea mengerutkan kening, membaca ulang kalimat terakhir itu. [... Bisa membaik kalau disedot suami.] "Suami?" Zea mendengus kesal. "Pacar saja nggak punya!" Ia melempar ponselnya ke samping dengan frustasi, lalu menutup wajahnya dengan bantal. Kenapa kondisi tubuhnya harus serepot ini? Tak lama, ketukan pintu kamar Zea terdengar, disusul suara Donna. "Zea, kamu belum tidur?" "Belum, Ma," jawab Zea lirih. Donna masuk dan langsung mengernyit begitu melihat wajah anaknya yang merah. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Zea. "Ya ampun, badan kamu panas banget! Kamu meriang?" "Iya, Ma. Kayaknya masuk angin," jawab Zea buru-buru, menghindar dari topik sebenarnya. Sejak menghabiskan banyak biaya untuk periksa ke dokter, membeli alat-alat kebutuhan pumping, dan membeli bra baru, Zea enggan berkata sejujurnya terkait kondisinya itu. Terlebih lagi, ibunya sangat mudah khawatir. "Sini, Mama kasih obat penurun panas dulu." Donna beranjak sebentar keluar kamar, lalu kembali dengan segelas air serta sebutir obat. "Besok kalau masih belum enak badan, bilang ke Kakakmu, jangan ikut kerja dulu." Zea mengangguk lemah sambil menelan obat dan meminum airnya. Meski begitu, dalam hati ia tahu obat biasa itu mungkin tidak akan menyentuh akar masalahnya. *** Keesokan paginya, kondisi Zea hanya sedikit membaik. Karena merasa baik-baik saja setelah minum obat, ia tetap bersiap mengikuti Zavian ke pusat pelatihan. Ia berharap kondisinya akan membaik seiring berjalannya hari. Begitu tiba, Zea kembali disibukkan dengan tugas-tugas kecil di sekitar kolam. Seperti menyiapkan handuk, botol minum, dan mencatat waktu latihan yang diinstruksikan Zavian. Di tengah kesibukannya, suara tegas Zavian terdengar dari tepi kolam. “Marco! Kamu kenapa hari ini? Gerakan kamu berantakan, bahkan lebih lambat dari kemarin!” Zea melirik sekilas, tapi tidak terlalu memperdulikan. Ia tidak paham soal teknik renang atau performa atlet, jadi ia hanya menganggap itu urusan biasa antara pelatih dan anak didiknya. Ia lantas kembali fokus pada pekerjaannya. Lalu beberapa saat kemudian, Zavian berjalan mendekati Zea. “Zea, tolong bereskan handuk-handuk kotor di ruang loker atlet.” Zea mengangguk. “Iya, Kak.” Gadis itu berjalan ke loker sambil membawa keranjang kosong dan memunguti handuk satu per satu yang tergeletak di bangku dan lantai. Namun, belum selesai ia bekerja, rasa nyeri familiar di dadanya kembali menjalar. "Ugh … kenapa harus sekarang," desisnya pelan sambil meletakkan handuk terakhir. Ia buru-buru mencari tas berisi pompa asi yang selalu dibawanya. Lalu ia teringat, tas itu ia tinggalkan di tribun penonton. Zea menghela napas dan hendak pergi mengambilnya di luar, tapi pintu ruang loker lebih dulu terbuka. Ia langsung membeku di tempat. Marco berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih basah, hanya memakai celana renang dan jaket olahraga yang tidak dikancing. Air menetes dari ujung rambutnya ke dada bidangnya. Aura pria itu langsung mendominasi di ruangan sempit itu. Ia berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Klik. Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup keras. Ia refleks berjalan mundur hingga punggungnya menempel ke loker. Kenapa Marco malah ke sini? Dan kenapa menutup pintunya? Pria itu terus mendekat hingga jarak mereka nyaris tak tersisa. Satu tangannya bertumpu ke loker tepat di samping kepala Zea dan menjebaknya di tempat. Tubuh tinggi dan beraroma klorin mendominasi pandangannya. “Ma-Marco … ada apa?” Marco menunduk. Matanya yang gelap menatap Zea lekat-lekat. “Minumanmu kemarin itu,” katanya pelan, suaranya rendah dan sedikit serak, “yang kamu kasih padaku, itu apa sebenarnya?” Zea merasa dunia seolah menyempit. Napasnya tercekat, dan punggungnya masih menempel erat ke loker dingin. Sementara Marco berdiri terlalu dekat di depannya. Tubuh pria itu masih panas dari latihan. Aroma klorin bercampur bau kulit pria yang maskulin membuat kepala Zea pusing. Sekarang ... bagaimana ia harus menjawab pertanyaannya? Tidak mungkin ia mengatakan bahwa yang diminum Marco kemarin itu adalah ASI miliknya! “Aku … itu … minuman biasa kok,” jawab Zea tergagap. Matanya menghindar ke mana-mana. Marco tidak langsung menjawab, malah menunduk lebih rendah dengan satu tangannya masih bertumpu di loker samping kepala Zea. “Jangan bohong,” suaranya rendah, hampir menggeram. “Kamu pikir aku bodoh? Rasanya manis, rasa susu vanila biasa. Tapi energiku menggila setelahnya. Jawab aku, apa yang kamu masukkan di dalamnya?” Zea terbelalak. Kenapa Marco tiba-tiba menuduhnya seperti itu? Ia memang tidak jujur kalau minuman itu sebenarnya ASI-nya, tapi ia tidak mencampurkan apa-apa! “A-aku nggak bohong, itu cuma minuman biasa … Marco, lepasin aku dulu …” Namun Marco tidak mundur. Saat itulah Zea merasakan dadanya yang sudah nyeri sejak tadi tiba-tiba terasa sangat penuh. Sensasi hangat yang tak terkendali menjalar dari putingnya. Cairan hangat mulai merembes keluar, membasahi bra olahraga yang dikenakannya sebelum perlahan menembus kaus longgar di bagian luar. Dua noda basah segera muncul di bagian depan bajunya, sementara aroma vanila yang lembut perlahan menyebar di ruangan sempit itu. Sial! Ia langsung panik dan berusaha menutup dada dengan kedua tangan, tapi terlambat. “Ah—!” Zea terkesiap kecil dan buru-buru menutupi dada dengan kedua lengan. Marco menatap ke bawah. Hidungnya bergerak sedikit sambil mencium aroma itu. “Itu,” keningnya berkerut. “Bau yang sama persis dengan yang aku minum kemarin.”Moara tersenyum lebar, kemudian merangkul bahu Zea dengan penuh kehangatan. "Sel, ini Zea. Anak tetangga Tante dulu, sekaligus teman kecilnya Marco. Kebetulan ketemu di sini, lagi makan malam sama kakaknya."Selena mengerutkan dahi tipis. Senyumnya tetap terjaga, meski sorot matanya menyiratkan keterkejutan. "Oh ... jadi Zea teman kecil Marco, ya? Aku baru tahu.”Wanita itu menatap Zea sejenak, seolah sedang menyusun ulang informasi baru di kepalanya."Pantas saja," gumamnya pelan. Nada suaranya tetap ramah, tetapi ada penekanan tipis di setiap katanya. "Tadi siang di pusat pelatihan, Marco kelihatan cukup perhatian sama Zea. Sekarang aku jadi ngerti kenapa."Selena lalu menoleh kepada Moara dengan senyum manis."Tante ..." ujarnya pelan. "Marco memang dari dulu seperti itu, ya? Aku baru tahu dia bisa seprotektif itu sama seseorang.”Selena tetap tersenyum manis, seolah tidak sedang menanyakan sesuatu yang berarti. Namun justru sikap itulah yang membuat Zea m
"Ya Tuhan … ini kamu, kan, Zea?"Moara mengerjap dengan ekspresi masih terkejut. Beberapa detik ia hanya memandangi Zea, seolah tak percaya gadis kecil tetangganya dulu kini sudah tumbuh dewasa.Wanita itu segera menghampiri Zea dan memegang kedua lengannya dengan hangat, matanya menyapu wajah Zea dari atas ke bawah."Astaga, kamu udah besar banget sekarang. Makin cantik," ucap Moara sambil tersenyum, meski ada sesuatu yang terasa berat di baliknya.Zea membungkuk kecil dan mencium punggung tangan Moara sebagai bentuk hormat. "Tante Moara apa kabar? Udah lama banget nggak ketemu.”"Baik, baik." Moara mengangguk sambil masih menggenggam lengan Zea. "Mama sama Kakakmu gimana kabarnya? Masih sehat semua?""Baik, Tante. Mama di rumah, Kak Zavian lagi sama aku, kebetulan lagi makan malam berdua di sini."Moara mengangguk-angguk mendengarnya, tapi senyumnya perlahan meredup. Zea memperhatikan mata Moara sedikit sembab, dan setiap kali wanita itu tersenyum,
Sepanjang perjalanan pulang, Zea duduk diam di kursi penumpang, pikirannya berkecamuk. Bisikan Marco tadi sore terus terngiang di kepalanya, membuat dirinya gugup setengah mati.Pria itu benar-benar tidak ada kapoknya.Zea menghela napas pelan, sambil membayangkan berbagai skenario buruk yang bisa terjadi malam ini. Kalau sampai Zavian tahu Marco nekat datang ke kamarnya lagi, bukan cuma Marco yang akan menanggung akibatnya. Sanksi berat sudah pasti menanti, bahkan kemungkinan besar Marco akan langsung diberhentikan dari klub.Belum lagi soal Selena. Wanita itu adalah jembatan penting bagi klub Zavian untuk berhubungan dengan banyak sponsor besar. Kalau Marco kehilangan tempat di klub, bukan tidak mungkin hubungan dengan para sponsor ikut terganggu dan Zavian yang menanggung akibatnya.Kepalanya mulai berdenyut memikirkan semua kemungkinan itu. Zea benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa.“Zea …” Suara Zavian tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil
Zea tercekat mendengar pertanyaan Zavian yang menusuk langsung ke inti masalah. Ia menunduk, jantungnya berdegup kencang menahan gejolak yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin ia bisa berkata jujur? Selena bukan sekadar tunangan Marco. Keluarganya adalah salah satu pintu bagi klub renang Kakaknya untuk menjalin hubungan dengan sponsor. Zea tahu betapa keras Zavian membangun klub itu sedikit demi sedikit. Dan kalau sampai ia mengungkap semua yang telah terjadi, bukan cuma dirinya yang akan menanggung akibatnya, tetapi juga masa depan klub dan karier Zavian sendiri. Zea menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang tiba-tiba terasa panas di pelupuk matanya. "Nggak ada apa-apa, kok, Kak," ucapnya akhirnya, suaranya bergetar meski ia berusaha keras terdengar tegas. "Selena cuma bercanda tadi. Aku aja yang kelewat sensitif, mungkin gara-gara masih capek abis sakit." Ia menarik napas panjang, mencoba menata ekspresinya sebaik mungkin. "Please, Kak. Jangan diperbesar masalahnya.
Ucapan Selena terasa menghantam Zea. Wajahnya memanas, tetapi bukan karena merasa dipuji. Kata "molek" justru mengingatkannya pada perubahan tubuh yang selama ini berusaha ia sembunyikan. Bagi orang lain mungkin itu terlihat indah, tetapi hanya Zea yang tahu perubahan itu berawal dari kondisi yang sama sekali tidak ia inginkan. Zavian yang sejak tadi diam, akhirnya menoleh ke arah Zea, lalu kembali pada Selena. Rahangnya mulai mengeras, jelas risih. "Ini hanya kebetulan saja," ucapnya, nada suaranya sedikit menegas. "Dan Dimas cuma ikut senang lihat adik saya akhirnya dapat jaket. Jangan salah paham." Selena hanya mengangguk-angguk, tertawa kecil yang terdengar dibuat-buat. "Iya, iya. Aku cuma bercanda, kok, Coach.” Tak lama setelah Selena berkelakar, langkah tegas terdengar mendekat. Marco berjalan cepat menghampiri Selena, wajahnya menegang menahan amarah. "Selena," tegurnya rendah, nyaris seperti geraman. "Jaga omongan kamu." Selena mengerjap pelan. Senyumnya sedikit memudar
Zea, Zavian, dan yang lainnya spontan menoleh ke arah sumber suara nyaring itu. Selena berjalan menghampiri Marco dengan wajah semringah, melambaikan tangan kecil ke arah Marco."Eh, Sel!" sapa Kenji sambil mengangkat tangan. "Tumben mampir ke sini.""Siang, Sel," timpal Rafi sambil tersenyum ramah. "Nyari Marco, ya?"Selena tersenyum sambil mengangguk kecil kepada keduanya sebelum kembali mengalihkan perhatian ke Marco.Pandangan Zea tanpa sadar mengikuti langkah cepat wanita itu. Ia tidak perlu menebak-nebak alasan Selena datang ke pusat pelatihan. Sudah pasti tujuannya hanya satu, ingin bertemu dengan Marco.Selena tampak tersenyum manis sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin."Aku tadi kebetulan ada urusan di sekitar sini," jawabnya ringan. "Jadi sekalian mampir buat lihat kamu.”Tanpa menunggu respons, Selena mengangkat kotak makanan yang sedari tadi dibawanya."Ini." Ia menyodorkannya kepada Marco sambil tersenyum. "Aku beliin makan siang







