首頁 / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 04. Cairan yang Merembes.

分享

04. Cairan yang Merembes.

作者: Amaleo
last update publish date: 2026-07-06 13:15:55

Sepulang dari pelatihan bersama kakaknya, Zea merasakan kepalanya berdenyut hebat, sementara nyeri di dadanya tak kunjung mereda meski tadi ia sudah memaksimalkan memompa ASI di lounge.

Hingga malam itu, Zea hanya bisa berbaring di kasurnya sambil memijat pelipisnya. Selain rasa penuh di dadanya yang tak kunjung hilang, tubuhnya kini mulai terasa panas, seolah demam datang secara tiba-tiba.

"Kenapa lagi, sih …" gumamnya lemah.

Ia meraih ponsel di nakas dan mulai mengetik di kolom pencarian internet:

[Payudara penuh ASI disertai demam, kenapa?]

Beberapa artikel bermunculan. Zea membaca satu per satu dengan mata setengah terpejam karena pusing.

Ada salah satu artikel menjelaskan bahwa demam bisa muncul akibat saluran ASI yang tersumbat, dan kondisi itu biasanya membaik apabila payudara dikosongkan secara maksimal, baik lewat pompa, atau lewat isapan langsung dari pasangan.

Zea mengerutkan kening, membaca ulang kalimat terakhir itu.

[... Bisa membaik kalau disedot suami.]

"Suami?" Zea mendengus kesal. "Pacar saja nggak punya!"

Ia melempar ponselnya ke samping dengan frustasi, lalu menutup wajahnya dengan bantal. Kenapa kondisi tubuhnya harus serepot ini?

Tak lama, ketukan pintu kamar Zea terdengar, disusul suara Donna. "Zea, kamu belum tidur?"

"Belum, Ma," jawab Zea lirih.

Donna masuk dan langsung mengernyit begitu melihat wajah anaknya yang merah. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Zea. "Ya ampun, badan kamu panas banget! Kamu meriang?"

"Iya, Ma. Kayaknya masuk angin," jawab Zea buru-buru, menghindar dari topik sebenarnya.

Sejak menghabiskan banyak biaya untuk periksa ke dokter, membeli alat-alat kebutuhan pumping, dan membeli bra baru, Zea enggan berkata sejujurnya terkait kondisinya itu. Terlebih lagi, ibunya sangat mudah khawatir.

"Sini, Mama kasih obat penurun panas dulu." Donna beranjak sebentar keluar kamar, lalu kembali dengan segelas air serta sebutir obat. "Besok kalau masih belum enak badan, bilang ke Kakakmu, jangan ikut kerja dulu."

Zea mengangguk lemah sambil menelan obat dan meminum airnya. Meski begitu, dalam hati ia tahu obat biasa itu mungkin tidak akan menyentuh akar masalahnya.

***

Keesokan paginya, kondisi Zea hanya sedikit membaik. Karena merasa baik-baik saja setelah minum obat, ia tetap bersiap mengikuti Zavian ke pusat pelatihan. Ia berharap kondisinya akan membaik seiring berjalannya hari.

Begitu tiba, Zea kembali disibukkan dengan tugas-tugas kecil di sekitar kolam. Seperti menyiapkan handuk, botol minum, dan mencatat waktu latihan yang diinstruksikan Zavian.

Di tengah kesibukannya, suara tegas Zavian terdengar dari tepi kolam. “Marco! Kamu kenapa hari ini? Gerakan kamu berantakan, bahkan lebih lambat dari kemarin!”

Zea melirik sekilas, tapi tidak terlalu memperdulikan. Ia tidak paham soal teknik renang atau performa atlet, jadi ia hanya menganggap itu urusan biasa antara pelatih dan anak didiknya. Ia lantas kembali fokus pada pekerjaannya.

Lalu beberapa saat kemudian, Zavian berjalan mendekati Zea. “Zea, tolong bereskan handuk-handuk kotor di ruang loker atlet.”

Zea mengangguk. “Iya, Kak.”

Gadis itu berjalan ke loker sambil membawa keranjang kosong dan memunguti handuk satu per satu yang tergeletak di bangku dan lantai.

Namun, belum selesai ia bekerja, rasa nyeri familiar di dadanya kembali menjalar.

"Ugh … kenapa harus sekarang," desisnya pelan sambil meletakkan handuk terakhir.

Ia buru-buru mencari tas berisi pompa asi yang selalu dibawanya. Lalu ia teringat, tas itu ia tinggalkan di tribun penonton.

Zea menghela napas dan hendak pergi mengambilnya di luar, tapi pintu ruang loker lebih dulu terbuka. Ia langsung membeku di tempat.

Marco berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih basah, hanya memakai celana renang dan jaket olahraga yang tidak dikancing. Air menetes dari ujung rambutnya ke dada bidangnya. Aura pria itu langsung mendominasi di ruangan sempit itu.

Ia berjalan masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan.

Klik.

Zea menelan ludah. Jantungnya berdegup keras. Ia refleks berjalan mundur hingga punggungnya menempel ke loker.

Kenapa Marco malah ke sini? Dan kenapa menutup pintunya?

Pria itu terus mendekat hingga jarak mereka nyaris tak tersisa. Satu tangannya bertumpu ke loker tepat di samping kepala Zea dan menjebaknya di tempat. Tubuh tinggi dan beraroma klorin mendominasi pandangannya.

“Ma-Marco … ada apa?”

Marco menunduk. Matanya yang gelap menatap Zea lekat-lekat.

“Minumanmu kemarin itu,” katanya pelan, suaranya rendah dan sedikit serak, “yang kamu kasih padaku, itu apa sebenarnya?”

Zea merasa dunia seolah menyempit. Napasnya tercekat, dan punggungnya masih menempel erat ke loker dingin.

Sementara Marco berdiri terlalu dekat di depannya. Tubuh pria itu masih panas dari latihan. Aroma klorin bercampur bau kulit pria yang maskulin membuat kepala Zea pusing.

Sekarang ... bagaimana ia harus menjawab pertanyaannya? Tidak mungkin ia mengatakan bahwa yang diminum Marco kemarin itu adalah ASI miliknya!

“Aku … itu … minuman biasa kok,” jawab Zea tergagap. Matanya menghindar ke mana-mana.

Marco tidak langsung menjawab, malah menunduk lebih rendah dengan satu tangannya masih bertumpu di loker samping kepala Zea.

“Jangan bohong,” suaranya rendah, hampir menggeram. “Kamu pikir aku bodoh? Rasanya manis, rasa susu vanila biasa. Tapi energiku menggila setelahnya. Jawab aku, apa yang kamu masukkan di dalamnya?”

Zea terbelalak. Kenapa Marco tiba-tiba menuduhnya seperti itu? Ia memang tidak jujur kalau minuman itu sebenarnya ASI-nya, tapi ia tidak mencampurkan apa-apa!

“A-aku nggak bohong, itu cuma minuman biasa … Marco, lepasin aku dulu …”

Namun Marco tidak mundur.

Saat itulah Zea merasakan dadanya yang sudah nyeri sejak tadi tiba-tiba terasa sangat penuh. Sensasi hangat yang tak terkendali menjalar dari putingnya.

Cairan hangat mulai merembes keluar, membasahi bra olahraga yang dikenakannya sebelum perlahan menembus kaus longgar di bagian luar.

Dua noda basah segera muncul di bagian depan bajunya, sementara aroma vanila yang lembut perlahan menyebar di ruangan sempit itu.

Sial!

Ia langsung panik dan berusaha menutup dada dengan kedua tangan, tapi terlambat.

“Ah—!” Zea terkesiap kecil dan buru-buru menutupi dada dengan kedua lengan.

Marco menatap ke bawah. Hidungnya bergerak sedikit sambil mencium aroma itu.

“Itu,” keningnya berkerut. “Bau yang sama persis dengan yang aku minum kemarin.”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   270. Pilihan Gaun Pengantin Zea.

    Pintu kaca tebal berbahan tempered glass dari butik megah tiga lantai di kawasan elite ibu kota terdorong pelan. Pendar lampu kristal dan aroma harum bunga mawar segar seketika menyambut kedatangan mereka.​"Selamat datang, Ibuuu! Ya ampun, Ibu Moara apa kabar?! Makin cantik saja nih. Udah lama banget nggak ketemu!"​Seorang pria berpostur tinggi dengan penampilan super modis dan gaya bicara yang flamboyan melangkah cepat menyambut mereka. Fandi Gunawan, desainer papan atas langganan kalangan pengusaha korporat hingga selebriti papan atas, merentangkan kedua tangannya penuh kehangatan, menyalami Moara dengan senyum merekah lebar.​"Kabar baik, Fan," balas Moara tersenyum anggun, membiarkan desainer kenalannya itu mengecup pipi kanan dan kirinya. "Saya ke sini mau minta tolong kamu buatkan karya terbaik kamu.”​Moara lalu berbalik sedikit, merangkul pelan bahu Donna dan Zea untuk memperkenalkan mereka. "Oh ya, Fandi ... kenalkan, ini Donna, calon besan saya. Dan si manis ini, Zea, cal

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   269. Kecurigaan Marco Terbukti.

    Dahi Zavian berkerut sambil menatap Dimas dengan raut heran bercampur bingung. "Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"Dimas berdehem pelan. Sebagai atlet yang paling dekat dengan Marco, ia sempat menunjukkan gestur sungkan, namun tatapannya tetap lurus menyuarakan kejanggalan yang ditangkapnya."Maaf, Coach ... saya bukannya mau menyudutkan siapapun. Tapi Coach masih ingat tidak cara Vincent memperkenalkan diri pertama kali di depan tim?" buka Dimas pelan."Saat itu, pas Marco menyapa dan bilang mereka pernah bertemu, Vincent malah membalas dengan nada yang sangat sinis: 'Apa kita pernah bertemu?' Dari situ saja rasanya sudah aneh."Zavian terdiam lama, kerutan di dahinya makin melipat tajam.Melihat respons kaku sang kepala pelatih, Dimas cepat-cepat menimpali. "Saya tahu alasan saya ini mungkin terdengar dangkal sekali, Coach. Tapi saya bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari Vincent.""Dimas," potong Zavian tegas, memangkas kalimat atletnya. "Kasih saya alasan paling jelas

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   268. Peringatan Dimas pada Zavian.

    Zavian terdiam sejenak, memaksakan senyum tipis di wajah kakunya demi menutup kebenaran yang tak boleh bocor ke pihak mana pun."Zea cuma sedang kurang enak badan, Vin," kilah Zavian tenang, memasang kebohongan formal setenang mungkin. "Dia lagi butuh istirahat penuh di rumah."“Oh, ya?” Vincent seketika memajukan langkahnya dengan raut cemas yang dipasang amat natural di balik kacamata berbingkai tipisnya. “Kalau begitu, jika memungkinkan ... boleh saya datang menjenguk Zea nanti sore? Sekalian saya bawakan buah-buahan dan vitamin untuk dia."Belum sempat Zavian merespons tawaran itu, getaran kencang dari saku celana training-nya mendadak memecah keheningan lounge. Zavian merogoh ponselnya, menatap nama sang ibu yang tertera di layar."Maaf sebentar, Vin. Ini telepon dari Mama saya," izin Zavian singkat."Silakan, Coach," sahut Vincent sopan.Zavian menggeser tombol hijau, berbalik selangkah membelakangi Vincent. Baru saja ia menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya, suara riang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   267. Firasat Buruk Vincent.

    "Apa?!" Zea terperangah kaku di tempatnya dengan mata membelalak lebar, sementara Donna berdiri terpaku tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Moara, kamu serius?" tanya Donna pelan, masih tak menyangka. "Tentu saja aku serius, Don! Makanya ayo, kalian berdua siap-siap sekarang juga!" desak Moara bersemangat sambil mendorong pelan bahu Donna. Donna mendadak panik. "A-aduh, sebentar! Aku harus ganti pakaian dulu!" Donna baru saja hendak berlari ke kamarnya ketika matanya mendadak terpaku meneliti penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. Zea masih berdiri kaku memegang tas jinjingnya, hanya mengenakan kaus kebesaran, celana training, dan jaket klub renang biru tua. Donna memegang dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Zea! Kamu juga cepat ganti baju! Masa mau fitting gaun pengantin pake jaket klub dan celana training begitu?! Pakai baju yang jauh lebih pantas dan rapi!" Zea terkekeh canggung, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kepalanya masih agak

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   266. Kejutan Manis di Pagi Hari.

    Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah gorden, membelai lembut wajah Zea yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Zea perlahan mengerjapkan matanya yang terasa agak berat. Jemarinya meraba permukaan kasur yang empuk dan menemukan tubuhnya ditutupi begitu rapi dengan selimut hingga bawah dagu. "M-Marco ...?" bisik Zea parau, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun, kamar tidurnya sepi. Tidak ada sosok tegap Marco di sampingnya di ranjang. Tentu saja, semalam pria itu kembali pulang ke mansion-nya. Lalu, pandangan Zea mendadak beralih ke jam weker digital di atas meja nakas. Angka di layarnya menunjukkan pukul delapan pagi lewat lima belas menit. "Ya ampun! Aku kesiangan!" jerit Zea panik setengah mati. Ia harusnya sudah berangkat sejak jam setengah delapan pagi bersama Zavian ke pusat pelatihan untuk membantu persiapan tim menjelang pertandingan Final! Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zea melompat dari ranjang. Rasa pening yang sempat menyengat kepalany

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   265. Permintaan Khusus Michael.

    Deru mesin mobil sport Marco meluncur pelan memasuki pelataran mansion Yozefa. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana ruang tengah masih berpendar hangat oleh cahaya lampu kristal. Di sana, Michael berdiri tegap menunggunya dengan wajah cemas, sementara Moara tetap duduk anggun di atas sofa. Namun, begitu sosok Marco melangkah mendekat di bawah pendar lampu, kedua orang tuanya seketika terperanjat kaku. Lebam merah yang kontras di sepanjang garis rahang kaku milik Marco tak bisa disembunyikan. "Marco?! Kenapa mukamu?!" seru Moara terperanjat, matanya membelalak pelan. Michael ikut memajukan langkahnya dengan dahi berlipat-lipat. "Siapa yang berani membuat mukamu seperti itu?" Marco menatap kedua orang tuanya dengan raut datar tanpa beban. Ia mengusap pelan rahangnya yang terasa agak ngilu. "Hanya kejadian sepele. Nggak apa-apa." ​"Nggak apa-apa bagaimana?!" pangkas Moara ngotot. Binar matanya memancarkan rasa cemas sekaligus ketegasan seorang ibu yang tak bisa dibantah. "

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status