Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 03. Sudah Menikah…?

Share

03. Sudah Menikah…?

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-06 13:15:14

Zea membeku begitu menyadari botol ASI-nya tidak ada di ujung bangku tempat ia meletakkannya.

Wajahnya pucat pasi saat melihat botol itu ada di tangan Marco.

"Marco … i–itu …"

Marco menoleh dan menatapnya dengan tajam seolah Zea tidak bekerja dengan becus. “Bikin minuman simpel saja nggak bisa?”

Zea tercekat. “B-bukan, Marco, yang itu botolku sendiri. Isinya bukan protein shake .…”

Jantung Zea berdegup kencang. Semua terjadi terlalu cepat, terlalu tiba-tiba. Marco baru saja meminum ASI-nya tanpa mengetahuinya. Zea tidak mungkin mengakuinya karena itu sangat memalukan!

Tapi, sudut bibir Marco malah terangkat tipis, hampir tak kentara. Pria itu menatap botol kosong di tangannya sesaat dan mendengus pelan.

“Sudah besar, tapi masih suka yang rasa vanila yang manis.”

Zea tertegun. Padahal, dari tadi pria itu bersikap dingin seolah tak mengenalnya, ternyata Marco masih ingat dirinya, masih ingat kebiasaannya dulu.

Sejak kecil, Zea memang suka es krim vanila.

Sebelum Zea sempat mengatakan apa-apa, suara peluit Zavian memecah suasana.

PLUIT!

“Istirahat selesai. Semua ke starting block. Latihan time trial sesi kedua sekarang!”

Marco menyerahkan botol kosong itu kembali ke Zea tanpa bicara apapun. Pria itu berbalik dan berjalan menuju kolam sesuai instruksi pelatihnya.

Zea hanya bisa terpaku di tempat dan mencengkeram botol itu sambil menahan gejolak di dadanya. Matanya menyorot botol di tangannya yang kini kosong melompong. Semua isinya sudah berpindah ke perut Marco.

"Ya Tuhan …" desisnya lirih.

Ia mendekap botol itu ke dada di bangku penonton sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tidak akan ada yang tahu.

Ya. Semuanya akan baik-baik saja.

Latihan sesi kedua dimulai tepat setelah Marco kembali ke tepi kolam.

Zavian meniup peluit panjang. Empat atlet meluncur ke air hampir bersamaan. Rafi, Dimas, Kenji, dan Marco.

Gerakan Marco terlihat lebih tajam dan lebih kuat. Setiap tarikan tangannya membelah air dengan kekuatan yang ganas. Putaran tubuhnya di ujung kolam begitu cepat dan efisien, seolah air tidak lagi menjadi hambatan.

Marco naik ke permukaan setelah sentuhan akhir. Napasnya agak memburu dan rambut basah menempel di dahinya.

Zavian menekan stopwatch-nya. Keningnya langsung berkerut dalam.

“Empat puluh tujuh detik koma dua,” ucap Zavian.

Seketika, para atlet lainnya menatap Marco dengan mata lebar, tidak percaya apa yang baru saja terjadi.

“Hah?”

“Gila, cepat banget. Apa stopwatch-nya rusak?”

Marco sendiri mengerutkan alis. Ia menatap tangannya sendiri dan ke air bergantian, seolah tak yakin apa yang baru saja ia lakukan. Tak ada ekspresi bangga di wajahnya meski berhasil memecah rekornya selama ini.

Zavian mendekati atlet didikannya itu dan menepuk bahunya. “Kerja bagus. Tapi, apa yang terjadi tadi? Kamu berenang seperti kesetanan, Marco.”

Zea yang masih terpaku di tepi kolam setelah menyaksikan time trial barusan akhirnya meraih tas besarnya dan mundur beberapa langkah perlahan.

Begitu jaraknya cukup jauh dari kelompok para atlet, ia langsung mempercepat langkah menuju lounge dan memilih bersembunyi di sana sejenak.

Setibanya di lounge, Zea menutup pintu rapat di belakangnya lalu menyandarkan tubuh sejenak. Napasnya naik turun, dipenuhi gugup dan rasa malu yang masih membara. Rasanya, untuk sementara ia tak akan sanggup menatap wajah Marco lagi.

Ia harus mencari kesibukan apapun agar pikirannya bisa teralihkan dari insiden memalukan yang baru saja terjadi!

Saat ia sudah mulai tenang, Zea mulai merasakan dadanya kembali nyeri dan penuh.

“Ugh, lagi-lagi …” gumam Zea lirih sambil menoleh ke kiri dan kanan, memastikan lounge itu sepi sebelum akhirnya menghembuskan napas lega.

Ia sadar betul bahwa ia terpaksa menghentikan sesi memompa ASI-nya yang belum selesai tadi, karena harus buru-buru membagikan protein shake kepada para atlet.

Zea lantas berjalan pelan ke sofa sambil menenteng tas besarnya yang berisi pompa ASI-nya. Setelah duduk, Zea menyingkap bajunya dengan cepat, dan memasang corong pompa ASI ke payudaranya.

Isapan mesin mulai bekerja. Perlahan, cairan putih kembali mengalir ke dalam botol, disertai aroma vanila yang lembut.

“Ah …” desahnya pelan, matanya terpejam karena lega bercampur malu.

Sayangnya, cairan putih itu tidak keluar dengan deras, sedangkan rasa nyeri di dadanya semakin menjadi dan payudaranya terasa makin penuh. Namun, ia tetap membiarkan corong pompa ASI menempel di payudaranya, sementara mesin itu terus bekerja.

_____

Di sisi lain, Marco yang baru menyelesaikan sesinya melangkah ke lounge. Ia sempat melihat Zea berjalan ke arah sana, jadi tanpa ragu ia langsung menuju ruangan itu.

Sejak selesai time trial, satu pertanyaan terus mengganggunya. Minuman yang tadi diberikan Zea bukan protein shake seperti biasanya, dan entah mengapa tubuhnya justru terasa jauh lebih bertenaga.

Ia berniat menanyakan langsung minuman apa yang diberikan Zea. Namun, saat Marco mendorong pintu lounge itu pelan, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu.

Zea sedang duduk di sofa dengan baju tersingkap, sibuk memompa ASI-nya.

Marco terpaku. Pandangannya jatuh ke pompa ASI di tangan Zea dan botol penampung yang perlahan terisi cairan putih, lalu berpindah ke botol protein shake yang masih ia genggam. Bentuk keduanya mirip.

Ia langsung teringat botol yang tadi diteguknya hingga habis. Jangan-jangan ... yang tadi dia minum adalah ASI Zea.

Tapi, kenapa wanita yang lebih muda setahun dari Marco itu sudah bisa punya ASI?

Jadi ... Zea sudah menikah?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   270. Pilihan Gaun Pengantin Zea.

    Pintu kaca tebal berbahan tempered glass dari butik megah tiga lantai di kawasan elite ibu kota terdorong pelan. Pendar lampu kristal dan aroma harum bunga mawar segar seketika menyambut kedatangan mereka.​"Selamat datang, Ibuuu! Ya ampun, Ibu Moara apa kabar?! Makin cantik saja nih. Udah lama banget nggak ketemu!"​Seorang pria berpostur tinggi dengan penampilan super modis dan gaya bicara yang flamboyan melangkah cepat menyambut mereka. Fandi Gunawan, desainer papan atas langganan kalangan pengusaha korporat hingga selebriti papan atas, merentangkan kedua tangannya penuh kehangatan, menyalami Moara dengan senyum merekah lebar.​"Kabar baik, Fan," balas Moara tersenyum anggun, membiarkan desainer kenalannya itu mengecup pipi kanan dan kirinya. "Saya ke sini mau minta tolong kamu buatkan karya terbaik kamu.”​Moara lalu berbalik sedikit, merangkul pelan bahu Donna dan Zea untuk memperkenalkan mereka. "Oh ya, Fandi ... kenalkan, ini Donna, calon besan saya. Dan si manis ini, Zea, cal

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   269. Kecurigaan Marco Terbukti.

    Dahi Zavian berkerut sambil menatap Dimas dengan raut heran bercampur bingung. "Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?"Dimas berdehem pelan. Sebagai atlet yang paling dekat dengan Marco, ia sempat menunjukkan gestur sungkan, namun tatapannya tetap lurus menyuarakan kejanggalan yang ditangkapnya."Maaf, Coach ... saya bukannya mau menyudutkan siapapun. Tapi Coach masih ingat tidak cara Vincent memperkenalkan diri pertama kali di depan tim?" buka Dimas pelan."Saat itu, pas Marco menyapa dan bilang mereka pernah bertemu, Vincent malah membalas dengan nada yang sangat sinis: 'Apa kita pernah bertemu?' Dari situ saja rasanya sudah aneh."Zavian terdiam lama, kerutan di dahinya makin melipat tajam.Melihat respons kaku sang kepala pelatih, Dimas cepat-cepat menimpali. "Saya tahu alasan saya ini mungkin terdengar dangkal sekali, Coach. Tapi saya bisa menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari Vincent.""Dimas," potong Zavian tegas, memangkas kalimat atletnya. "Kasih saya alasan paling jelas

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   268. Peringatan Dimas pada Zavian.

    Zavian terdiam sejenak, memaksakan senyum tipis di wajah kakunya demi menutup kebenaran yang tak boleh bocor ke pihak mana pun."Zea cuma sedang kurang enak badan, Vin," kilah Zavian tenang, memasang kebohongan formal setenang mungkin. "Dia lagi butuh istirahat penuh di rumah."“Oh, ya?” Vincent seketika memajukan langkahnya dengan raut cemas yang dipasang amat natural di balik kacamata berbingkai tipisnya. “Kalau begitu, jika memungkinkan ... boleh saya datang menjenguk Zea nanti sore? Sekalian saya bawakan buah-buahan dan vitamin untuk dia."Belum sempat Zavian merespons tawaran itu, getaran kencang dari saku celana training-nya mendadak memecah keheningan lounge. Zavian merogoh ponselnya, menatap nama sang ibu yang tertera di layar."Maaf sebentar, Vin. Ini telepon dari Mama saya," izin Zavian singkat."Silakan, Coach," sahut Vincent sopan.Zavian menggeser tombol hijau, berbalik selangkah membelakangi Vincent. Baru saja ia menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya, suara riang

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   267. Firasat Buruk Vincent.

    "Apa?!" Zea terperangah kaku di tempatnya dengan mata membelalak lebar, sementara Donna berdiri terpaku tak percaya, menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. "Moara, kamu serius?" tanya Donna pelan, masih tak menyangka. "Tentu saja aku serius, Don! Makanya ayo, kalian berdua siap-siap sekarang juga!" desak Moara bersemangat sambil mendorong pelan bahu Donna. Donna mendadak panik. "A-aduh, sebentar! Aku harus ganti pakaian dulu!" Donna baru saja hendak berlari ke kamarnya ketika matanya mendadak terpaku meneliti penampilan putri bungsunya dari atas ke bawah. Zea masih berdiri kaku memegang tas jinjingnya, hanya mengenakan kaus kebesaran, celana training, dan jaket klub renang biru tua. Donna memegang dahinya sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Zea! Kamu juga cepat ganti baju! Masa mau fitting gaun pengantin pake jaket klub dan celana training begitu?! Pakai baju yang jauh lebih pantas dan rapi!" Zea terkekeh canggung, menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kepalanya masih agak

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   266. Kejutan Manis di Pagi Hari.

    Sinar matahari pagi membias hangat menembus celah gorden, membelai lembut wajah Zea yang masih terkulai lemas di atas ranjang. Zea perlahan mengerjapkan matanya yang terasa agak berat. Jemarinya meraba permukaan kasur yang empuk dan menemukan tubuhnya ditutupi begitu rapi dengan selimut hingga bawah dagu. "M-Marco ...?" bisik Zea parau, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Namun, kamar tidurnya sepi. Tidak ada sosok tegap Marco di sampingnya di ranjang. Tentu saja, semalam pria itu kembali pulang ke mansion-nya. Lalu, pandangan Zea mendadak beralih ke jam weker digital di atas meja nakas. Angka di layarnya menunjukkan pukul delapan pagi lewat lima belas menit. "Ya ampun! Aku kesiangan!" jerit Zea panik setengah mati. Ia harusnya sudah berangkat sejak jam setengah delapan pagi bersama Zavian ke pusat pelatihan untuk membantu persiapan tim menjelang pertandingan Final! Tanpa membuang waktu satu detik pun, Zea melompat dari ranjang. Rasa pening yang sempat menyengat kepalany

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   265. Permintaan Khusus Michael.

    Deru mesin mobil sport Marco meluncur pelan memasuki pelataran mansion Yozefa. Begitu melangkah melewati pintu utama, suasana ruang tengah masih berpendar hangat oleh cahaya lampu kristal. Di sana, Michael berdiri tegap menunggunya dengan wajah cemas, sementara Moara tetap duduk anggun di atas sofa. Namun, begitu sosok Marco melangkah mendekat di bawah pendar lampu, kedua orang tuanya seketika terperanjat kaku. Lebam merah yang kontras di sepanjang garis rahang kaku milik Marco tak bisa disembunyikan. "Marco?! Kenapa mukamu?!" seru Moara terperanjat, matanya membelalak pelan. Michael ikut memajukan langkahnya dengan dahi berlipat-lipat. "Siapa yang berani membuat mukamu seperti itu?" Marco menatap kedua orang tuanya dengan raut datar tanpa beban. Ia mengusap pelan rahangnya yang terasa agak ngilu. "Hanya kejadian sepele. Nggak apa-apa." ​"Nggak apa-apa bagaimana?!" pangkas Moara ngotot. Binar matanya memancarkan rasa cemas sekaligus ketegasan seorang ibu yang tak bisa dibantah. "

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status